Aunty, Kesepian

Aunty, Kesepian
28


__ADS_3

"Jadi kamu tinggal sama ibu kamu aja?" Tanya Raka tanpa melirik ke arah wanita Devina karena sedang fokus menyetir.


"Em, Iya. Sama Lissa juga." Jawab Devina setelahnya.


"Ah, iya. Maksudku kamu, Lissa, dan ibu kamu." Mata Raka menoleh sebentar ke arah Devina. Entah mengapa pikirannya tak bisa terlalu jernih saat berada di samping Devina.


Sementara itu, Devina kembali teringat dengan kejadian sebelumnya yang membuat ia bisa berada satu mobil dengan Raka. Pikiran Devina terus merutuki teman polosnya yang bernama Ica itu. Padahal tadi dia sudah membuat kode agar Ica bisa balik bareng pria ini. Tapi Ica malah menolaknya secara langsung dan lebih memilih untuk ikut bersama dengan Andre dengan alasan ingin cepat sampai rumah.


"Ehm, Dev." Sapa Raka yang ternyata tidak dihiraukan sama sekali oleh Devina.


"Ah, iya, Mas Erpan." Jawab Devina sembarangan karena lamunannya terbuyarkan begitu saja.


Sedetik kemudian, Devina baru tersadar sepenuhnya. Ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Bagaimana bisa ia lupa kalau dia sedang bersama Raka bukan dengan mantan suaminya.


"Ma, maaf, barusan itu Raka maksudku." Devina mencoba untuk memperbaiki ucapannya sebelumnya.


"Hhhhm, ya. Tak masalah." Balas Raka dengan pandangan kembali fokus untuk menyetir.


Setelahnya suasana berganti hening. Kedua insan dalam mobil itu hanya terdiam dalam pikiran mereka masing-masing. Dan Devina berulang kali merutuki dirinya sendiri.


"Dasar bodoh! Bagaimana bisa kau sebut nama mantan suamimu ketika bersama pria lain." Umpat Devina dalam hati pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Dan kelakuan Devina itu ternyata membuat Lissa yang sedang tertidur dalam pangkuan ibunya merasakan goncangan.


"Uh, anak mama. Maaf ya kalo mama ganggu tidur kamu." Devina sadar kalau barusan ketika ia mengumpat dalam hati, dirinya juga melakukan gerakan-gerakan yang cukup menganggu anaknya.


"Masih lama, ma?" Balas Lissa dengan kesadaran yang masih minim.


Kondisi Lissa yang seperti itu membuat Devina nampak gemas. Ia selalu gemas ketika melihat anaknya yang baru bangun tidur.


"Enggak kok, sayang. Ini bentar lagi juga sampai. Tuh lihat, ini kan udah jalan besar yang mau ke rumah." Jawab Devina sambil menunjuk ke arah jalan yang nampak oleh mereka.


"Heis, anak mama masih ngantuk ternyata." sambung Devina ketika sadar kalau anaknya malah tidur kembali dalam pangkuannya.


"Hahaha, kalian berdua itu lucu sekali." Tiba-tiba saja Raka yang masih duduk di belakang kemudi tertawa.


Mendengar hal itu membuat Devina menoleh ke arah pria yang duduk di sampingnya. Ada perasaan heran yang menghampirinya ketika ia melihat bagaimana pria bernama Raka saat ini.


"Apa maksudnya dengan masa lalu? Apa mungkin dia juga memiliki seorang anak?" Gumam Devina dalam hati kecilnya.


Dan baru ketika hendak menanyakan hal itu secara langsung kepada Raka, mobil yang mereka tumpangi mala berhenti.


"Ini benar bukan? Rumah dengan pagar cat Hitam." Malah Raka yang bertanya pada Devina.

__ADS_1


"Iya benar," Jawab Devina.


"Oh, oke. Tapi aku minta maaf ya, Dev. Aku gak bisa mampir ke dalam. Aku masih ada acara habis ini."


"oke, tak masalah." Balas Devina sambil membuka mobil milik Raka.


"Terima kasih atas tumpangannya. Mampirlah lain kali agar aku bisa membalas kebaikanmu hari ini." Sambung Devina saat sudah berada di luar mobil.


"Sama-sama. Tentu aku akan mampir ke sini lagi." Sahut Raka tanpa keluar dari dalam mobil.


"Ya sudah. Hati-hati di...."


"ehm, Dev." Raka memotong ucapan Devina.


"ya?!"


"Boleh aku bertanya padamu?" Raka nampak agak ragu mengatakan hal ini.


Devina dibuat agak heran melihat sikap Raka yang nampak sungkan pada dirinya.


"Silahkan saja jika kamu mau bertanya."

__ADS_1


"I, itu tentang,,,, ah, Apa kamu benar-benar masih single saat ini?!"


__ADS_2