
"Aku nyelamatin kamu?" Daniel beranjak dari posisinya dan mendekati Devina. "Serius?!"
"Eh,,, iya." Jawab Devina sedikit gugup karena Daniel berdiri begitu dekat dengannya. Bahkan sangking gugupnya, Devina tidak berani mendongkak kepalanya untuk melihat Daniel yang memiliki tinggi badan lebih tinggi darinya.
"Oke, kalau kamu bilang begitu. Tapi bisa kamu ceritakan dengan jelas kejadiannya? Soalnya aku tidak mengingat satu pun." Daniel akhirnya merasa lega. Ia kemudian bersandar pada tembok dan menunggu cerita dari Devina.
Mau tak mau, Devina mulai menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya semalam. Di mulai ketika ia pulang dari perusahaan tempat ia melamar pekerjaan sampai akhirnya Daniel datang menolongnya meski dalam keadaan mabuk.
"Huh, leganya. Tapi serius kamu gak kenapa-napa, kan? Ada yang hilang atau rusak?" Tanya Daniel setelah selesai mendengar cerita Devina.
"Tidak ada. Sekali lagi aku berterima kasih sama kamu. Kalau gak ada kamu aku gak tahu harus apa." Jujur Devina dari lubuk hatinya. Tentunya dia tidak cerita kepada Daniel tentang dirinya yang meracau bahwa Devina adalah wanita milik Daniel. Tentu tidak. Karena dia pasti akan malu sendiri jika membicarakannya.
"Yah, tak masalah asal aku tidak melakukan sesuatu yang aneh. Dan kalau begitu lebih baik aku pergi sekarang. Terimakasih untuk makanannya barusan."
"Sudah mau pergi sekarang?"
"Ya. aku masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan."
"Oh, oke kalau begitu. Tapi sebelum kamu pergi, boleh kita berkenalan?"
__ADS_1
"Oh iya. Aku sampai lupa belum berkenalan denganmu. Kenalkan, namaku Daniel." Ungkap Daniel sambil menjulurkan tangan kanannya.
"Aku Devina." Balas Devina dengan menyambut uluran tangan Daniel.
******
"Loh, Dev. Kok turunnya sendirian?" Tanya Ibu Devina yang melihat anaknya hanya sendirian.
"Iya, ma. Om tampannya mana?" Lissa juga mempertanyakan hal yang sama.
"Loh bukannya udah daritadi dia turunnya?" Jawab Devina yang jadi ikut heran kemana Daniel.
"Maksudnya gimana, nak?" Ibu Devina meminta kejelasan maksud dari putrinya itu.
"ih, mama. Kok om tampannya dikasih pulang? aku baru aja mau main sama omnya." Tukas Lissa dengan polosnya. Entah kenapa anaknya Devina ini menjadi tertarik pada Daniel. Devina sendiri pun tak tahu. Pasalnya setelah berpisah dari Erpan, Lissa nampak tidak mau bercengkrama atau bahkan di dekati oleh pria dewasa mana pun. Dan baru kali inilah Lissa nampak begitu tertarik.
"Sudahlah kalau memang dia sudah pergi. Lissa, kan di sini ada omah. Jadi kamu bisa main sama omah. Lagipula bukannya kamu mau jalan-jalan sama mama?" Tanya Ibu Devina kepada cucunya yang menggemaskan itu. Sementara itu, Lissa hanya bisa pasrah karena tak bisa bermain dengan Daniel yang sudah memikat hatinya.
Devina langsung menepuk jidatnya. Ia lupa bahwa memiliki beberapa pekerjaan pagi ini. Tentu saja pekerjaan untuk mengantarkan anaknya untuk jalan-jalan.
__ADS_1
"Aduh, bu. Kok bisa lupa ya kalo punya janji buat ajak Lissa jalan-jalan." Resah Devina yang tidak percaya ia bisa melupakan hari penting ini.
"Iya. Ga masalah kok, Dev. Mending kamu berangkat sekarang." Timpal Ibunya memberitahu untuk anaknya berangkat sekarang saja. "Kamu mau dianter kang Asep?"
"Gak usah, Bu. Aku sama Lissa aja." Devina kemudian menyuruh Lissa untuk mengikutinya. Tapi bukannya mengikuti, Lissa malah menggeleng seperti tidak mau ikut. Melihat putrinya yang aneh membuat Devina mendekati Lissa dan bersimpuh di depan putrinya itu. "Kenapa sayang?"
Lissa hanya terdiam tanpa mau menjawab pertanyaan mamanya itu.
"Hhhmmm,,,, kalo gak mau cerita, mama tinggalin, ah." Goda Devina berharap Lissa simpatik terhadapnya. Namun bukannya simpatik, Lissa malah tetap bersikukuh dengan sikapnya yang enggan untuk bicara. Bukan Devina jika ia menyerah membujuk anaknya. "Padahal kan mama mau beli es krim yang banyak."
"Hah, es krim? Aku mau, ma!" Antusias Lissa begitu mamanya mengucapkan kata es krim.
"Gak jadi, ah. Lissanya masih ngambek sama mama." Devina pura-pura merasa sedih. Dirinya mulai berdrama layaknya anak kecil yang sedang merengek minta permen.
"Gak kok, ma. Lissa udah gak ngambek." Sahut Lissa langsung memeluk Devina dengan posesif. Devina sendiri langsung membalas pelukan Lissa sambil menggendongnya layaknya anak bayi.
"Hahahaha,,,, kenapa emangnya anak mama ini ngambek?" Gemas Devina sambil menciumi wajah anak gadisnya. Keduanya nampak bahagia sekali dengan hal itu. Begitu pun dengan mama Devina yang dari tadi melihat tanpa membuka suaranya.
"Lagian mama, sih." Lissa nampak menyalahkan Devina.
__ADS_1
"Kok mama?"
"Iya, kenapa mama suruh pergi om tampan itu pergi? aku kan mau main sama omnya." Jawab Lissa yang membuat Devina geleng-geleng kepala dibuatnya.