
Naila meraih ponsel nya kembali setelah lama dia menangisi kelakuan Andra yang dia fikir kelewatan, bahkan setelah dia kini sudah memiliki soerang anak.
"Hallo Nai?" panggilan itu dijawab oleh Andra
"Kamu dimana?" kata Naila dengan usaha setenang mungkin.
"Aku di hotel xx.... " tuut tuut tuut.. (ponsel Andra mati karna lowbat)
"Ooh.. shit..!! kenapa pake acara mati sih!" Andra merogoh tas nya mencari powerbank untuk mengisi daya baterai ponselnya itu, namun nihil, powerbank tertinggal di meja kantor.
"Ku harap Naila tidak salah paham!" kau tau Nai, aku sekarang seperti orang bodoh yang menunggu orang tua berkencan!" katanya pada diri sendiri, menatap ponsel yang mati itu.
Dirumah.
Naila kembali merasakan sesak, bahkan airmata yang sudah dia tahan kembali meluncur di pipi tirusnya itu, dengan sesekali berusaha menghubungi Andra, lagi dan lagi panggilan dialihkan.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang??" gumamnya pada diri sendiri.
Naila lelah menangis, dia bersandar di pinggir ranjang dengan kepala dia tundukkan, ponsel dibiarkan tergeletak.
saat itu pukul 11malam, Andra baru sampai rumah, terasa sepi, Andra hanya berfikir istri dan anaknya sudah tertidur, dia bergegas membersihkan diri, dan segera masuk ke dalam kamar mereka yang hangat, ketika membuka pintu, Andra melihat Naila tertunduk di lantai dengan bersandar pada pinggir ranjang, dia berniat membangunkan, namun dia urungkan, akhirnya dia menggendong Naila untuk direbahkan diatas. ranjang empuk mereka, pandangannya teralih ke Dara yang tertidur sangat pulas.
Andra menatap wajah istri dan anaknya bergantian, merasa bersyukur memiliki keluarga yang bahagia seperti ini. tiba-tiba dia teringat surat tagihan yang di ceritakan Naila.
"Dimana surat itu?" tangan Andra menelusuri tiap tumpuk kertas.
"Apa kau mencari ini?" suara seorang wanita yang terdengar parau, Andra mengalihkan pandangan ke arah wanita itu, Naila berdiri sambil mengibaskan surat tagihan yang memang sedari tadi dia cari.
"Kau terbangun?" ucap Andra
"Maaf aku terlalu berisik ya, sehingga membangunkanmu, ayo kita tidur lagi!" kata Andra lagi
"Tidak mau, cepat jelaskan apa ini?"
"Jelaskan kenapa banyak sekali tagihan ini??"
"Jelaskan apa yang kau lakukan dengan kartu laknat itu?"
" kau sudah berjanji tidak akan menggunakannya kan?"
__ADS_1
"kenapa??"
"kenapa kau melakukan itu?"
"kenapa kau menggunakan itu lebih banyaj untuk pembayaran hotel?"
"Kenapa andraaaa!!!" Naila berteriak, kini dia terlihat frustasi, kondisinya sangat buruk,
Andra hanya terdiam, dia sekalipun tidak memakai kartu itu, itu semua karna perjanjian bos mesum Nai, maafkan aku, gumam Andra dalam hati.
Andra merengkuh tubuh kurus istrinya ke dalam pelukannya, namun Naila menolak keras.
"Jangan sentuh aku!"
"Setelah kau sentuh wanita lain diluar sana! seenaknya saja kau menyentuhku?"
"Mulai sekarang kita tidur terpisah, silahkan kau tidur disofa, atau ditempat wanita yang..."
"NAILAAA...!!! CUKUP ...!!!" Andra menjadi kesal karna penilaian Naila, dia sendiri tidak ingin berada diposisi itu, namun demi keberlangsungan hidup keluarga kecilnya, Andra melakukan itu, merahasiakan hubungan gelap bos nya dengan wanita simpanannya, dan memperbolehkan bos nya itu memakai kartu kreditnya untuk mengelabui istri tua nya.
"Aku lelah Nai!!" Tolong, jangan seperti itu!" kata Andra melemah.
Naila menutup telinga nya dengan kedua tangan, seolah dia tidak mau mendengar alasan Andra.
"Nai, aku bisa jelaskan, tapi bukan sekarang, tolong beri aku waktu yang tepat!" kata Andra mengguncang bahu Naila.
Naila hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil terisak.
"Kalau kau tidak bisa menjelaskan apa-apa sekarang, aku minta mulai sekarang jangan menyentuhku!" ucap Naila dengan menataap tajam ke mata Andra.
"Ap... apa maksudmu Nai?"
"Aku mau pulang ke rumah orangtua ku!" kata Naila dengan Nada emosi.
"Kenapa Nai?" kenapa kau mau pulang ke rumah mama?"kenapa??"
"Aku hanya minta penjelasan, karna kau sama sekali tidak berniat menjelaskan, lebih baik kita pisah dulu. kita pikirkan ini dirumah masing-masing " kata Naila, tanganya mulai meraij koper dan membuka, menaruh beberapa baju, dan perlengkapan Dara, tangannya meraih ponsel, menelpon seseorang.
"Maa.. Nai minta pak supir jemput Nai dirumah.!" sekarang ya ma!!" kata Naila tegas
__ADS_1
"Memang kenapa nak??" jawab mama Nadia, tuut tuut tuuut... panggilan diputus oleh Naila
"Pah.. barusan Naila telp minta di jemput supir, kerumahnya!" kata Nadia kepada Yudi suaminya.
"Ya sudah biarkan saja Naila pulang, mungkin saat ini dia mulai sadar jika berumah tangga itu bukan hal yang mudah!" kata Yudi..
"Ishh.. papa kok gitu sih! gak menyelesaikan masalah tau gak?" kata Nadia bangkit dari ranjangnya menuju ruang tamu dan menelpon pak tohir sang supir untuk menjemput anaknya. dia melihat ke arah jam dinding . " Ya ampun Naila kamu kenapa sih nak, bahkan ini sudah tengah malam!" katanya.
***
"Nai, tolong jangan seperti ini!" kata Andra
"Kau mau meninggalkan ku sendiri Nai?" Kau tega?" kata Andra lagi
Naila menggendong Dara yang tertidur pulas, mendorong koper miliknya keluar teras menunggu sopir nya datang.
"Kau yang memulai Andra!" kata Naila tanpa memandang ke arah Andra.
"Kita instrospeksi diri masing-masing saja dulu, aku lelah Andra..!" ucapnya dengan nada lemah.
" Ayo lah Nai, masuk, kasian Dara, jika kau mau kerumah mama, besok pagi-pagi aku antar yaa ., jangan sekarang, ini sudah malam Nai!" kata Andra menarik tangan wanita itu mengajak Naila masuk, namun usaha nya sia-sia, Naila kembali duduk dikursi taman teras rumahnya menunggu supir.
"Nai, Jika kau nekat!"
"Nai, aku akan... aku akan... !"
"Akan apa?" tantang Naila
"Aku akan membiarkan mu pergi, dan itu akan menjadi awal perpisahan kita!"
DEG.
Kembali air mata Naila menetes, bahkan seujung kuku pun tak pernah Naila berpikiran kesana.
"Jika kau tetap pergi, aku anggap pernikahan kita tak pernah terjadi Nai!"
Naila hanya meneteskan airmata tanpa berucap, hatinya terlalu sakit mendengar ucapan Andra yang lolos begitu saja.
to be continue
__ADS_1