
Pagi itu Andini dan Arumi pergi bersama ke pasar untuk membeli bahan gorengan.Hari itu adalah hari minggu,dimana Andini akan memfokuskan untuk jualan.Seperti biasa bila di hari libur,Arumi menambah dagangannya untuk di bawa keliling Andini.
Perjalanan dari pasar mereka lebih senang melewati hamparan sawah dan sungai,sekalian melatih ilmu meringankan tubuh.Andhini dan Arumi berjalan beriring iringan.Sesekali Arumi melancarkan secara mendadak untuk mengetes kewaspadaan Anaknya.
Walaupun dengan berjalan santai,Andini bisa mematahkan serangan dari ibunya,dengan gerakan ringan Dia bisa menghindari serangan ibunya.
Mereka tertawa bersama ,tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata melihat ke arah mereka dengan tatapan membunuh.
Sampai di lapangan bola langkah Andini terhenti dan mempertajam pendengarannya.Arumni melihat gelagat anaknya juga berhenti ,dia juga meningkatkan kewaspadaannya.
Walau Andini masih berumur 12 tahun,tapi daya ingat dan pendengarannya melebihi Ibunya.
Di pendengaran Andini ada suara langkah kaki .Dan langkah kaki itu semakin mendekat.Andhini mulai mempertajam pendengarannya,ada sepuluh pasang kaki yang mendekati.
Andini mengisyaratkan kepada Arumi.
"Ibu...ada yang ingin bermain main dengan kita" kata Andhini berbisik.
Arumi pun mengangguk.
"Ayo..kita ajak mereka bermain" Kata Arumi dengan refleks kaki menendang kayu balok kecil di depan mereka.
"Ach....
Teriak orang di balik semak.Ternyata balok kayu tersebut mengenai kepala salah satu dari mereka dan berdarah.Temen temennya yang di sebelah pun terkejut,Reflek mereka berdiri dan tidak menyangka temen yang terkena balok langsung pingsan.
Andini dan Arumi langsung menoleh ke arah suara.
" Ha...ha ..ternyata insting Ibu masih tajam,lihat lah wajah kunyuk kunyuk bodoh itu .." kata Andini menunjuk ke arah mereka.
Mereka mendengar kalau di katakan kunyuk bodoh langsung emosi langsung maju menyerang.Satu persatu orang berbadan kekar keluar dari persembunyian.Badan penuh tato dan menyeramkan,Ternyata perkiraan Andini benar, jumlah mereka ada sepuluh,tapi yang satu sudah roboh karena kena lemparan Arumi.
Mereka pasang kuda kuda untuk menghadapi preman preman tersebut.Andhini melawan Lima Orang dan Arumi melawan empat orang.
Jumlah yang tidak sepadan.Satu lawan Lima,satu masih bocah 12 tahun yang Lima orang dewasa yang berbadan kekar.Mungkin untuk anak usia segitu mereka pasti langsung lari terbirit birit.Tapi bagi Andini itu adalah suatu bentuk uji andrenalin dia,selama ini Ibunya melatih hanya berdua,dan tidak pernah melawan musuh.
Sekarang di depan adalah musuh yang sebenarnya.
Pertarungan pun terjadi,Baku hantam,tendang menendang itulah terjadi.Walau hanya dua Orang Ibu anak tidak gentar,tapi malah musuh musuhnya semakin terdesak.Satu persatu musuh berjatuhan dan merasakan sakit.Entah tangan yang patah,kaki yang patah,atau hidung yang patah.Banyak erangan dan jeritan kesakitan dari mulut mereka.
Orang orang yang kebetulan lewat pun terkejut.Mereka tidak bisa membayangkan Apakah ibu anak itu akan selamat dari penyerangan itu.Ada beberapa orang merasa kasihan dan berusaha melaporkan kejadian itu ke Pak kyai.Karena hanya Beliaulah yang bisa meredakan perkelahian itu.Orang orang sudah bisa menebak siapa dalang di balik penyerangan tersebut.
Mereka tahu kalau penyerangan itu di lakukan atas perintah sang rentenir Malik Suhada,karena beberapa hari lalu anak dan istrinya bikin ulah dengan Arumi dan Andini.
Para warga hanya bisa melihat dari kejauhan,karena mereka takut dengan preman itu.Hanya doa yang bisa mereka panjatkan agar Allah memberikan pertolongan kepada Ibu dan anak itu.
Pertarungan pun semakin sengit.Kini tinggal empat orang yang bertahan.Andhini dan Arumi pun mulai kelelahan.Walau mereka belum pernah terkena pukulan,tapi tenaga mereka terkuras habis.Di tambah mereka belum sarapan.Karena pagi langsung berangkat ke Pasar.
Andini melihat ibunya yang kelelahan.Dia merasa kasihan.
__ADS_1
"Ibu...istirahatlah biar Dhini yang menghadapi mereka" Kata Andini sambil meningkatkan kewaspadaan.
"Ga nak...kita harus sama sama mengalahkan mereka,ibu masih sanggup"
"Oke...gini aja Ibu lawan tuh orang yang berambut panjang,kayanya hanya dia yang paling lemah,setelah itu Ibu jatuhkan orang yang pakai anting itu"
"Tapi nak kamu harus melawan tiga?"
"Sudah...bu kali ini jangan membantah...cara ini buat menghemat tenaga ibu" Kata Andini sambil terus melawan musuhnya.
