
Akhirnya setelah kurang lebih satu jam perjalanan, mobil yang dinaiki oleh Devina, ibunya, Lissa dan kan Atep sampai di sebuah rumah sederhana di pinggir desa. Kang Atep segera memarkirkan mobil mereka di depan rumah milik majikannya itu. Lalu mereka semuanya turun satu persatu, tak terkecuali Lissa yang sudah tertidur di dalam pelukan ibundanya.
"Kang, kamu mau pulang atau menginap di sini?" Tanya ibu Devina kepada kang Atep yang mengeluarkan satu persatu barang Devina dari bagasi mobil.
"Langsung pulang aja, Nyonya." Jawab kang Atep yang sudah selesai menurunkan semua barang Devina. Dia kemudian membantu membawa barang-barang tersebut masuk ke dalam rumah.
"Makasih, kang. Maaf saya manggil kamu tengah malem kayak gini." Kata ibu Devina ketika dirinya juga sudah masuk ke rumah.
"Gapapa, nyonya. Sudah pekerjaan saya ini. Yasudah, saya izin balik dulu, nyonya."
"Iya, kang. Hati-hati. Besok kamu boleh ambil istirahat buat dua hari."
"Eh, gak perlu, nyonya."
__ADS_1
"Gapapa, lagian saya gak terlalu sibuk buat dua hari kedepan."
"Baik, nyonya. Terimakasih. Saya pamit dulu,"
"Iya, sama-sama." Ibu Devina menutup pintu rumahnya dan masuk ke dalam menyusul Devina di kamarnya. Ia mengetuk sekali memastikan anaknya dan cucunya sudah tidur atau belum. Sudah 3 kali ketukan, tidak ada respon dari dalam. Ibunya mencoba membuka pintu dengan perlahan yang ternyata tidak. di kunci.
Dirinya kemudian mendekati ranjang yang ada di kamar itu. Terlihat Devina sudah tertidur memeluk anaknya. Dia paham betul anaknya sedang capek total. Baik itu fisik maupun mental. Kejadian singkat ini pasti banyak menguras tenaga miliknya, jadi wajar dia langsung terlelap begitu sampai di kasur.
"Kasihan kamu, nak. Suami yang dulu kamu perjuangin di depan ibu dan almarhum ayahmu malah menyakitimu. Cucu ibu pun kena imbasnya." Batin ibu Devina yang tak terasa sudah mengeluarkan air mata. Semakin lama ia melihat putri dan cucunya, semakin sakit yang dirasakan oleh hatinya. Hingga tanpa ia sadari, air mata yang jatuh mengenai kulit Devina.
"Nggak kok." Bohong ibu Devina segera menghapus air matanya.
"Maaf, bu. Udah ngecewain perasaan ibu." Ucap Devina yang menerjang ibunya dengan pelukan. Dia paham ibu sedih karena dirinya.
__ADS_1
"Nggak kok nak. Kamu gak pernah ngecewain ibu."
"Iya, bu. Aku udah ngecewain ibu sama ayah."
Ibu Devina membalas pelukan anaknya dan mengelus pelan punggung anaknya.
"Nak, ibu gak pernah kecewa sama apa yang telah kamu pilih. Ibu yakin ayah juga begitu. Kamu ingat pesan ayah waktu terakhirnya?" Mereka berdua kini sudah saling menatap satu sama lain. Tak ada tangisan, hanya ada perasaan saling menguatkan.
"Iya, bu. Aku inget banget pesan ayah. Ayah pesan ke aku buat selalu bahagia. Itu aja,"
"Nah, jadi ibu mau kita jangan bersedih terus ya. Kasihan, Lissa kalo kita terus bersedih. Nah, ibu mau tanya ke kamu. Apa kamu siap melupakan pria itu?"
Devina termenung mendengar pertanyaan ibunya. Dia memang sakit hati. Tapi cinta tidak bisa begitu saja hilang dari hati. Erpan adalah lelaki pertama yang bisa ia cintai dengan sepenuh jiwa dan raga. Untuk melepaskannya, sungguh hatinya tak mampu. Tapi seluruh alam pikirannya berbeda. Jika hatinya ingin menetap, maka pikirannya memintanya untuk melepaskan.
__ADS_1
"Aku binggung, bu." Jujur Devina yang sudah tak kuat untuk mencoba tegar. Memikirkan suaminya hanya membuat hatinya merasakan pilu.
"Nak, ibu tahu ini berat. Tapi ibu mau kamu bahagia. Lepaskan pria itu, relakan ia demi kebahagiaannya. Kini tinggal kamu mencari kebahagiaanmu sendiri. Ibu harap kamu mengerti, dia sudah tak pantas untukmu. Mari kita mulai hidup yang baru." Kata ibu Devina menyakinkan anaknya untuk tetap optimis dan semangat.