
"Jangan diam saja bodoh!' sudah beberapa kali cacian terlontar dari mulut wanita itu kepada anak di depannya. Sebenarnya masalahnya hanya sepele, yaitu si anak tidak sengaja menyenggol lengan si wanita yang sedang memegang gelas minuman miliknya. Alhasil air minumannya tumpah membasahi pakaian si wanita.
"Gak guna!" Saking geramnya wanita itu melayangkan lengannya dengan tujuan untuk memukul anak itu sebagai balasan untuk minumannya yang tumpah. Namun sepersekian detik sebelum tangannya menyentuh anak itu, sebuah tangan menahannya.
"Jangan sentuh anakku dengan tangan kotormu!" Ucap Devina dengan penuh tekanan pada ucapannya. Dan tentunya hal itu membuat si wanita sedikit terkejut meski setelahnya ia menampilkan smirk licik yang entah apa artinya.
"Oh, jadi ini anakmu?!" Balas si wanita sambil melepaskan genggaman tangan Devina.
"Mama,,," Dengan sedikit menangis Lissa menghampiri ibunya. Devina langsung menyambut anaknya dengan sebuah pelukan hangat sebagai isyarat agar anaknya tetap tenang.
"Cup, cup, anak mama jangan nangis ya. Kamu aman kok, ada mama di sini. " Bujuk Devina agar Lissa tidak menangis lagi.
"Cuih, pantas sana kelakuan liar. Ternyata kamu toh ibunya?" Ucap wanita itu menatap ibu dan anak yang ada di depannya dengan tatapan merendahkan.
"Ya aku ibunya, ada masalah apa?!" Devina cukup tersentil emosinya lantaran ucapan wanita barusan.
__ADS_1
"Masih tanya apa? Lihat ini," Wanita itu memperlihatkan bagian dressnya yang terkena tumpahan air. Sebenarnya tidak begitu banyak bagian yang terkena air, hanya sebagian kecil. Tapi menurut penuturan wanita itu, dress yang ia kenakan saat ini adalah barang branded dengan harga memukau. "Dan semua ini adalah ulah anakmu yang tak tahu diri itu."
"Hah?! jan,,," baru ingin mengumpati wanita itu, seseorang sudah terlebih dahulu menjawab ucapan si wanita itu.
"Nona, jangan mulut anda! Dia hanya anak kecil, lagipula dia tidak sengaja." Dengan perasaan menggebu Andre berdiri di depan Devina dan Lissa seolah menjadi tameng bagi keduanya. Di belakangnya Ica menyusul dan langsung menghampiri Devina.
"Kamu gak papa kan, Dev?" Tanya Ica memastikan keadaan temannya itu. Devina mengangguk sebagai jawaban, sementara Ica melirik ke arah Lissa. "Adek manis, kamu gak papa kan?"
"I, iya tante." Jawan Lissa sedikit kaku karena sehabis menangis.
"Ca, gak usah. Biar aku aja," Tolak Devina yang takut membebani kedua temannya itu. Bukannya menjawab, Ica malah mengedipkan sebelah matanya sebagai jawaban.
Di depan mereka, si wanita yang melihat dua orang datang menolong Devina mendadak merasa semakin tersentil emosinya.
"Kalau dia anak kecil memangnya kenapa?" Tantang wanita itu dengan berani. Entah mengapa ketika melihat Devina ditolong dia merasa begitu emosi.
__ADS_1
"Kenapa malah bertanya? bukannya sudah jelas, dia masih anak-anak yang artinya dia masih kecil. Dan tidak begitu cara memperlakukan anak kecil." Tukas Andre dengan lantang. Dalam hidupnya, dia punya dua prinsip. Pertama jangan main kekerasan pada wanita. Dan kedua, jangan menyakiti anak kecil. Oleh karena itu, dia cukup geram jika melihat anak kecil di perlakukan semena-mena meski itu hanya berupa perkataan pedas.
Namun bukannya ciut atau takut, wanita itu malah semakin menjadi-jadi. Wanita itu perlahan mendekati Andre dan ketiga orang di belakangnya. Ia mengamati mereka.
"Tapi bukannya anak kecil itu didikan dari kedua orang tuanya? Kalau orang tuanya tidak benar, maka anaknya pun begitu." Ucap wanita itu dengan nada sombongnya.
"Cukup, katakan saja apa mau mu?" Kali ini Devina yang membuka suara. Dirinya ingin segera mengakhiri perdebatan mereka karena ia sadar bahwa sedari tadi mereka sudah jadi pusat perhatian di sana.
"Ckck,,, Sebenarnya aku tak mau melepaskan kamu begitu saja, terlebih setelah anak yang kau didik itu mengotori pakaianku. Tapi karena aku orangnya baik hati, jadi mari kita akhiri saja dengan syarat." Kata terakhir yang dilontarkan oleh wanita itu membuat semuanya mengeluh pelan tak terkecuali Devina.
"Syarat?!" Tanya Devina meminta kejelasan tentang maksud syarat barusan.
"Iya, aku minta ganti rugi atas,,,"
"Apa segini cukup?" Sebuah bariton lelaki dewasa memutuskan ucapan wanita itu seraya dengan menyerahkan selembar kertas.
__ADS_1