ANAK DARI USTADZ

ANAK DARI USTADZ
#Adu Bakat #


__ADS_3

"Bensin masih full,tadi pagi sudah saya isi" Kata Ali masih nunduk kan kepalanya.


"Hai..ngomong kok nunduk aja sich...ga menghargai orang aja,tapi udahlah ga penting,kamu duduk di belakang kemudi nanti kalau aku suruh nyalakan mesin,tolong nyalakan ya..." Kata Andini sambil membuka kap mobil.


Dengan sangat lincah Andini memperbaiki mesin mobil ,beberapa menit kemudian dia sudah menemukan biang keroknya.


"Ayo nyalakan mesinnya...satu...dua...tiga..."


Bemmmm....bemmmmmp


Akhirnya mesin mobil pun menyala.


Andini akhirnya menutup kap mobil,tangannya sangat kotor dan terkena oli.


"Ini bersihkan muka kamu!" kata Ali sambil menyodorkan air mineral ke Andini.


"Terima kasih.. " Kata Andini sambil mengambil botol air mineral yang di sodorkan Ali terus mencuci mukanya.


"Al. .ayo bawa Abi segera ke rumah sakit " Teriak Umi Siti menyadarkan Ali dan Andini.


Andini segera mendekati mobil dan melihat Abi nya Ali kondisi sangat memprihatinkan.


"Biar aku yang mengemudi,kamu duduk di sebelahku dan jadi pemandu jalan ku karena aku tidak tahu daerah sini" Kata Andini kepada Ali.


"Biar aku aja lagian kamu kan ga tahu jalan ke rumah sakit" Kata Ali menuju pintu kemudi.


Andini menyambar bahu Ali dengan kasar,dan menarik ke belakang.


"Jangan keras kepala...lihat Abi mu Dia kehabisan darah,kalau kamu yang mengemudi bisa bisa Abi mu tidak tertolong lagi" Kata Andini langsung mengambil kemudi mobilnya.


Astagfirullah...tenaganya besar sekali.


"Ayo...naik..kok bengong aja" Kata Andini.


Ali langsung naik ke mobil.Andhini mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi.


Ali terkejut baru kali ini ada perempuan yang menyetir mobil dengan menggila.Seumur umur baru dua kali Dia naik mobil dengan kecepatan tinggi,pertama waktu Dia bersama Fadhil temennya,ini yang kedua Dia bersama sorang perempuan yang ga di kenal.Tapi perempuan ini gilanya melebihi Fadhil.


"Hai...Bung..santai aja kali,berdoa semoga kita di lindungi oleh Allah,kalau mobil aku jalankan pelan pelan nyawa Abi mu dalam bahaya ..mengerti" Kata Andini masih tancap gas mobilnya.


Hanya membutuhkan sepuluh menit,mobil Andini sampai di rumah sakit.Andhini langsung turun dari mobil dan minta tolong segera membawa Abi nya Ali ke ruang UGD.


Andini menghampiri Ali dan memberikan kunci mobil ke Ali.


"Ni kuncinya...kamu parkir dulu sana" Kata Andini.


Ali mengambil kunci dan berjalan menunduk ke arah mobilnya.


"Jalan jangan nunduk nunduk,ntar kepentok baru tahu rasa..."


"Aduh... "


Belum selesai mengucap,Ali udah kepentok Tiang di lobi Rumah sakit.


Ha...ha...ha..


Andini tertawa terpingkal pingkal membuat satpam yang jaga di depan Rumah sakit hanya geleng geleng kepala.


"Udah sini aku yang pakir mobilnya...lama amat sich...makanya kalau jalan lihat depan jangan nunduk wae...apa berharap ada uang jatuh gitu?" Kata Andini sambil menyambar kunci mobil.


"Jangan...." teriak Ali.


"Napa...takut kalau aku bawa kaya tadi,tenang aja Bro..ga ada pasien jadinya aman ga bakalan ngebut"


"Lagian gila apa aku kalau ngebut di tempat seperti ini bisa bisa nyawaku taruhannya"


"Wah masih sayang nyawa kamu?" kata Ali masih berusaha menenangkan hatinya.


