
Malam harinya, di rumah Kio. Semua tirai tertutup, bahkan lampu pun tidak menyala. Tapi di ruang tengah, terlihat Kio yang sedang duduk di sana sambil minum-minum.
" Bagaimana bisa, aku melukainya? Lagi-lagi aku melukai orang yang ku sayangi lagi. Bukan aku yang melakukannya, itu Kevin yang melakukannya. "
Kio melemparkan botol minumannya hingga pecah berantakan.
Di Rumah Sakit
Aku yang sedang melihat Kak Deva, Kak Angga dan Bang Jefri yang lagi mabar itu tiba-tiba melihat Kevin yang berdiri dan berjalan keluar.
" Vin, kamu mau kemana? " Tanya Bang Jefri, walaupun sambil mabar tapi dia tetap sadar Kevin berjalan keluar.
" Mau ke tempat ayah dan ibu sebentar, sebentar aja kok. "
Setelah itu Kevin pun keluar. Kevin berjalan ke atap rumah sakit dan terlihat Dokter Melisa, Dokter Rizki, Dokter Rizal dan Dokter Anna sedang duduk-duduk di sana.
" Kevin? Ada apa? " Tanya Dokter Rizal sembari memberikan tempat duduk untuk Kevin.
" Enggak. Gak apa-apa aku cuma- Merasa sedikit bersalah kepada Rara, dan Kio tentu saja... Menurut ayah, ibu, om dan tante, aku harus bagaimana? "
Kevin menunduk, sedangkan Dokter Rizki merangkul Kevin dari samping.
" Hei, jangan terlalu dipikirkan. Rara juga pasti gak mau kamu merasa bersalah ke dia terus kan? Kalau Kio, mungkin kita biarkan sebentar dulu. Kita dan juga dia perlu waktu. "
Dokter Rizal mencubit pipi Kevin hingga Kevin teriak.
" Ashh sakit om! "
Kevin mengelus elus pipinya yang memerah sedangkan yang lain hanya tertawa melihat tingkah laku mereka.
Keesokan harinya, aku tiba-tiba kesakitan entah mengapa. Sontak hal itu langsung di tangani oleh Dokter Melisa, Dokter Rizal, Dokter Rizki, dan Dokter Anna.
Setelah itu...
" Kalian semua, ayo kita ke atap sebentar. Biarkan Rara istirahat disini, ayo. " Dokter Rizal dan yang lain pun menuju ke atap.
Sesampainya di atap, Kak Deva langsung bertanya.
" Apa yang terjadi, Dokter Rizal? Sepertinya serius.. "
Dokter Melisa, Dokter Rizki, Dokter Rizal dan Dokter Anna hanya bisa saling bertatapan, lalu berkata.
" Rara, dia- Tulang sum-sum nya- "
Belum sempat para dokter itu menyelesaikan kata-kata nya, Kevin langsung membalas.
" Apa ini perbuatan Kio? Kalau begitu aku harus segera kesana! "
Kevin hendak pergi tapi Dokter Anna langsung menahan Kevin.
" Jangan terlalu terburu-buru. Kita tidak tau apa Kio yang melakukannya atau bukan.. "
Dokter Anna memegang tangan Kevin dan langsung dibalas oleh Dokter Rizal.
" Dulu, aku pernah membuat vaksin yang dapat menyembuhkan penyakit apapun. Tak peduli itu kronis atau bukan, dan kuberikan kepada Rara. Jadi, dia juga masih akan baik-baik saja. "
Kevin langsung menoleh mendengar perkataan Dokter Rizal.
" Apa? Apa yang dimaksud om, adalah vaksin yang dibahas oleh Riska itu? " Batin Kevin, lalu langsung menyahut.
" Jadi, karena ada vaksin itu harusnya Rara aman kan? Ya kan? "
Dokter Rizal mengangguk, menjawab pertanyaan ku.
" Aku akan pergi ke rumah Kio untuk meluruskan semua kesalahpahaman disini. "
Kevin pun turun parkiran bawah tanah dan mengemudikan motornya kearah rumah Kio.
