
Kami pun terbangun, melihat Dokter Rizki, Melisa dan Anna yang membawa beberapa tas dan membangunkan kami.
" Kevin, Kio, Angga, kita jalan-jalan yuk. "
Akhirnya kami pun keluar lalu masuk kedalam mobil.
Sementara Dokter Rizal terbangun dan berada di ruang operasi bersama tiga pasien yang ia rawat. Ezra Dimas Saputra, Wijayanto Atmajaya (bos di episode 16) dan Rendy Athaya.
Mereka bertiga tersenyum, sedangkan dokter Rizal berusaha melepaskan ikatannya walaupun tidak bisa. Ezra pun mengambil pisau bedah dan mulai membedah dada dokter Rizal.
Dokter Rizal berusaha teriak sekencang mungkin tapi mulutnya di bekap. Setelah beberapa saat dokter Rizal pun melemas dan mulai memucat, sudah meninggal.
Sedangkan mereka bertiga mengambil semua organ tubuh milik dokter Rizal, salah satunya diambil oleh Rendy dan sisanya di berikan kepada orang orang yang memerlukan.
Setelah itu mereka pun keluar, meninggalkan mayat dokter Rizal di ruang operasi.
...****************...
Dokter Rizki mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Dan berhenti di sebuah hutan yang lumayan jauh dari perusahaan Residence.
" Anna, kamu bawa Kio pergi dari sini. Kita harus berpencar. Aku akan bawa Kevin, Melisa kamu bawa Angga. Kita akan bertemu lagi nanti. "
Begitulah kata Dokter Rizki. Saat kami berpencar, aku langsung berlari menuju Kak Angga dan Kevin.
" Kevin, kita akan bertemu lagi kan? "
Aku memeluk Kevin, begitu juga dengan Kevin.
" Jangan khawatir, kita akan bertemu. " ucap Kevin sembari mengelus elus punggung ku.
" Bagaimana kau bisa yakin? Kan ada kemungkinan kau atau aku- "
Kevin langsung menutup mulutku, padahal aku belum selesai bicara.
" Yak, kita kan harus yakin!! Lagipula dimana pun kamu berada, aku pasti akan datang mencari mu! Jadi jangan menangis dan tunggu aku ya. "
Kevin tersenyum sedangkan kak Angga memeluk kami berdua.
...****************...
Malam harinya
Aku dan Dokter Anna sudah ditemukan oleh direktur perusahaan Residence yang menyebalkan itu. Dan sekarang kami sedang di dalam mobil anak buah direktur itu. Mereka membawa kami menuju perusahaan Residence.
Keberuntungan, lampu merah! Dokter Anna membuka pintu mobil dan kami pun lari menjauh karena masih lampu merah. Kami menuju kantor polisi terdekat dan langsung meminta tolong pada salah satu polisi yang bernama Daniel Maulana Prasetyo (orang yang sudah dibunuh Kio di eps 22).
Tapi dia tidak percaya dan beberapa diantaranya mendorong Dokter Anna dan aku keluar.
Akhirnya aku dan dokter Anna lari karena mobil yang mengejar kami sudah dekat, dan...
Braaakkkk!!!
Aku yang tersungkur di trotoar pun berlari menuju tengah jalan saat melihat Dokter Anna yang sudah terluka bahkan terkapar di sana.
" Dokter Anna!! Aku mohon bangun... Dokter Anna, jangan meninggal... Dokter Anna!! "
Aku hanya bisa menangis sembari mencoba menyadarkan Dokter Anna, lalu....
Buakk!!
" Dokter Rizki? Dokter Melisa? Kevin dan kak Angga? "
Ayahku (Dokter Rizki) mengemudikan mobilnya hingga menabrak mobil para bawahan direktur itu. Lalu...
" Gawat, Rizki!! Anna, detak jantungnya lemah!! Kita harus menolongnya segera mungkin!! " ucap Dokter Melisa yang sudah mengecek keadaan Dokter Anna.
Ayahku yang bingung kemudian menyuruh kami masuk, tapi saat mereka masuk aku ditahan oleh beberapa bawahan yang masih sadar, membawaku ke dalam mobil mereka.
" Ibu!! Ayah!! Kak Angga!! Om, tante, Kevin!!! Tolong, lepasin!! "
Aku hanya bisa meronta, dan kata-kata yang kudengar hanya membuatku kecewa.
