
Sementara Kevin
Kevin sekarang masuk ke sebuah bangunan yang mirip rumah sakit, walaupun begitu bangunan itu tak bisa dibilang rumah sakit. Kevin dan Steven pun masuk kedalam dan menaiki lift. Lalu tidak sengaja Steven melihat Kio yang sedang merapikan kerah kemejanya.
" Baru pertama kali gue liat lo gugup. Tapi emang sih lo udah lama gak ketemu sama ketua dan nona Riska. "
Kevin hanya diam karena tidak tau harus mengatakan apa. Dihadapan Kevin ada cermin, Kevin pun melatih senyum sinis nya. Pintu lift terbuka dan memperlihatkan ketua beserta para anak buahnya.
" Ketua. " Steven menunduk lalu melirik kearah Kio.
" Apakah dia adalah ketua? " Batin Kevin, Kevin menunduk kepada ketua, lalu ketua menyuruh Kio mengikutinya sedangkan Steven menunggu di sana.
Ruang direktur perusahaan Residence
Seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan itu, terlihat ada seorang pria yang terduduk di ranjang rumah sakit.
" Ayah, baik-baik saja? " Laki-laki itu pun bertanya.
" Dasar bodoh!! Kau tanya aku baik-baik saja?! Kau tidak lihat kondisi ku ini?! Bagaimana bisa kakakmu lebih pintar darimu!! Keluar!! "
Pria yang sudah cukup umur itu menyuruh laki-laki didepannya keluar, lalu seseorang pun masuk.
" Masuklah anakku! "
" Ayah, Panji.. " Laki-laki yang baru saja masuk itu adalah seorang dokter bedah terhebat di perusahaan residence, Rafa Maulana Ghifari.
" Sialan. " Laki-laki yang Rafa panggil dengan nama Panji itu pun keluar dari ruangan itu.
" Ayah, kenapa kau selalu menyamakan aku dengan Rafa? Bahkan Riska? "
Saat Panji menuju parkiran mobilnya, Panji tidak sengaja bertemu Riska.
" Riska. " Panji hendak pergi tapi Riska masih menghalangi.
" Kakak mau kemana? Aku ikut dong. "
Riska dengan manja nya meminta kepada Panji supaya bisa ikut.
" Gak, gue mau ketemu temen. " Panji pun membuka pintu mobilnya.
" Kakak pasti lagi kesel sama Kak Rafa ya? Jujur aja deh kak... "
Setelah mendengar perkataan Riska, seketika Panji langsung mencekik Riska.
" Asal lo tau, gue kesel sama lo!! Lo yang udah manfaatin gue dan nyuruh gue untuk mata-matai temen-temen gue sendiri!! Gue udah muak sama lo, Riska!! "
Panji masih mencekik Riska tapi langsung melepaskannya.
" Kakak muak sama aku? Kita kan kakak-adik... " Riska masih mencoba menahan Panji agar tak pergi, tapi langsung di dorong oleh Panji.
__ADS_1
" Lo pernah denger cerita seorang adik menyuruh kakaknya untuk memata-matai sahabat kakaknya sendiri? Menyebalkan. "
Panji langsung masuk kedalam mobil lalu mengemudikan mobilnya menuju sebuah cafe.
Tempat Kio berada
Aku dan Kio sudah sampai di sebuah rumah sakit. Kami pun masuk tapi Kio hanya menyuruhku untuk tetap di ruang tunggu, sekarang Kio masih di ruang pasien.
" Lama banget si Kio. " Aku melihat jam, dan yah sudah jam 5 sore.
Didalam ruang pasien..
Kio berjalan menuju ranjang pasien itu dan terlihat seorang pria yang sudah cukup tua itu mengenakan alat bantu pernafasan. Kio mengeluarkan silet dari jaketnya lalu menggorok leher pria itu hingga meninggal.
5 menit kemudian Kio keluar lalu mengajakku untuk segera keluar dari sana.
" Kio, kita mau kemana? "
Aku bertanya sambil berusaha mengikuti langkah Kio yang cukup panjang dan lumayan cepat. Tapi tidak ada jawaban.
Perusahaan Residence, lantai 3 tempat Kevin berada....
" Kau mau membawaku kemana? " Kevin menaruh kecurigaan kepada orang yang di sebut ketua.
" Ikuti saja.. "
Dan mereka masih berjalan menuju ruangan Riska.
