
**Aku, Liza, dan Fatnir saat ini sedang bertarung dengan kakakku yang telah membantai seluruh ras iblis tanpa tersisa.
“Fatnir, aku mengandalkan mu!”
“Berisik!”
Aku dan Fatnir berlari menyerang kakak dari arah yang berlawanan.
“Kalian benar-benar menyusahkan.”
Kakak mengeluarkan Intimidasi yang seram.
Fatnir dengan kuat menggunakan kakinya menyerang kepala kakakku, tapi, kakak menangkisnya dengan satu tangan, lalu mencengkram kaki Fatnir.
“Gawat!”
Kakak melempar Fatnir ke pohon-pohon, sebelum terlempar, Fatnir menyembur kakak dengan nafas beracunnya untuk mengocehnya.
Aku yang berada di jangkauan kakakku, mengulurkan tanganku ke arah kakak dan merapal sihir.
“Hell fire.”
Sebuah api hitam keluar dari tanganku dan menyembur kakak.
Saat api itu mengenai kakak, kakakku bergumam.
“Api neraka ya?, Sepertinya kau sudah bertambah kuat, Galius!”
Apiku menghilang, itu seperti terhisap.
Skill menghisap, itu benar-benar merepotkan, tapi...
“Aku minta maaf, Kak Vina,...Holy Slash!”
Liza melompat dari belakangku saat kakakku sedang lengah.
“Tch, Kau benar-benar menyebalkan, Pahlawan!”
Kakakku mendecapkan lidah saat sadar kalau Liza menyerangnya, lalu kakakku dengan cepat menghindar...
Tangan kakakku sedikit terkena pedang Liza, itu berbunyi 'Besshh~' di bekas luka nya.
Hanya Elemen suci Liza yang bisa kami andalkan.
“Jangan lupakan aku,...Dragon Poison!”
Fatnir berdiri dan melompat untuk menyerang punggung kakak dengan Racunnya.
Kakakku menebas racun tersebut dengan pedang Break Balance nya.
Seketika racun tersebut langsung menghilang.
....
Kami pun berkumpul bersama lagi, kami memiliki jarak aman dengan kakakku.
“Kalian berhati-hatilah dengan pedang itu, pedang tersebut bisa memotong segala jenis keajaiban, Fatnir, jika kau terkena itu, anggap saja kalau kau sudah mati.”
“Seram!”
Aku memperingati Fatnir dengan serius, lalu dia mengangguk.
Liza menatapku dan berkata.
“Oh iya Galius, kenapa udara di sekitar sini sangat menyesakkan?, aku menggunakan elemen suci untuk melindungi diriku dari udara ini.”
Serius!, seperti yang di duga dari Pahlawan.
“Tidak akan kubiarkan kalian sempat berbicara!”
Mengatakan itu, kakakku langsung menerjang menyerang kami.
–Dengan cepat kami langsung melompat menghindari nya.
Aku yang masih di udara sambil menjawab pertanyaan Liza tadi dengan cepat.
“Aku memasang penghalang kedengkian di sekitar sini, itu agar membuat kakak tidak bisa kabur dan menyerap energi sihir alam, jika dia menyerap sihir alam, dia terus menyembuhkan diri tanpa batas...”
Kami bersamaan mendarat ke bawah dan menyerang Kakak dengan cara yang sama seperti tadi.
Aku terus menjelaskan sambil terus mengeluarkan sihir.
“–Dan penghalang itu akan mengularkan aura kedengkian, itu agar membuat sihirku semakin kuat,... Liza apa kau bisa memotong pedang kakakku dengan pedang sucimu?”
“Akan ku coba!”
Kami memutuskan untuk menghancurkan pedang kakak terlebih dahulu.
__ADS_1
Pedang itu bencana bagi kami, jika aku terkana luka fatal dengan pedang itu. Lukanya tidak akan mudah untuk di sembuhkan dan aku akan mati.
Kakakku tersenyum dan mengulurkan pedangnya.
“The Fire of Gluttony!”
Seluruh bilah pedang kakak tiba-tiba di selimuti oleh api hitam, dan berkata.
“...Dengan ini kalian tidak bisa menghancurkan pedangku, seluruh sihir yang terkena pedang ini, sihir itu akan terhisap.”
