ANAK DARI USTADZ

ANAK DARI USTADZ
#Di manakah Bundha?#


__ADS_3

Operasi Andini bejalan lancar,untung peluru yang bersarang di lengan kirinya tidak terlalu dalam,cuma luka yang terkena belati sangat dalam dan robek besar.


Setelah Operasi keadaan Andini belum sadarkan diri,waktu itu jam menunjukkan jam tiga pagi.


Rayhan sudah menyiapkan ruang VIP untuk perawatan Andhini.Untuk menjaga yang tidak inginkan Rayhan menempatkan beberapa pengawalan yang ketat di sekitar kamar Andini dan sekeliling Rumah sakit.


"Terimakasih ya Fadh..udah mau membantuku di malam malam gini" Kata Rayhan kepada Fadhil setelah menangani operasi Andini.


"Ga masalah Ray..kita sebagai Dokter sudah kewajiban untuk menolong,walau di jam jam seperti ini"


"Sebenarnya gadis itu siapa?" Tanya Fadhil.


"Dia gadis yang aku ceritakan tadi,dan lukanya akibat di kejar para gangster,Ana ga menyangka kalau mereka akan bertindak cepat" Kata Rayhan.


Sebenarnya gadis itu siapa?


Ana kayanya tidak asing dengan wajahnya.


Batin Fadhil.


"Apakah lukanya tidak serius?" Tanya Reyhan lagi.


"Kamu tenang aja pelurunya sudah di ambil,cuma luka tusuknya terlalu lebar apa tadi Dia mencabutnya?" Tanya Fadhil.


"Tadi Dia emang mencabut belatinya dan langsung melempar ke orang yang punya belati" Kata Rayhan sedih.


"Kok kamu sedih kenapa Ray?"


"Ana hutang nyawa terhadap Dia,mungkin kalau Dia tidak mendorong Ana belati itu akan mengenai Ana" Kata Rayhan.


"Ana tahu perasaanmu Ray...Kamu sedih kenapa kamu tidak melindungi Dia ,tapi malah sebaliknya"


"Iya Fad...Ana merasa tidak berguna,Ana seorang polisi tapi tidak bisa melindunginya,malah Dia yang melindungi Ana" Kata Rayhan.


"Ga usah sedih Ray..mungkin Insting Dia lebih tajam makanya jiwa penolongnya sangat besar,dari cerita kamu Dia adalah kesatria sejati dan sangat kuat"


"Tadi waktu Operasi Ana sempat terkejut dengan pendarahan yang sangat hebat tapi fisiknya sangat kuat,makanya Dia mampu melewati masa kritis dengan cepat" kata Fadhil.


"Apa kamu sudah menghubungi keluarganya Ray"


"Belum...Dia orang Indonesia dan di sini sedang perjalanan dinas dan menjemput anaknya yang sedang berkompetisi katanya" Kata Rayhan


"Berkompetisi apa?"


"Ana juga kurang paham,coba nanti Ana tanyakan ama temannya,cuma tadi anaknya sempat telpon tidak sempat Ana angkat"


"Ana bingung mau bilang apa?kalau emang Anaknya lagi lomba Ana takut akan memecah konsentrasi mereka" Kata Rayhan.


"Ana rasa jangan kasih kabar dulu,biar keadaannya membaik"


"Ray...apakah kamu mencintainya?" Tanya Fadhil.


"Mungkin Fad..baru kali ini Ana merasa jatuh cinta,cuma Ana sadar Dia sudah punya keluarga jadi ga pantas kalau Ana mengganggu hidup mereka" Kata Rayhan berkaca kaca.


"Yang sabar Ray..anggap aja bukan jodoh,O..ya Ana pulang dulu mau,besok Ana harus jadi juri makanya harus beristirahat" Kata Fadhil.


"Sekali lagi Ana ucapkan terimakasih Ya Fad atas bantuannya,soal besok Ana ga janji bisa datang apa tidak nanti Ana hubungi lagi"


"Iya ga apa apa lain kali aja Ana kenalin si kembar ya"


"Assalamualaikum...


" Walaikum sallam".


...****************...


Di jam yang sama Si kembar terjaga dari tidur mereka,Mereka bermimpi Bundanya terkapar tak berdaya terkena senjata api dan belati di tubuhnya.


"Bunda...." Teriak mereka serempak.


Ustadz Ali yang tak sengaja lewat di kamar mereka langsung membuka kamar si kembar.


Waktu di buka Si kembar sedang menangis sambil berpelukan.


"Kalian kenapa?" Tanya Ustadz Ali sambil menghampiri si kembar dan ikut memeluk mereka.


"Ustadz...Bunda ..Ustadz...Hiks...hiks..." Kata mereka serempak.


