
Setelah kepergian Anton ,Andini mohon diri dan ingin melanjutkan pekerjaannya.Tapi sebelum pergi Andini mengirim kan File ke Email Jefri.
Jefri melihat ada notif di emailnya kemudian Dia membuka.
"Astaghfirullah...." Teriak Jefri sehingga membuat Aditya terkejut.
"Kenapa Jef..."
"Lihat ni Dit...aku yang sudah berbulan bulan aja mencari data 25 % saham kita kemana,la ini anak baru satu bulan di sini udah mendapatkan info tentang saham kita" Kata Jefri tidak percaya.
Adit mengecek apa yang di katakan Jefri,di sana tertulis 25% saham Pratama di pegang perusahaan XX di luar negeri.
"Jef...kamu harus mengangkat dia menjadi sekertaris ku gimana?kayanya dedikasinya sangat bagus" Kata Aditya
"Dan aku minta tolong cari tahu tentang dia" Perintah Aditya lagi.
***Apa aku kasih tahu Adit ya...
Ach...tar dulu aja aku belum bisa pastiin dia bener anak Arumi bukan***?
Jefri ke luar ruangan dan ke HRD untuk pemindahan jabatan Andini menjadi Sekertaris.Setelah itu Dia kembali ke ruangan untuk mengevaluasi tentang saham 25%.
Tok...tok...
"Ya Masuk..." kata Jefri mendengar suara pintu di ketuk di luar.
"Maaf Pak...saya ganggu waktu Bapak?" Kata Andini
"Mm.. ada yang bisa saya bantu?
" Begini Pak...saya cuma mau tanya kenapa saya di pindah tugaskan jadi sekertaris?apa ada kesalahan saya?atau kinerja saya yang kurang bagus?"
"O.. itu kamu di pindahkan bukan karena kinerja kamu kurang bagus atau gimana justru sebaliknya kami puas akan kinerja kamu makanya kami pindahkan ke jabatan yang lebih baik menjadi sekertaris CEO langsung"
"Apa kamu keberatan?"
"Kalau boleh jujur saya keberatan Pak?Soalnya Sekertaris bukan besic saya,jadi apa boleh saya menolaknya?" Kata Andini
"Lagian apa kalian sudah mempunyai pengganti saya? sedangkan operasional perusahaan terus berjalan dan musuh musuh masih berkeliaran mencari celah kelemahan manajemen keuangan kita." Lanjut Andini.
Jefri kemudian merenung apa yang dikatakan Andhini.Untuk saat ini manajemen keuangan lebih penting dari pada sekertaris CEO,tugas sekertaris selama ini dia mengerjakan semua.
"Kalau itu keputusanmu nanti coba aku rundingkan ama CEO" kata Jefri
"Makasih..Pak.."
"O..ya..kalau selama ini Pak Jefri merasa kerepotan dengan pekerjaan ,Insya Allah saya siap membantu" Kata Andini
"Terima kasih...."
"Tunggu sebentar..."
"Ada apa Pak?"
"Apakah kamu sudah punya cara bagaimana mengambil alih saham 25%?" Tanya Jefri.
"Apakah itu salah satu tugas Bapak yang belum bisa di pecahkan?"Tanya Andini.
Jefri mengangguk
" Terus terang saya belum bisa mendapatkan titik kelemahan perusahaan itu?" Kata Jefri lagi.
"Insya Allah saya siap membantu,tapi dengan syarat saya masih di tempatkan di posisi saya,dan dalam waktu dekat ini saya mau ijin cuti satu bulan" Kata Andini.
"Cuti satu bulan?" tanya Jefri.
"Maaf Pak mungkin saya lancang ijin satu bulan karena saya baru satu bulan di sini,tapi ini bener bener mendesak karena saya harus mendampingi anak anak saya sedang berjuang mengikuti Hafidz Alquran ."
"Kalau tidak di ijinkan lebih baik saya mengundurkan diri" Kata Andini.
"Kamu sudah punya anak?" Tanya Jefri heran.
"Iya Pak...maaf di data saya tidak saya cantumkan kalau saya sudah punya anak" Kata Andini.
"Bukan ingin menipu Pak,tapi Pak Wahyu juga sudah tahu kalau Saya sudah punya anak,apa salah kalau karyawan sini memilik anak?kalau salah Saya minta maaf dan lebih baik saya mengundurkan diri saja" kata Andini lagi
"Soal ini nanti saya tanyakan ke CEO dulu..saya tidak berani memutuskan,dan tidak masalah kalau karyawan sudah punya keluarga" Kata Jefri masih bingung ternyata gadis di depannya sudah punya anak tapi mengapa di datanya masih lajang dan Dia tidak melihat cincin nikah di jari manisnya.