Sial, aku tau kakakku kuat, tapi, aku tidak tau akan sampai segini.
Kakak mengayunkan pedangnya dan sebuah tebasan api keluar dari pedang itu menyerang kami.
Aku dengan cepat merapal sihir.
“Wall of stone!”
Sebuah tembok tanah yang keras keluar dari tanah dan melindungi kami, tapi aku mendengar suara 'kretek' dari tembok itu.
Lalu tembok tersebut pecah, kami langsung melompat untuk menghindari dampaknya.
Aku manatap Fatnir, dia mengangguk seperti tau apa yang ingin ku katakan.
Aku dan Fatnir menutup jarak dengan kakakku, lalu kami saling mengulurkan tangan kami ke arah kakak dan merapal sihir.
“Cursed Lightnings!”
“Cursed Poisons!”
Sebuah petir hitam dan racun bersatu lalu menyerang kakak, tapi kakak menangkisnya dengan pedang dan membuat asap hitam di sekitar nya.
Liza berlari dan menyerang Kakak dengan pedang suci nya.
“Brilliant Nova!”
Sebuah sinar putih cerah keluar dari pedang Liza, lalu Liza mengayunkan pedangnya dan sebuah tembakan sihir suci muncul dari bawah kaki kakak.
“Egh!...”
Aku mendengar rintih kakak yang terkena elemen suci secara langsung.
“Apakah berhasil!?”
Liza mengatakan itu, dan kembali bersama ku dan Fatnir.
....
Kami langsung tersenyum setelah melihat serangan kami berhasil.
Tapi, kakak tersenyum dan tertawa seperti tidak apa-apa.
Kami terkejut dan semakin waspada.
“Ahaha~, Galius kau benar-benar bertambah kuat, tapi, meskipun kalian berkerja sama. Kalian tidak akan bisa mengalahkan ku!, Kakak juga bertambah kuat soalnya.”
Oi, jangan bilang...
'Ctek~', suara itu keluar saat kakak menjentikkan jarinya, dan 'Ctas~', suara itu terdengar keras, lalu...
“Ti-tidak mungkin!”
[Galius, Sepertinya Kakakmu benar-benar monster, aku tidak percaya penghalang yang kita buat bisa di hancurkan.]
Bellzebub yang sudah lama tak muncul mengatakan itu dengan nada yang sepertinya senang dan terkejut.
Ini sangat berbahaya.
Penghalang tingkat tinggi [Kedengkian] sudah hancur, itu berarti sekarang kakak mendapatkan pasokan energi sihir alam tanpa batas, dan mustahil untuk melukainya.
Itu akan dengan cepat sembuh, sekarang kakak menjadi tak terkalahkan.
“Galius, bukannya ini gawat!”
“Nah, Galius, bolehkah aku masuk ke bayanganmu saja.”
Fatnir mengatakan sesuatu yang bodoh untuk melarikan diri.
Aku juga ingin lari, tapi itu mustahil sekarang...
“Galius, Kau tidak bisa mengalahkan kakak~”
Kakakku mengatakan itu sambil tersenyum bahagia.
Semua luka kakak sembuh begitu saja tanpa bekas, energi sihirnya juga kembali seperti semula. Sedangkan sihirku tinggal setengah.
Aura hitam menyelimuti tubuh kakak dan lumpur hitam keluar dari tubuh kakak, saat itu aku langsung sadar.
__ADS_1
“Sial, Kartu truf kakak, skill andalan [Einhanjer!] Akhirnya itu keluar.”
Sebuah bayangan hitam yang sangat mirip dengan Liza dan Fatnir keluar dari tubuhnya kakak.
Tanpa aba-aba Einhanjer mirip Liza menyerang Liza, dan Einhanjer mirip Fatnir menyerang Fatnir.
“Liza, Fatnir!!”
Liza dan Fatnir terpojokkan melawan bayangannya sendiri.
Saat aku bertatapan dengan kakak, kakak dengan cepat lari menjauh dari Liza dan Fatnir.
Sepertinya dia mengajakku, jadi tanpa sadar aku mengejar kakak.
“Kakak, tunggu!”
....
Kami saling mengejar cukup jauh dan disitu kakak tiba-tiba berhenti.
