
Akhir pekan Andra menjemput keluarga kecilnya di rumah mertua untuk pindah tinggal ke rumah Andra .
Tidak banyak yang dibawa, Andra hanya meminta Naila membawa keperluan Dara seperti botol susu dan tempat makan, karna Andra belum sempat membeli itu semua,
"ma pa, Abang pamit yaa, abang bawa kembali keluarga kecil abang, terimakasih selama ini sudah menjaga mereka dengan baik," ucap Andra sambil menggendong Dara, Naila berada disamping Andra tak kuasa menahan airmata yang sejak lama dia tahan.
"mama.. Naila ikut suami Nai ya ma.. terimakasih selama ini mama sama papa udh ngizinin Nai tinggal disini!" ucap Naila dengan terisak.
Mama Nadia memeluk putri dan cucunya, lamaa mereka melakukan ceremony perpisahan yang terkesan berlebihan, papa Yudi hanya berdehem..
"Eheemm.. "
Naila memeluk papa nya.. papa yudi menyambut pelukan hangat putri tercinta. "Jaga keluarga kecilmu Nai, selalu komunikasikan apapun, jadikan kejadian setahun yang lalu menjadi pelajaran, jangan langsung memutuskan sesuatu sepihak. ingaat,.. sekarang sudah ada Dara ya Nai!" wejangan papa yudi menambah isak tangis Naila.
Andra merangkul istrinya, mencoba menenangkan, kemudian setelah berlama-lama dengan drama, akhirnya mereka berada didalam mobil yang sedang Andra kendarai.
Terlihat Dara sudah terlelap di kursi tengah.
"Nai, boleh abang bicara satu hal?"
"Bicara aja bang!"
"Nai, apa setelah ini kamu masih ingin bekerja?"
Naila tampak ragu, namun pilihan kerja sebelumnya karna dia membutuhkan banyak biaya untuk Dara.
"Menurut abang, apa Nai masih perlu bekerja bang?"
Andra melirik ke arah Naila yang juga saat itu menatap dan menunggu jawaban dari suaminya sekaligus presdir di tempat Naila nantinya akan bekerja.
"Kalo abang minta, kamu dirumah gapapa?" ucap Andra sambil mengulurkan tangan kirinya mengusap ke wajah Naila.
__ADS_1
Naila memejamkan mata menikmati setiap sentuhan tangan itu, "Jika abang bilang Nai dirumah, Nai akan dirumah bang."
"Nai akan mengundurkan diri dari perekrutan di AN grup?"
"Nai?" panggil Andra
"Iya bang!"
"apa kamu tau kenapa abang membuat nama Perusahaan abang AN grup?"
"hemm..." Naila menggelengkan kepala
"Itu adalah paduan dari Nama kita Nai, Andra dan Naila menjadi AN, lalu abang tambahkan grup dibelakangnya, abang berharap setelah melalui ini kita bisa menambah anggota keluarga kita."
Naila terkesima mendengar ucapan Andra, tak terasa mobil yang mereka tumpangi telah sampai di pekarangan rumah Andra.
Setelah kemarin Naila dan Dara menginap, Andra menyewa jasa sekuriti dan menyewa jasa beberapa ART untuk membantu di dalam rumahnya.
Pintu dibukakan oleh Bi jamilah,
"Nai, kenalkan ini bi Jamilah, yang akan membantu pekerjaan rumah kamu" kata Andra mengenalkan pembantu nya itu
"Selamat datang nyonya, saya jamilah, kalo perlu apa-apa bilang saya ya nyah.." kata Bi jamilah dengan sopan
"Sini nyah, tasnya biar bibi yang bawa."
"Oh.. iya bi, ini isinya perlengkapan nya Dara, tolong langsung disusun di dapur saja ya bi, terimakasih!" ucap Naila
Bi jamilah meraih tas yang dipegang Naila, kemudian berlalu menuju dapur,
mereka masuk dan meletakkan Dara dikamarnya sendiri.
__ADS_1
"Aku mau bersih -bersih dulu, setelah itu mau menyiapkan makan siang!" ucap Naila yang tiba-tiba menjadi canggung
Namun belum sepenuhnya Naila berbalik badan, kini sudah ditarik oleh Andra dan dengan hitungan detik sudah berada diatas pangkuan lelaki itu.
"Bang, jangan beginii!" ucap Naila sambil menyingkirka. wajah Andra yang mulai mengendus-endus.. Namun perkataan Naila tidak digubris, Andra tetap melanjutkan aksi nya.
***
Siang hari, Naila terlihat selesai mandi, tubuhnya menjadi berkeringat setelah dikerjai Andra. dilihatnya suaminya masih terlelap diranjang, Naila keluar kamar, mendapati Dara yang sudah diajak bermain oleh Bi Jamilah.
"Eeh . Dara bermain sama siapa?" kata Naila
"Ala main cama bibi milah" kata Dara
"gapapa nyah, tdi Non Dara nangis keluar kamar, nyari nyonya sama tuan, jadi bibi ajak main saja dulu"
Naila menjadi malu mendengar penuturan dari bi Jamilah, pasalnya sejak sampai tadi, Andra benar- benar tidak melepaskannya. bahkan kini Naila tidak perlu memasak, karna bi Jamilah yang sudah memasak untuk makan siang.
"Lhoo.. bibi yang masak semua?" tanya Naila
"Iyaa nyah, tuan berpesan tadi sebelum sampai rumah, supaya bibi masak buat makan siang, ayo Nyah dimakan!" kata Bi Jamilah menyiapkan piring dan mengeser kursi makannya.
"Eeh.. iya bi, gak usah repot, saya bisa sendiri, terimakasih ya bi.."
" iya nyah sama-sama."
"Ayoo Non, kita main lagi di teras belakang," Bi Jamilah mengajak Dara bermain
"Unda.. ala bermain cama bi milah dulu yaa!" kata Dara
Naila melihat cepatnya akrab putrinya itu dengan bi Jamilah, tersenyum, kemudian melanjutkan makannya.
__ADS_1
to be continue