Andini hanya diam dan Dia bisa membaca pikiran Jefri tentang statusnya.
Semoga Pak Jefri tidak bisa membaca pikiran ku.
"Kalau gitu saya undur diri Pak...sebentar lagi waktunya pulang,saya takut ibu terlalu lama menunggu"
"Assalamualaikum..." Pamit Andini Dia tidak mau lama lama di depan Jefri takut menanyakan tentang suaminya.
"Walaikum Sallam"
Andini meninggalkan ruangan Jefri.
Apa Gue ikutin Dia aja ya
Biar tahu apakah ibunya adalah Arumi.
Jefri pun bergegas untuk menyusul Andini,Tapi...
Kring ..kring...
"Ya hello.."
__ADS_1
"Ya..ya..gue ke ruangan Loe!"Jawab Jefri.
Karena panggilan Aditya,Jefri tidak jadi mengikuti Andini.
...****************...
Kota Tarim.
" Kakak...gimana kayaknya Ustad Fadhil bukan Ayah kita?" Kata Fatimah.
"Hush...jangan keras keras nanti pada denger!" Kata Fatih sambil menaruh jari telunjuknya di bibir Fatimah.
"Maaf..Kak..lagian Fat sebel harapan kita akan bertemu Ayah tapi nyatanya sia sia"
"Padahal wajah kita bener bener mirip,tapi nyatanya Dia melihat kita biasa biasa aja,dan tidak terkejut,berarti itu tandanya Dia emang belum pernah punya anak?"
"Terus Fat denger kalau Ustad Fadhil belum pernah menikah?" Kata Fatimah kesal karena merasa usahanya gagal.
"Adik kamu harus tenang dan sabar,apa kamu akan menyerah sampai di sini?kita sudah melangkah jauh lo?" Kata Fatih menenangkan adiknya.
"terus kita harus gimana Kak?untuk buktiin kalau Ustad Fadhil itu ayah kita atau bukan?" Tanya Fatimah pada Kakaknya.
"Gini aja minggu depan kan ada kunjungan dari dewan Juri,dan Kakak yakin kalau Ustad Fadhil juga datang,nach ...kesempatan itu kita gunakan untuk mengambil rambut dan darah Ustadz gimana?" Kata Fatih pada adiknya.
Fatih pun menjelaskan ke Fatimah bagaimana cara mendapatkan itu semua.Fatimah mengangguk dan tanda mengerti.
"Kak kalau hasilnya Dia Ayah kita terus apa yang kita lakukan?apakah langsung datang dan mengatakan kalau kita anaknya?" Tanya Fatimah.
"Kalau itu Kakak belum terpikirkan,target Kakak kita harus memecahkan teka teki ini sebelum kehadiran Bunda"
"La...kehadiran Bunda kan satu bulan lagi?dimana para peserta harus bekerja sama dengan Bundanya menyelesaikan soal soal yang di berikan juri."
"Apa kita bisa Kak?" Tanya Fatimah.
"Jangan pesimis dulu Dik,makanya minggu ke depan adalah kesempatan kita" Kata Fatih.
"Kak...kalau emang Dia bukan ayah kita,terus gimana?"
"Kalau Dia bukan Ayah kita berarti kita akan ikhlaskan Bunda cari Ayah baru,atau mungkin kita cariin jodoh Bunda"
"Cari jodoh Bunda?wah..boleh juga tuh?Fatimah kayanya udah punya kandidatnya" Kata Fatimah sambil tersenyum.
"Wah sudah GERCEP juga kamu tentang kandidat jodoh Bunda?"
"Ya... jelas dong..siapa yang tidak ingin punya Ayah seperti yang lain" Kata Fatimah sambil menangis.
"Sudah...sudah jangan melow gitu ach..." Kata Fatih sambil merengkuh bahu Adiknya dan membiarkan dia menangis di dalam pelukannya.
Ehe Mm...eh mm
Tiba tiba ada suara deheman di belakang mereka.
"Ustad Ali...
Ustad Zaki...
Seru mereka bersamaan.
" Wah.. kayanya lagi asyik nich.. boleh Ustadz gabung?" Kata Ustadz Ali
"Boleh..Ustadz.." Kata mereka bersamaan.
"Lo..kok Fatimah nangis kenapa?" Tanya Ustadz Zaki waktu melihat mata Fatimah sembab.
