ANAK DARI USTADZ

ANAK DARI USTADZ
#Menjaga Kedai Ibu#


__ADS_3

Keesokan harinya Andini membantu ibunya prepare kedai makan ibunya.Ibunya juga sibuk masak di dapur.Setelah selesai semua Andini mulai membuka laptopnya dan mulai mengerjakan laporan laporan yang harus Dia selesaikan sebelum berangkat ke Tarim.


Setelah menyelesaikan semua laporan Andini keluar dan menemui seseorang .Sebelum pergi Dia sudah minta tolong anak buahnya untuk menjaga Arumi dari kejauhan.


Semenjak insiden kemarin Andini mulai posesif dengan Ibunya,walau Dia ga pernah meragukan kemampuan Arumi tapi Andini lebih nyaman kalau ada yang bantu mengawasi.


Andini menjalankan mobilnya ke arah Cafe tempat Dia janjian dengan seseorang untuk menjaga Ibunya dari dalam.


Sampai di cafe Dia langsung menuju meja yang sudah di pesan atas namanya.


Di meja tersebut sudah terlihat Bibinya dan Dua orang yang umurnya di bawah Dia.


"Assalamualaikum Bibi...maaf udah nunggu lama" Kata Andini sambil menyalami mereka.


"Walaikum salam...wah tambah cantik aja kamu Nak..." Kata Bibi Tania.


"Iya Kak..tambah cakep aja,beda waktu pertama ketemu dulu" Kata Akbar anak Bibi Tania yang cowok


"Iya beda dong Kak,dulu mah Stylenya Macho sekarang berhijab,tambah cantik" Kata Inara Anak Bibi Tania yang cewek.


"Kalian bisa aja..dulu masih lajang sekarang udah buntut dua jadi ya harus berubah" Andini sambil melihat menu di cafe.


"Udah pada pesen?"


"Belum Kak ga enak mosok kita pesen duluan"


"Udah pesen aja,silahkan" Kata Andini sambil memberikan menu kepada mereka.


Setelah memesan makan dan minum,Andini langsung membicarakan pokok permasalahan kenapa minta bantuan dari Mang Asep.


"Jadi gitu Bik,Andini ga tenang apalagi kepergian Andini begitu lama bisa sampai satu bulan,la Andini takut kalau Ibu di ganggu lagi"


"Tapi kan Ibumu bisa jaga diri Nak...kemampuan Dia di atas kami"


"Andini tahu Ibu bisa jaga diri,tapi orang yang kemarin bikin rusuh itu pemilik bar yang tidak jauh dari sini dan biasanya Dia punya centeng banyak,Andhini takut Ibu kewalahan lagian Dia juga belum menguasai Ilmu leluhur yang pernah Andini dapat dari Kakek"


"Ya ..emang benar itu Nak...ilmu itu hanya bisa di kuasai beberapa orang saja,dari generasi Kakekmu hanya Dia yang bisa menguasai,terus di generasi Ibumu sama sekali tidak ada yang mampu makanya timbul perpecahan"


"Tapi sekarang di generasi kamu sekarang hanya kamu yang bisa selanjutnya Bibi belum tahu siapa yang bisa menguasai lagi,Generasi Akbar belum ada yang terlihat,dan Generasi Inara juga tidak ada"


"Cuma Bapak sebelum meninggal pernah memberitahu yang bisa menguasai berikutnya sudah ada cuma masih dalam kandungan"


"Itu sekitar kapan ya Bik,Andini tidak tahu kalau Kakek meninggal,tapi waktu Andini mau melahirkan Andini merasa di temani Kakek,dan Dia bilang suruh jaga anak anak Andini dengan baik dan Andini di suruh menanamkan Agama yang kuat intuk menyeimbangi kepribadian mereka"


"Anak kamu sekarang umur berapa?"


"Sebentar lagi umur empat tahun"


"Nah...apa yang di maksud Bapak itu anak kamu Nak,soalnya Bapak juga meninggal empat tahun lalu"


"Bisa jadi itu Kak,apa ada hal hal aneh dari diri anak anak Kakak?"


"Hal aneh seperti apa ya...kayanya biasa biasa aja"


"Ya...kaya kemampuannya melebihi dari umur sebenarnya" Kata Bibi Tania.


"Kalau itu banyak Bik,kecerdasan mereka setara anak Kuliahan,terkadang Andini selalu berbeda pendapat dengan mereka"


"Andini jadi pusing mendidiknya,tapi untung ada Ibu yang sabar mendidik mereka, katanya dulu Andini juga seperti itu waktu masa kecilnya"


"Bisa jadi yang di katakan Kakek itu adalah anak anak Kakak,coba sekali kali Kakak uji kemampuan mereka soal ilmu leluhur gimana?"


