Aunty, Kesepian

Aunty, Kesepian
6


__ADS_3

Happy reading to all,,,,


Semoga cerita ini dapat menghibur,,,,,,


Mohon maaf kalau ceritanya kurang menarik atau katanya kurang baik,,,,,


Mohon kritik dan sarannya,,,,,


Terimakasih,,,,,


##########


"Mau minum apa, bu? atau mau langsung istirahat? Kasihan ibu sudah jauh-jauh ke sini." Tawar Devina begitu mereka sudah tiba di rumahnya. Tak lupa ia segera meminta ibunya untuk langsung beristirahat saja. Itu tentu saja karena dia takut ibunya terlalu banyak pikiran sampai-sampai memimpikan sesuatu hal yang mustahil.


"Gak usah buat minum. ibu langsung tidur aja. Mungkin kamu benar ibu terlalu banyak mikir, jadi sampe ke bawa mimpi." Tolak ibunya dan lebih memilih untuk istirahat saja.


Devina pun membawa ibunya untuk beristirahat di salah satu kamar yang kosong. Dia mencoba memastikan ibunya dapat beristirahat dengan nyaman. Namun baru hendak pergi, sebuah panggilan dari telpon ibunya menghentikan langkahnya.


"Halo, Nyonya." Ucap orang yang menelpon.


"Iya, Atep. Gimana mobilnya.?" Tanya ibu Devina yang kepada lawan bicaranya yang nampaknya itu adalah Atep yang ingin melaporkan kondisi.


"Hhhmmm, sulit, Nyonya." Ucap Atep pasrah. Terdengar nafasnya yang berat ketika menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


"Apanya yang sulit, Atep?"


"Jadi begini, Nyonya. Mobil ini aslinya gak ada masalah. Cuman entah mengapa, mesin mobil tidak bisa dinyalakan, Nyonya. Untuk alasannya saya kurang bisa jelaskan, tapi masalah biaya dan perbaikan mobil ditanggung sama perusahaan tempat mobil ini dibeli, Nyonya."


"Oh, yasudah. Gak masalah kalau begitu, Atep. Kamu di mana sekarang?"


"Saya lagi perjalanan pulang, Nyonya. Ini sedang di bus, Nyonya."


"Nah, kamu langsung pulang aja, Atep."


"Terus, nyonya bagaimana?"


"Saya menginap di rumah anak saya. Pulangnya saya tinggal di antar menantu saya."


"Iya, Atep. Saya tutup dulu."


"Iya, Nyonya."


Ibu Devina mematikan panggilan tersebut. Dirinya tak sadar jika ternyata putrinya masih belum keluar dari kamarnya dan malah mendengar semua percakapan ibunya.


"Loh, Dev. Kamu masih di sini?" Tanya ibunya karena mengira Devina sudah pergi tadi.


"Iya, bu. Tadi mau keluar cuman denger ibu angkat telpon,.gak jadi deh. Mobil ibu gimana?"

__ADS_1


"Masuk bengkel, nak."


"Loh, emangnya rusak parah, ma?"


"Kata Atep sih aslinya baik-baik aja. Cuman gak tahu gara-gara apa mesinnya gak bisa nyala."


"Hhhmmm...."


"Nah, feeling ibu jadi makin gak enak Devina."


"Ibu,,, ibu tenang aja. Semuanya aman terkendali, kok. Yaudah aku ke kamar dulu mau bersihin kamarku sama kamarnya Lissa.. Ibu istirahat aja dulu. Nanti kalau butuh apa-apa bisa panggil aku."


"Iya, Nak."


Kini Devina sudah berada di dalam kamarnya sekaligus kamar suaminya. Dia mulai mengambil semua pakaian kotor untuk ia masukkan ke dalam mesin cuci. Satu persatu pakaian kotor suaminya ia ambil. Namun sebuah keganjilan ia rasakan ketika melihat dasi suaminya yang nampaknya semakin banyak.


"Ini dasi punya mas Erpan? Kok, kayaknya banyak banget ya?" Batin Devina sambil mengambil dasi yang ia lihat. Untuk mencari tahu, ia mencoba membuka lemari dan mencari dasi lainnya.


"Ini dasinya ada di lemari. Sejak kapan mas Erpan punya 3 dasi warna ini. Bukannya aku cuman beliin 2 aja, ya?" Devina masih menimbang-nimbang keganjilan yang ia lihat ini. Pasalnya, dirinya tahu betul jumlah pakaian suaminya, karena dialah yang bertugas membelikan semua pakaian itu. Namun karena Devina merupakan wanita berhati lugu dan baik, untuk masalah seperti ini ia anggap tidak terjadi apa-apa.


"Hhhmmm,, mungkin mas Erpan beli baru karena kurang." Pikir Devina yang tak mau beranggapan buruk tentang suaminya. Dan ketika ia hendak menutup lemari, sebuah kertas jatuh tepat di atas kakinya.


"Liburan dua hari di bali?" Heran Devina ketika membaca isi kertas tersebut.

__ADS_1


__ADS_2