" Rizki, Kio! Kita harus menyelamatkan nya! "
Ibu yang sudah berada di dalam mobil berteriak, sedangkan ayahku hanya melirik ku lalu berkata...
" Kita akan selamatkan nanti. Kita harus pergi sekarang. "
Dan mereka pergi, meninggalkan diriku yang di kurung di perusahaan Residence.
...****************...
Beberapa bulan berlalu, setelah kejadian itu aku dikurung di sana, tidak boleh keluar, dan hanya di ruang pasien.
Lalu tiba-tiba ada beberapa orang masuk ke ruang pasienku dan membuka masker yang digunakan mereka. Dan mereka adalah Dokter Melisa dan Dokter Rizki.
Singkat cerita, aku di bawa dan tinggal bersama mereka di daerah Riung Bandung. Semua bahagia karena semua selamat, walaupun Dokter Rizal telah meninggal tapi mereka bahagia. Tapi, aku tak merasakan apapun.
__ADS_1
Hari hari berganti, bahkan tahun pun berganti, aku dan Kevin pun masuk SD, dan yak, tekanan mulai datang padaku seperti yang pernah aku ceritakan (eps 7 dan 8).
Aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku dengan cara itu. Sayangnya, saat Kevin keluar mencari bantuan karena ayah dan yang sedang bertengkar, ada seseorang yang membawaku pergi.
Sampai aku berumur 10 tahun, aku baru dibebaskan walaupun dengan cara yang menyebalkan (di eps 12).
Lalu datang ke rumah sakit tempat ibu ku yang pura-pura sakit itu dirawat, dan bertemulah dengan Kevin lagi, dan Rara.
...****************...
Kembali ke saat dimana Kio menodongkan pistolnya pada Kevin.
" Tunggu, jadi Dokter Anna sudah.. Itu gak mungkin. "
" Itulah yang terjadi. "
" Kio... "
Kevin seketika langsung memegang tangan Kio, membuat Kio terkejut.
" Kio, setidaknya aku mohon kembalilah. Kita bisa bersama lagi. Aku, kamu, ayah, ibu, Kak Jefri, Kak Angga, Kirana, kita bisa bersama lagi! Jadi kumohon Kio, kembalilah!! "
Kio mendorong Kevin lagi, dan kali ini mendorong Kevin hingga menabrak tiang listrik yang ada di sana.
" Kembali? Setelah kalian meninggalkanku? "
Kio menendang dan memukuli Kevin dan terlihat air mata semakin mengalir di pipi Kio.
" Setelah kalian meninggalkanku. Setelah kalian mengekang ku?! Jangan harap aku akan tertipu lagi! "
Kio dengan emosi memukuli Kevin, dan heran karena Kevin diam saja. Tidak menghindar, dan hanya menerima pukulan dan tendangan dari Kio.
" Ayo lagi. Sampai kamu puas, Kio. "
Kevin mengeluarkan air mata dan terlihat darah mulai keluar dari mulutnya. Setelah membanting nya, Kio pun berjalan menuju mobilnya dan berhenti ketika Kevin bicara.
" Kio. Tadi aku bertemu dengan orang yang bernama Riska itu. Bahkan ketua. Aku harap kamu segera sadar, mereka bukan orang baik-baik. "
" Jangan sok tau. Kau tau apa tentang kehidupan ku? Sok tau tentang rekanku. "
Kio pun mengambil kunci mobilnya yang terlempar saat bertarung dengan Panji.
" Kio, jujurlah. Kamu gak pernah anggap mereka rekanmu kan? Ah daripada itu, aku ingin mengatakan sesuatu, rekan macam apa yang ingin membunuh rekannya sendiri? Asal kamu tau, saat aku meniru mu di sana, mereka hampir memasukkan racun kedalam makanan milikmu. Tapi untung tak jadi. "
Setelah itu Kio pun pergi dan Kevin pulang bersama Panji yang kembali menjemputnya.
...****************...
" Kevin, baiklah aku akan mengikuti permainanmu. Dan Steven, awas kau.... "
Di rumah Kio
Kio sampai dan langsung minum-minum. Hingga Steven datang dan menghampiri Kio.
