
"Aku hanya ingin menolongmu." Kalimat itu terus berulang dalam benak Andre. Bahkan saking fokusnya dengan kalimat itu, Andre sampai lupa kalau ia ingin mengantar Ica pulang.
"Dre? Andre? Hello? apakah ada nyawa dalam tubuh Andre?" Canda Ica melihat Andre yang nampak melamun.
"Ah, iya. Kenapa?" Spontan Andre menengok ke arah Ica dengan wajah panik tanpa dibuat-buat. Alhasil hal itu membuat Ica yang melihat tertawa karena lucu. "Hei, kenapa malah ketawa?"
"Hahahaha,,, maaf, maaf. Habisnya reflek kamu lucu, Dre." Terang Ica melihat Andre yang gelagapan. "Yaudah ayok jalan, katanya mau nganterin aku pulang. Kita udah die di parkiran 5 menit lebih gak ngapa-ngapain karena kamu bengong."
"Iya, iya ini juga mau aku anterin. Kamu nya aja yang gak sabaran." Andre kemudian langsung menyalakan mesin mobilnya dan membawa mereka keluar dari parkiran.
"Huh, serah lu dah, Dre. Kalau debat sama lu yang ada gak kelar-kelar." Pasrah Ica yang tak mau meladeni ucapan Andre barusan. Dan setelahnya kedua diam dalam pikiran masing-masing. Namun nampaknya Ica tidak begitu suka dengan suasana sunyi di antara mereka.
"Dre," Panggil Ica kepada pria yang sedang menyetir mobil.
"Hhhmmm,," Jawab Andre dengan malas.
"Lu kenal sama pria tadi gak?!" Lanjut Ica mencoba mengorek informasi dari Andre. Tapi yang di tanya malah hanya menggeleng. "Kayaknya kok kenal dekat ya sama Devina. Apa jangan-Jangan itu suaminya?"
Crit,,,, Andre langsung menghentikan laju mobil secara mendadak.
__ADS_1
"Aw, pelan-pelan napa Dre kalo nyetir mobil. Untung gua pake sabuk pengaman. Kalo gak, bisa jungkir balik mungkin gua." Kesal Ica karena Andre malah membalas pertanyaannya dengan rem mendadak.
"Maaf, lampu merah. Gak liat tadi." Meski hanya alasan, tapi jawaban Andre memang benar. Mereka terjebak lampu merah meski seharusnya mereka masih dapat melintas. Namun urung karena Andre mengerem.
Meski masih kesal, Ica tak mau melanjutkan perdebatan sia-sia dengan Andre. Ia memilih untuk diam saja daripada Andre bertindak lebih parah. Sementara Andre masih diam seperti merenungkan sesuatu.
"Apa benar pria itu suaminya? Kalau bukan, lantas siapa anak itu? Aih, Dev. Kenapa 10 tahun tak bertemu jadi begini? Apakah sudah tidak ada harapan untukku?" Renung Andre karena masih binggung dengan sosok pria yang tadi datang menyelesaikan masalah di cafe.
Beberapa menit sebelumnya
"Apa maksudnya ini?" Tanya si wanita itu dengan keheranan. Bukannya ia tak tahu isi kertas itu. Dan tentu saja kebanyakan orang akan paham isi dari kertas itu. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah kenapa pria ini tiba-tiba muncul dan menolong Devina, itulah point dari pertanyaan wanita itu.
"Kau,,,?!" Ungkap Dara tak percaya dengan apa yang ia lihat. Dan setelahnya si pria kembali menyodorkan kertas tadi karena belum diterima oleh Dara.
Mau tak mau, Dara langsung mengambil selembaran kertas berisikan cek uang itu. Sejujurnya ia tak mau karena yang dia inginkan adalah uang dari Devina bukan orang lain. Tapi karena tahu berurusan dengan siapa, maka lebih ia mengalah atau hidupnya akan berantakan hanya karena masalah sepele.
Dengan berat hati, Dara harus meninggalkan tempat itu sesuai dengan isyarat yang diberikan oleh pria barusan. Sebelum pergi, dia berhenti di depan Devina dan Lissa.
"Ingat, urusan kita belum selesai." Ucapnya dengan penuh penekanan kepada ibu dan anaknya itu. Lalu pergi menghiraukan tatapan pengunjung lain tentangnya.
__ADS_1
"Huh, syukur dia langsung pergi." Lega Devina yang tak harus berurusan terlalu lama dengan pelakor itu. "Ehm, terimakasih ya kalian, Ica, Andre. Kalo gak ada kalian, mungkin aku bakalan berantem sama tuh cewek."
"San,,," Baru ingin memberi tanggapan, Ucapan Andre malah di potong oleh Ica.
"Bukan masalah kok, Dev. Kan kita ini teman."
"Dasar cacing pita, sukanya motong orang kalo mau ngomong." Mulailah perdebatan keduanya.
"Sudah, sudah jangan bertengkar di sini. Ntar malah jodoh loh," Devina mencoba menengahi pertengkaran kedua temannya itu.
"Amit-amit," Balas keduanya secara bersamaan.
"Ehm,, maaf kalau mengganggu." Ucap si pria yang ternyata sedari tadi masih memperhatikan mereka.
"Ah, iya. Aku sampai lupa mengucapkan terimakasih sama kamu," Tukas Devina sambil sedikit membungkukkan badannya seolah menghormati pria itu. "Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?"
Pertanyaan yang dilontarkan Devina sontak membuat si pria tersenyum kecil.
"Nampaknya kamu melupakanku. Tapi tak apa, lagipula kita hanya bertemu sekali waktu itu. Perkenalkan, aku Raka Keyler Mallory atau biasa di sapa Raka." jawab Raka sambil menunjukkan deretan gigi putihnya serta ketampanan yang bisa membuat wanita mabuk termasuk sejenis Ica.
__ADS_1