
Sepeninggalan Ustadz Ali dan Zaki,Fadhil menyandarkan badan di kursinya,rencana ingin tahu tentang Bundanya si kembar malah bernostalgia di masa SMA.
Fadhil hanya mengambil nafas panjang,dan tinggal menunggu hasil DNA besok.
Apa yang akan terjadi esok biarlah terjadi,Fadhil kemudian keluar dari ruang kerjanya kemudian menuju kamar untuk beristirahat sejenak.
...****************...
Jam menunjukkan Sembilan pagi untuk Kota Tarim.Dari semenjak subuh semua kegiatan kegiatan untuk pembekalan di perlombaan nanti sudah selesai Dan ini saat untuk beristirahat.
Fatih dan Fatimah sedang berpikir keras bagaimana bisa keluar untuk ke Rumah sakit dan mengirim rambut dan darah Ustadz Fadhil.
Mereka berjalan mondar mandir memikirkan langkah selanjutnya.Kemudian mereka melihat Ustadzah Nabila melintas di depan kamar.
"Aha...Kakak punya Ide,ayo ikut kakak" Ajak Fatih kepada adiknya.
mereka pun berjalan dan berusaha mengejar Ustadzah Nabila.
"Ustadzah Nabila...." Teriak Fatimah.
Fatih terkejut dan melotot ke arah Fatimah.
"Ada apa Fatimah?" Ucap Ustadzah Nabila setelah si Kembar mendekat.
"Maaf Ustadzah mau kemana?kami boleh ikut ga?kami merasa bosan di dalam Asrama ingin niup udara segar di luar" Kata Fatimah dengan logat manjanya.
"O...Ustadzah mau ke Rumah sakit,kebetulan stok obat di Asrama habis dan habis itu Ustadzah mau ke pasar"
"Gimana kalian mau ikut?" Tanya Ustadzah Nabila.
"Emang boleh Ustadzah?" Tanya Fatih setelah tahu maksud Adiknya memanggil Ustadzah Nabila,dan kebetulan sekali Dia ke rumah sakit.
"Boleh...kalau kalian mau ikut ayo..!" Ajak Ustadzah Nabila.
"Apa kita perlu ijin dulu Ustadzah?"
"Ga usah nanti di pos Satpam biar Ustadzah kasih tahu mereka kalau kalian pergi sama saya,tapi janji jangan jauh jauh dari saya ya!karena kalian jadi tanggung jawab Ustadzah" Kata Ustadzah Nabila.
"Siap...Ustadzah..." jawab si kembar serempak.
Mereka berjalan beriring iringan sambil bersholawat.
Tak berapa lama mereka sampai di Rumah sakit.Ustadzah Nabila menyuruh si kembar menunggu di ruang tunggu Rumah sakit,Dia mau ke Apotik untuk mengambil keperluan di Asrama.
Setelah Ustadzah Nabila pergi si kembar langsung ke tempat informasi untuk memasukkan sampel Rambut dan Darah yang mereka bawa.
"Assalamualaikum Suster..." Ucap Fatih kepada Suster di meja informasi.
"Walaikum sallam Adik...ada yang bisa Suster bantu?apa kalian kehilangan orang tua kalian?" Tanya Suster .
"Bukan suster.. tapi kami ingin menyerahkan ini dan minta tolong di cek DNA dengan punya kita" Kata Fatih.
Suster mengerutkan kening,dan heran mana ada seorang anak kecil mau melakukan tes DNA.
"Mana orang tua kamu?" Tanya Suster.
"Maaf Suster kami kesini tanpa orang tua" Kata Fatih lagi.
"Aduh Sayang ya Nak..soalnya peraturan disini harus ada penjaminnya yaitu orang dewasa" Kata Suster lagi.
" Maaf Suster apa karena biaya?kami siap lunasi sekarang,berapa?" Kata Fatih lagi.
"Bukan gitu Nak...tapi emang peraturan Rumah sakit ini harus ada yang jadi jaminan tapi sebagai penjamin harus di atas 18 tahun" Kata Suster tersebut.
__ADS_1
"Aduh..gimana Kak?mosok kita minta tolong Ustadzah?" Kata Fatimah.
"Kakak juga bingung nich..." jawab Fatih.