" Kau datang? "
Tanya Kio sembari menuangkan minuman untuk dirinya dan Steven.
" Iya, aku datang. "
Steven duduk, dan tanpa sepengetahuan Kio, Steven membuka laci dan mengambil sebuah pistol.
Saat Kio berbalik dan hendak menaruh gelasnya, tiba-tiba Steven langsung berdiri dan menodong Kio dengan pistol yang dia ambil di laci tadi.
" Apa yang kau lakukan? Ini tidak sopan tau. Aku sudah menyiapkan ini, karena tau kamu akan datang. Santai aja dulu. "
Kio meletakkan gelasnya di meja lalu menatap datar Steven.
" Katakan, apa kau bekerja sama dengan Kevin Alexa? "
Kio pun hanya menjawab sambil menatap datar Steven.
" Kau juga tau kalau dari dulu aku benci Kevin. Langsung ke intinya aja deh, apa yang kau inginkan? "
Steven masih menodongkan pistolnya kearah Kio dengan tatapan kesal bercampur curiga.
" Tidak? Oh oke mungkin memang benar. Tapi kau bilang vaksin nya ada di tubuh Kirana Gafrilia, tapi tidak ada sama sekali. "
Kio langsung menatap tajam Steven, ia menggebrak meja sambil berkata dengan nada marah.
" Apa maksudmu tidak ada padanya?! "
" Kau terkejut begitu. Kalau begitu mungkin memang benar, kamu tidak bekerja sama dengan Kevin. "
Kio pun menoleh ke samping dengan pandangan datar.
" Ah.. Kau melakukan ini karena pacar dan keluargamu di sandera ya? "
__ADS_1
Steven terkejut, bagaimana bisa Kio tau? Padahal ia tak pernah menceritakan hal itu pada Kio.
" Kau begini juga karena dendam padaku ya? Saat aku mengalahkan mu pada awal kita bertemu? Wah kau benar-benar hebat, menahan dendammu supaya tidak melukaiku karena aku masih dibutuhkan oleh ketua. Tapi sepertinya kamu sudah sampai batasnya ya??? "
Kio melihat Steven yang mulai naik darah, membuatnya semakin senang memprovokasi Steven.
" Bunuh saja aku. Kalau kau bisa.. "
Kio tersenyum sinis, sedangkan Steven langsung menarik pelatuk pistol itu, tapi tak ada pelurunya. Tentu saja itu membuat Steven kesal dan langsung mengeluarkan pisaunya dan mengayunkan nya menuju Kio.
Sayangnya Kio lebih cepat, sehingga dengan mudahnya dia menghindari semua serangan itu dan menusuk Steven dengan pisau milik Steven juga.
Setelah menusuk Steven tepat di bahu sebelah kiri, Kio mendorong Steven dan mengambil pistolnya. Steven kini terduduk kesal melihat Kio yang sengaja mengosongkan isi pistol itu.
Kio mengambil beberapa peluru di saku celananya, memasukkannya, lalu menodongkan pistolnya kearah Steven.
" Kiora Alexa, kau benar-benar pembunuh gila!! Kau- "
Belum menyelesaikan kata-katanya, Kio menembak Steven tepat di kepalanya membuat darah mengalir dari kepala Steven.
...****************...
Kio pun berjalan menuju meja nya dan melihat ada sebuah kertas. Dan Kio pun mengambil kertas itu.
๐ค๐ท๐ฝ๐พ๐ด ๐ช๐ท๐ช๐ด ๐ฝ๐ฎ๐ป๐ผ๐ช๐๐ช๐ท๐ฐ ๐ฒ๐ซ๐พ, ๐๐ฒ๐ธ๐ป๐ช.