"Ga..ga nangis kata siapa?ni habis kemasukan debu...Betul ga Kak?" kata Fatimah minta dukungan sang Kakak.
"Ga tahu...tadi bukannya kamu nangis karena rindu Ayah?" Kata Fatih sengaja pingin tahu reaksi Ustadz Zaki,Karena Fatih tahu pasti yang menjadi kandidat Adiknya adalah Ustadz Zaki,Apa salahnya sekarang memulai menggali perasaan Ustad Zaki tentang Bundanya buat berjaga jaga kalau emang Ustad Fadhil bukan Ayahnya.
"Tumben Kalian rindu Ayah... ?" Tanya Ustad Ali,karena selama mengenal mereka,mereka tidak pernah menyinggung tentang Ayahnya.
"Ya...Kan di sini ga ada Bunda Ustadz,Ustadz tahu sendiri Bunda gimana?"
"Fatimah cuma iri kepada mereka yang didampingi Orang tua lengkap"
"Kalau Fatimah mau anggap aja Ustad Zaki itu ayah kamu gimana?" Tanya Ustad Zaki sambil mengelus kepala Fatimah.
"Bener.. Ustad Zaki mau jadi Ayah Fatimah dan Kakak?"
"Iya...emang Ustad Zaki suka bohong?"
"Maksud Fatimah bukan Ayah bohongan tapi Ayah beneran?gimana?" Kata Fatimah lagi
"Ayah beneran gimana maksudnya?" Tanya Ustad Zaki bingung.
"Maksudnya Ustad Zaki mau menikah dengan Bunda,tapi sebelum menikah dengan Bunda Ustad Zaki bener bener menyayangi Bunda dan menerima Bunda apa adanya,serta menerima kami sebagai anak Ustad Zaki" Jelas Fatih.
"Kalau Ustad Zaki ga sayang Bunda ya ga usah aja...nanti kita cari yang lain" Kata Fatimah.
Ustad Zaki terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa.Kalau yang menanyakan itu Bundanya sendiri mungkin Dia akan menjawab kalau Dia bener menyayanginya dan ingin mempersuntingnya,tapi ini yang bertanya hanya seorang anak kecil yang belum tahu permasalahan orang dewasa.
Ustad Ali melihat rekannya kebingungan akhirnya ikut bicara.
"Fatih dan Fatimah ni kan udah malam,kalian tidur dulu sana! Soal mencari pengganti Ayah biar Bunda sendiri yang memutuskan ya...kalian tahu Bunda kalian seperti apa"
"Ustad Ali dan Ustad Zaki mau kok jadi ayah kalian tapi bukan berarti harus menjadi suami Bundamu,karena semua itu biar Bundamu yang memilih oke"
"Mungkin kamu suka sama Ustad Zaki tapi belum tentu Bundamu suka ama Ustad Zaki kan?"
"Malam ini cukup sampai di sini dulu ya satu minggu lagi kamu persiapkan untuk kunjungan para juri,dan kalian harus mengeluarkan bakat kalian selain mengaji"
__ADS_1
"Para dewan juri akan memberi pilihan sesuai bakat mereka masing masing"
"Dengan bakat kalian nanti akan di adu tanding dengan dewan juri "
"Kira kira kalian akan memperlihatkan bakat apa?" Tanya Ustad Ali
"Tergantung pilihan bakat yang di berikan Dewan juri Ustadz,mungkin Ustad Ali bisa memberi bocoran kepada kami,sehingga kami tahu dengan bakat apa kita akan mengalah kan dewan juri" Tanya Fatih .
"Coba besok Ustad tanya kepada guru pembimbing ya...karena Ustad tidak tahu" Kata Ustad Ali lagi.
"Udah sana kembali ke kamar kalian masing masing,hari sudah terlarut malam tidak baik untuk anak kecil seperti kalian" Lanjut Ustad Ali.
"Baik Ustadz kami masuk ke kamar dulu,Assalamualaikum...."
"Walaikum sallam..."
Setelah si kembar kembali ke kamar mereka,Ustad Ali dan Ustad Zaki pun menuju kamar mereka yang kebetulan mereka satu pondok kan.
Di kamar Ustad Ali duduk di sofa dan menatap Ustad Zaki yang siap untuk tidur.
"Mm...ada apa All..dari tadi ngeliatin saya?" Tanya Ustadz Zaki.
"Zak.. boleh saya tanya sesuatu?" kata Ustad Ali.
"Tanya Apa All?
" Di hati kamu apakah ada cinta untuk Bunda si kembar?"
"Maksud kamu?"