Si kembar merasa putus asa,sudah dapat sampel tapi ga bisa diteliti.Dalam kebingungan ada yang memanggil mereka.
"Fatih...Fatimah...! Seru Ustadz Fadhil waktu melihat si Kembar di meja informasi.
" Ustad Fadhil" jawab mereka bersamaan.Mereka heran Ustadz Fadhil ada di rumah sakit dengan berpakaian Dokter.
Fatih memukul keningnya.
Kenapa Ana bisa lupa sich...selain Dia ustadz,Dia kan juga seorang Dokter?
"Kalian ngapain di sini?kok bisa keluar dari asrama?"
"Ng....ng...kami..." Usap Fatih gugup.
"Gini Dok.. tadi adik ini mau minta tolong cek DNA,tapi mereka tidak bersama orang tuanya maka kami tidak bisa menerimanya,karena tidak ada penjaminnya" Kata Suster .
Fatih dan Fatimah hanya diam dan merasa mati kutu,karena akhirnya rahasia mereka terbongkar.
"Test DNA?test DNA siapa?" Tanya Ustadz Fadhil.
Si kembar diam dan tidak berani menjawab.
Ustadz Fadhil penasaran makanya berusaha mendesak.
"Maaf Ustadz ini rahasia kami berdua,tapi karena kami menemui jalan buntu tentang penjamin test DNA ini,rasanya sia sia usaha kami"
"Apakah itu sangat penting bagi kalian?mungkin Ustadz bisa membantu?tapi Ustadz tidak mau ada rahasia di depan Ustadz"
"Tapi...Ustadz kami..."
"Ga usah takut Ustadz bisa jaga rahasia kalian"
"Janji" Kata Ustadz Fadhil sambil menautkan jari kelingking ke tangan anak kembar.
"Tapi jangan di sini Ustadz takut ada yang denger" Kata Fatih lagi.
"Baik lah kita ke ruangan Ustadz gimana?" Kata Ustadz Fadhil sambil menarik tangan si Kembar.
"Tunggu Ustadz kami harus ijin Ustadzah Nabila soalnya tadi kita kesini dengan Ustadzah" Kata Fatimah.
"O...kalian dengan Ustadzah Nabila,pasti Ustadzah sedang mengambil obat,biar Ustadz telpon ya..." Kata Ustadz Fadhil.
Waktu mau telpon Ustadz Nabila udah memanggil mereka.
"Assalamualaikum Ustadzah..."
"Walaikum salam Ustadz Fadhil...ternyata di sini tadi saya cari di ruangan ga ada " kata Ustadz Nabila.
Fatih yang sangat peka dengan tatapan Ustadzah Nabila ke Ustadz Fadhil sangat geram dan ga suka.
Awas kamu ya...kalau Ustadz Fadhil Ayahku udah ku congkel tuh mata huh...
Ustadz Fadhil yang juga merasa risih tatapan Ustadzah Nabila berusaha menjauh dari pandangan dan sibuk menggandeng Si kembar.
"Maaf Ustadzah biar si kembar bersama saya dulu ya..ada yang ingin kami bicarakan Apakah Ustadzah Nabila keberatan?" Kata Ustaz Fadhil masih sibuk dengan membetulkan jilbab Fatimah alih alih menjauhi tatapan dari Ustadzah Nabila.
"Ng...ga apa apa Ustadz,kebetulan saya juga mau ke pasar,biarlah mereka di sini biar saya tidak terlalu repot mengawasi mereka" Kata Ustadzah Nabila.
Padahal Aku ke rumah sakit dalih pingin ketemu kamu dan menyatakan perasaan yang lama terpendam.
__ADS_1
e...ini malah cuek aja dan lebih tertarik dengan si kembar.
"Maaf Ustadzah...kalau kami ngerepotin Ustadzah,tapi kami janji tidak akan ngerepotin siapa pun dan Insya Allah kami bisa jaga diri" Kata Fatih tersinggung .
"Mm..bukan gitu maksud Ustadzah..tapi"
"Sudahlah Ustadzah lain kali harus hati hati pengucapan kita di depan anak anak seumuran mereka,kami tinggal dulu ya..Assalamualaikum" Kata Ustadz Fadhil memotong pembicaraan Ustadzah Nabila karena tidak mau lama lama dengan Ustadzah.
