
Di depan sebuah gedung.
“Huh, untung saja aku tidak terlambat.” Ucap Devina sambil melirik ke arah jam tangannya.
Dirinya terlihat seperti habis di kejar sesuatu karena nafasnya tak beraturan. Dan memang benar kalau ia sedang dikejar, tentunya dikejar oleh waktu. Setelah mengantarkan Lissa ke sekolah tadi, ia buru-buru datang ke kantor agar tidak terlambat di hari pertamanya ia bekerja.
“Hhmm,,, aku pergi ke mana ya habis ini.” Gumam Devina.
Semalam setelah mendapatkan kabar ia diterima jadi sekretaris, pihak kantor langsung menyuruhnya untuk datang ke kantor hari ini. Jadi, di sinilah Devina sekarang. Di depan gedung tempat ia bekerja.
Devina mengambil ponsel yang ia simpan dalam sling bag miliknya. Dirinya ingin melihat langkah selanjutnya yang harus ia lakukan setelah sampai di kantor sesuai dengan perintah orang yang menelponnya semalam.
“Atas nama Devina?” tanya seorang pria yang entah sejak kapan ada di sebelah Devina.
Devina menoleh ke sumber suara.
“Iya benar. Saya Devina. Maaf, anda siapa ya?”
“Oh, perkenalkan, nama saya Rippo.” pria bernama Rippo itu menjulurkan tangannya mengajak Devina untuk bersalaman.
“Kebetulan saya adalah orang yang akan mengantar anda ke tempat anda bekerja.” Sambung Rippo.
“Oh, salam kenal, tuan Rippo.” Devina langsung membalas jabat tangan Rippo.
__ADS_1
“Ah, tak perlu menggunakan tuan. Panggil saja Rippo. Toh, posisi kita di kantor akan sama.” Dengan ramah Rippo melepaskan jabat tangan mereka.
“Mari ikut saya.” Rippo berjalan lebih dulu masuk ke dalam gedung.
Devina mengekori Rippo seperti yang diminta. Dalam perjalanan, Devina dibuat takjub dengan kondisi kantor yang begitu rapih dan ramai. Tentunya itu karena ini adalah kali pertamanya ia bekerja setelah sekian lama menjadi ibu rumah tangga.
Keduanya menaiki eskalator untuk naik ke lantai dua. Di lantai dua, barulah mereka masuk ke dalam lift.
“Oke, jadi mungkin ini penjelasan pertama saya untuk kamu.” Terang Rippo ketika mereka berdua sudah di dalam lift.
“Untuk naik ke atas, kita para karyawan harus naik ke lantai dua dulu. Baru setelah sampai di lantai dua kita bisa memakai lift untuk naik ke kantor masing-masing.” Sambung Rippo.
“Mohon maaf sebelumnya, tadi saya melihat lift di lantai satu. Saya penasaran, kenapa kita tidak pakai yang lantai satu saja?” tanya Devina karena penasaran kenapa dia harus ke lantai dua dulu untuk bisa naik ke atas.
Setelahnya, Rippo menjelaskan segala perihal tentang perusahaan pada Devina sembari menunggu mereka sampai di lantai yang dituju.
"Nah, di lantai inilah tempat kamu akan bekerja." Tepat saat Rippo mengatakan hal itu, pintu lift terbuka.
Sepanjang mata Devina terlihat sebuah ruangan yang cukup besar dengan sebuah meja yang tersedia layaknya tempat resepsionis di lantai satu. Namun tentunya tempat itu berbeda meski secara keseluruhan nampak sama.
"Ini ruangan kerja untukmu. Sengaja diletakkan di depan lift agar kamu bisa langsung menyambut tamu sebelum mereka masuk ke dalam pintu itu." Rippo menunjuk ke arah satu-satunya pintu yang nampak di sekitar mereka.
Dengan sedikit isyarat, Devina seakan bertanya pada Rippo apa yang ada di balik sana.
__ADS_1
"Itu adalah ruangan bos perusahaan ini. Bosku dan juga bosmu." Terang Rippo.
"Jadi, bagaimana kita langsung ke arah praktik menjadi sekretaris seperti penjelasanku di dalam lift tadi." Sambung Rippo seraya berjalan ke arah meja yang akan menjadi tempat bagi Devina untuk bekerja.
Rippo mulai memberikan contoh tentang apa dan bagaimana cara kerjanya Devina ke depannya. Devina merasa beruntung mendapatkan atasan seperti Rippo. Selain memiliki penampilan yang menarik, dia juga selalu memberikan penjelasan yang mudah dipahami. Bahkan tak segan ia untuk menyuruh Devina bertanya ketika Devina merasa ragu untuk bertanya.
"Oke, mungkin kurang lebihnya seperti itu. Ku lihat kamu sudah mengerti semua penjelasanku barusan." Ungkap Rippo yang kini sedang mengamati Devina bekerja.
"Kalau begitu, mungkin kamu bisa lanjut pekerjaanmu. Aku tinggal pergi dulu, masih banyak pekerjaan lain yang harus aku lakukan." Pamit Rippo yang nampaknya masih memiliki pekerjaan lain.
"Ah, iya, Rippo. Terima Kasih atas arahannya." Balas Devina sambil menoleh sebentar ke arah Rippo.
Rippo bergegas meninggalkan Devina di meja kerjanya. Dan Devina kembali melanjutkan pekerjaannya seperti apa yang diarahkan oleh Rippo.
Devina nampak sangat serius dalam melakukan pekerjaannya. Beberapa waktu ia habis dengan berkutat pada berkas-berkas dan sesekali melirik ke arah komputer kantor yang ada di mejanya.
"Ehm,," Dehaman seseorang terdengar di dekat Devina.
Tanpa melirik ke arah suara, Devina langsung berdiri dan membungkuk ke orang tersebut karena dirinya menyangka kalau beliau pasti bos perusahaan ini.
“Ah, selamat datang, b,,” Devina langsung menahan ucapannya ketika ia melihat siapa orang tersebut.
“Tuan Raka?!” Kaget Devina.
__ADS_1