Alia Gadis Indigo

Alia Gadis Indigo
Chapter 37 ZIDAN BAGIAN 2


__ADS_3

Walau sulit, bagi Zidan untuk menerima mata barunya ini. Zidan akan mencoba menerima ini. Zidan ingin tahu, apakah dengan Zidan bisa menerima kenyataan ini, kondisi Zidan akan berubah.


Zidan pulang ke rumahnya yang dulu, sebelum mata baru ini ada. Zidan selalu merasa kesepian saat pulang ke rumah. Zidan selalu sendiri, makanya Zidan malas untuk pulang. Tak ada siapapun di rumahnya. Orang tuanya tak pernah ada di rumah, mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka, yang katanya untuk Zidan. Mereka terlalu sibuk, sampai tak ada waktu untuk Zidan.


Namun semenjak ada mata baru ini, Zidan melihat begitu banyak mahluk yang ada di rumah Zidan. Sampai Zidan merasak sesak, saking begitu banyak mahkluk mahkluk itu.


Mahkluk mahkluk itu, begitu tak suka melihat Zidan. Zidan berusaha untuk cuek dan tak peduli. Tapi mahkluk itu, terus mengganggu Zidan.


Zidan, mencoba rileks mencoba tidur. Walau di rumahnya sekarang begitu berisik dengan suara suara mereka, yang begitu mengganggu. Zidan mencoba melupakan mereka.


Zidan ingin tidur malam ini, tubuhnya sudah lelah. Zidan masih tak bisa tidur. Karena mereka terus mengganggu Zidan. Zidan sudah minum obat tidur, tapi tetap tak bisa tidur.


Zidan mencoba tak peduli dengan mereka. Saat ini, Zidan hanya ingin tidur sekarang itu saja.


Berkali kali Zidan mencoba untuk tidur. Awalnya susah, namun Zidan mencoba tak peduli. Zidan pun akhirnya mulai tertidur.


~Di mimpi Zidan~


Zidan terbangun kembali, tapi Zidan bingung saat menyadari kalau ini bukan di kamarnya. Zidan berada di suatu ruangan yang begitu luas. Sangat luas sampai tak terlihat dimana pintu, dimana jendela.


Zidan bingung sendiri, mulai bertanya tanya dalam hati. "Dimana ini?". Zidan mulai merasa takut. Hingga seseorang datang menghampiri Zidan.


"Zidan" panggil seseorang, yang entah dari mana datangnya.


Zidan menoleh.


Ternyata dia, Rivaldi. Laki laki yang mendonorkan matanya untuk Zidan.

__ADS_1


Laki laki itu, memeluk Zidan. Pelukan yang begitu hangat yang Zidan rasakan.


Zidan berpikir kembali, "Apakah ini mimpi?"


Rivaldi tersenyum, sembari melepaskan pelukannya.


Zidan masih terdiam, tak mengerti dengan mimpinya ini.


"Kenapa, kamu baru datang sekarang?" Tanya Rivaldi. Membuat Zidan bingung.


"Lama, aku nunggu kamu disini!" Seru Rivaldi lagi.


Zidan terdiam lagi. Ini mimpi tapi seperti nyata.


"Kamu senang, dengan mata yang aku donor kan?" Tanya Rivaldi lagi.


Zidan terdiam, bingung harus jawab apa.


"Bubukan begitu," ucap Zidan bingung harus menjelaskan bagaimana.


Rivaldi tersenyum.


"Aku tak bermaksud, untuk menyeretmu masuk kedunia yang tak ingin kamu datangi".


Zidan masih terdiam, masih bingung harus menjawab apa.


"Maaf karena mataku, kamu jadi bisa melihat mereka. Aku hanya ingin menolong kamu agar bisa melihat dunia lagi. Tapi kamu malah jadi melihat mereka"

__ADS_1


Zidan terdiam. Zidan memang kesal dengan mata barunya ini. Mata yang sangat Zidan benci, karena bisa melihat mereka. Mereka yang tak terlihat oleh manusia biasa.


"Kalau kamu ingin marah, marah aja sama aku. Aku gak tahu kalau kemampuan aku, malah ikut bersamamu"


Zidan masih terdiam. Masih bingung, apa yang harus Zidan katakan pada Rivaldi. Zidan memang benci sama mata baru ini. Malahan Zidan, tak menerima semua ini. Zidan tak bisa bersyukur, dengan kemampuan ini. Berkali kali Zidan, menyalahkan mata ini dan mengutuknya berkali kali. Sampai Zidan memilih untuk buta saja, dari pada bisa melihat mereka yang tak ingin Zidan lihat.