Arumi tidak bisa membantah,Karena dia juga menyadari kalau tenaganya mulai melemah.Arumni pun melawan orang yang di minta putrinya.
Dengan melawan satu Arumi agak menghemat tenaga karena yang menjadi lawannya masih di bawah kemampuannya.Arumni sangat bangga dengan putrinya,ternyata Dia bener bener jeli menghadapi musuh.
Tanpa di sadari Arumi,nyawanya terancam.Orang yang melawan putrinya mulai melancarkan serangan dan menghujam pisau ke arah dadanya.Arumni sempet kaget,dan terpental karena tendangan tak terduga.
Andini terkejut dan sangat marah melihat Ibunya tersungkur,dia sedikit lengah.Suasana seperti itu di ambil kesempatan musuhnya untuk menghujam pisau ke perut Andini.
Walaupun agak buyar konsentrasinya,Andini sempat melihat pisau mengarah kepadanya dan ibunya.Dengan sekali tendangan pisau di tangan musuhnya terpental,Dan...
Ach....
Teriakan orang terkena pisau.
Andini melihat ke arah orang yang terkena pisau yang Dia tendang ternyata pisau itu mengenai tangan orang yang mau melukai Arumi,melihat itu Arumi langsung menendang muka musuhnya secara beruntun.
"B******....." teriakan ketua preman tersebut karena melihat anak buahnya terkapar semua.Tinggal dia dan wakilnya yang masih bertahan.
"Gimana....Om,masih mau melawan kami?lihatlah temen temen om sudah pada keok semua.." Ucap Andini berkacak pinggang sambil melindungi ibunya yang terluka akibat tendangan preman tadi.
"Hai...dasar bocah B*******,jangan senang dulu,aku belum kalah..."
"Oh...ya...Om mau lanjut?oke...ayo maju...dan ingat Om ,kalau kamu kalah tinggalkan tempat ini dan jangan lagi mengganggu kami"
"Dan satu lagi bilang ama majikanmu kalau dia macam macam lagi ama keluargaku dan orang kampung sini,tidak segan segan aku akan melaporkan perbuatan Majikan kalian kalau dia terlibat pengedaran narkoba gimana..."
"Jangan sombong kamu bocah...Ayo kita bertarung lagi" kata preman itu dan langsung menyerang Andini.
"Hentikan...." Tiba tiba ada suara yang tegas dari belakang Andini.
Ternyata Pak Kyai Rizal dan anaknya sudah datang dan berusaha menghentikan pertarungan.
Pak Kyai datang karena ada laporan dari warga kalau Arumi dan anaknya di ganggu anak buah Malik.
Umi Zahra kaget,dan merasa cemas mendengar laporan tersebut.Setahu Umi Zahra Arumi adalah wanita lemah dan mudah merasa iba.Dia membayangkan bagaimana mereka disiksa dengan anak buah Malik yang terkena kejam dan suka memperkosa.
Umi Zahra minta tolong kepada suaminya untuk menolong Arumni.Dia merasa kasihan kalau sampai kehormatan mereka di rusak.
Andini menoleh ke belakang.Disaat menoleh,ketua preman mengambil kesempatan itu untuk menendang ke arah Andini.
__ADS_1
Andini terlambat menyadari tendangan itu,akhirnya tendangan preman mengenai dadanya.Andhini terhuyung terasa sesak di dada,dan merasakan tulang rusuknya patah.
Kepala Andini terasa pusing,tapi dia berusaha untuk bangkit.Emosinya memuncak.Di tengah rasa sakit melanda Andini berusaha mengumpulkan kekuatan penuh.
"B*****...kau ya..." Andini berteriak dan menendang ke arah kepala Preman yang telah melukainya.
Ach....krak...
Suara orang mengaduh dan suara tulang patah.
Orang orang yang melihat kejadian itu merasa ngeri.Kepala preman itu bersimbah darah dan posisi muka terpelintir kebelakang.
Setelah melakukan tendangan Andini terhuyung huyung kehilangan keseimbangan.Secara reflek Fadhil anaknya Pak Kyai menangkap Andini.
Andini tertegun,Dan berusaha mengumpulkan kekuatannya,tapi rasa sesak dan sakit di dada tidak bisa dia tahan.Hampir saja dia kehilangan kesadaran,tapi tiba tiba dia mendengar suara melesat.
"Awas....." Teriak Andini sambil mendorong Fadhil.
Tapi naas pisau itu menancap di perutnya.
Darah pun mengalir di perutnya.
Dengan suara serak Andini mencabut pisau itu dan melempar ke arah preman yang melempar pisau tadi.
"B*******...." Teriak Andini.
Ach....
Suara orang kesakitan
Bruk....
Andini roboh dan pingsan.
Arumi melihat keadaan anaknya langsung berlari dan menghampiri
"Andini...bangun...kamu harus kuat..hiks...hiks" Arumi menangis dan memeluk putrinya.
Pak Kyai kaget,karena peristiwa itu cepat sekali.
Fadhil yang tadi di dorong Andini untuk menghindari pisau terbang berusaha bangun dan melihat keadaan Andini yang sangat memprihatinkan.
Fadhil syok,dan tak bisa membayangkan kalau pisau itu mengenai dirinya.
Pak Kyai menghampiri Fadhil dan menenangkannya,kemudian menghampiri Arumi.
Pak kyai menyuruh sopirnya untuk membawa Andini ke Rumah sakit.
#Flash Back Off#
__ADS_1