Aunty, Kesepian

Aunty, Kesepian
20


__ADS_3

"Terimakasih atas makanannya." Ucap Daniel setelah menyelesaikan makanan yang ada di piringnya. Ibu Devina hanya mengangguk dan berjalan ke westafel untuk mencuci tangannya. "Ehm, biar aku saja yang mencuci piring."


"Tak perlu. Aku bisa sendiri," Tolak Devina dengan lembut. Daniel merasa tidak enak jika hanya numpang makan dan tidak bekerja.


"Serius tak perlu bantuan?" Tanya Daniel sekali lagi. Dan yang ditanya hanya mengangguk sekali sebagai tanda bahwa ia tak butuh bantuan. Tapi perasaan Daniel sungguh tak enak jika hanya diam saja setelah diberi makanan menyenangkan seperti tadi. Setidaknya ia ingin membantu mengelap piring yang sudah di cuci. Baru saja ia berdiri, sebuah tangan mungil menariknya.


"Om, ikut aku yuk." Paksa Lissa sambil menarik tangan Daniel untuk mengikutinya. Niatan ingin membantu Devina pun pupus. Ia terpaksa mengikuti anak kecil yang menuntunnya ini.


"Hadeh, ni anak. Daritadi maksa terus. Keturunan bapaknya atau emaknya ya?" Batin Daniel sambil tersenyum kecil di ujung mulutnya. Dia memang sedikit kesal karena terus dipaksa, tapi melihat tangan mungil yang memegang tangannya membuat egonya hilang seketika. Bahkan ia menjadi penasaran ke mana anak itu akan membawanya.


"Ta,,,da,,,,, Ini kamarku, om." Tunjuk Lissa dengan sumringah. Bagi Lissa ini pertama kalinya ia menunjukkan kamarnya kepada orang lain selain omah dan ibunya.


"Wow,,, bagus sekali kamar kamu. Rapih dan wangi. Mata om silau deh ngeliatnya," Puji Daniel karena memang benar-benar terpukau dengan kamar milik Lissa.


"Hehehe,, iya dong. Aku kan mau kayak princes gitu, om." Jelas Lissa dengan nada khas anak kecil.


"oh,,,, Pices."

__ADS_1


"Ihh,,,,, Princes om. Bukan Pices."


"Eh, salah ya? Sejak kapan berubah cara bacanya?"


"Gak tahu. Tapi setiap malam mama bacanya Princes."


"Oh, mama kamu sering bacain kamu cerita princes?"


"Iya. Sebelum tidur mama pasti ceritain aku cerita tentang princes."


"Wah,,, enak banget dong kamu. Tiap malem ada yang nemenin tidur. Gak kayak om, selalu tidur sendirian."


"Hah?!" Sontak Daniel terkejut mendengarnya. Dugaannya tentang apa yang diperbuat semalam kembali tergiang di kepalanya. Ia tahu ia bersalah, jadi ia pastikan akan disuruh bertanggung jawab. Sebandel apapun dia selama ini, jika menyangkut permasalahan seperti ini, dia akan maju meski sedikit takut.


"Lissa,,, Omnya mana?" panggil Devina dari luar kamar Lissa.


"Ini, ma. Sama aku." sahut Lissa sambil menunjuk Daniel.

__ADS_1


"Oh, oke. Lissa mama mau ngomong sama om nya dulu, ya. Kamu sama omah dulu, ya."


"Oke, ma." Balas Lissa meninggalkan ibunya dan Daniel di dalam kamar miliknya. Begitu Lissa keluar, Devina langsung masuk ke dalam. Terlihat Daniel masih berdiri di tempatnya.


brugh,,,,


"Maaf, please maaf." Daniel langsung terduduk di depan Devina, seperti orang bersimpuh memohon penobatan.


"Heh, maksud kamu apa?" Panik Devina karena tiba-tiba melihat Daniel duduk di depannya.


"Tentu saja atas yang semalam. Aku akan bertanggung jawab. Ya, aku pasti bertanggung jawab."


"Semalam?" Devina nampak berpikir atas apa yang terjadi semalam dengan apa yang diucapkan Daniel. Lalu ia malah tertawa setelahnya.


"Kok malah ketawa?" Heran Daniel masih di posisi yang sama.


"Maaf, maaf. Cuman seperti kamu lupa kejadian semalam."

__ADS_1


"Bukannya aku mabuk? Dan kamu,,," Daniel menggantungkan ucapannya seperti ragu ingin bicara.


"Iya, dan kamu menyelamatkanku."


__ADS_2