๐๐ฒ๐ธ, ๐ฒ๐ท๐ฒ ๐ฒ๐ซ๐พ. ๐๐ช๐ผ๐ฒ๐ฑ ๐ฒ๐ท๐ฐ๐ช๐ฝ ๐ซ๐พ๐ด๐ช๐ท? ๐๐ซ๐พ, ๐ช๐๐ช๐ฑ, ๐ญ๐ช๐ท ๐๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ท ๐ฒ๐ท๐ฐ๐ฒ๐ท ๐ซ๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ๐ถ๐พ ๐ญ๐ฎ๐ท๐ฐ๐ช๐ท๐ถ๐พ. ๐๐ฒ๐ด๐ช ๐ด๐ช๐ถ๐พ ๐ซ๐ฎ๐ป๐ฝ๐ช๐ท๐๐ช ๐ซ๐ช๐ฐ๐ช๐ฒ๐ถ๐ช๐ท๐ช ๐ฒ๐ซ๐พ ๐ซ๐ฒ๐ผ๐ช ๐ฝ๐ช๐พ ๐ป๐พ๐ถ๐ช๐ฑ๐ถ๐พ, ๐ด๐ช๐ป๐ฎ๐ท๐ช ๐๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ท ๐ญ๐ช๐ท ๐ก๐ช๐ป๐ช. ๐๐ซ๐พ ๐ฑ๐ช๐ป๐ช๐น ๐ด๐ฒ๐ฝ๐ช ๐ซ๐ฒ๐ผ๐ช ๐ซ๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ๐ถ๐พ ๐ผ๐ช๐๐ช๐ท๐ฐ. ๐ฃ๐ธ๐ต๐ธ๐ท๐ฐ ๐ฑ๐พ๐ซ๐พ๐ท๐ฐ๐ฒ ๐ท๐ธ๐ถ๐ธ๐ป ๐ฒ๐ท๐ฒ ๐ผ๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ต๐ช๐ฑ ๐ด๐ช๐ถ๐พ ๐ถ๐ฎ๐ถ๐ซ๐ช๐ฌ๐ช ๐ผ๐พ๐ป๐ช๐ฝ ๐ฒ๐ท๐ฒ.
๐ข๐ช๐ต๐ช๐ถ ๐ฑ๐ช๐ท๐ฐ๐ช๐ฝ, ๐ฒ๐ซ๐พ๐ถ๐พ
081276xxxxxx
(Untuk anak tersayang ibu, Kiora.
Kio, ini ibu. Masih ingat bukan? Ibu, ayah, dan Kevin ingin bertemu denganmu. Jika kamu bertanya bagaimana ibu bisa tau rumahmu, karena Kevin dan Rara. Ibu harap kita bisa bertemu sayang. Tolong hubungi nomor ini setelah kamu membaca surat ini.
Salam hangat, ibumu
081276xxxxxx)
(Nomornya khayalan lho ya...)
Flashback
Sebelum Rara, Kevin dan yang lain jalan-jalan ke Depok (eps 17), ibu Kevin dan Kio yaitu Melisa, memberikan sebuah kertas kepada Rara, saat Rara sering main ke rumah Kevin.
" Ra, tolong berikan kertas ini kepada Kio, ya? Tante ingin memberikannya sendiri, tapi Kevin dan Rizki terlalu khawatir jadi tolong ya Ra. "
Dan begitulah, saat Rara menaruh foto Kio dan Kevin (eps 21), Rara juga meletakkan kertasnya di atas foto itu.
Flashback end
Kio pun mengambil ponsel miliknya dan menelepon nomor di surat itu dan diangkat?!
Di rumah Kevin dan Kio
Dokter Melisa sedang memasak untuk makan siang, lalu ponselnya bergetar.
" Siapa yang telepon ya? "
Melisa pun mengangkat telepon nya.
Di telepon
" Halo, siapa ya? " Tanya Melisa.
Sementara Kio diam saja hingga membuat Melisa kebingungan.
" Dokter Melisa? "
Melisa terkejut yang meneleponnya adalah anaknya.
" Kio? Kio, ini kamu kan?! "
Sementara Dokter Rizki hampir tersedak makanan karena mendengar nama Kio di sebut oleh istrinya.
" Kalau iya, memang kenapa? Sudahlah, aku gak punya banyak waktu, apa yang ingin anda bicarakan? "
Dokter Rizki pun mendekat, berusaha memastikan yang ditelepon istrinya adalah Kio, dan benar.
" Kio, ibu mau kita ketemu. Ya? "
" Haah... Baiklah, jam berapa, kapan, dan dimana? "
" Di rumah sakit muhammadiyah. Besok jam 9.00, di kamar pasien nomor 673. "
Dokter Rizki yang keheranan kenapa mau ketemu di sana, hanya tetap diam.
__ADS_1
" Baiklah, sampai jumpa besok dokter Melisa... "
Setelah itu telepon pun terputus.