"Bunda kenapa?ayo cerita pelan pelan ama Ustadz?" Kata Ustadz Ali berusaha menenangkan hati mereka.


"Kami bermimpi Bunda ngeluarin banyak darah Ustadz" Kata Fatimah.


"Fatih juga bermimpi Bunda tertembak dan tertancap belati" Kata Fatih


"Iya Ustadz dalam mimpi Fatimah juga...Hiks...hiks..Bunda..." Tangis Fatimah meledak.


"Sudah...sudah kalian hanya bermimpi,Bunda kalian tidak apa apa?" Kata Ustadz Ali menghibur.


"Tidak...Bunda kami dalam bahaya..tadi Bunda sempat telpon kalau Dia lagi di kejar orang jahat" Kata Fatih tegas.


"Orang jahat gimana?" Tanya Ustadz Ali bingung.


Fatih menyadari kalau baru aja Dia keceplosan bicara.


"Ya..orang jahat tadi kata Bunda dalam mimpi" Kata Fatih berusaha menutupi kejadian sebenarnya.


"Bunda dari tadi malam kami hubungi tidak bisa Ustadz" Kata Fatimah.


"Coba ini Ustadz hubungi Bunda kamu ya.." Kata Ustadz Ali mengeluarkan ponselnya.Dia berusaha menelpon Andini.

__ADS_1


(Nomor yang Anda tuju di luar service area...coba beberapa saat lagi)


Berkali kali Ustadz Ali menghubungi ponsel Andini tapi tidak bisa.


Aduh...Din..kamu dimana?anak anak kamu sangat mencemaskan kamu.


"Sudah sekarang kita Sholat Tahajud dulu ya..dan berdoa semoga Bunda kalian tidak apa apa" Kata Ustadz Ali


Si kembar mengangguk mereka langsung mengambil air wudhu dan sholat tahajud di mushola.


Mereka begitu khusuk melakukan ibadah sholat tahajudnya,Tanpa sepengetahuan Ustadz Ali mereka berkonsentrasi mencari keberadaan Bundanya.


Mereka melakukan Dzikir dan Sholawat nabi untuk memperkuat kemampuan.


Dalam beberapa menit akhirnya mereka menemukan keberadaan Bundanya yang terbaring di rumah sakit.


Mereka masih mendengar suara nafas Bundhanya.Itu pertanda kalau Bundanya masih hidup.


Ustadz Ali yang mendampingi untuk sholat Tahajud,sangat heran karena melihat kekhusukan anak anak didiknya.Baru kali ini Dia melihat ada anak kecil bisa se khusuk ini melebihi orang Dewasa.


Fatimah dan Fatih mengakhiri pencariannya dan mereka membuka mata secara bersama sama,dan melihat Ustadz Ali sedang memperhatikan mereka.


"Ada apa Ustadz kok ngeliatin kaya gitu?kita imut ya?" Kata Fatimah sambil menaruh telunjuknya di pipi dan tersenyum.


"Iya kalian imut dan menggemaskan" Kata Ustadz Ali sambil mencubit pipi bakpaonya Fatimah.


"Sekarang puas puaskan dulu ya Ustadz,nanti kalau Fatimah udah baligh Ustadz ga boleh pegang pegang Fatimah lagi" Kata Fatimah lagi.


"Iya..Sayang ..Walau Ustadz tidak boleh pegang pegang,tapi Ustadz boleh kan selalu anggap Fatimah putri Ustadz yang sangat cantik" kata Ustadz Ali.


Fatimah mengangguk dan tersenyum.


"Ayo chuby kita tadarus dulu.. " Ajak Fatih .


"Baik Kak...Ustadz jadi penyimak hafalan kami ya" Kata Fatimah.


"Siap...Chuby..." Kata Ustadz Ali.


Sambil menunggu Adzan Subuh mereka Tadarus bersama.Fatih sudah berencana setelah Sholat Subuh Dia akan mencari keberadaan Bundanya.


Adzan Subuh berkumandang,Di Mushola satu persatu orang orang mulai berdatangan.Mereka mulai melakukan Sholat berjamaah.


Setelah melakukan Sholat berjamaah ada pengarahan dari Panitia tentang ketentuan lomba.


Ustadz Fadhil sebagai ketua pelaksana memberi arahan tentang lomba yang akan mereka lakukan,termasuk kolaborasi antara Anak dan Orang Tua.


Setelah pengarahan demi pengarahan,Ustadz Fadhil memberi kesempatan peserta mengajukan pertanyaan.


"Maaf Ustadz Saya mau tanya kalau Orang Tua kami tidak datang apakah Kami akan di diskualifikasi" Tanya Fatih.


Fadhil kaget atas pertanyaan anaknya.Kenapa Dia bisa berkata seperti itu,bukannya kemarin Dia bilang kalau Bundanya sudah di Tarim?


