Alia Gadis Indigo

Alia Gadis Indigo
Chapter 36 ZIDAN


__ADS_3

Zidan bersikeras tak ingin menjadi seperti Alia. Zidan benar benar menolak itu. Zidan sangat benci sama kemampuan ini.


Bela masih menghalangi jalan Zidan.


"Kamu pergi dari hadapanku" bentak Zidan mengusir Bela dengan kondisi asli Bela yang begitu mengerikan.


Dengan wajah Bela yang hampir hancur dan hampir terbelah menjadi dua. Sungguh sungguh menakutkan, bagi siapapun yang melihatnya.


Zidan sebenarnya takut. Terlihat dari tubuhnya yang terus bergetar karena kondisi asli Bela yang begitu mengerikan. Namun Zidan harus pulang. Zidan tak ingin berlama lama berada di sekolah yang begitu banyak hal yang mengerikan. Yang tak ingin di lihat Zidan.


"Kamu harus bisa menerima kemampuan kamu. Kalau kamu terus menolak, maka yang terlihat akan seperti ini terus di mata kamu" seru Bela


Zidan menutup wajahnya. Zidan benar benar ketakutan saat ini. Zidan tak ingin seperti ini, Zidan hanya ingin hidup normal seperti dulu. Atau lebih baik tak bisa melihat saja. Bila seperti ini terus, Zidan benar benar takut.


"Aku harus bagaimana?" Tanya Zidan. Masih menutup wajahnya tak ingin melihat Bela. Namun malah semakin terlihat jelas wajah Bela yang begitu mengerikan dan menakutkan seperti itu.


"Lepaskan tangan dari wajahmu" ucap Bela.


Zidan menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu menutup matamu, maka akan semakin jelas wajah asliku yang terlihat olehmu!" seru Bela.


Zidan membuka tangannya. Bela memang menakutkan, tapi lebih menakutkan saat matanya di tutup. karena terlihat begitu jelas kondisi Bela saat mati dulu begitu menakutkan.


"Aku gak mau melihat kalian, aku juga gak mau berteman dengan kalian!" Seru Zidan lagi. Mulai menangis.

__ADS_1


"Aku malas bantu kamu, tapi Alia maksa aku buat bantu kamu" gumam Bela.


Zidan mengerutkan keningnya.


"Kamu tuh, gak bersyukur dengan kemampuan yang kamu miliki. Udah jelas kamu itu, salah satu manusia yang beruntung karena bisa melihat kami. Jika menurut mu ini malapetaka, berarti selamanya kamu akan seperti ini. Terus menerus dalam ketakutan" tutur Bela sebel.


Zidan terdiam. Zidan terus terusan menolak dengan mata barunya. Karena mata ini, milik seorang manusia indigo yang sama sama kecelakaan bersama Zidan.


Anak laki laki itu, memberikan matanya untuk Zidan. Karena anak itu, ingin Zidan bisa melihat dunia lagi. Walau malah kemampuan nya ikut bersama Zidan.


Anak laki laki yang mendononorkan matanya itu sudah meninggal bersama korban yang lain. Yang berjumlah, lima orang termasuk Zidan. Saat itu, hanya Zidan yang selamat. Walau harus kehilangan kedua matanya.


Anak laki laki itu, sudah memperkirakan semua ini. Makanya memberikan matanya untuk Zidan.


Zidan terus menangis, saat Bela mengajaknya untuk melihat kilas balik tentang matanya. Mata Zidan sekarang, milik seorang anak laki laki bernama Rivaldi.


Kemampuan Rivaldi itu, menurun dari sang Ibu. Ibu Elina begitu sedih saat anaknya Rivaldi meninggal dalam kecelakaan. Makanya Ibu Elina ingin menghidupkan kembali anaknya lewat Zidan.


Bu Elina sudah meminta izin pada Rivaldi untuk, mendonorkan matanya untuk Zidan. Rivaldi sudah mengizinkan matanya untuk Zidan.


Zidan tak tahu, hari hari yang begitu berat telah di lalui Rivaldi. Rivaldi sering di anggap aneh oleh teman temanya. Karena, tingkahnya yang aneh yang selalu berbicara sendiri.