Mereka berjalan ke ruang Dokter yang bertuliskan Dr Muhamad Fadhil Al Firdaus.
"Subhanallah...Ustadz Seorang Dokter juga?keren...." Teriak Fatimah sambil menutup mulutnya.
"Kenapa Fatimah...Ustadz emang seorang Dokter ga percaya?"
"Bukan...bukan Ustadz,tapi sangat beruntung ya kalau Fatimah punya Ayah seorang Dokter dan Ustadz lagi" Kata Fatimah dengan ucapan lugunya.
"Fatimah..ingin menganggap Ustadz Ayah kamu?" Tanya Ustadz Fadhil.
"Emang boleh Ustadz?sedangkan Ustadz kan belum pernah punya anak?" Kata Fatimah.
"Adik....apa apan sich kamu" teriak Fatih.
"Kakak apa salah kalau Fat pingin punya Ayah seperti Ustadz Fadzil?Fat lelah tahu akan pencarian kita,nanti kalau hasil tes DNA salah Fat tetap memanggil Ustadz Fadhil sebagai Ayah kan?" Kata Fatimah menangis.
"Sudah...sudah ga usah menangis,mulai sekarang kalian bisa memanggil Ustadz Ayah kok gimana?"
"Betul Ustadz....Asyik...Fat seneng banget,Kak berarti kita ga usah test DNA aja,daripada hasilnya mengecewakan ,toh Ustadz Fadhil mau menjadi ayah kita." Kata Fatimah masih memeluk Fadhil.
"E...tunggu sebenarnya kalian mau tes DNA apa sich...Ustadz masih kepo.."
"Sekarangkan kalian udah jadi anak Ustadz jadi kalian harus jujur gimana?sebenarnya kalian mau tes DNA untuk apa dan dengan siapa?" Tanya Ustadz Fadhil
"Ustadz janji ya tidak bilang dengan siapa siapa?" Tanya Fatih
"Ustadz kan tadi udah janji"
"Begini Ustadz sebenarnya kami mau test DNA dengan Ustadz" Kata Fatih.
"Apa dengan Ustadz?" Tanya Ustadz Fadhil.
"Ya...dengan Ustadz Fadhil kami sudah punya rambut dan darah ini" Kata Fatimah sambil menunjukkan sampel semuanya.
"Kenapa harus dengan Saya?terus kalian dapat ini semua dari mana?"
"Maaf Ustadz kami dapat ini semua dari kemarin waktu kita duel" Kata Fatimah.
Mereka menjelaskan bagaimana mereka mendapatkan ini semua.Fadhil ga nyangka kalau Dia bener bener bisa di percaya dengan anak kecil.
Fadhil juga menanyakan kenapa harus dia yang di jadikan sampel tes DNA.
Fatih menjelaskan dari detail tentang pencarian ayah mereka sampai menemukan nama Fadhil di internet terus mengikuti perlombaan sampai di Tarim,hanya untuk semata mata membuktikan kalau Fadhil ayah kandungnya bukan.
Fadhil menyimak cerita mereka dan ga menyangka mereka tahu tentang Dia,sampai mengejar Dia ke Tarim dan sangat salut perjuangan mereka hanya untuk mencari Ayah Biologis mereka.
Fadhil juga ga menyangka jalan untuk mendapatkan hasil DNA yang Akurat akan sangat mudah,karena Dia tadi sempet di panggil laboratorium kalau sampel yang dia masih kurang dan bisa ga akurat hasilnya.
"Maaf Ya Ustadz..kalau kami melibatkan Ustadz dalam hal ini,karena kami tahu Ustadz belum pernah menikah dan ga mungkin bisa punya anak?" Kata Fatih.
"Kalau Ustadz keberatan dan merasa ga pernah punya anak kami ikhlas ga usah ada tes DNA lagi kami Ikhlas biarlah kami jalani hidup tanpa mengenal ayah kandung sendiri" Kata Fatimah
"Ustadz mau kok tes DNA..jadi ayo kita lakukan biar kalian tidak penasaran" Kata Ustadz Fadil.
"Benar Ustadz..." kata si kembar serempak.
__ADS_1
Fadhil mengangguk,karena dengan cara ini Dia bisa pastiin apakah si Kembar anaknya atau bukan.
"Makasih Ustadz..." Jawab mereka sambil memeluk Ustadz Fadhil.