Aunty, Kesepian

Aunty, Kesepian
27


__ADS_3

"Oh, ****. Dia itu malaikat, Dev." Bisik Ica mengangumi ketampanan yang terpancar dari Raka. Matanya seolah dihipnotis agar tidak melirik ke selain dirinya.


"Apaan sih kamu, Ca." Balas Devina sama-sama dalam nada berbisik. Berbeda dengan Ica, Devina menilai sosok Raka biasa saja. Bukan berarti ia menolak pendapat bahwa pria itu tampan, bukan. Hanya saja entah kenapa dalam hatinya tidak ada gejolak apapun. Baik itu mengangumi apalagi mencintai.


"Oh, anda pria waktu itu. Salah satu pria yang ikut mengujiku." Pelik Devina begitu ia ingat siapa Raka dan kapan ia pernah bertemu dengannya. "Ma, maaf aku tak mengenali, Tuan."


"cukup Raka saja, tidak perlu pakai tuan." Balas Raka ramah. Hanya dengan hal sesimpel itu sudah berhasil membuat Ica yang daritadi memandang Raka keringat dingin. Itu terlihat bagaimana wanita bernama Ica itu menyubit lengan Devina beberapa kali yang Devina sadari itu adalah tingkah Ica ketika sedang salting.


"Ma, pulang." Pinta Lissa memecahkan suasana yang ada. Tentu Ica yang mendengar itu langsung melihat ke arah Lissa dengan tatapan tajam.


"Duh, adek manis. Jangan pulang dulu napa. Tante kan belum kenalan sama om tampan itu. Setidaknya dapet kontaknya aja cukup, ya kalau bisa sih jadi istrinya, Xixixi." Pikiran Ica menerawang sambil berharap agar Devina tidak mengiyakan kemauan anaknya.

__ADS_1


"Adek manis, tante tadi lihat boneka besar banget. Warnanya imut pake banget. Gimana kalau tante beliin mau gak?" Ica langsung buka suara untuk mencengah Lissa yang ingin pulang. Alasannya tentu jika Devina dan Lissa pergi, ia yakin Raka juga akan pergi. Sementara dia akan kehilangan kesempatan untuk lebih dekat dengan pria setampan Raka.


"Apaan s...." Andre yang melihat gelagat Ica yang aneh mencoba untuk bersuara meski harus tertahan oleh tangan Ica. Tak hanya itu, Ica juga memberikan tatapan maut pada Andre seolah berkata, "Jangan ikut campur atau kau akan dapat konsekuensi."


"Mau ya, manis,,," Bujuk Ica lagi. Namun nampaknya mood Lissa sudah tidak ada lagi. Anak itu memilih bungkam seribu bahasa di dalam pelukan ibunya. Dan dengan tidak enak hati Devina harus mengugurkan kemauan Ica.


"Sorry banget ya, Ca. Kayaknya anak aku udah gak mood banget. Aku paham kok maksud kamu barusan. Pengen deketin Raka kan?" Ucap Devina sedikit berbisik kepada Ica agar yang mendengar ucapan hanya hanya Ica seorang.


"Tapi kamu tenang kok, Ca. Masih ada cara lain." Kata Devina berupaya untuk mengembalikan semangat temannya itu.


Ica yang mendengar itu hanya menatap Devina malas. Entah apa rencana Devina, Ica tak paham. Karena menurutnya kesempatan besar untuk dekat dengan Raka sudah musnah. Berbeda dengan Ica, Andre malah ingin cepat-cepat membawa Devina pergi dari sana. Bagi Andre melihat Raka hanya membuat matanya sakit.

__ADS_1


"Jadi kamu mau pulang, Dev?" Tanya Raka mencoba menerka sesuai dengan apa yang berhasil pendengarannya tangkap barusan.


"Ah, iya, Tuan Raka. Eh, maksud ku Raka. Aku dan anakku mau pulang." Jawab Devina sedikit kikuk. Ia harus berhasil menjalankan rencana jika ingin membuat semangat Ica kembali. "Kami berniat untuk pulang, tapi kayaknya Lissa bakal susah deh buat naik taksi atau angkutan umum. Soalnya dia kalau ngambek jadi sulit di atur."


"Bareng aku aja, Dev." Hanya dengan kode seperti itu, Andre dan Raka langsung menawarkan diri. Layaknya singa yang tak mau melepaskan mangsanya begitu saja. Dan hal itu tentu saja membuat Devina sedikit kikuk dibuatnya


Devina kemudian melirik ke arah Ica dan Raka secara bergantian. Sebuah ide tiba-tiba saja muncul dibenaknya. "Ehm,,, Kayaknya yang butuh tumpangan bukan cuman aku, deh. Iya kan, Ca?"


"Ah, gak usah. Gua bisa sen,," Belum selesai Ica berbicara, tangan Devina sudah menyumpal mulutnya.


"Tu, eh maksud ku Raka. Kalau tidak sibuk, bisa minta tolong anterin temen aku ini pulang?"

__ADS_1


__ADS_2