
pak setiono "brian apa yang kamu katakan hingga sifa menangis?" dengan nada keras dan wajahnya sangat marah
brian "apa sifa menangis? brian tidak mengatakan apa-apa pa" brian kaget karena sifa menangis
pak setiono "lalu bagaimana bisa sifa menangis?"
brian "entahlah pa"
brian ketakutan, takut sifa menceritakan semua yang ia katakan.
bagaimana ini, kalau dia katakan semuanya. pasti papa marah besar kepada ku. semoga dia bisa berbohong. batin brian.
___
didalam rumah semua mengetok pintu kamar sifa, mereka sangat khawatir. sifa yang di dalam kamar segera mengusap air matanya dan langsung keluar.
bu wati memeluk sifa "ada apa nak? kenapa kamu menangis?"
sifa melepaskan pelukan ibu nya "sifa gak papa bu, maafkan tingkah sifa yang tidak sopan. ayo kita duduk di ruang tamu"
semua berjalan dan duduk diruang tamu.
pak setiono "nak sifa, apa brian mengatakan sesuatu kepada mu?" pak setiono masih terlihat marah kepada brian.
aku mohon sifa, jangan katakan apapun. selamat kan hidupku sifa. gunam brian wajahnya ketakutan.
sifa "tidak om, sifa baik baik saja. sifa hanya sedih sebentar lagi akan meninggalkan rumah ini"
__ADS_1
semua terlihat lega, begitu pun brian. dia lega karena sifa tidak mengtakan semuanya.
pak bandi "jangan sedih nak, om tono dan tente suci akan menjagamu nanti."
bu suci "jangan anggap aku ibu mertua sayang, anggaplah aku seperti ibu mu sendiri"
sifa "iya tante"
bu wati hanya diam saja, ia tau bahwa sifa berbohong, terlihat dari sorot matanya.
nenek ima "besok acara pertunangan kalian, jangan menangis lagi ya sifa, biar besok matamu tidak lebam"
brian "apa secepat itu nek? pa benarkah ini?" brian kaget
sifa "maaf om tante nenek, seperti nya mas brian belum siap."
bu suci "iya sifa, brian ingin sekali cepat cepat bertunangan dengan mu, agar tidak keduluan pemuda sini heheh"
semua tersenyum dan tertawa.
bu wati "sudah mau maghrib, kita bersiap-siap untuk sholat maghrib ke mesjid ya, setelah sholat kita makan bersama"
____
semua bersiap menuju kebelakang untuk wudhu. hanya brian tetap diam terpaku memikirkan semua yang terjadi.
rasanya aku sangat tersiksa, bagaimana aku harus keluar dari sini. aku tidak bisa menggunakan sifa untuk menghentikan perjodohan ini. siall... batin brian.
__ADS_1
Tiba-tiba sifa datang, membawa sebuah baju koko putih, sarung berwarna biru dan kopyah putih.
sifa "mas pakai ini untuk sholat di mesjid"
brian "aku tidak bisa memakai pakaian orang lain sifa" terlihat kesal
sifa "ini baru mas, tadi sifa beli" sifa meletakkan di samping brian dan meninggalkan nya.
brian terus memandang baju koko disebelahnya.
dan ini yang aku benci, aku harus bersikap baik kepada nya. meski aku males banget berinteraksi dengan semua orang disini. demi menjaga nama baik papa rasanya aku ingin mati saja.
pak setiono "brian" membuyarkan lamunan brian
brian "iya pa"
pak setiono "sudah ayo pakai itu.. itu sifa sendiri yang membelikan nya. kamu harus pakai dan sholat. jangan buat papa malu. ini masih untung kamu, kita sholat dimasjid, bukan sholat disini dan kamu jadi imam nya"
brian "pa.. jangan secepat ini dong tunangan nya, bagaimana dengan teman-teman brian. kan belum dikasih tau" brian terus mencari alasan
pak setiono "besok ada fotografer nya, kamu tinggal tunjukan itu semua kepada teman-teman mu, awas saja kalau kamu tidak membagikan itu ke teman-teman mu nanti. dan pasang wajah bahagia mu. jangan merusak suasana seperti ini. kamu mau nenekmu sakitnya kambuh gara-gara kamu?"
brian dengan berat hati bangkit dan bersiap-siap. ia terus memasang wajah baik-baik saja dan terus senyum walau dalam hatinya ia ingin sekali lari dari tempat itu.
mereka semua pergi ke masjid berjalan kaki bersama-sama yang tidak jauh dari rumah sifa.
setelah sholat mereka kembali ke rumah dan makan bersama-sama.
__ADS_1