“Ini?!”
Aku melihat sekitarku, itu adalah padang rumput yang luas dengan bunga-bunga yang cantik.
Sangat cocok untuk piknik.
“Galius, akhirnya kita bersama.”
Benar, dan ini waktu yang tepat untuk mengobrol.
Aku menatap kakak dengan tajam dan berkata.
“Kakak, kenapa kau melakukan semua ini?,...Saat kakak pergi meninggalkanku, kemana saja kakak?,...Dan apa kakak yang melakukan ritual pemanggilan untuk memanggil manusia dari dunia lain di Kastilku, saat aku bertarung dengannya aku merasakan sihir yang mirip dengan punya kakak,...Kakak apakah kita tidak bisa bersama lagi?”
“Maafkan kakak, Galius. Kita tidak bisa bersama saat itu, dan ini sebagai saran dari kakak, aku ingin kau segera berpisah dengan Liza, jika tidak kakak harus membunuhnya.”
Aku melihat wajah kakakku yang tampak sedih.
“Kenapa!?, Kenapa seperti itu?!”
Aku membentak kakak, lalu kakakku tersenyum.
“Apakah itu tentang kita tidak bisa bersama? Atau tentang kau dan wanita itu?”
“Semuanya!, Aku menginginkan penjelasan dari kakak!”
Lalu, kakakku tertawa kecil seperti sedang bersenang-senang.
Hembusan angin mengibaskan rambut hitam kakak.
Lalu dengan wajah sedih, senang, serius atau sesuatu yang seperti itu, saat ini kakak membuat ekspresi yang rumit.
“Kau taukan kekuatanku menyerap segala jenis sihir, sepertinya itu semakin kuat, dan aku sudah tidak bisa mengendalikan nya lagi dan kekuatan sihir Galius akan terus kakak serap. Saat kita bersama, Galius menjadi demam karena energi sihir kamu kakak hisap. Jika seperti ini terus Galius bisa mati. Jadi kakak memutuskan untuk pergi, Maafkan kakak!, Galius.”
“Lalu kenapa kakak sekarang mencoba untuk bersamaku lagi?”
Hembusan angin mengibaskan rambut hitam kakak lagi.
“Sekarang kakak sudah bisa mengendalikan kekuatan kakak, jadi kakak memutuskan untuk kembali ke kastil Raja Iblis yang Galius banggakan, tapi saat ke sana kakak terkejut, kastil Galius hancur berantakan. Kakak berpikir kalau itu ulah Pahlawan tapi, kakak sadar kalau ada bekas sihir milik Galius. Saat itu juga kakak melakukan ritual pemanggilan manusia dunia lain. Kakak memanfaatkan manusia itu untuk mencari Galius, jika dia mati itu berarti Galius sudah membunuhnya, dan saat itu kakak tau posisi Galius.”
“Kenapa kakak berpikir itu aku?”
Aku menatap kakak dengan jengkel.
Lalu kakak tertawa kecil dan menjawab.
“Kekuatan orang dunia lain cenderung sangat kuat, jadi aku yakin hanya Galius yang bisa mengalahkan nya.”
Jadi gitu...
Kalau gitu, pertanyaan terakhir dan terpenting...
“Kenapa aku dan Liza tidak boleh bersama?”
Setelah aku mengatakan itu, aku merasakan aura serius dari kakak...
“Pahlawan dan Raja Iblis di takdir kan untuk saling membunuh, meskipun kalian mencoba untuk bersama, suatu hari kalian akan saling membunuh lagi, itu lah takdir dunia ini yang mutlak,...Galius jika kau bersama dengan Pahlawan wanita itu, kau hanya akan menderita, ikutlah dengan kakak, aku akan melindungi mu!”
“Takdir dunia?!”
Aku tercengang dengan perkataan kakak sekaligus bingung, tapi...
“Aku tak mau!, Aku akan selalu bersama Liza!”
Kakak mengeluarkan aura membunuh.
“Kalau gitu, kakak akan membunuh Pahlawan itu!!”
__ADS_1
Aku tau kita tidak bisa bersama lagi, kakak, kalau gitu...
“Tidak akan kubiarkan!, Aku akan membunuh kakak**!!”.