Aunty, Kesepian

Aunty, Kesepian
8


__ADS_3

####


Devina Pov


(Next)


Ya, aku berpacaran dengan seorang ojek online yang biasa mangkal di depan kampusku. Jujur, aku tidak malu atau risih dengan pekerjaan yang mas Erpan geluti saat itu. Malahan karena pekerjaan itulah aku menerima ungkapan cinta yang dilayangkan olehnya di atas motornya ketika dirinya sedang mengantarku pulang ke rumah.

__ADS_1


Aku melihat kegigihan dan kesungguhan dalam diri mas Erpan ketika ia sedang menjalani pekerjaannya itu. Dan hal inilah alasan aku menerima mas Erpan jadi pacarku. Bukan karena ketampanan ataupun keuangan. Cukup hanya dengan kesungguhan dalam dirinya, dan mungkin juga karena es cendol 5 ribuan yang sering kami beli bersama.


Rasa cinta yang tumbuh dalam hatiku pun terasa begitu jelas. Bukan seperti cinta monyet yang mungkin pernah ku rasakan dulu. Perasaan ini lebih terasa mendalam dari sekedar ingin memiliki, yaitu juga ingin menjadi satu-satunya. Kenapa bisa atau ada apa dengan hatiku pun, aku tidak tahu. Saut-satunya jawaban yang dapat kuterima adalah aku cinta dia dan tak ada yang lain. Dia begitu berharga, bahkan harta bukan lagi jadi primadona. Cukup dia dan keluarga kecil kami nanti.


Masalah restu kedua orang tua pun ku terobos. Tak peduli berapa banyak omelan dan nesehat kuterima dari ibuku. Tapi tak ada satu pun yang menggoyahkan diriku untuk berpaling darinya. Dia bagaikan candu. Ketika bersama ia kubutuhkan. Ketika tidak bersama, ia selalu ku rindukan. Meski duania menolak pun aku tetap memilihnya. Ibuku yang melihatku begitu kekeh ingin bersamanya pun harus menurunkan egonya. Sebagai satu-satunya putri yang ia miliki, kebahagiaanku selalu ia dahulukan. Oleh karena itu, meski berat melepaskan aku dengan lelaki biasa seperti Erpan, ia tetap memberi kami restu. Tentu saja hal itu karena ia mau aku bahagia, meski ia tak yakin aku akan bahagia bersama Erpan.


Bagiku, selain sosok yang aku cintai, Erpan juga sudah aku anggap sebagai kakak ku sendiri. Di dasari dari umur kami yang berpaut beberapa tahun, sampai ke sikap mas Erpan yang dewasa membuat aku benar-benar respek padanya.

__ADS_1


Walaupun, semenjak kelahiran anak pertama kami kesibukan mas Erpan semakin menjadi-jadi. Biasanya sebelum memiliki anak, kami memiliki waktu bersama cukup sering. Tapi karena pekerjaan, mas Erpan lebih sering lembur sehingga tak jarang aku di nilai sebagai janda oleh para tetangga. Aku tentu ingin menentang gosip itu, tapi hal itu malah ku hiraukan. Biasanya melawan mereka sama saja menikam diri sendiri. Makanya aku memilih untuk diam saja.


Tapi pernah sekali aku begitu marah pada ibu-ibu tetangga karena membicarakan mas Erpan yang tidak-tidak. Mereka beranggapan bahwa mas Erpan berselingkuh di belakangku. Dan jelas aku tidak terima dengan anggapan mereka. Hingga pecahlah keributan di antara kami. Bahkan mas Erpan yang notabenenya selalu sibuk, sampai datang untuk menegahi pertengkaran kami karena ternyata ibu-ibu yang lain menelponnya. Untungnya, permasalahan itu hanya angin lewat yang cepat berlalu. Kehidupan kami pun mulai seperti biasa.


Apakah aku memikirkan perkataan ibu itu? Tentu saja. Aku adalah orang pertama beranggapan seperti itu. Tapi egoku lebih tinggi daripada logika. Semua kemungkinan tentang keburukan suamiku selalu ku tolak. Hati selalu memberikan keyakinan bahwa mas Erpan adalah sosok pria yang setia. Tapi nampaknya, perkataan ibuku dan ibu-ibu tetanggaku benar.


Aku yang buta karena cinta ini ternyata telah salah menilai seseorang lelaki. Seorang lelaki yang amat ku cintai. Siapa lagi kalau bukan Erpan Sulistyo, suamiku yang kini sedang menggugat cerai diriku.

__ADS_1


__ADS_2