"Sekarang kamu, sudah ikhlas kan?"


Zidan mengangguk.


"Lama aku nunggu kamu di sini. Aku ingin pamitan sama kamu, aku sudah ikhlas dengan akhir hidupku yang meninggal karena kecelakaan. Kamu jangan marah lagi karena mataku. Aku sudah tahu kalau hidup ku sudah tak lama lagi. Makanya aku memberikan mataku untuk kamu, itu saja. Tapi kamu, terus terusan tak menerima diri kamu yang sekarang. Sehingga kamu, gak bisa datang ke sini. kamu harus belajar dari kejàdian ini. Kamu harus ikhlas dengan takdir hidup kamu sekarang. Jangan menolak lagi, kalau kamu bisa melihat mereka. Itu anugerah, buat kamu" tutur Rivaldi.


"Rivaldi, maafkan aku, aku tak bermaksd begitu. Aku memang tak bisa bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang. Masalah yang aku alami saat ini, itu karena salahku sendiri. Maafkan aku Rivaldi" tutur Zidan sambil menangis merasa bersalah pada Rivaldi.


"Aku tahu, kamu orang baik. Tak sia sia, aku berikan padamu. Jaga mata aku dengan baik yah, aku pamit dulu. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang, kalau kamu ada apa apa. Kamu bisa minta tolong pada Alia. Dia sama denganku, dia gadis baik yang akan menolongmu saat kamu ada masalah nanti. Dan dua hantu teman Alia juga, mereka akan bantu kamu, bila kamu minta bantuan pada mereka. Percayalah kamu dikelilingi orang baik, aku pergi yah" tutur Rivaldi, sambil tersenyum dan menghilang dari hadapan Zidan.


Dan saat itu juga, Zidan langsung bangun dari mimpinya, yang ternyata sudah pagi. Zidan benar benar bisa tidur sekarang. Zidan menghapus air matanya. Pertemuannya dengan Rivaldi, membuat Zidan menyadari kalau Zidan harus ikhlas dengan kemampuan sekarang. Walau itu terasa sulit, Zidan harus bisa menerima.


Zidan sudah belajar sesuatu dari kejadian ini. Semua yang terlihat, tak seperti yang Zidan pikirkan. Ternyata mahkluk mahkluk itu, bukan mengganggu Zidan. Mereka hanya ingin berkenalan dengan Zidan. Karena Zidan, bisa melihat mereka sekarang. Namun Zidan sudah ketakutan duluan sebelum mereka menjelaskan.


Mereka yang tak terlihat di rumah Zidan. Tak bermaksud jahat, mereka ingin menjaga Zidan dan kasihan sama Zidan karena Zidan selalu sendiri.


Setelah Zidan menerima semua atas mata barunya ini. Hantu hantu yang Zidan temuin tak seburuk wajah mereka. yang awalnya terlihat menakutkan, kini wajah wajah mereka lebih mirip manusia pada umumnya. Hanya saja, wajah mereka lebih pucat dari manusia hidup.


Sekarang Zidan sudah bisa tidur dengan nyaman, dan menjadi dekat dengan Alia. Seperti saran dari Rivaldi, Alia dan Zidan sekarang selalu kompak. Berteman baik, bertiga dengan Nadia yang senang dengan Zidan.


Tapi sepertinya Zidan lebih tertarik pada Alia di bandingkan Nadia. Itu juga yang membuat Cris cemburu pada Zidan. Makanya Cris selalu sinis pada Zidan. Saat Zidan dekat dengan Alia. Namun Alia hanya menganggap Zidan teman saja, tak lebih dari itu. Walau Zidan berharap lebih dari Alia. Alia sudah menyukai seseorang. Yang selalu Alia pendam sendiri. Alia tak pernah membicarakan tentang hatinya pada siapapun, termasuk Nadia. Ini menjadi rahasia Alia yang Alia simpan sendiri. Tak ada yang tahu, kalau sebenarnya Alia menyukai Cris. Walau Cris tak menyadari itu. Yah, Cris yang Alia suka. Dan hanya Cris yang membuat Alia jatuh Cinta.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like yah...


__ADS_2