
Andra duduk disisi ranjang tempat Naila berbaring, setelah menyuruh bi Jamilah pulang dengan Dara, kini Andra yang menemani istrinya itu, rasa takut kehilangan masih menjadi trauma tersendiri dalam diri Andra, dia rela kehilangan harta benda tapi dia sama sekali tidak mau kehilangan keluarga nya kembali.
Naila mengerjap, matanya sedikit demi sedikit terbuka, dia merasa tangannya basah, dia melirik sedikit kebawah, terlihat suami nya telah tertidur namun dengan airmata yang berlinang.
Naila dengan seksama memperhatikan Andra, perasaan kecewa, sakit hati, bahkan perasaan dikhianati hilang seketika saat melihat Andra seperti ini, rasanya ia ingin beranjak bangun dan memeluk lelaki itu.
Mengusap perut yang masih membuncit,.Naila sungguh lega, berarti bayi mereka tidak kenapa napa, pasalnya setelah jatuh karna tidak seimbang tadi saat keluar dari kamar mandi Naila sudah tidak sadarkan diri.
Andra merasakan suatu pergerakan dia menegakkan kepalanya...senyum.menyambutnya hangat, seketika Andra memeluk si pemilik senyum, tak banyak kata yang diucap namun tangis Andra sebagai lelaki adalah bukti bahwa dia sangat rapuh saat ini.
"Abang.. kok laki laki nangis?" kata Naila
"Nai, maafin abang ya!"
"maafin abang sudah mengecewakan kamu!"
Naila tersenyum, melihat keseriusan suaminya
"jangan diulangi ya bang.!" kata Naila
"Iya Nai, tidak akan abang ulangi lagi."
"sudah abang lepas semua, abang dijebak, sekarang perusahaan sedang kolaps.. Rey barusan memberi tau kabar buruk itu, abang harus lebih kerja keras lagi mulai dari awal."
"Semua salah abang Nai, tidak mendengarkan mu!"
"ssssttt.. sudah bang, Naila gapapa, kita merintis kembali bersama, tidak masalah bang, yang penting kita tetap bersama!"
cup
Andra mengecup kening Naila,
"Kau yang terbaik Nai,!" kau memang jodoh terbaik dari Allah untuk abang"
Andra mengelus perut buncit Naila,
"kenapa tadi bisa jatuh sih sayang?"
Andra kembali mengecup perut istrinya itu.
"Nai tiba-tiba pusing bang, abis itu gak ingat apa-apa lagi, bangun-bangun Nai disini."
__ADS_1
"Dunia abang serasa runtuh Nai, mnedengar kabar kamu tadi, Abang udh kehilangan separo pondasi perusahaan, abang gak mau kehilangan dia juga" ucap Andra sambil mengelus perut istrinya kembali.
Naila tersenyum, mengetahui cerita suaminya dijebak, dia merasa lega, pasalnya dia memang tidak percaya jika Andra sekeji itu, terlampau amat mencintai pria itu, hingga membuat dia tidak bisa berlama untuk mendiami nya, apalagi sekarang kondisi perekonomian mereka kembali dibawah, mereka harus selalu bersama, jangan sampai kejadian 3tahun lalu terulang, begitu pikirnya.
"Abang.. "
"Iya sayang"
"Dimana Dara Bang?"
"Dara dibawa pulang bi jamilah, abang sudah telpon mama Nadia untuk nemenin Dara dirumah!"
Naila kembali tersenyum.
"Bagaimana ceritanya abang bisa di jebak sama wanita cantik sih bang?"
"Sudahlah Nai, abang gak mau bahas itu lagi, sungguh sakit hati abang kalo ingat itu"
Naila mengusap kepala Andra yang direbahkan kembali di sisi ranjang tempat ia terbaring,
"Abang sudah makan?"
"Belum, nanti saja, abang masih mau nemenin kamu disini!"
"Ibu nya sudah lebih tenang sekarang, pendarahannya juga sudah berhenti, janin nya sehat ya pak?"
Dokter memeriksa detak jantung bayi memakai alat khusus, senyum mengembang di bibirnya.
"Alhamdulillah detak jantungnya juga bagus, kemungkinan sore ini Bu Naila bisa pulang, tapi tolong dijaga kesehatan dan lebih hati-hati ya bu, kasian dedenya." ucap dokter dengan tersenyum
"Terimakasiha dokter" kata Naila.
"Nanti perawat akan memberikan obat, yang bisa bapak tebus di farmasi kemudian bapak juga bisa langsung mengurus administrasi ibu untuk pulang yaa.. " ucap dokter itu lagi sambil berlalu keluar ruangan.
"iya baik Dok, terimakasih !" ucap Andra.
Andra berbalik menatap istrinya dengan lembut. Naila juga tersenyum,
"Ya Allah, semoga Kau tetapkan hatinya selalu untuk menjadi jodohku!" ucap mereka dalam hati.
***
__ADS_1
dirumah Andra.
"Bi . . gimana ceritanya Naila bisa pendarahan bi?" tanya Mama Nadia, saat ini mama Nadia tidak diperbolehkan ke rs, jadi setelah supir Andra menjemput, mama Nadia langsung ke rumah Andra.
"Nyonya muda tadi sempat jatuh nyah.. lalu pingsan, bibi juga bingung karna bibi seharian nemenin non Dara!"
"Ya ampuunn anak itu masih suka ceroboh!"
Krriiinnngg... telpon rumah berdering
" Ma.. mama sudah sampai?" ucap Andra dari sebrang telpon
"Iyaa bang, gimana Naila?"
"sudah tidak apa-apa ma, sekarang sedang tidur, dokter sudah mengizinkan kami pulang sore ini, minta tolong bi jamilah untuk merapikan kamar ya ma!" .
."Iya nanti mama bilang ke bi jamilah, kamu hati-hati nyetirnya ya bang!"
"iya ma.."
panggilan terputus.
"Nenek, apa itu telpon dari ayah? apa bunda udh boleh pulang nek?" tanya Dara yang sedari tadi memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan Neneknya di tlp,
"Iya sayang, bunda hari ini bisa pulang,"
"Alhamdulillah, berarti Adik Dara pulang juga?"
"Iya sayang"
"Terimakasih ya Allah, telah mengabulkan doa Dara!" ucap anak 4tahun itu sambil menengadahkan kepala dan kedua tangannya.
"Emang kaka berdoa apa?" tanya mama Nadia
"Kaka berdoa, supaya bunda dan adek bisa cepet pulang, terus main lagi sama Dara Nek.!"
"Ooh.. begitu, kalo gitu yuk kita bantu bi jamilah membereskan kamar bunda, kaka mau?" kata Mama Nadia
"Mau Nek!" jawabnya
Bi Jamilah tersenyum melihat interaksi Cucu dan Nenek dihadapannya
__ADS_1
"Ayo bi.. kita beres-beres kamar bunda!"
"Ayo Non.." jawab bi jamilah yang kaget dari lamunannya.