Aunty, Kesepian

Aunty, Kesepian
10


__ADS_3

#####


PLAK,,,,,


Sebuah tamparan keras mengenai pipi kiri Erpan. Bukan oleh ibu Devina yang begitu emosi, melainkan langsung oleh Devina yang sedang menangis tersedu-sedu. Dirinya yang terpukul karena ucapan Erpan barusan, tanpa sadar sudah berhasil melayangkan sebuah tamparan keras di pipi kirinya.


"Jahat kamu, mas. Jahat!!!" Teriak Devina tak terima dengan alasan tersebut. Dirinya kembali menangis dengan kencang. Dengan sigap ibunya memberikan pelukan sekaligus sandaran untuk anaknya.


"Maaf, Devina." Lirih Erpan cukup terpukul karena berhasil menyakiti wanita yang pernah ia cintai. Benar, hanya pernah. Memang dia pernah mencintai Devina, dan itu dulu. Bukan sekarang.


Ibu Devina berusaha menenangkan Devina. Jujur dia sangat marah dengan Erpan, tapi ia lebih memilih untuk menenangkan Devina putrinya daripada mengomeli pria tak tahu diri itu. Dia mengusap pelan kepala putrinya yang begitu ia sayangi. Teramat sesak dada ibu Devina ketika putrinya membisikkan kata-kata yang memilukan hatinya.


"Bu, Devina gak kuat." Bisik Devina dalam pelukan ibunya.

__ADS_1


"Yang kuat yah, nak." Ucap ibunya mencoba menguatkan dirinya.


"Kenapa ini bisa terjadi sama aku, bu? Apa salahku? Apa dosa yang pernah kuperbuat sampai suami yang begitu aku cintai dan percaya menalak cerai aku? Hiks,,,,, hiks,,,, hiks." Bisik Devina di bawah dekapan ibunya.


"Sabar, nak. Ibu ada di sini bersamamu, nak." Balas ibu Devina dengan penuh kelembutan dan kehangatan. Ia sungguh tak ingin putrinya menangis. Tapi jika tidak menangis, itu malah akan menyakiti psikis anaknya.


Sedetuk kemudian, ibu Devina menatap Erpan yang berdiri di depannya. Tak ada suara yang terlontar dari kedua insan tersebut. Hanya yang satu menatap dengan kebencian dan yang satu menatap dengan penuh penyesalan.


Ya, memang Erpan mau bercerai dengan Devina. Tapi ia tidak sadar jika perceraian mereka akan begitu melukai Devina. Baginya, perceraian ini adalah solusi terbaik untuk dirinya. Selain karena sudah merasa tidak cinta, ada sebuah alasan yang krusial sehingga dirinya harus segera menceraikan Devina.


"Baiklah, jika itu mau mu! Perceraian kalian akan segera diurus. Tidak perlu mediasi, langsung saja berpisah. Terlalu lama anak ku bersama pria seperti mu hanya membuat darah ku naik."


"Bu," panggil Devina pelan. Dirinya terlihat begitu rapuh di sana. Badannya terlihat lemas. Wajahnya pun sudah sedikit pucat. Di tambah dengan matanya yang sembab, membuat siapapun yang melihat pasti merasa iba. Tapi Devina merupakan wanita yang kuat. Dirinya tidak pernah mau orang lain melihatnya rendah. Dia akan mencoba tegar walaupun dia yang tersakiti.

__ADS_1


"Iya, nak." Sahut ibunya setelah mendapati anaknya sudah tidak menangis lagi.


"Boleh aku bicara berdua dengan mas Erpan?" Pinta Devina yang jelas akan ditolak oleh ibunya. Dan benar, ibunya menolak mentah-mentah permintaan anaknya itu.


"Tidak, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hubungan kalian berakhir. Dia yang ingin mengakhiri ini, jadi kita ikuti kemaimuannya."


"Bu, tolong mengerti lah."


"Huh, ibu heran kenapa sampai akhir kamu tetap memilih pria ini. Bahkan setelah dirinya setega ini padamu. Tapi, baiklah ibu akan mempersilahkan kalian bicara berdua. Ingat, dia yang memutuskan perceraian. Jadi ibu mau kamu terima perceraian ini. Pria seperti tak layak kamu pertahankan. Ibu akan telpon kang atep dan membangunkan Lissa. Kita pulang malam ini juga, ke rumah ibu."


"Pulang?" Heran Erpan.


"Tentu saja. Untuk apa berlama-lama di sini. Membuat aku jantungan yang ada." Sindir ibu Devina yang di arahkan kepada Erpan.

__ADS_1


"Ibu,,,," Tegur Devina yang tak mau ibunya terus berdebat dengan Erpan.


"Huh, iya. Ibu tunggu kamu di kamar Lissa. Barang kamu juga biar ibu yang kemas." Ucap ibunya seraya meninggalkan anaknya berdua dengan sang calon mantan suaminya.


__ADS_2