__ADS_1
Di rumah Kio
Kio sedang minum-minum dan langsung menghabiskan satu botol. Lalu dari pintu depan terdengar suara seseorang masuk ke dalam rumah Kio. Kio pun langsung mengambil pistolnya dan mengisi pelurunya, kemudian diletakkan di atas meja di sampingnya lalu minum lagi.
Kevin berjalan terburu-buru masuk dan langsung berhenti tepat di depan Kio.
" Kio, kamu baik-baik saja? Dimana kamu letakkan tulang sum-sum Rara? "
Kio pun langsung mendongak melihat Kevin yang berada di hadapannya.
" Menurutmu? Aku baik-baik saja atau tidak? Kalau untuk pertanyaan kedua, coba cari saja dimana aku meletakkannya. "
Kevin hendak berjalan menuju kamar Kio di lantai atas, tapi Kio langsung mengambil pistol dan menembak satu botol minuman, membuat Kevin berhenti dan berbalik.
" Kio, tolong hentikan ini. Kita bisa bersama lagi, aku mohon. Oke, aku minta maaf atas kejadian yang dulu dan sekarang, oke? Jadi tolong hentikan ini.. "
Kevin terdiam. Setelah sekian lama, Kevin melihat air mata turun mengalir di pipi Kio.
" Bersama? Seperti dulu? Benar-benar- "
" Ya? Sekarang, dimana tulang sum-sum Rara? Aku sudah berjanji padanya. "
Kevin berusaha mendekati Kio, sedangkan Kio langsung berteriak dan membuat Kevin terdiam lagi.
" KAU JUGA BERJANJI PADAKU!! Kau juga berjanji padaku, tapi kamu mengingkarinya.. " Kio masih menodongkan pistol pada Kevin.
" Maafkan aku. Saat itu aku sudah kembali lagi ke perusahaan Residence bersama ayah, ibu, tante Anna, bahkan tante Angel. Tapi kami tidak menemukanmu. Kami baru menemukanmu beberapa tahun setelah kami kesana untuk menyelamatkan mu. "
Kevin langsung mengeluarkan sebuah suntikan dari saku celananya dan mendorong Kio jatuh ke sofa.
" Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!! "
Kio berusaha memberontak, Kevin menyuntikkan cairan didalam suntikan itu ke leher Kio, membuat Kio pingsan.
" Maafkan aku Kio... Maaf. Tapi setelah ini, mari kita jalani kehidupan kita sebagai manusia biasa. "
" Angkat tangan, Kiora Alexa!! Dimana tulang sum-sum itu?! "
Orang-orang itu menodongkan pistol kearah Kevin. Kevin yang sedang menyamar itu tersenyum sinis dan berkata.
" Sudah ku suntik kan ke dalam tubuhku. Mau apa kalian? "
Kevin tersenyum sinis sedangkan orang-orang itu membawa paksa Kevin keluar dan masuk ke dalam mobil mereka.
...****************...
Beberapa menit kemudian
Kio terbangun dan melihat sekeliling.
" Aku ingat, terakhir aku di-
Kio pun langsung berlari ke ruang tengah, memperhatikan rekaman CCTV rumahnya. Ia menatap kaget rekaman ketika Kevin menyamar menjadi dirinya dan di tangkap.
" Menyebalkan! "
Kio langsung mengambil hoodie nya beserta kunci mobilnya.
" Kevin... Gawat jika dia kenapa-napa! " Kio langsung masuk ke dalam mobilnya dan menuju ke perusahaan Residence.
Di dalam mobil, Kio masih memikirkan kata-kata terakhir yang dia dengar sebelum pingsan.
" Manusia... Biasa? "
Saat sudah sampai, Kio mengambil pistolnya, menaruhnya di saku dan turun. Ia langsung berjalan menuju ruang direktur. Para bawahan itu melihat Kio, beruntungnya di sana hanya ada dua pengawal.