"Saya tidak tahu Ustadz..apakah Bunda Saya akan datang atau tidak karena akhir akhir ini Buddha kami sibuk" Kata Fatih sedih,Dia takut kalau Bunganya tidak datang di lihat dari penglihatannya Bunda nya terluka parah.


"Maaf Ustadz bisa ga ya kalau Orang Tua dari si kembar Saya yang menggantikan?Saya di sini selain menjadi guru pendamping juga pengganti orang tua" Kata Ustadz Ali.


"Maaf Ustadz sepertinya tidak bisa,kita tidak ingin ada kecemburuan dari setiap peserta,Ustadz adalah seorang guru dan takutnya nanti nilai yang di peroleh akan menjadi masalah dan kemenangan di anggap tidak murni" Kata Ustadz Rosyid.


"Nak..sesuai dengan peraturan lomba kalau orang tua kalian tidak bisa hadir berarti konsekuensinya nilai kalian dikurangi masing masing 100" Kata Ustadz Fadhil.


"Gimana kalian akan menerimanya?" Tanya Ustadz Imron.


Fatimah dan Fatih saling bertatapan,kemudian mereka mengangguk secara bersamaan.


Mereka menerima konsekuensinya.Dengan pengurangan nilai, Mereka bertekad akan mencari nilai lebih di setiap perlombaan.


Ustadz Fadhil sangat iba,Dia bisa merasakan kesedihan mereka berdua.Kalau Dia bukan panitia ingin sekali Dia yang mendampingi anaknya.


Sebenarnya kalian kenapa?Bukannya Bunda kalian sudah ada di sini?


Ustadz Ali hanya bisa menarik nafasnya.Berkali kali Dia menghubungi Andini juga tidak ada responnya.


Din...kamu kemana?Kasihan si kembar Mereka sudah berjuang sampai sejauh ini,harus kehilangan nilainya hanya gara gara kamu tidak datang?.


Pengarahan dari Panitia pun selesai,para Peserta di wajibkan olahraga pagi bersama sama.


Fatih dan Fatimah malas mengikuti kegiatan tersebut.Karena mereka punya misi untuk mencari Bundanya.


"Kak...gimana ini kita ga bisa mencari Bunda?" Kata Fatimah sambil memakai sepatu kets nya.


"Kakak juga bingung,kalau kita tidak ikut takutnya mengurangi nilai kita,sedangkan nilai kita akan berkurang karena Bunda tidak datang" Kata Fatih.


"Apa kita jujur ama Ayah Kak...kebetulan Ayah kan Dokter,siapa tahu Bunda di rawat di sana?kalau ga kan Ayah pasti punya relasi di rumah sakit lain?" Kata Fatimah sambil membetulkan jilbabnya.


"Boleh juga itu ide kamu,nanti coba kita bilang ama ayah.


" Assalamualaikum ....Anak anak pintar?" Kata Ustadz Zaki.


"Walaikum salam Ustadz..."


"Gimana kalian sudah siap?"


"Siap Ustadz..."


"Ayo kita berangkat!" Kata Ustadz Zaki ambil menggandeng tangan si kembar.


*Di kantor Fadhil*


"Sebenarnya ada apa Al...?bukannya Bunda mereka sudah di Tarim?" Tanya Ustadz Fadhil setelah Ustadz Ali datang ke kantornya.

__ADS_1


"Ana tidak tahu Dil...Bundanya Kami hubungi tidak bisa,semalam mereka tiba tiba menangis


"Katanya mereka bermimpi kalau Bundanya kenapa napa?" Kata Ustadz Ali.


"Mimpi apa?"


"Ana kurang pasti,Semalam Ana langsung mengajak mereka untuk Sholat Tahajud,setelah itu kelihatannya mereka sudah tenang makanya Ana ga tega kalau menanyakan lagi takut kalau mereka sedih"


"Baiklah Al...semoga Bundanya tidak kenapa napa dan semoga Dia bisa datang biar mereka tidak kecewa" Kata Fadhil.


"Terimakasih Al...atas infonya..kamu bisa kembali agar bisa mendampingi mereka dan melupakan kesedihan mereka supaya mereka bisa berkonsentrasi,sangat di sayangkan kalau mereka gagal" Kata Fadhil.


Ustadz Ali akhirnya berpamitan dan mencari Si kembar yang sudah pergi dengan Ustadz Zaki.


Ustadz Fadhil menghubungi panitia yang menerima kedatangan orang tua peserta ternyata belum ada kabar dari Bundanya si kembar.Sedangkan tiga peserta lainnya kedua orang tua mereka sudah datang.


Ustadz Fadhil menarik nafas panjang,Dia membayangkan tatapan kesedihan di mata anaknya.