"Ya sayang..lah...masak kagak?Dosaku banyak belum bertobat jadi masih pingin hidup biar dosaku berkurang." Kata Andini.


"Nyadar juga punya dosa?tadi kamu pikir dengan bawa mobil dengan ugal ugalan nyawa kamu bukan taruhannya?bukan nyawa kamu aja ,tapi nyawa kita semua? " Kata Ali marah.

__ADS_1


"Ternyata orang pendiam bisa marah juga ya?"


"Kamu... " Ali menatap Andini.


Hati Ali langsung berdesir dikala mata saling beradu tapi Dia sadar bukan muhrim akhirnya langsung menunduk dan tidak berani menatapnya.


Maafkan Hambamu Ya Allah..bila tidak bisa jaga pandang


"Nach.. gitu jangan nunduk aja,kan kelihatan wajah kamu yang tampan?Tadi aku kira kamu nunduk karena wajah kamu jerawatan? makanya kamu malu"Kata Andini sambil menghentikan mobil di tempat parkiran yang kosong.


" Ayo turun kok malah bengong aja... anti kesambet lo..." Ajak Andini sambil membuka pintu mobil.


Mereka pun turun.Wajah Ali masih merona merah karena malu ucapan Andini yang memuji Dia.


Mungkin karena kulit Ali putih jadi perubahan mukanya kelihatan kaya kepiting rebus


Melihat perubahan Ali,Andini pura pura ga tahu,dan terus menuju Lift untuk pergi ke ruang UGD.


Sampai di depan UGD Andini melihat Umi Siti sedang menangis dan di tenangkan oleh Ibu Andini.


"Umi...ada apa?" Ali bertanya waktu melihat Uminya


Belum menjawab pertanyaan Ali Umi Siti pingsan.


Andini dengan cekatan memanggil suster untuk memeriksa Umi Siti.


Ali menemani Uminya yang sedang di periksa Dokter,sedangkan Andini menemui Ibunya.


"Sebenarnya apa yang terjadi ibu?" Tanya Andini kepadanya Ibunya.


"Itu Nak Pak Ustadz Ahmad butuh donor darah dan kebetulan stok darah di sini habis,sedangkan waktu Pak Ustaz sangat sempit,karena terlalu banyak darah yang keluar" Kata Arumi.


"Astagfirullah...coba Andini yang donor darah aja,semoga cocok" Kata Andini langsung berjalan Ke Bank Darah.


"Tapi Nak...." Teriak Arumi kepada anaknya.


"Ibu tenang aja...Dhini ga apa apa Bu...temani Umi Siti aja" Kata Andini sambil berlalu.


Proses transfusi darah pun telah usai.Dua jam kemudian semua proses sudah selesai tinggal nunggu pasien sadar.


Setelah merasa cukup untuk istirahat setelah melakukan transfusi darah,Andini dan ibunya pamitan dengan Ali dan Uminya.


#Flash Back Off#


"Hai ..Bro.. kok malah bengong...?" Kata Zaki membuyarkan kenangan Ali.


"Mm...apaan sich Zak..." Ali tergagap karena terkejut.


"Jangan bilang kamu bengong gara gara Bundanya si kembar?"


"Hush....apaan sih Zak. .Ana kan sudah punya Istri" Kata Ali menutupi kegundahannya.


"Iya ..iya..yang sudah punya Istri?Pamer?" Kata Zaki sambil menimpuk Ali dengan bantal.


"Ha...ha...makanya Zak. .cari istri sana?Ana penasaran antara Kamu dan Fadhil siapa ya yang bakalan mendapatkan jodoh duluan?soalnya kalian berdua sama,Sama anti perempuan" Kata Ali.


"Kata siapa yang anti perempuan?Itu kalau Bundanya si kembar mau Ana pasti mempersuntingnya?" Kata Ustadz Zaki.


"Idih... ternyata si gunung es sedang jatuh cinta" Kata Ali terkekeh.