"Ya..mungkin nanti Andini akan coba"


"La terus sekarang anak anak kamu di mana?"


"Mereka lagi di Tarim ngikut Tahfiz Alquran tingkat Internasional mewakili Indonesia,makanya nanti sore Andini mau terbang kesana sekalian urusan kerja tapi juga sekalian dampingi mereka di Babak final"


"Wah hebat dong keponakan keponakan kita,Inara jadi penasaran ingin bermain dengan mereka"


"Kalau kamu ingin main tunggu kami kembali,tapi kamu betah ga?"


"Insya Allah betah Kak,lagian ni Inara berencana mau kuliah di sini,Kak Akbar aja bisa kuliah di sini kenapa Inara tidak"


"O...kamu kuliah di sini Bar?Kok Kakak ga tahu?"


"Gimana Kakak tahu,semenjak perebutan perguruan Kakak terus ga ada kabar?terus baru kali ini Kakak kasih kabar ke kami"


"Maaf bukannya ga mau kasih kabar,tapi waktu itu kami ada masalah akhirnya kabur ke Palembang,dan di Jakarta baru satu bulan ini"


"Ya..udah ayo makannya di habiskan sampai kapan kita di sini terus?"kata Bibi Tania


"O..iya Bik jadi lupa keasyikan ngobrol,silahkan di makan dulu" Kata Andini sambil memasukkan makanan di dalam mulutnya.


Beberapa menit kemudian mereka berempat keluar dari cafe dan menuju ke tempat parkiran.


Di dalam mobil Andini menjelaskan strategi untuk menjaga Arumi,Andini juga bercerita sudah menempatkan beberapa anak buah untuk mengawasi kedai dan Ibunya.

__ADS_1


Sampai di depan kedai Andini menunjuk rumah yang sangat besar yang terletak tidak jauh dari Kedai.


Andini mengatakan kalau rumah itu adalah miliknya dan sebagai markas,Dia berencana rumah itu buat latihan latihan anaknya untuk mengembangkan bakat mereka.


Mereka turun dan menuju ke rumah besar itu.Mereka terkagum kagum akan dekor rumahnya yang terisi berbagai macam alat untuk penyalur bakat.


Akbar sangat senang,dan ingin tinggal di rumah itu bersama anak buah Andini.


Andini menyetujui keinginan Akbar.Kemudian mereka menuju ke kedai Arumi.


Di dalam kedai sangat ramai, anak buah Andini yang Dia suruh menjaga Arumi ikut membantunya juga.


"Assalamualaikum Ibu..."


"Kamu sudah pulang Nak?"


"Sudah Bu...,mana yang belum di siapkan?"


"Itu..." kata Arumi sambil menunjukkan kertas orderan yang menumpuk.


"Kamu bawa teman An?ga kamu suruh masuk ke dalam aja?"


"Teman?Siapa Bu?"


"Itu yang duduk di belakang paling pojok,tadi bukannya datang dengan kamu?"


"O...mereka yang akan bantu Ibu di kedai,udah Ibu samperin sana biar Andini yang menyiapkan ini semua"


"La kok yang membantu Ibu di kedai?la mereka?" Kata Arumi sambil menunjukkan ke Anak Buah Andini yang mengantar makanan.


"O...itu mereka tugasnya bukan membantu di kedai Bu,mereka Andini suruh untuk menjaga kedai dari perusuh,Kok bisa mereka membantu Ibu?"


"Ibu yang suruh,sepeninggalan kamu Ibu merasa ada orang yang mengawasi Ibu takutnya Dia yang di suruh orang kemarin,makanya Ibu samperin mereka dan Ibu mengucapkan BRAVO,mereka merespon kata Ibu mengucapkan CAKAR AYAM, jadi Ibu tahu itu suruhan kamu,makanya Ibu ajak mereka masuk ke kedai"


"Ga tahunya di saat Kedai ramai mereka malah membantu Ibu menemui pelanggan dan menyodorkan menu"


"Ya Alhamdulilah ...walau ramai masih bisa di atasi,makasih ya Nak"


"Udah simpan makasih nya nanti,tolong temui mereka Ibu yang lebih tahu apa yang harus di kerjakan,tapi tolong bawa kedalam dulu ngobrol di ruang tamu,biar ini semua Andini yang kerjain"


"Dikit lagi udah mau kelar kan?"


