
"Jadi, Lissa? Lissa yang menyebabkan kamu mau pisah sama aku?" Emosi Devina kembali meluap. Dirinya sungguh tak terima jika suaminya ingin cerai hanya karena dia ternyata hamil anak permepuan.
"Dengerin aku dulu," Pinta Erpan agar Devina tetap tenang.
"Apa? Apalagi? Apa ternyata ketika kamu sedang kecewa sama aku, kamu bertemu dengan wanita yang lebih mengerti kamu begitu?" Devina mencoba agar dirinya tidak menitikkan air mata lagi. Dia mencoba untuk tegar saat ini.
Sementara itu, Erpan cukup syok ketika tebakan Devina ternyata benar. Ada perasaan menyesal di dadanya. Tapi mau bagaimana lagi, cintanya sudah hilang untuk Devina. Kini sudah berganti ke orang lain.
"Iya kamu benar. Kurang lebihnya seperti itu." Singkat padat dan jelas. Namun begitu menyayat perasaan Devina. Ia tak sanggup menahan luka terlalu banyak, hatinya mengatakan kepada dirinya untuk menangis. "Maaf, Devina. Maafin aku. Aku salah."
Devina tak menanggapi ucapan Erpan begitu saja. Dia memilih untuk mencurahkan perasaannya sejenak terlebih dahulu dalam tangisan. Tanpa ada yang meredakan, Devina terus mengusir rasa lemahnya saat ini. Dia menghela nafas panjang sambil mengusap air matanya.
"Aku tanya sekali lagi, siapa perempuan itu?" Tanya Devina untuk kesekian kalinya.
"Dia Dara, mantan aku waktu SMA." Jelas Erpan. Dirinya ingin memeluk wanita rapuh di depannya. Tapi ia sadar, dirinya di sini untuk mengakhiri hubungan mereka. Karena dia memilih untuk pergi daripada menetap.
"Oh, mantan terindah kamu. Kapan kalian bertemu kembali?" Sambung Devina yang kini sudah mampu mengontrol kesedihannya.
"Di bar itu setelah Edo pergi karena ada tugas mendadak. Ketika aku masih di sana, aku melihat wajah seseorang yang sangat aku kenali. Dan ternyata bena, itu Dara. Karena alkohol aku menghampirinya."
__ADS_1
"Cih, tak usah beralasan karena alkohol. Hal itu hanya membuat dirimu lebih buruk."
"Devina, kenapa kamu bilang begitu?"
"Kenapa? gak boleh? Apa tidak boleh orang yang disakiti membela diri? Apa kamu tahu selama ini yang aku rasakan, hah?"
"Maksud kamu?".
"Lupakan saja, jadi kalian sudah berhubungan dari 5 tahun yang lalu, begitu?"
"Hhhmmm kurang lebih begitu. Tunggu Devina, kami hanya berteman saat itu."
Erpan hanya terdiam tak menanggapi Devina.
"Berarti benar. Jawab aku, apakah kamu mengatakan sudah beristri pada pelakor itu?" Devina mencoba memancing emosi Erpan.
"Apa? jangan kamu sebut Dara pelakor. Aku yang salah. Aku tidak menyebutkan kita sudah menikah ketika kami awal bertemu." Dan Devina hanya tertawa mendengar jawaban Erpan ini. "Kenapa tertawa?'
"Lihatlah betapa lugu dan polosnya aku. Suamiku yang selalu aku bela ternyata malah membela perempuan lain dihadapanku. Miris sekali," Ucap Devina sedikit melemah di akhir ucapannya.
__ADS_1
"Maaf, Devina. Aku tak bermaksud. Aku mengatakan yang sejujurnya." Kata Erpan yang merasa salah ucap.
"Jujur? kemana saja kamu, mas? kenapa kamu baru jujur sekarang? Apa kamu tidak pernah menganggap ku ada? Oh, atau mungkin kamu merasa aku hanyalah pembantumu? jadi, semua masalah tak perlu kamu ceritakan padaku?" Rentetan pertanyaan menghujani Erpan.
"Bukan begitu, aku tetap menganggapmu istri, aku serius."
"Istri? Mas, 6 tahun sudah kita menikah. Dalam kurun waktu yang panjang itu, kenapa kamu gak pernah cerita ke aku? Kalo kamu mau anak laki, kita bisa usahain mas. Ada program bayi tabung atau apalah itu. Kita juga bisa usaha sendiri. Tapi apa? Kamu bahkan sudah lama sekali tidak pernah menyentuhku. Bahkan sudah 4 tahun terakhir ini kamu menolak ku. Apakah itu karena mantan mu itu lebih baik dalam ranjang?"
"Tutup mulut mu, Devina. Kamu tidak pantas berucap seperti itu."
"Lalu aku pantasnya apa? Menjadi pembantu rumah tangga? Atau penyemangat di kala kamu susah saja? Jadi, yang pantas adalah wanita penggoda suami orang?"
"Kubilang kamu kamu tak pantas seperti itu, Devina."
"Tentu aku tak pantas. Aku adalah perempuan lugu dan polos, tidak seperti wanita simpananmu yang genit mengambil lelaki orang lain." Sarkas Devina yang sudah sangat muak melihat kebusukan suaminya.
Plak,,, Satu tamparan mendarat tepat di pipi kiri Devina.
Sakit dan perih ia rasakan secara bersamaan. Sakit karena tamparan dan perih karena suaminya lebih memilih wanita lain.
__ADS_1