"Wah tinggal nunggu perjuanganmu mendapatkan hati Ibunya si kembar,kalau kamu berhasil berarti Kamu hebat"


"Kok bisa?" Tanya Ustad Zaki.


" Ya bisa karena selama ini Ana belum lihat Dia deket ama cowok"Kata Ustad Ali.


"Semoga Ana bisa mengambil hatinya ya.." Kata Zaki.


"Sudahlah...Ayo kita tidur besok kita sudah di sibukkan untuk mendampingi Si kembar,apalagi ini sudah masuk ke lima besar" Kata Ustadz Ali langsung merebahkan badannya di tempat tidur.


Hari berganti hari persaingan antar peserta semakin menipis ,kini tinggal lima peserta yang bertahan.Dua di antaranya adalah si kembar dan tiga lainnya berasal dari negara negara tetangga.

__ADS_1


Hari ini adalah hari yang di tunggu si kembar untuk pembuktian ayah kandung mereka.Kelima Dewan juri akan datang ke tempat karantina dan beradu bakat antara lima peserta.


Dewan juri pertama Adalah Ustadz Imron Bakat Dia di hafalan kitab Kuning,Dewan Juri kedua Ustadz Rosid Dia berbakat di kaligrafi,Dewan juri Ketiga adalah Ustadzah Maryam Dia berbakat Di sholawat,Dewan Juri keempat adalah Ustadzah Nabila Dia berbakat Di panahan dan yang terakhir adalah Ustadz Fadhil berbakat di Beladiri dan panahan.


Kelima peserta mulai adu bakat dengan kelima dewan juri,Peserta Pertama dari Turki Muhamad Adnan Dia memilih adu bakat di panahan,hasilnya kalah dengan Ustadzah Nabila.Peserta kedua dari Pakistan Muhamad Rayan mencoba di kitab Kuning,hasilnya masih lemah di bidang Fikih.Peserta ketiga dari Malaysia Hannah dia memilih bersholawat,suara bagus tapi masih kurang di pengaturan nafas.Peserta ke empat adalah si kembar.Mereka bingung mau pilih mana adu bakatnya,karena semua adalah kegemaran mereka.


Si kembar mengajukan usul kalau boleh ingin mencoba satu satu bakat dari kelima Dewan Juri.Tapi untuk penilaian mereka minta adu bakat dengan Ustad Fadhil yang di ambil untuk di nilai.


"Gimana Fatih dan Fatimah kalian jadi mencoba bakat kami semua?" Kata Ustad Imron lagi meyakinkan.


"Iya Ustadz...sekalian kami mau mengetes kemampuan kami sampai dimana?" Kata Fatih penuh percaya diri.


"Terus kenapa kamu tidak mengambil penilaian pada adu bakat di Sholawat atau kaligrafi,tapi malah mengambil dari adu bakat di Bela diri" Lanjut Ustadz Rosid.


"Karena menurut kami tantangan terberat adalah Beladiri,apalagi kami tahu kalau Ustadz Fadhil pemegang sabuk tertinggi di kota ini"


"Mungkin dengan nanti kita adu tanding dengan Ustadz Fadhil akan menjadi pengalaman berharga untuk kami" kata Fatimah .


"Baiklah sekarang kita mulai dari Kitab kuning kalian siap?" kata Ustadz imron


Si kembar mengangguk.Mereka berkonsentrasi dengan pertanyaan yang di lontar para Dewan juri tentang kitab kuning.Dari ilmu nahwu,shorof,Hadist dan masih banyak lagi si kembar bisa menjawab dan menjelaskan dengan detail.Para juri terheran heran ternyata mereka menilai salah tentang si kembar.Ustadz Ali yang selama ini jadi guru pembimbingnya pun tidak menyangka akan kemampuan mereka.Dari hasil akhir Ustadz Imron yang sebagai pemegang penghargaan Kitab Kuning telah kalah telak dengan anak kecil yang baru berumur Empat tahun kurang.


Adu bakat selanjutnya adalah pembuatan kaligrafi mereka di beri waktu satu jam untuk Penulisan lafal "Allah",Dengan kreasi yang belum di lihat.