Tanpa aba-aba, ketua langsung berbalik dan mengeluarkan tali dari sakunya, lalu mencekik Kevin dan menyudutkan Kevin kearah dinding.
" Sudah kubilang ikut saja! "
Setelah itu ketua melepaskan cekikan nya, sedangkan Kevin mengambil nafas dalam-dalam dan terbatuk batuk.
" Setidaknya biarkan aku melihatnya. "
Kevin masih mengambil nafas dalam-dalam. Entah apa yang dikatakan Kevin, tapi sekarang Kevin berdiri di depan sebuah pintu. Kevin melihat ke dalam, terlihat Kirana yang tertidur di ranjang rumah sakit.
*Kirana... Apa yang harus kulakukan? *
Kevin berusaha membuka pintunya tapi terkunci.
" Kau sudah melihatnya, ayo ikut aku. " Ketua pun berjalan pergi.
*Kirana.. Tunggu abangmu ini... *
Setelah melihat ke dalam ruangan itu, Kevin pun mengikuti ketua.
Setelah sampai di sebuah ruangan, terlihat seorang perempuan cantik sedang duduk di sana.
__ADS_1
*Apakah dia yang di sebut nona Riska? *
Kevin masih berdiri karena tidak tau apa yang biasanya Kio lakukan saat bertemu dengan Riska.
" Apa yang kau lakukan? Ayo duduk, makanannya jadi dingin nih.. " Riska menyuruh Kevin untuk duduk dan Kevin hanya menurut saja.
Cafe yang didatangi Panji.
Panji berhenti di depan sebuah cafe dan melihat bahwa kedua teman-temannya sudah menunggu. Bukan Tegar, Miftah dan Rangga, tapi teman Panji yang lain. Kak Deva dan Bang Jefri.
" Hey Ji, tumben diajak kumpul lama banget. " Devandra (Kak Deva) menarik kursi untuk diduduki Panji.
" Thanks. Eh Va, Jef kenapa? Kok kayak sedih gitu? " Panji bertanya sedangkan Kak Deva dan Bang Jefri hanya menunduk sedih.
" Itu Ji, adek gue Kirana.. Dia.. Dia hilang gak tau kemana. "
Panji yang tadi sedang minum langsung tersedak mendengar informasi itu.
" Adek lo? Tunggu, siapa nama adek lo? Siapa tau gue bisa bantu. "
Bang Jefri dan kak Deva saling bertatapan mendengar perkataan Panji.
" Kirana... Kirana Gafrilia Cantika Apriliani.. "
Begitu Panji mendengar nama itu, Panji mengingat bahwa adiknya yaitu Riska sudah beberapa kali menyebutkan nama Kirana Gafrilia.
" Kayaknya gue bisa bantu. Dev, mending lo bawa Jefri pulang deh. " Panji tersenyum manis dan menatap kedua temannya.
" Gak apa-apa nih? Apa gak repot di kamu Ji??? " Kak Deva sudah merapikan barangnya dan bersiap untuk mengantarkan Bang Jefri pulang.
" Gak apa, santai aja. Dah sana, nanti kalau gue nemu dimana Kirana, gue hubungi kalian, oke? "
" Oke, makasih Ji. Kita ngandelin elu. "
Setelah itu Deva dan Jefri pun pulang.
Beberapa hari yang lalu, sebelum Kirana diculik.
Perusahaan Residence
Panji yang disuruh untuk memanggil adiknya, Riska akhirnya pergi menuju kamarnya Riska.
" Ris.. Ini kakak. Ayo makan, Kak Rafa udah masak. " Panji mengetuk ketuk pintu kamar Riska.
" Iya, kak. Kakak duluan aja ya.. "
Panji berjalan pergi, tapi Panji sembunyi di balik tembok dengan niat mengejutkan Riska, tapi yang ia dapat adalah percakapan Riska dengan seseorang yang ditelepon oleh Riska.
" Culik Kirana Gafrilia. Dengan cara apapun, suruh Steven atau Kiora kan bisa? Pokoknya jangan sampai Kak Panji dan Kak Rafa tau, culik Kirana Gafrilia!! Oke aku tutup. "
__ADS_1
Setelah itu Riska pun keluar dari kamarnya lalu menuju meja makan.
" Kirana Gafrilia? Siapa dia dan kenapa Riska ingin menculiknya? "