Aunty, Kesepian

Aunty, Kesepian
9


__ADS_3

"Hahahaha,,, mas. Bisa aja bercanda," Balas Devina yang masih mencoba mencari titik baik dari perkataan suaminya.


"Tidak, Devina. Aku serius. Detik ini juga, aku mau kita cerai," Tutur Erpan dengan satu tarikan nafas. Kini dirinya sudah tidak takut lagi. Dia nampaknya sudah membulatkan tekadnya, yaitu berpisah dengan istrinya yang kurang lebih sudah 6 tahun bersamanya.


"Apa!!!!!" Kaget Ibu Devina mendengar penuturan suami anaknya. Entah sejak kapan dia berada di sana, tapi sepertinya dia sudah mendengar jelas ucapan lelaki itu.


"Ibu? sejak kapan ibu ada di sini?" Tanya Erpan panik. Dia tidak tahu ternyata ibu mertuanya sedang berkunjung ke rumah mereka. Takut, tapi dia sudah terlanjur. Dirinya sudah menarik pelatuk, jadi hanya tinggal menerima konsekuensinya.


"Itu tidak penting. Ulangi apa yang barusan kamu katakan," Bentak ibu Devina yang murka pada menantunya. Suasana rumah itu pun menjadi suram seketika. Suhu di sekitar mereka pun ikut mendidih karena suasana yang mendadak mencekam seperti ini.

__ADS_1


"Ibu, tenanglah." Bujuk Devina menghampiri ibunya agar tidak membentak Erpan.


"Diam kamu, Devina. Apa kamu gak denger tadi dia ngomong apa?" Nada ibunya sudah tidak dapat di kontrol, dia terlihat marah besar.


"Iya, bu. Tapi kita bisa omongin baik-baik, bu. Mungkin mas Erpan kelelahan habis kerja." Kata Devina mencoba menyakinkan ibunya untuk tidak mengamuk. Dia melirik sekilas Erpan seperti meminta pertolongan agar ia mau menolong meredakan kemarahan ibunya.


"Maaf, Devina. Yang aku katakan barusan itu benar-benar serius. Bukan karena aku mabuk atau sedang lelah, aku seratus persen tersadar. Dan aku ingin kita bercerai." Erpan berhasil membuat. kedua wanita di depannya mengubah eksperesi mereka. Yang satu terlihat tidak bersahabat, dan yang satunya terlihat tak mampu.


"Menantu si...."

__ADS_1


"Kenapa,,,,, Kenapa mas? kenapa kamu tiba-tiba mau menceraikan aku?" Belum sempat ibunya menghardik Erpan, Devina lebih dulu melayangkan pertanyaan yang begitu menyanyat hatinya. Tanpa sadar, air mata sudah berlinang di wajah cantiknya. Ibunya yang sadar anaknya menangis segera mencoba menguatkan anakya.


"Maaf, Devina." Jawab Erpan tertunduk. Dirinya seperti tidak bisa menjawab kenapa ia memutuskan untuk cerai dari Devina.


"Maaf? Kamu bilang maaf? Hei, lelaki tidak tahu diri! Sudah serius kah kamu dalam membuat keputusan? Sampai-sampai kamu mencerikan anakku karena ingin meminta maaf? Jadilah lelaki. Jawab dengan tegas pertanyaan anakku! Kenapa kamu mau bercerai!" Bentak ibu Devina dengan emosi yang meluap-luap. Dia merasa begitu geram melihat suami anaknya yang masih menyimpan rapat mulutnya di kondisi seperti ini.


"Bukan seperti itu, bu." Erpan mencoba meluruskan kesalah pahaman ibu mertuanya dalam mengartikan ucapannya.


"Hush,,, Jangan panggil aku ibu lagi! Tak sudi aku dipanggil ibu oleh lelaki yang berani menyakiti perempuan yang tulus padanya." Balas ibu Devina dengan tatapan tak suka. Dia menatap pria di depannya dengan tatapan jijik, tak sudi ia bila harus mempunyai menantu seperti pria di depannya.

__ADS_1


"Bu, tenanglah. Jadi mas, bisa kamu jelaskan alasan kamu mau menceraikan aku? Please, aku butuh jawaban yang pasti." Terang Devina dengan hati yang sudah hancur berkeping-keping. Dirinya merasa tak sanggup melihat ke arah pria di depannya. Tapi dengan sangat terpaksa, ia mencoba melihat lawan bicaranya. Dan air matalah yang berbicara ketika ia melihat pria itu.


"Maaf, Devina. Maafkan aku. Jujur, aku tidak mau kamu menangis seperti ini. Tapi bila hubungan kita terus berlanjut, salah satu di antara kita pasti terluka. Jadi, aku mau kita cerai. Alasannya, maaf, aku sudah tidak mencintaimu lagi." Jelas Erpan mengoyangkan iman setiap orang yang mendengarnya.


__ADS_2