Rivaldi tak punya teman, makanya ia tak pernah menceritakan kemampuan pada siapapun. Rivaldi hanya ingin menolong Zidan saja. Tak ada maksud untuk membuat Zidan merasa tertekan dan ketakutan. Karena malah bisa melihat hal hal berbau mistis dan gaib.


"Kamu sudah jelas Zidan?" tanya Bela.

__ADS_1


Zidan masih menangis, bila hidup Rivaldi begitu menyedihkam berbanding terbalik dengan Zidan yang populer dan banyak teman. Tapi di saat yang di butuhkan teman yang banyak itu, tak ada yang menolong. Hanya Rivaldi yang menolong Zidan. Seseorang yang tak Zidan kenali, malah memberikan matanya. Hanya karena tak tega, melihat Zidan jadi buta.


"Sekarang, kamu sudah paham Zidan. Harusnya kamu bersyukur, ada orang baik seperti Rivaldi dan Ibunya. Ibunya ingin Zidan bisa melihat lagi. Tapi kamu, masih tak mau bersyukur" bentak Bela lagi.


Zidan masih menangis lagi. Melihat kilasan masa lalu, Rivaldi anak laki laki yang mendonorkan matanya untuk Zidan. Zidan tak tahu, kalau hidup yang di alami Rivaldi begitu berat. Zidan hanya terus terusan mengeluh karena tak mau menerima kemampuan baru nya ini.


"Sekarang kamu masih gak mau menerima kenyataan, kalau kamu berbeda?" Seru Bela.


"Terus sekarang aku harus bagaimana?" Tanya Zidan. Matanya sudah merah karena menangis dan lumayan terlihat bengkak.


"Kan dari awal aku udah bilang, kamu harus menerima kenyataan. Sebenarnya, tak ada yang salah sama kamu. Kamu hanya perlu menerima dengan ikhlas, atas rasa syukur yang telah tuhan berikan pada kamu. Sekarang semua tergantung kamu sendiri. Mau menerima atau menolak semua yang terjadi sama kamu" tutur Bela panjang lebar yang langsung menghilang begitu saja dari hadapan Zidan.


Zidan terdiam sesaat, pertemuan nya dengan hantu itu, yang katanya teman Alia. Telah membuat Zidan sedikit sadar. Mungkin selama ini, Zidan terus terusan menolak dengan mata baru ini. Makanya, banyak hal yang terjadi pada Zidan selama ini.


Sebenarnya tak mudah untuk bisa menerima kenyataan ini. Apalagi mata baru ini, membuat Zidan jadi salah satu manusia yang berbeda.


Zidan menghembuskan nafas panjang. Sebenarnya masalah ini, yang buat Zidan sendiri. Dan Zidan juga yang harus menyelesaikan masalahnya sendiri.


Zidan pun melangkah, sekarang Zidan ingin mencoba menerima kenyataan ini. Kalau sekarang dengan mata ini. Zidan sekarang sudah menerima kenyataan kalau mata ini bukan mata biasa.


Mungkin sekarang harus mendengarkan kata Alia. Untuk bersikap cuek dan tak peduli dengan mereka. Zidan akan mencoba, hidup seperti yang diajarkan Alia dan hantu itu.


Walau terasa sulit, harus bersikap cuek. Karena mereka terus terusan mengganggu Zidan. Zidan mencoba bersikap tenang. Sekarang Zidan harus bisa tidur dengan nyaman dan tentram. Sudah hampir sebulan ini, Zidan susah tidur. Karena setiap hari, setiap saat, setiap detik, setiap menit, setiap jam. Zidan selalu merasa ketakutan merasa tak nyaman terus terusan gelisah. Dengan apa yang di lihat setiap hari nya. Membuat Zidan stres sendiri. Karena terlalu takut untuk memikirkan para hantu itu, yang terus terusan mengganggu Zidan.


Zidan ingin menerima mata baru ini. Zidan harus bisa bersyukur, dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Menerima semuanya, walau sekarang Zidan tak bisa seperti dulu lagi. Zidan akan mencoba menerima kenyataan tentang mata baru ini.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like dan komen ya...


__ADS_2