
Andhini masih berkutat di laptopnya,sedangkan Nadia sudah sampai alam mimpinya.Fadhil melihat Andhini sedang sibuk,langsung mendekati Andhini.
"Gimana jadi melihat luka kamu?" Tanya Fadhil mengagetkan Andhini"Tanya Fadhil.
"E....Tuan..eh ..Pak Dokter..E..pak Ustadz!
Kok malah bingung Saya mau manggil apa" Kata Andhini garuk garuk kepala.
"Cukup panggil Fadhil aja ga apa apa,Gimana?"
"Aduh...kayanya ga sopan kalau nama doang?kalau Kakak gimana?Sopan ga?Disisi lain Anda Klien Saya,Juga Dokter Saya,dan Guru ngaji Anak Saya".
" Kakak ga apa,biar ga kelihatan formal ,Saya lihat usia kita juga ga jauh beda"Kata Fadhil,Dia ingat waktu pertama kali ketemu Andhini adalah waktu pelepasan bangku kuliah,Dia juga waktu itu sama sama lulus dari Fakultas.
"Berarti Saya kelihatan Tua ya..." Kata Andhini.
"Kok bisa?Anda kelihatan masih muda,mungkin Usia belum ada 30 tahun?" Kata Fadhil sambil memeriksa luka Andini.
"Iya sich...usia saya belum ada 30 ,kalau ga salah Usia Anda tepat 30 ya" Kata Andhini sambil melihat ke arah Fadhil langsung menunduk.
Andhini berusaha mengatur detak jantung yang sedang tidak beraturan.
Ya Allah...
ada apa dengan hati Hamba?
mengapa pada lari maraton sich...
Andhini melihat Fadhil lagi,Dia memperhatikan wajah Fadhil,dari dekat wajah itu kelihatan sangat familiyar.
Wajah itu....
"Ada yang aneh Nona?" Tanya Fadhil karena merasa Andini memperhatikannya.
"Maaf...Pak..eh..Kak..wah jadi salting Saya..." Kata Andhini sambil menutupi wajahnya dengan tangan yang tidak terluka.
"Aduh...sakit tahu.." Jerit Andhini.
Fadhil terkejut ternyata waktu Dia membersihkan luka Andhini terlalu kencang,Jujur Dia merasa gugup apalagi Andhini memperhatikan dirinya.
Jantungnya berdetak kencang dan rasanya mau melompat dari dalam tubuhnya.
"Maaf...An.. ga sengaja,lagian dari tadi Kamu lihatin Saya terus jadinya ikut salting" kata Fadhil.
"Ye...maaf kalau gara gara Saya lihatin Kakak ga fokus,ya..udah Andhini lihat tempat lain aja daripada luka Saya yang jadi korban" Kata Andhini cemberut.
Fadhil melihat gaya Andhini yang manyun rasanya pingin mengecup bibirnya.
Astagfirullah...
Ya Allah...maafin hamba yang sudah Zina mata ini.
Fadhil masih membersihkan luka Andhini,Andhini memejamkan mata sambil meringis menahan sakit.
Dalam bayangannya terlintas Polisi Rayhan sedang di kejar kejar orang berjubah hitam.
"Astaghfirullahaladzim..." Teriak Andhini langsung menarik tangannya yang sedang di bersihin lukanya.
"Aduh..." Teriak Andhini akibat tangannya Dia tarik dan di gerakkan.
"Kamu kenapa An...lihat lukamu berdarah lagi,jangan bergerak dulu Saya belum selesai" Kata Fadhil membersihkan luka Andhini yang sobek akibat tarikan tadi.
"Maaf Kak masih lama ga?" Tanya Andhini.
"Sebentar lagi kalau kamu diam ga akan lama,apalagi ni luka kamu terbuka lagi" Kata Fadhil masih membersihkan lukanya.
"Tolong cepat sedikit ya Kak" Kata Andhini meraih telponnya dan menelpon seseorang.
(Hallo..Assalamualaimkum...kamu dimana?Kamu bersama atasanmu ga?
Apa?Dia pulang sendiri?
Tolong kamu bawa temanmu ke Apartemen atasanmu Dia dalam bahaya,sebentar lagi Saya kesana.)
Andhini menutup telponnya kemudian memandang Fadhil.
"Kak..maaf bisa di percepat?" Kata Andhini
"Sabar An..kamu kenapa?" Tanya Fadhil masih serius membersihkan luka Andhini.
