
Setelah selesai berdandan, Devina dan Lissa langsung pamit ke ibu Devina untuk pergi jalan-jalan. Mereka berdua terlihat mengenakan pakaian yang serasi satu sama lain. Tentu hal itu menjadi perhatian setiap orang yang melihatnya. Terlebih pesona Devina yang kini sudah menjadi single mother kerap kali membuat para lelaki semakin gencar mendekatinya. Kalau kata orang-orang, perawan memang menawan, tapi yang janda lebih menggoda.
Devina sendiri tidak bisa menampik begitu saja peryataan tersebut. Karena memang setelah bercerai dengan Erpan beberapa bulan yang lalu, sudah banyak sekali pria yang mencoba mendekatinya. Namun tentu saja semuanya ditolak oleh Devina lantaran masih belum bisa melupakan kesedihan akibat kelakuan mantan suaminya, Erpan.
"Ma, kita ke mana dulu?" Tanya Lissa dengan raut wajah antusiasnya setelah mereka berdua masuk ke dalam salah satu taksi.
"Anak mama mau ke mana dulu? Taman atau mall? Katanya mau beli boneka yang banyak." Terang Devina sambil mengelus kepala Lissa pelan. Meski sudah secara resmi cerai dari suaminya, Devina tidak sama sekali merasa kekurangan finansial. Bahkan setelah bercerai ia tak pernah sekali pun meminta harta gono-gini. Hal itu tentu saja karena kedua orang tua Devina memanglah orang berada sejak dari dulu. Sedangkan Erpan hanyalah orang biasa yang bisa naik daun karena menikah dengan Devina.
__ADS_1
Memang terlihat seperti manusia tidak tahu diri. Tapi Devina menghargai keputusan Erpan yang sudah berani mengungkapkan kenyataan padanya meski sudah terpaut beberapa tahun lamanya. Devina juga sudah merelakan Erpan sepenuhnya meski luka yang ditorehkan oleh pria itu tetap membekas hingga kini.
"Aku mau beli boneka dulu, Ma. Sekalian liat-liat mall. Udah lama kita gak ke sana." Balas Lissa memasang mata puppy eyes nya yang membuat Devina begitu gemas melihatnya. Ditambah dengan pipi gemoy Lissa, membuat Devina tak kuat bila tak mencubit pipi anaknya. "Sakit mama."
"Hehehe, maaf. Abisnya kamu tuh bikin mama baper terus. Yaudah kita ke mall dulu beliin kamu boneka." Devina memberikan kebebasan pada anaknya bila menginginkan sesuatu. Tentunya sesuai dengan yang bisa Devina penuhi. Untungnya selama ini Lissa tidak pernah meminta sesuatu yang aneh padanya. Paling mungkin hanya ketika Erpan masih menjadi suaminya. Waktu itu Lissa meminta adik kepada Devina.
"Lissaa,,, pelan-pelan!" Teriak Devina karena kaget melihat anaknya langsung berlarian keluar. Baru saja diteriaki oleh mamanya, Lissa yang terlalu antusias hingga berlari, lupa untuk melihat ke arah depan. Anak perempuan itu ternyata terlalu senang sampai tidak melihat bahwa di depannya seorang pria sedang berdiri. Pria itu pun menoleh ke arah Devina yang barusan meneriaki anaknya itu.
__ADS_1
"Aaaww,,," Pekik Lissa terjatuh ke jalan. Mulanya Lissa hanya terdiam setelah terjatuh. Tapi ketika ia melihat telapak tangan sedikit lecet, Lissa tak bisa lagi membendung air matanya. 'Ma,,, mama,,,, Aaaa,,"
"Aduh anak mama. Kamu gak papa, kan? Cup, cup, cup. Jangan nangis ya. Anak mama kan kuat masak jatuh dikit nangis sih." Devina dengan sigapnya berlari ke arah Lissa dan menggendongnya. Tak lupa pula ia melihat ke arah telapak tangan anaknya itu. "Hush,,, udah mama tiup. Jangan nangis lagi ya."
"Devina?!" Ucap pria itu ketika Devina menggendong Lissa. Nampaknya pria itu kenal dengan Devina. Sedangkan Devina yang sedang menenangkan Lissa, mau tak mau mendongkak melirik ke arah pria itu. Betapa terkejutnya dia ketika tahu siapa pria di depannya itu.
"Kamu?!"
__ADS_1