Ya Allah...


apa arti semua ini


apakah belum saatnya Saya bertemu dengan Bundanya mereka


...****************...


*Di Rumah sakit*


Setelah beberapa jam dari operasi akhirnya Andini sadar,Dia melihat Nadia sedang makan disamping bad nya.


"Nad...." Kata Andini lemah.


"Alhamdulilah...An..kamu sudah sadar" Kata Nadia bahagia sambil memencet tombol untuk memanggil Dokter.


Beberapa menit kemudian Dokter dan suster datang dan memeriksa Andini.


"Alhamdulilah...Nona sudah sadar,dan keadaan Nona sudah membaik,tinggal masa pemulihan aja" kata Dokter yang memeriksa.


"Terimakasih Dok..."


"Oh..ya ini jam berapa Dok?"


"Jam delapan Nona,ada apa Nona lapar?"


"Bukan itu Dok...boleh ga kalau Saya keluar sekarang?"


"Keluar sekarang Non?Nona baru saja sadar dan luka Nona masih basah,lebih baik untuk sementara Nona harus istirahat dulu ya" Kata Dokter itu.


"Iya..An...lo istirahat dulu ,jahitan mu belum kering " Kata Nadia.


"Ga bisa Nad.. Gua harus keluar sekarang,pasti anak anak Gua sudah nungguin,hari ini adalah penentuan mereka,kalau Gua ga datang takutnya mereka didiskualifikasi kasihan mereka sudah berjuang sejauh ini Nad.." Kata Andini berusaha bangun.


"Tapi An...luka kamu?"


"Udah tenang aja,yang luka kan lengan gua ,insya Allah gua masih bisa mengatasinya" Kata Andini berusaha mengumpulkan tenaganya walau kepala masih agak pusing mungkin efek obat bius pasca operasi.


"Gimana ini Dok..." Tanya Nadia.


"Nona jangan bergerak dulu ya Non...takutnya jahitan akan robek lagi" Kata Dokter.


"Saya bisa jaga diri kok Dok,Jahitan ga akan robek kalau tidak saya gerakkan kan?Saya janji tidak akan menggerakkan lengan Saya,Please ya Dok...kasihan Anak Saya" Kata Andini.


"Sebentar ya Non Saya telpon Dokter Fadhil dulu soalnya Beliau semalam yang mengoperasi Nona Andini" Kata Dokter itu sambil menelpon Dokter Fadil.


Di waktu bersamaan Rayhan datang untuk menjenguk Andini.


"Alhamdulilah...Kamu sudah sadar An..." Kata Rayhan sambil melihat wajah Andini dengan seksama.


Kini Dia bisa melihat kecantikan yang begitu sempurna tanpa darah yang mengalir.


Jantung Rayhan berdetak kencang.Dia berusaha menata hatinya.


Ach...ada apa dengan diriku?


Apakah ini yang namanya jatuh cinta?


"Untung Pak Ray datang,tolong bujuk Gadis keras kepala ini Pak Ray biar Dia tidak maksa untuk meninggalkan Rumah sakit" Kata Nadia membuyarkan lamunan Rayhan.


"Pak...pak ..Ray.. " Panggil Nadia


"E...iya ada apa Nad.." kata Rayhan gugup.


"Ach...Pak Ray gimana sich..di ajak ngomong kok malah gugup gitu,naksir ya ama si keras kepala ini" Kata Nadia menggoda Rayhan.


"Kamu Nad..ada ada aja,Pak Ray gugup mungkin karena denger suara kamu yang cempreng kaya kaleng rombeng jadi Dia kaget" Kata Andini.


"Maaf Nad..tadi Saya emang terkejut,karena lihat Andini tanpa cadar?"


"Aduh maaf Pak Ray..jujur Saya bukan lah gadis gadis di Tarim yang umumnya pakai cadar,Saya memakai cadar karena takut kalau di demo orang sini kok ga pake cadar ,Saya kan orang baru " Kata Andini.


"Saya ga masalah kok An..lagian Saya juga bukanlah seorang Ustadz ,soal kamu pakai cadar ga nya ga masalah."


"Dan maaf kalau semalam Saya sudah berani buka cadar kamu karena saya takut kurang oksigen di saat kamu pingsan " Kata Rayhan sambil menunduk.Lama lama menatap mata Andini hatinya semakin ga karuan.


Andini mendengarkan apa yang di katakan Rayhan,tapi Dia tidak terlalu fokus karena mengingat anak kembarnya pasti menunggunya.


Andini menghidupkan ponselnya yang sempat mati karena kehabisan daya baterai.Banyak notif panggilan tak terjawab dari anak anaknya dan Ustadz Ali.


Pasti mereka mencemaskan?

__ADS_1


__ADS_2