Karena keadaan darurat ,Andhini tidak sabar lalu menarik tangannya dan mengambil perban di depannya.Dengan cekatan Dia membungkus lengannya walau agak susah, akhirnya Dia selesai membalut lukanya sendiri.
Fadhil terkejut karena gerakan Andhini begitu cepat.Di banding Dia sebagai Dokter,Andhini lebih cepat dan cekatan di bandingkan Dia.
"Maaf ya Kak untuk sementara gini, darurat soalnya" kata Andhini sambil mengambil jaketnya.
"An..kamu mau kemana?malam malam begini?" Tanya Fadhil.
"Saya mau keluar dulu,O..ya titip Anak anak" Kata Andhini sambil bangun dari kursinya.
"O..ya kalau boleh Saya mau pinjam mobil" Kata Andini.
"Kamu mau kemana ?Apa saya antar?Insya Allah Saya tahu daerah sini" Kata Fadhil.
"Lagian tangan kamu juga masih terluka dan tidak baik buat nyetir kan? nasehat Fadhil.
Andhini berfikir sejenak,emang tidak salah kalau Dia minta tolong Fadhil,Tapi bagaimana dengan Anaknya?Apakah mereka aman?Apakah para gengster sudah menemukan Dia?.
" Kalau Kakak ikut gimana anak anak?"Tanya Andhini.
__ADS_1
"Sebentar lagi Ustadz Ali dan Ustadz Zaki sampai sini,kan juga ada Nadia" Kata Fadhil sambil mengambil mantelnya.
"Kamu ga pakai Nikab?" Tanya Fadhil karena melihat Andhini hanya menggunakan masker.
"Maaf Kak...jujur Saya bukan gadis yang benar benar religius,Saya memakai nikab karena ngikutin orang Tarim aja,sebenarnya Saya juga risih karena belum terbiasa"
"Dan juga Saya ingin mengelabui mereka yang masih mengejar Saya,dengan penampilan Saya seperti ini apakah telah melanggar syariat Islam?" Tanya Andhini.
Fadhil memperhatikan penampilan Andhini,Dia memakai baju muslim tapi yang model stelan,di pandu jilbab dan menggunakan masker.
"Ga juga sich..jadi pergi ga?" Kata Fadhil.
"Ya jadi..Ayo Kak" Ajak Andhini sambil menuju pintu.
Di depan pintu mereka bertemu dengan Ustadz Ali dan Ustadz Zaki.
"Bang...Dhini tinggal dulu ya..titip si kembar,Dhini sudah kirim Chat ke mereka...Assalamualaikum" Kata Andhini kepada Ustadz Ali dan Ustadz Zaki.
"Mereka kelihatannya dekat banget Al...apa mereka punya hubungan?" Tanya Ustadz Zaki.
"Wah...Ana tidak tahu Zak...mungkin karena Fadhil juri lomba Si kembar jadinya mereka dekat" Kata Ustadz Ali sambil masuk ke Apartemen Fadhil.
Ada sebersit cemburu di hatinya,tapi beruaha Dia tepis ,karena Dia menyadari kalau Dirinya sudah beristri.
Astaghfirullahaladzim...maafkan hambamu ini
Ya Allah...yang sudah mencintai yang bukan Istri Hamba.Batin Ustadz Ali.
...****************...
Setelah keluar dari Apartement Fadhil dan Andhini masuk ke mobil dan menuju Apartement Rayhan.
"Sebenarnya apa yang terkadi An.." Tanya Fadhil ga mengerti.
"Entahlah..Saya juga ga tahu pasti,cuma saya punya firasat kalau Pak Rayhan dalam masalah" Kata Andhini masih sibuk dengan laptopnya menelusuri sinyal Gps di ponsel Rayhan.
"Arah kesini Kak..apakah ini menuju Apartement Pak Rayhan?" Tanya Andhini sambil menunjukkan Laptop.
"Kalau di lihat ini bukan arah Apartement Rayhan,ini ke jalan XX,kita jadinya kemana?" Tanya Fadhil sambil menyetir mobilnya.
"Ya..kita kesana.." Kata Andhini sambil menghubungi Anak buah rayhan yang sudah di depan Apartement Rayhan.
"An...sebenarnya ada apa?" Tanya Fadhil.
"Udah ga usah banyak tanya dulu Kak..yang penting fokus nyetir atau gimana biar Andhini yang nyetir biar cepat sampai" kata Andhini masih serius di laptopnya.
Andhini mengeryit keningnya,Dia bingung tadi waktu melihat di Gps ponselnya posisi di jaLan XX,tapi waktu melihat sinyal di alat pendeteksi yang sudah Dia tempel di tangan Rayhan menunjukkan arah yang berbeda.