Si kembar mulai konsentrasi mereka sama sama menuangkan kreasi mereka.Setelah satu jam waktu selesai mereka memperlihatkan karya yang Indah dan terkesan hidup.Ustadz Rosid pun mengakui keindahan Kaligrafi mereka.


Adu bakat ketiga Sholawat,Ustadz Maryam mulai membacakan Sholawat terus di ikuti si kembar,Walaupun gonta ganti Sholawat si kembar pun masih bisa mengikuti,akhirnya Ustadz Maryam mengaku kalah.


Adu bakat selanjutnya adalah Panahan,Si kembar minta Ustadz Fadhil sekalian ikut andil.


Si kembar sengaja mengajak Ustad Fadhil karena mereka ingin melihat strategi yang Ustad Fadhil pakai.


Panahan di mulai dari Ustad Nabila,sasaran kurang sempurna,kemudian Ustadz Fadhil Sasaran kurang sedikit.Giliran si Kembar mereka sudah melihat strategi yang di pakai Ustad Fadzil,mereka mempraktekkan di tambah meningkatkan kejelian untuk mendapatkan sasaran.Anak panah melesat dengan bersamaan dan hasilnya tepat sasaran.Tepuk tangan yang meriah melihat keberhasilan si Kembar yang baru saja mengalahkan Jago Panahan yang selama ini belum ada yang menandingi.


Fadhil yang melihat itu terheran heran,baru kali ini ada yang mengalahkan Dia selain gadis itu.


Fadhil jadi ingat waktu masa kecilnya hanya satu gadis yang bisa mengalahkan Dia.Ketika Dia melihat wajah si kembar rasanya wajah itu sangat Familiar.


Selama perlombaan banyak para juri memuji Si kembar dengan kemampuannya,dan mereka selalu bilang Wajahnya mirip Dia.Fadhil tadinya ga mau tahu,Dan selalu memandang sebelah kemampuan si Kembar.


Tapi saat ini Dia bener bener mengagumi kemampuan Si kembar,Dari awal adu bakat sampai Dia menghadapi sendiri ternyata mereka anak anak genius.Dia ga bisa membayangkan bagaimana orang tua mereka mendidik.


Fadhil terus mengamati Si kembar.Dari ujung kaki sampai kepala Dia lihat seksama,Apakah benar mereka mirip dengannya?Kalau Iya..apakah hubungan Dia dengan anak itu?Apakah mereka Anaknya.


Kalau emang Anakku? Anak dari mana ?Aku belum pernah menikah?Tapi apakah kejadian waktu itu?


Fadhil langsung mengingat kejadian Lima tahun yang lalu,


Apakah mereka hasil dari hubungan itu?Kalau iya berarti Dia anakku.Aku harus membuktikannya.


Fadhil mengambil foto si kembar terus dia kirim ke Uminya.Fadhil ingin tahu apakah bener wajah si kembar mirip ama Dia waktu kecil.


Fadhil melihat si kembar sedang berbicara dengan Ali dan Zaki.


Kenapa aku ga tanya ama mereka aja,mereka kan Guru pembimbing waktu di Indonesia berarti mereka tahu orang tua si kembar?


Waktu istirahat telah habis,Sekarang giliran adu bakat Beladiri dengan Ustadz Fadhil.Saat inilah yang di tunggu si kembar untuk mengambil rambut dan darah Fadhil sebagai pembuktian apakah Fadhil ayah mereka atau bukan.


Fadhil sendiri juga menyiapkan untuk mengambil rambut dan darah si kembar untuk pembuktian mereka anaknya dia bukan.


***Kalau kalian anakku ,sangat bahagianya diri ini. Bertahun tahun mencari dan menanti akhirnya ketemu juga.


Sayang...setelah perbuatan dosa kita dulu


hatiku telah terpaut untukmu.


Dan aku sangat merindukanmu.


"Ustadz Fadhil apakah sudah siap?" Teriak Ustadz Imron.


Fadhil langsung tersadar dari lamunannya.Kemudian Dia bersiap bertanding dengan di kembar

__ADS_1


__ADS_2