Aunty, Kesepian

Aunty, Kesepian
7


__ADS_3

Happy reading to all,,,,


Semoga cerita ini dapat menghibur,,,,,,


Mohon maaf kalau ceritanya kurang menarik atau katanya kurang baik,,,,,


Mohon kritik dan sarannya,,,,,


Terimakasih,,,,,


####


"Malam, sayang." Ucap Erpan begitu sampai di rumah pada malam harinya. Dia mengecup singkat pucuk kepala Devina yang dilanjuti dengan cium tangan oleh Devina. Beginilah keseharian mereka apabila Erpan baru pulang dari kantor. Sekilas terlihat seperti keluarga yang berbahagia.


"Sudah makan, mas?" Tanya Devina sambil membawakan jas juga tas yang dibawa oleh suaminya ke dalam kamar mereka.

__ADS_1


"Sudah tadi bareng sama klien." Jawab Erpan yang sudah terduduk di sofa sambil menyalakan telivisi di depannya. Entah kenapa, raut wajah Erpan nampak tak begitu tenang. Dirinya juga hanya memencet tombol ganti pada remote tanpa ada niatan untuk berhenti pada salah satu channel. Sesekali ia melirik ke arah kamarnya, seperti menunggu kedatangan istrinya.


"Kenapa mas?" Tanya Devina menyadari keanehan suaminya yang menatapnya secara terus menerus. Erpan membuka mulut, tapi tidak ada suara yang ia utarakan. Selanjutnya pun begitu. Tapi setelahnya menghela nafas panjang, dia akhirnya mampu berbicara dengan tenang.


"Ehm, boleh bicara empat mata?" pinta Erpan pada Devina yang menghampirinya. Jujur Devina semakin heran dengan tingkah suaminya, tapi dia tetap mengikuti apa yang diinginkan oleh Erpan.


"Silahkan,"


"Apa Lissa sudah tidur?"


"Bagus. Jadi Devina, aku mau bicara serius sama kamu."


"Hhhmmm,,, iya, mas. Daritadi aku udah serius, kok."


Sejenak keduanya hening tak bersuara, khususnya Erpan. Ia nampak begitu serius. Sudah kesekian kalinya dia mengambil nafas berat. Dirinya bahkan yang awalnya menatap Devina, kini tak berani sedikit pun menatapnya terlebih setelah mereka duduk cukup dekat. Dan dengan keberanian yang muncul entah darimana, Erpan mulai menyatakan maksudnya.

__ADS_1


"Aku mau kita cerai."


...#####...


Devina Pov


Ibu rumah tangga, sebuah pekerjaan yang dulunya selalu aku anggap sebagai pekerjaan yang membosankan. Tapi entah mengapa, pekerjaan inilah yang malah aku kerjakan saat ini. Tentu awalnya aku menolak untuk menerima pekerjaan ini. Tapi karena tak mau berdebat dan dianggap istri yang bandel, aku menuruti kemauan suamiku untuk diam di rumah saja sedangkan ia yang bekerja.


Setahun berjalan sebagai ibu rumah tangga, aku mulai terbiasa dengan pekerjaan ini. Tidak buruk juga, itulah yang kurasakan saat itu. Bahkan saat aku hamil anak pertama kami, aku merasa benar-benar seperti seorang ibu kala itu. Menanti kehadiran buah hati kami sambil mengurusi suamiku.


Awalnya, pekerjaan suamikua hanyalah salah satu karyawan biasa di perusahaan tempat ia bekerja. Namun semenjak aku dinyatakan hamil, tuhan memberikan kami rejeki lebih. Mas Erpan mendapat promosi di perusahaan hingga ia bisa naik satu tingkat lebih tinggi di perusahaan, yaitu sebagai kepala divisi. Dan tentunya, gaji mas Erpan jyga naik pesat kala itu. Setidaknya 2 kali lebih besar daripada karyawan biasa.


Bukan berarti semua kesuksesan mas Erpan terbilang mulus. Dan bukannya mau sombong atau bagaimana, tapi aku merasa bahwa kesuksesan mas Erpan tidak jauh-jauh karena ia dekat denganku. Pasalnya sebelum kami pacaran pada 7 tahun yang lalu, mas Erpan hanyalah seorang sarjana pengangguran yang bekerja sebagai ojek online. Dirinya sering kali mangkal di depan kampusku bersama dengan kawanan driver ojek online lainnya.


Kehidupan mas Erpan pun mulai berubah sejak ia kenal dengan diriku. Di awali ketika aku sedang kesusahan membawa buku, ia datang monolongku. Jujur kami belum kenal satu sama lain pada waktu itu. Kecangungan pun terjadi ketika ia mencoba menolongku dengan memperbolehkanku naik ke atas motornya. Tentu aku ingin menolak, tapi karena melihat dirinyai seperti ikhlas menolongku, maka aku menerima ajakannya dan memintanya untuk mengantarku pulang ke rumah.

__ADS_1


Dari situlah kedekatan di antara kami bermula. Berawal dari modus hingga akhirnya kami sukses pacaran.


__ADS_2