Arumi mengangguk dan menghampiri mereka.Sekian detik Arumi melihat ke arah Tania,Dia mengerutkan kening tanda mengingat ingat sesuatu.


Tania yang dari tadi di lihatin Arumi,dan tidak bisa menahan kerinduan dengan Kakaknya langsung memeluk Arumi.


"Tania?maaf Kakak udah lupa,Masya Allah ini kamu Tania?" Arumi langsung membalas pelukan Tania.


"Subhanallah...gimana kabar kamu Tania?kok kurusan dan kelihatan Tua"


"Idih...Kakak mentang mentang masih cantik terus ngatain Tania sudah Tua ya"


"Maaf bercanda,mereka?"


" Ini Anak Anak Tania kenalkan yang Ini Akbar dan yang satunya Inara" Tania memperkenalkan anaknya ke Arumi.


Arumi langsung mengajak masuk mereka kedalam dan melewati Andini yang sedang mengirim makanan ke para pelanggan.


"Awas kamu ya hutang penjelasan ke Ibu!" kata Arumi sambil berbisik.


Andini tersenyum dan mengangguk ke Bibi Tania.


Setelah semua sudah kelar Andini memanggil Anak buahnya dan memberikan sepuluh bungkus makanan untuk makan siang mereka dan lainnya.


"Ini bawa pulang dulu dan Makan siang lah dulu,jangan lupa pada sholat,makasih sudah membantu Ibu hari ini"


"Kalian kembalilah ke Basecamp,di sini sudah ada Aku,tetap awasi dari luar." Kata Andini.


"Makasih mbak kami pamit dulu" Kata anak buahnya sambil undur diri.


Sepeninggalan anak buah Andini,Dia menuju ke dapur untuk cuci piring,Dia melakukan dengan cekatan.Walau di dapur Andini masih bisa mengawasi dari dalam.Karena dapurnya Dia desain untuk bisa mengawasi dari dalam dan tidak kelihatan dari luar.


Setelah selesai semua Dia merenggangkan otot,dan keluar dari dapur.Para pelanggan tinggal Dua meja.


Andini menuju ke ruang tamu di sana mereka pada tertawa.Andhini kembali ke kedai memberikan kesempatan mereka untuk bernostalgia.


Ketika keluar dari ruang tamu,Andini melihat Aditya dan Jefri masuk kedalam kedainya.


Napa lagi mereka datang kesini?apa ada laporanku yang salah?


"Selamat siang Tuan,mau pesen apa?" Tanya Andini langsung menyapa Boz bosnya.


"Hai kamu Andini aku pesan menu yang kemarin ya,masakan di sini bikin ketagihan" Kata Jefri.


"Ga coba menu yang lain Tuan?"


Andini langsung mempromosikan menu menu favorit lainnya.Dia menjelaskan komposisinya dan menyebutkan kalau makanan itu aman untuk penyakit Diabetes.

__ADS_1


"Wah boleh saya coba,kamu tahu aja kalau saya punya penyakit Diabetes?" Kata Jefri.


"Tuan Aditya gimana apa mau coba menu lain,kami ada menu untuk menjaga jantung biar bekerja lebih baik"


"Boleh juga,tapi untuk Cuminya jangan di ganti ya..itu makanan favorit saya yang biasa di masakin oleh istri saya"


"Baik Tuan saya akan mengurangi minyak agar baik untuk jantung Tuan"


"Tapi maaf Tuan kenapa tidak suruh masakin Istri Tuan daripada jajan di luar?"


"Istri saya hilang entah kemana" Kata Aditya sedih.


Nak kalau kamu tahu istri saya itu Ibu kamu,dan saya ini Ayah kamu?


Andini berusaha menjelajahi ala. pikiran Aditya tapi lagi lagi terhalang kacamata.


***Lagi lagi gue gagal menembusnya,gue penasaran apa yang ada di di kepalanya kok mampir kesini,Kalau urusan di Tarim selesai gue harus bisa menembus kaca,mosok nembus tembok aja gue bisa,tapi ini nembus kaca susahnya minta ampun.


Tapi tunggu kenapa di pikiran Pak Jefri ada Tes DNA?Test DNA siapa?apa anakku?mana mungkin?seingat Gue yang tidur ama Gue waktu itu masih muda?apa anaknya Pak Adit?tapi setahu gue Pak Addit belum punya anak***?


Monolog Andini sambil menyiapkan pesanannya mereka.


