Aunty, Kesepian

Aunty, Kesepian
23


__ADS_3

"Andre?" Sambung Devina ketika sadar bahwa ternyata pria itu adalah kenalannya sewaktu masih SMA.


"Wah,, Devina! Kukira kamu bakalan lupa sama aku." Balas pria itu dibarengi tawa renyah yang membuat kadar ketampanan pria itu naik berkali-kali lipat.


"Hahahaha,,, gak mungkin lah aku lupa sama ketua osis yang paling best di sekolah kita." Devina mencoba mengingat masa SMA mereka sambil menggendong Lissa di tangannya.


"Dev,,, mulai deh ngecengin aku." Bagi Andre ucapan Devina barusan lebih ke arah hinaan daripada pujian untuknya.


"Mana ada ngecengin sih, dre. Aku jujur, 100% jujur bin halal." Sontak dengan ucapan Devina barusan membuat keduanya tertawa.


"Dev, udah sepuluh tahun gak ketemu, kamu masih aja kayak dulu. Asik orangnya." Ungkap Andre sambil memerhatikan Devina dari ujung ke ujung. Keterpukauannya tertangkap jelas oleh Devina yang masih mengendong Lissa di pelukannya.


"Bukan asik ya maszeh,,, tapi cantik. Ingat!" canda Devina dengan senyum melekat di wajahnya. Dan jelas hal itu membuat pria di depan menjadi salah tingkah dibuatnya.

__ADS_1


"Kamu bener, Dev. Kamu itu cantik, sangat cantik sampai aku lupa kapan terakhir kali aku melupakan kamu." Batin Andre yang hanya menatap wanita dengan anaknya tersebut.


"Yaudah, dre. Lanjut ntar lagi. Maafin anak aku tadi nabrak kamu."


"Ah, iya. Gak masalah." Ucapan 'anak aku' yang dilontarkan Devina langsung membuat Andre tersadar. Dan baru ingin melanjutkan ucapannya, Devina malah seperti ingin beranjak dari sana.


"Kenapa, Dev?!" tanya Andre penasaran dengan gerak gerik Devina yang menenangkan anaknya.


"Gapapa kok, dre. Cuman ini Lissa nangis terus gak mau di ajak ngomong. Yaudah ya, aku tinggal dulu." Devina langsung pergi tanpa memedulikan jawaban dari Andre. Namun Andre dengan sigap menyusul Devina dan berjalan mengimbanginya.


Akhirnya Andre menanyakan hal yang sedari awal ingin ia tanyakan pada wanita itu.


"Iya," Jawab Devina singkat.

__ADS_1


"Oh." Andre mencoba untuk mengerti kondisi Devina dengan tidak bertanya lebih banyak karena ia tahu wanita itu sedang sibuk mengurus anak dalam gendongannya yang terus saja merengek. Sebenarnya ingin sekali dia bertanya di mana 'pria itu' berada. Tapi urung ia lakukan sebab hanya akan membuat emosinya naik tiap kali berurusan dengannya.


Setelah berjalan beberapa meter, akhirnya mereka sampai di depan sebuah toko boneka yang cukup besar. Tentunya Devina langsung masuk ke dalam toko itu diikuti oleh Andre.


"Mau yang mana sayang?!" Bisik Devina di dekat telinga Lissa. Dan hal itu tentunya membuat anak gadis yang awalnya menekuk wajahnya di dada sang ibu melihat ke sekitar mereka. Raut wajah yang di tampakkan berubah seketika itu juga.


"Itu, ma! Yang itu juga! ini juga!" ungkap Lissa dengan antusiasnya sambil menunjuk ke arah boneka yang berwarna warni di sekitar mereka.


"Oke, oke princess mama. Semua yang kamu mau bakal mama kasih." Balas Devina dengan gemasnya melihat anak perubahan sikap anaknya yang sangat cepat. Sesekali Devina menciumi pipi gembul anaknya sambil membawanya melihat sekeliling toko. Namun ternyata semua gerak-gerik keduanya tak luput dari sorotan mata pria yang mengikuti mereka.


"Dev, aku nyesel dev. Coba aja waktu bisa ku ulang ke 10 tahun yang lalu, aku gak bakal sia-sia in kesempatan itu." Batin Andre berkecamuk melihat pemandangan ibu dan anak yang baginya begitu menghangatkan hati. Saking fokusnya melirik ke arah kedua wanita di depannya, Andre sampai lupa melihat ke mana kakinya melangkah.


Bugh,,, Andre tiba-tiba saja tersungkur di lantai.

__ADS_1


"Aw,,," Ringis Andre dan seseorang yang kakinya ia injak secara bersamaan.


__ADS_2