
brian "ayam kecap bakar" brian bahagia karena ada makanan favorit nya disana. dia juga lapar karena dari pagi tidak makan apapun hanya sepotong roti saja.
bu suci "sifa, ambilkan brian nasi dan lauk nya"
sifa "baik tante"
sifa mengambilkan nasi dan ayam kecap bakar nya lalu meletakkan piring itu di hadapan brian dengan sangat lembut. semua orang saling pandang dan tersenyum.
nenek ima "nenek juga mau sifa"
sifa "baik, sifa ambilkan ya nek"
setelah semua mengambil makanan, nampak nya brian tidak sabar ingin melahap makanan tersebut.
pak bandi "syarif, pimpin doa" perintah nya
syarif mengangguk dan memimpin doa.
lalu mereka menikmati makanan nya.
bu wati "brian, kalau kurang ambil lagi ya"
brian "iya tante, ini masakan tante enak sekali. brian suka"
bu wati "yang memasak sifa nak, bukan tente"
brian diam seribu bahasa mendengar jawaban bu wati. sifa tertunduk malu dan wajah nya semu merah. semua orang tersenyum.
syarif berbisik kepada sifa "calon suamimu suka tu sama masakan kamu, cie"
sifa mencubit syarif "sudahlah mas, jangan ganggu sifa" sambil menyun
setelah makan, sifa langsung membereskan semuanya. bu suci dan bu wati membantu nya. sedangkan para laki-laki berbincang di ruang tamu.
setelah bu suci dan bu wati meninggalkan sifa di dapur.
nenek ima menghampiri sifa "sifa, nenek mau bicara kepada mu boleh"
sifa "boleh nek"
nenek ima "sifa, nenek tau bahwa tadi brian bicara sesuatu kepada mu sehingga kamu menangis.. nak sifa sayang, percayalah kepada nenek. brian itu anak yang baik dan tanggung jawab. sifatnya dingin tetapi jika sudah dekat dia sangat suka bercanda. teruslah bersikap lembut kepada nya. ingat itu nak. ketika ia berbicara kasar atau marah kepada mu jangan sesekali kamu balas dengan kemarahan juga, tetap balas dengan kelembutan. kelemahan nya brian ketika ia terus di perlakukan lembut membuat hatinya luluh."
__ADS_1
sifa "InsyaAllah, nanti sifa akan terus berusaha akan menjadi istri terbaik buat mas brian nek. doakan sifa agar mendapatkan cinta suami sifa nek" nadia memeluk nenek ima, sifa merasa bahwa nenek ima mengetahui semua hal tentang nya dan apa yang sedang terjadi kepada nya dan brian. selama ini, sifa sering ke rumah nenek ima. sekedar mengantarkan makanan kadang bu wati meminta untuk menemani tante ima ketika sifa ada waktu luang.
nenek ima "kamu wanita sholehah nak, nenek akan slalu mendukung mu. nenek juga akan doakan semoga nanti pernikahan kalian lancar dan menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah" nenek ima membalas pelukan sifa.
sifa "aamiin... Terima kasih nek"
mereka melepaskan pelukan mereka lalu nenek ima menuju ruang tamu. mereka berbincang bincang, brian juga mulai berbaur dan bicara nyambung dengan semuanya. sejati nya brian suka sekali nongkrong berbincang bincang.
tak lama Rudi asisten pak setiono datang.
rudi "assalamu'alaikum"
semua menjawab dan menol menoleh ke arah pintu.
pak setiono "masuk rudi"
rudi membawa 1 kotak berwarna putih "baik pak"
pak bandi "silahkan duduk pak"
rudi menganggukkan kepala nya dan duduk di samping syarif.
pak setiono "ini asisten pribadi ku di, sini kota itu rud"
pak setiono "nak sifa, ini terima. pakailah besok. semoga kamu suka dan pas buat kamu"
sifa menerima kotak itu "Terima kasih om, maaf ini apa om?"
pak setiono "bukalah sendiri sifa"
sifa membuka, semua mata tertuju kepada kotak yang di pangku oleh sifa. semua kaget ketika melihat isi kotak tersebut.
sifa "ini bagus sekali om"
semua tersenyum, berbeda dengan wajah Brian, yang tadinya sudah berbaur kini ia ingat lagi akan masalah terbesar nya.
pak setiono "apakah kamu suka nak"
sifa "suka sekali om, Terima kasih"
bu suci "jangan lagi mengatakan itu nak, ini semua buat kalian" mata bu suci melihat brian
__ADS_1
brian langsung dengan cepat merubah wajahnya dengan senyuman lebar. karena semua mata tertuju kepada nya.
nenek ima "sifa pasti akan cantik menggunakan kebaya itu. nenek tidak sabar melihatnya."
handphone sifa tiba-tiba berbunyi, saat melihat layar handphone nya ternyata itu Izza, sahabat nadia sejak sekolah SD, kini mereka sama-sama mengajar ngaji di yayasan dan kuliah setiap seminggu sekali.
sifa "maaf semuanya, sifa mohon izin mau menerima telpon dari izza"
semua menggangguk.
sifa "assalamu'alaikum za, ada apa?"
izza "sif, antarkan makalahmu sekarang. pak budi sudah menunggu"
sifa "dirumah banyak tamu za, aku gak hisa keluar."
izza "aku kali ini juga gak bisa meninggalkan kelas sif, karena bu mega tidak masuk, disini cuma ada aku dan mbak vika saja"
sifa "baiklah aku akan kesana, tetapi aku akan langsung pulang ya"
izza "baiklah aku tunggu"
sifa menuju kamar nya dan mengambil tugas makalah nya. lalu ia berjalan menuju ke ruang tamu.
sifa "mas Syarif, antarkan sifa ke yayasan. karena harus mengumpulkan ini mas, izza tidak bisa mengambil nya karena di yayasan sibuk"
pak setiono menghentikan syarif yang hendak berdiri dari duduknya "duduklah syarif, biarkan brian yang mengantarkan sifa"
aaaahhh.. siallll... kenapa harus aku gunam brian.
brian mencoba mencari alasan "brian gak tau jalanan sini pa"
nenek ima "sifa tau jalanan sini, nanti sifa yang akan menunjukan nya. jangan banyak alasan cepat antarkan calon istrimu" sambil melotot
semua orang terkekeh.
kata-kata nenek menyebut calon istri membuat brian ingin sekali berteriak marah.
brian "ayo sif, biar ku antar"
semua nya senang melihatnya, sifa melangkah di belakang brian.
__ADS_1
sifa dan brian naik mobil, didalam perjalanan mereka tidak saling bicara. hanya suara sifa yang menunjukkan arah jalan saja.