Aunty, Kesepian

Aunty, Kesepian
13


__ADS_3

"Sudah kubilang cukup. Maaf aku harus menamparmu. Kamu tidak perlu membawa orang lain bahkan sampai menjelekkannya. Sudah kubilang salahkan aku jika itu menyangkut perselingkuhanku.." Erpan nampak lebih tegas bila berbicara tentang Dara. Devina tentu menyadari hal ini. Dia paham betul bahwa pria di depannya bukanlah orang yang ia kenal selama ini.


Erpan yang sekarang berbeda dengan Erpan waktu mereka pacaran. Di mana Devina selalu menjadi prioritas, namun kini hanya menjadi ampas. Kini dia tahu kenapa Erpan memilih untuk cerai. Benar, karena dia mencintai Dara. Tapi juga karena ingin menyingkirkan dirinya yang sudah tergantikan. Bahkan sampai tega bermain tangan, padahal Erpan yang Devina kenal bukan Erpan yang ringan tangan.


"Oke, kamu mau cerai? Baiklah, aku terima. Tak perlu mediasi, langsung bercerai saja." Tegas Devina sambil melepaskan cincin yang ada di jarinya. Kemudian ia meleparkan cincin itu ke Erpan. "Dengan ini, kita berdua bukan siapa-siapa lagi. Tinggal menunggu secara hukum saja."


Devina melangkah pergi meninggalkan Erpan yang masih terpaku. Erpan memang sudah tidak mencintai Devina, namun dalam hati kecilnya seperti ada sesuatu yang menyanyangkan hal ini terjadi. Ia yakin itu hanyalah perasaan iba darinya. Oleh karena itu, meski ada sedikit yang mengganjal di hati, dia tetap akan melakukan perceraian ini.


"Satu lagi, jangan harap aku memberikan Lissa padamu." Ucap Devina yang menghentikan langkahnya sebelum dirinya akan bertemu dengan ibunya.

__ADS_1


"Iya, kamu bisa ambil hak asuh Lissa sepenuhnya." Balas Erpan dengan entengnya. Dia seperti sudah merencanakan hal ini sedari awal.


"Lihatlah, nak. Ayah kandungmu benar-benar jahat. Dia tidak peduli bahkan seolah-olah menyuruh mu untuk menjauh." Batin Devina merasakan sakit lantaran anaknya harus dibuang oleh ayahnya sendiri.


"Kamu boleh tinggal di sini, Devina. Rumah ini akan kuberikan padamu sebagai harta gono-gini. Dan aku akan memberikan kamu uang setiap bulannya sebagai kompensasi untuk kelangasungan hidup Lissa." Terang Erpan menerangkan rencanannya.


"Tak perlu. Kamu tak perlu lakukan semua itu. Simpanlah itu untuk calon istri dan anakmu. Mereka lebih membutuhkannya."


"Ku harap setelah perceraian ini, kita bisa lebih professional lagi." Singkat Devina meninggalkan Erpan di sana dan segera menyusul ibunya. Baru membuka pintu kamar, Lissa langsung menghambur ke arahnya dan memeluknya.

__ADS_1


"Mama,,, Mama kenapa sama papa?" tanya Lissa dengan wajah polos.


"Enggak papa, kok." Jawab Devina sambil memasang senyum terbaik yang bisa ia tunjukkan pada anaknya. Satu hal yang membuat ia kembali tersedih, yaitu melihat Lissa yang masih anak kecil namun sudah menjadi korban perceraian orang tuanya. Tak tega rasanya jika Lissa harus berpisah dengan ayah kandungnya, tapi keadaan memaksa mereka. Sehingga Devina berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan terus ada untuk Lissa, anaknya.


"Terus pipi mama Kenapa? kok, warna merah gitu?" Sambung Lissa menunjuk ke arah pipi Devina yang masih terlihat lebih merah dari warna kulitnya. Sontak ibunya juga sadar dengan apa yang terjadi ketika dia meninggalkan anaknya dengan pria itu.


"Menantu kurang ajar. Berani sekali dia menampar anakku?" Geram ibu Devina yang tanpa sadar membuat Lissa menangis.


"Loh, anak mama. Kenapa nangis?" Tanya Devina sambil membawa Lissa dalam pelukannya karena tiba-tiba anaknya menangis. Devina mencoba menenangkan anaknya dengan mengelus pelan kepalanya. Sesekali ia mengecup ujung kepala anaknya.

__ADS_1


"Hiks,,,, apa benar yang dikatakan omah, ma? Papa jahatin mama?" Lissa kembali bertanya pada mamanya saat dirinya dalam pelukannya. Jujur Devina sangat berat mengambil keputusan ini. Tapi dia bukan wanita bodoh yang menerima semua kelakuan Erpan begitu saja. Setidaknya dirinya harus mencoba melupakan dan mengikhlaskan, meski mungkin semuanya akan terasa berat ke depannya. Dia yakin dengan adanya Lissa dan ibunya mampu membuat ia bangkit lagi.


"Gak apa kok, sayang. Cuman karena masalah tertentu, mama dan papa harus berpisah, nak." Ungkap Devina pada anaknya dan juga ibunya.


__ADS_2