Mereka berdua mendekati Kio sambil mengatakan kalau Kio tidak bisa lewat. Seketika Kio menendang salah satu dari mereka dan membanting satu nya lagi. Kio juga membenturkan kepala mereka berdua ke dinding hingga berdarah-darah dan pingsan.
__ADS_1
" Kevin... Setidaknya, jangan dia!! " Batin Kio. Ia kini langsung menuju ke ruang direktur dan langsung mendobrak pintunya.
Braakkk!!!
Semua terkejut melihat siapa yang masuk bahkan direktur juga terkejut. Karena orang yang dibawa para bawahan direktur itu, yaitu Kevin sudah diikat di kursi tepat di hadapan Kio.
" Kiora Alexa?! Jika itu kau maka dia- "
Kio berlari dan langsung mencekik direktur itu.
" Lepaskan Kevin terlebih dahulu, lalu aku akan melepaskan mu. "
Akhirnya Kevin di lepas dan di bawa keluar ruangan. Setelah itu Kio pun diikat oleh para bawahan itu dengan posisi berlutut di hadapan direktur.
" Wah wah, kamu sudah mulai peduli pada keluarga mu, ya? Hahahaha... "
Tidak lama kemudian direktur pun batuk, terlihat darah keluar dari mulutnya akibat batuknya tadi.
" Kalian, cepat panggilkan para dokter itu!! Langsung ambil tulang sum-sum nya disini!! "
Mendengar direktur yang teriak marah-marah itu membuat Kio senang dan tertawa.
" Hahahahahahahaha.... "
Semuanya diam termasuk direktur. Suara tawa Kio mengisi seluruh ruangan itu.
" Apa? Apa ada yang lucu bagimu?! " seru direktur itu.
Kio pun berhenti tertawa dan mendongak, menatap direktur lekat-lekat.
" Tidak. Aku hanya senang karena.. Bahkan dengan kau mengambil sum-sum tulangku, kau juga akan mati. "
Direktur tiba-tiba batuk lagi, kemudian dua orang dokter datang dan menghampiri sang direktur.
" Apa maksudmu? Kau- "
Belum menyelesaikan kata-kata nya, Kio yang dari awal sudah menyiapkan pisau lipat di saku celana bagian belakangnya itu, langsung memotong tali yang mengikatnya, lalu berlari menuju direktur, kemudian....
Jraaassshhh!!!
Darah terciprat kemana-mana, direktur pun langsung terjatuh sedangkan Kio melirik kearah para bawahan direktur dengan tatapan tajam dan senyuman sinis.
Dua dokter itu langsung sembunyi di dalam lemari sedangkan para bawahan itu menembaki Kio dengan peluru yang tersisa di pistol mereka.
Tapi Kio bisa menghindari semua dan langsung membunuh mereka semua dengan cara mengayunkan pisau nya hingga mereka semua meninggal, tapi karena Kio sudah terlalu lelah jadi,
DORRR!!! DORRR!!! DORRR!!!
Tiga peluru melukai Kio, Kio pun sekarat. Dengan tenaga terakhir nya, dia menggunakan sebuah pistol di sana dan,
" Matilah... Kalian semua... "
Lalu terdengar bunyi tembakan. Kevin yang sudah sadar dan dari tadi melihat kejadian itu dari luar langsung menelepon keluarganya.
...****************...
Beberapa minggu setelah nya
Kio berada di rumah sakit dalam keadaan koma. Keluarganya, termasuk Kevin dan aku masih tetap setiap hari menunggunya sadar.
Perusahaan Residence seketika hancur dan bangkrut. Dokter Melisa, Dokter Rizki, Dokter Rizal, dan Dokter Anna mendirikan sebuah perusahaan bernama Perusahaan Alexa. Dan semuanya berjalan normal. Panji dan kakaknya yaitu Rafa juga sekarang menjadi wakil sekretaris di perusahaan Alexa.
...Kisahku, dan kisah mereka berakhir di cerita ini....
...- Alexa's Twins : Different World -...
...- Tamat -...
__ADS_1