Aunty, Kesepian

Aunty, Kesepian
11


__ADS_3

####


"Siapa dia?" Tanya Devina ketika mereka sudah tinggal berdua.


"Apa maksud kamu, sayang." Elak Erpan mencoba menutupi sesuatu. tentu dirinya tahu dan paham maksud pertanyaan Devina. Tapi ia mencoba agar Devina tidak perlu mencari tahu.


"Hahahaha, tadi kamu memanggilku Devina, kini sayang. Dasar munafik. Sudah cepat, beritahu aku siapa dia?"


"Sungguh aku gak paham?"


Devina menatap Erpan dengan mimik yang sudah tidak ada lagi tangisan atau kesedihan di dalamnya. Hanya terukir sebuah guratan wanita yang sedang mencoba kuat menghadapi keadaan. Memang terlihat terpaksa, tapi itu lebih baik daripada harus terlihat lemah di depan orang yang menyakitimu.


"Mas, aku tahu aku hanya ibu rumah tangga. Tapi aku gak bodoh, mas. Apa mas lupa, aku ini sarjana. Lulusan terbaik untuk satu angkatanku. Jadi, tak perlu berpura-pura bodoh lagi. Katakan padaku, siapa dia yang membuatmu bisa berpaling dariku?"


Satu kalimat terakhir Devina benar-benar menusuk tajam hati dan pikiran Erpan. Ketakutannya semakin menjadi-jadi, bila ternyata istrinya sudah lama tahu permasalahannya. "Ka, kamu tahu semuanya?"


"Hahahaha, mas kamu lucu sekali. Kalau aku tahu, untuk apa aku bertanya?" sarkas Devina yang sudah tidak peduli lagi dengan rasa cintanya. Dia kini sudah tak merasakan namanya cinta, hanya rasa sakit dan dendam yang tanpa ujung.


"Baiklah, Devina. aku bakal jujur." Ucap Erpan dengan segenap jiwa dan raga.

__ADS_1


Flashback


"Bro, lu kok murung terus? Kita temen udah lama gak ketemu, bukannya happy malah murung gini." Ujar seorang pria yang duduk di samping Erpan dalam sebuah bar. Nampaknya mereka berdua duduk di tempat VIP, sehingga tidak ada kerumunan dan hanya mereka berdua di temani oleh beberapa wanita di samping pria itu.


"Tahu nih, Do. Gua lagi pusing banget ama hidup.gua." Tutur Erpan dengan memasang wajah lesu. Dia kembali menengguk minuman alkohol di depannya.


"Lah, aneh ni anak. Lu cerita di chat, kalo hidup lu udah membaik. Apalagi semenjak deket ama bini lu." Heran Edo yang mulai bermain-main dengan wanitanya.


"Iya, gua tahu. Tapi gua gak sebahagia itu sekarang." Satu tenggukan lagi, masuk ke dalam mulut Erpan.


"Kenapa? apa gara" istri lu kurang sexy lagi?" Ceplos Edo.


"Hahahaha, gitu. dong. Ceria dikit. Gak kasian apa lu, gua asik sendiri, tapi temen gua malah banyak beban."


"Hahahaha, bukan beban. Hanya ekspetasi gua kelebihan."


"Ekspetasi atau ekstasi?"


"Kampr*t, ekspetasi lah. Ya kali ekstasi, bisa di keluarin dari kantor gua kalo konsumsi begituan."

__ADS_1


"Ye, nyoba sabi kali."


Keduanya pun tertawa bersama. Kemudian Edo meminta untuk para wanitanya untuk memberikan mereka waktu berdua.


"Jadi, apa masalahnya?" Tanya Edo sambil menuangkan minuman ke dalam gelas Erpan yang sudah kosong. Dilanjutkan dengan gelas miliknya.


"Gak, kok."


"Pan, lu kagak usah sungkan. Lu pikir gua ini siapa lu? Kita udah bareng selama 6 tahun. Dan selama itu, lu udah banyak nolongin gua. Nah, mungkin gua bisa tolong lu sekarang."


Erpan menatap temannya itu dengan tatapan terharu. Dari sekian banyak teman yang ia miliki, tak banyak yang seperti Edo. Kebanyakan dari mereka akan lupa teman, tak seperti Edo yang selalu mengingatnya.


"Hahahaha, berandalan kayak lu bisa solid juga." Ledek Erpan.


"Hehehe, walau pekerjaan gua kotor. Tapi setidaknya gua masih punya hati yang jernih." Balas Edo tanpa ada kebohongan.


"Terimakasih, Do. Emang lu temen gua yang paling baik. Jadi ini permasalahan keluarga gua. Mungkin lu bener istri gua udah gak sexy lagi kayak dulu. Tapi bukan itu persoalan utamanya."


"Terus apa?"

__ADS_1


"Gua mau anak cowok bukan cewek."


__ADS_2