"Kak..coba lihat jalan ini posisi dimana?" Kata Andhini
"Itu di jalan ZZ kita putar haluan" Kata Fadhil.
Fadhil membelokkan mobilnya,dan mengikuti saran Andhini.Walaupun Dia tidak mengerti apa yang di maksud Andhini,tapi Dia yakin pasti ada apa apa dengan Rayhan soalnya Andhini juga melibatkan sebagian anak buahnya Rayhan.
"Kak Fadhil bisa berantem?"
"Bisa..."
"Bisa menggunakan senjata api?
" Kalau senjata api belum pernah,tapi kalau panahan bisa"
"Sayang kita ga punya panahan di sini"
"Sebenarnya ada apa An?"
"Andhini tidak tahu pasti cuma Andhini punya firasat kita akan menghadapi para gengster yang sudah menculik Pak Rayhan " Kata Andhini.
"Apa...Rayhan di culik?kenapa kamu harus turun tangan?kenapa ga kamu serahkan sama polisi aja" kata Fadhil.
"Ga bisa Kak...Pak Rayhan pernah menolong Saya,lagian saya tahu kalau yang mereka cari adalah Saya, jadi mau ga mau Saya harus menemui mereka"
"Tapi An...?"
"Udah..Kakak tenang aja Andini tidak apa apa"
"Yang penting keselamatan pak Rayhan saat ini" Kata Andhini masih fokus melihat titik sinyal Rayhan.
Fadhil melaju kecepatan mobilnya sangat tinggi,tadinya Dia ragu takut Andhini ketakutan,tapi ternyata orangnya begitu santai dan suruh menambah kecepatan lagi.
Fadhil hanya geleng geleng kepala,selama ini semua wanita pasti takut akan kecepatan tinggi,tapi beda dengan gadis di sampingnya.
Dia mengajak uji andrenalinnya di waktu remaja.Jiwa pembalapnya keluar yang sudah lama fakum karena Dia di sibukkan dengan pesantren.
Fadhil masih dengan kecepatan tinggi sesekali melihat Andhini takut kalau pingsan.
"Ga usah lihatin Saya,fokus kedepan hati hati depan tikungan tajam,jaga kemudi dengan baik" Kata Andhini.
Baru mulut tertutup,Fadhil terlambat membelokkan kemudinya.Fadhil terkejut dan berusaha mengendalikan laju mobilnya.
Ciit...ciit...
Suara ban mobil berdecit di aspal,dan kurang beberapa centi mobil hampir menabrak pembatas dan masuk jurang.
Andhini langsung mengambil kendali karena melihat Fadhil tidak fokus,Dia berusaha membelokkan mobil yang hampir menabrak pembatas jalan.
Dengan sangat lincah Andhini memainkan kemudi mobil tanpa berpikir dengan kedekatan tubuhnya dengan Fadhil.
Fadhil yang masih shok berusaha menenangkan hatinya.Tidak sengaja Dia mencium aroma Andhini yang sangat menggairahkan.
__ADS_1
Jantungnya semakin berdetak kencang,hasratnya semakin memuncak Dia berusaha menetralkan hati dan pikirannya agar tidak tergoda.
Akibat kedekatan yang begitu intim,gejolak dalam tubuhnya tidak bisa Dia bendung.
Tiba tiba wajahnya mulai mendekat seperti ada magnet yang mendorong Dia untuk menciumnya.
"Astaghfirullahaladzim..." Teriak Andhini ketika Dia berhasil mengendalikan mobil dan merasakan hembusan nafas yang tidak teratur mengenai pipinya.
"Kakak....?apa apaan sich..." Kata Andhini berusaha menjauh dari Fadhil ketika menyadari kedekatan tubuhnya dengan Fadhil.
"Maaf An..Saya....saya..." Jawab Fadhil gugup karena hampir saja khilaf.
"Ga..apa apa..Saya juga yang salah Kak...terlalu panik tadi" Kata Andhini menunduk malu.Dia juga merasakan jantung yang berlomba lomba mau keluar dari tubuhnya.
"Kak...kita tukeran tempat ya...kayanya Kakak masih shok biar Saya yang mengemudi" Kata Andhini masih berusaha menenangkan hatinya.
"Tapi gimana dengan tangan kamu?"Tanya Fadhil.
"Kita lihat nanti ,ini darurat?"kata Andhini sambil membuka pintu mobil.