"Wah Kedai makan Istri kamu hebat juga ya,walau sederhana mereka mengutamakan kesehatan pelanggan,pantas ramai terus kedainya"


"Ya.. aku ga menyangka Jef..walau tanpa aku mereka hidup lebih baik,makanya aku takut memberitahu kebenarannya,terus kalau mereka membenciku gimana?Aku ga bisa melihat mereka dari dekat seperti ini" Kata Aditya sedih.


"Terus kamu tidak ingin memberitahu ama Andini kalau Kamu Ayahnya?"


"Entahlah Jef mungkin tidak sekarang?"


"Apalagi perusahaan saat ini masih butuh sosok seperti Andini,Aku takut Dia akan membenciku dan keluar dari perusahaan" Kata Aditya lagi.


"Terserah kamu aja Dit,yang terbaik yang mana?" Kata Jefri.


"Maaf Tuan lama menunggu pesanannya,tadi ada masalah sedikit dengan customer?" Kata Andini sambil memberikan menu makan siang Boz nya.


"Masalah apa?" Tanya Aditya


"Biasa Tuan permintaan pembeli yang aneh aneh,dan berharap Ibu yang melayaninya,katanya aku anak muda ga tahu akan menu gizi yang baik,Dia lebih percaya di tangani Ibu"


"Laki laki atau perempuan?"Kata Aditya ada nada cemburu


"Ibu ibu Tuan" Kata Andini.


"O..tak kira laki laki" Kata Aditya memelankan suaranya.


Walaupun pelan tapi Andini masih mendengarnya.Dan mengernyitkan keningnya.


Jefri yang tadi diam tahu kalau Aditya sedang di landa api cemburu berusaha mencairkan suasana dan tidak mau Andini salah paham.


"O..ya Dhin..kedai Ibu kamu selalu ramai apalagi di jam jam makan siang atau malam,apa kamu tidak butuh karyawan untuk membantu ibu kamu?tadi aku lihat kamu juga kewalahan sendiri" Kata Jefri.


"Sudah saya pikirkan kok Tuan,makanya Ibu tadi lagi di dalam menemui saudara yang ingin membantu Ibu,biar Andini tenang kalau pergi nanti" Kata Andini.


"Berapa orang?" Kata Jefri.


"Bibi ama dua orang anaknya,tapi mereka cuma sementara selama saya pergi"


"Kalau untuk selamanya nanti kalau Andini udah kembali ke Tarim,untuk merekrut karyawan dalam waktu dekat kayanya ga mudah" Kata Andini lagi.


"Biar Jefri yang bantu,besok pasti ada karyawan baru disini,Tiga orang cukup?" Kata Aditya


"Tapi Tuan...?" Kata Andini.


"Kenapa?kurang?atau soal gaji mereka?ga usah khawatir biar perusahaan yang menggaji" Kata Aditya


"Hitung hitung Bonusmu waktu membongkar kelicikan Anton?" Kata Aditya lagi.


"Bukan masalah gaji Tuan,Insya Allah pendapatan dari kedai masih bisa,tapi saya mencari karyawan yang bisa beladiri,jadi nanti kalau ada perusuh mereka bisa melindungi dan mengatasi" Kata Andini.


"Apa Bibi ma anaknya bisa beladiri?" Tanya Jefri.


"Iya Tuan kebetulan keluarga Ibu semua jago beladiri" Kata Andini.


"Menurutku untuk saat ini biar Jefri cari karyawan yang standar dulu,sedangkan Bibimu dan anaknya sekedar membantu nanti kalau ada apa apa mereka yang mengatasi gimana?" Tanya Aditya


"Nanti setelah kamu kembali kita baru mencari karyawan sesuai harapan kamu"


"Dan untuk saat ini untuk keamanan kedai biar kami yang membantu." Kata Aditya lagi.


"Terimakasih Tuan soal pengawalan kedai sudah ada teman teman yang membantu,Tuan tidak usah repot repot,tapi kalau Tuan Jefri mau membantu mencari karyawan untuk kedai dengan senang hati saya terima"


"Saya percaya sama Tuan Jefri,dan biar besok Ibu yang mengajari mereka." kata Andini.


"Saya pamit dulu Tuan sudah telat untuk Sholat Dhuhur,Assalamualaikum...." Pamit Andini.


"Walaikum sallam..."

__ADS_1


Aditya dan Jefri menikmati makan siang mereka.Terlihat sangat puas dengan rekomendasi menunya,Jefri tersenyum puas.


__ADS_2