"Maksud aku ya seperti Si kembar tadi,kalau kamu ada perasaan kenapa ga kamu ungkapkan terus pinang lah dia"
"Laki mana yang ga akan jatuh cinta pada pandangan pertama Al...?"
"Bila gadis itu seperti Bundanya Si kembar?"
"Kita sama laki-laki, bulsit kalau kamu pun tidak jatuh cinta?" Kata Ustad Zaki
Ali terdiam,dan membenarkan kata Zaki,Diapun pernah jatuh cinta dan mungkin sampai saat ini rasa cinta itu masih ada walau dia sudah menikah,Ali langsung tenggelam dengan masa lalunya saat pertama kali bertemu dengan Andini.
****Flash Back On *
"Astagfirullah..gimana ini,mobil mogok sedangkan aku harus segera mengantar Aby ke Rumah sakit?" Runtuk Ali .
Sesekali Dia melihat ke sofa belakang di sana Abynya sedang tergolek lemas dan pucat karena kebanyakan mengeluarkan darahnya di kening akibat terjatuh dari kamar mandi.
"Ali...Abi..gimana?" Tangis Uminya.
"Tenang ya Umi...Ni Ali berusaha telpon Ambulance tapi ga bisa di hubungi terus."
Ali mondar mandir di depan mobil bingung mau gimana lagi.Telpon Ambulance pada sibuk,Tidak ada mobil angkutan satupun yang lewat.Dengan penuh kekesalan Ali menendang botol minuman dengan sekencang kencangnya.
Tukkk...
"Aduh..."
Terdengar suara wanita kesakitan.Ali menoleh ke arah suara itu.Kurang dari 100m Ali melihat gadis di seberang sambil memegang kepalanya,Dia bersama Ibunya sedang istirahat.
"Hai...Bung...kalau nendang lihat lihat napa?emang ga sakit kena botol kaya gini" Teriak Gadis itu sambil berjalan ke arahnya.
"Maaf mba saya ga sengaja? Kata Ali sambil menelatup tangannya tanda minta maaf.
Ali melihat Seorang gadis berambut cepak sedang membawa tas belanjaan bersama ibunya.
Kalau di lihat mereka bukan asli Palembang.
" Sekali lagi maaf Mba,bukan maksud hati ingin melukai mbak..tapi.."
"Ali..Abi...Abi..." Umi menangis.
Ali panik langsung menuju ke mobilnya
"Abi...Abi ..bertahan lah..." Teriak Ali.
Gadis itu bingung dan penasaran melihat keadaan di dalam mobil.
"Astagfirullah.. ni kenapa dengan Bapak ini?kok banyak darah keluar?kenapa ga di bawa ke Rumah sakit aja?" Kata gadis itu sambil mengecek denyut nadi Abahnya Ali.
"Sangat lemah..." Gumam Gadis itu.
"Andini.. ada apa?" Tanya Ibu Andini yang sedikit cemas karena putrinya terlalu lama meninggalkan Dia.
"Ibu..tolong bantu Andini menghentikan pendarahan di keningnya Bu" Kata Andini langsung menyobek kaos yang dia pakai.
"Astagfirullah. ..Apa yang kamu lakukan?" Kata Ali sambil memaling mukanya karena melihat perut yang terekspos gara gara kaos yang di pakai gadis itu di sobek yang punya.
"Saya ga kenapa napa...cuma bantu pendarahan aja dari pada keluar terus...kasihan Bapak ini Dia bisa mati karena kehabisan darah" Kata Andini sambil membantu ibunya membalut luka Abinya Ali.
"Lagian kamu tega banget sich lihat Abi kamu kaya gini ga buru buru di bawa ke rumah sakit ,malah nimpuk Orang tidak bersalah"
"Maaf. .saya tadi tidak sengaja karena saya panik dan bingung"
"Mobil saya mogok...Ambulance saya hubungi sibuk terus,dan ga ada angkutan yang lewat" Kata Ali sambil menunduk.
"Apa mogok....?Ibu bisa nangani sendiri kan?Andriani mau ngecek mesin mobilnya" Kata Andini sambil melihat ibunya yang masih sibuk menghentikan pendarahan.
"Udah...sana kamu cek dulu mesin mobilnya biar Bapak ini bisa langsung di bawa di rumah sakit" Kata Ibu Andini.
"Hai kamu...pastikan bensin kamu full kan?jangan jangan mobil kamu kehabisan bensin? Tanya Andini sambil melihat ke Ali.
__ADS_1
" Di tanya baik baik kok malah menunduk?" Gerutu Andini