Dengan terpaksa Fadhil pindah duduk di kursi penumpang,karena sepertinya Andhini orang yang ga bisa di bantah.
.Andhini langsung mengambil kemudi mobil,dengan ini Dia bisa lebih berkonsentrasi dari pada mengingat kejadian barusan.
Awalnya Andhini melaju kan mobil dengan pelan,lama lama Dia menambahkan kecepakatan karena Dia menyadari waktunya tersita banyak di jalan.
Setelah memegang kemudi jiwa pembalap Andhini muncul kembali.Dengan lincah Dia menjalankan mobilnya,Fadhil di sebelahnya hanya bisa berdoa karena jantungnya langsung memaksa keluar.
Subhanallah...gadis ini lebih gila dari pada aku...
Ya Allah...
Ini kah sosok Bundhanya Anakku.
Hamba tidak menyangka di balik kelembutannya memiliki sifat Bar-bar.
Fadhil berdoa demi keselamatan mereka berdua,di bandingkan Dia yang menyetir tadi ternyata Andhini lebih gila daripadanya.
Andhini masih fokus memegang kemudi,Dia tidak peduli lukanya semakin terbuka,darah segar mulai membasahi kain kasa nya.
Di bayangannya melintas Rayhan sedang di pukuli dengan para penjahat.
Astagfirullah...Ya..Allah lindungi Pak Rayhan.
Andhini masih melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi,tanpa Dia sadari di depan ada mobil Contenair yang sangat besar.
Andhini terkejut dan terus berkonsentrasi.Fadhil melihat di depannya ada container besar Dia langsung menjerit.
"Awas Andhini....." Teriak Fadhil sambil menutup wajahnya.
Andhini sangat tenang dan terus melaju mobilnya ke arah Container.Ternyata perkiraan Andhini tidak meleset,kalau bodi mobilnya bisa masuk di dalam kolong container itu.
"Alhamdulilah...." Ucap Andhini setelah bisa melewati kolong countener tersebut.
"Kak..buka matanya kita sudah terlepas dari maut" Kata Andhini.
Fadhil membuka matanya Dia melihat selelilingnya ternyata mobilnya masih melaju,terus Dia lihat di kaca spion mobil kalau ternyata mobil countainer ada di belakangnya .
"Tadi kita lewat mana?bukannya ga ada waktu untuk menghindar?" Tanya Fadhil heran.
"Kita masuk ke dalam kolong Container" Jawab Andhini sambil berbicara di telpon.
(Iya..ini sebentar lagi sampai,Kamu atur anak buahmu di bagi menjadi empat kelompok")kata Andhini di telpon.
Fadhil yang masih bingung dengan jawabannya Andhini hanya bisa melongo.
"Kenapa kak?ga usah di fikir ga penting"Kata Andhini.
Dia masih mengemudi mobilnya dengan perlahan kemudian berbelok di suata tempat.
" Kak..nanti jangan jauh jauh dari Andhini,mereka sangat berbahaya"Kata Andhini sambil menghentikan mobilnya.
Ternyata di dekat situ ada beberapa mobil yang menunggu kedatangan Andhini.
Andhini turun dari mobil dan menemui Rudi anak buah Rayhan.
"Gimana kalian sudah siap?" Tanya Andhini
"Siap..." Jawab mereka serempak.
"Mana pesenanku Rud?"
"Ini Non.." Kata Rudi sambil memberikan pistol ke Andhini.
"Terimakasih...sekarang kalian mulai berpencar " Kata Andhini sambil memasukkan pistolnya di balik jilbabnya.
"Kak..nanti sesuai aba aba dariku Kakak bebaskan Pak Rayhan "
"Ayo semua bergerak" Kata Andhini sambil melangkah maju ke arah gudang tua di mana Rayhan di tahan.
Semua maju ke arah gudang dan sebagian berlindung dari jarak jauh sebagai bantuan terakhir.
Andhini berjalan maju kedepan dengan mengendap endap,Fadhil hanya mengikuti dari belakang Dia tidak tahu apa yang harus di lakukan karena ini adalah pengalaman pertama Dia.
Di balik pintu terdengar teriakan para penjahat yang menyiksa Rayhan agar memberi keterangan tentang Andhini.
"Hai Pak polisi...coba katakan dimana gadis bedebah itu...?" Teriak penjahat itu masih mencambuk Rayhan.
Andhini melihat dari kejauhan emosinya langsung mendidih.Dia mengepal tangannya.Kemudian memerintah anak buah Rayhan yang mengikuti Dia untuk tetap di tempat sambil melindungi Fadhil.
__ADS_1