
Suara langkah kaki terdengar ketika memasuki sebuah ruangan yang berada di bagian paling depan rumah. Dan itu adalah Devina yang baru saja masuk ke dalam kediaman dia dan ibunya.
“Bu, aku pulang.” Seru Devina dengan intonasi yang tak ingin begitu kencang karena dirinya sedang menggendong sang anak kesayangannya.
Tak mendapatkan balasan apapun, Devina langsung masuk ke dalam rumah. Sebuah pikiran terbesit dalam pikirannya untuk menemukan di mana ibunya berada. dan tebakannya pun benar. Tak jauh dari tempat ia berdiri, terlihat seorang wanita paruh baya sedang sibuk di dapur ditemani oleh seorang wanita lain.
“Sudah kamu taruh meja semuanya, Nina?” Tanya ibu Devina pada wanita yang sudah berdiri di sebelahnya.
“Sudah, bu. Semuanya sudah beres Nina atur rapi di atas meja makan.” Jawab Nina sambil mengamati sang majikan yang masih fokus memasak.
Keduanya kemudian diam mengamati tangan ibu Devina yang mengaduk-aduk wajan di atas kompor. Dari bau yang berkoar-koar, tercium jelas bahwa masakan itu adalah masakan lezat dengan penuh bumbu di dalamnya.
“Hhhmm, rendang!!”
Suara itu membuat ibu Devina dan Nina menoleh ke arah sumber suara, termasuk Devina. Ternyata yang bersuara itu adalah Lissa yang sudah terbangun sejak kapan.
“Omah, omah buat rendang?” tanya Lissa antusias dengan raut wajah baru bangun tidurnya yang masih nampak cukup jelas.
__ADS_1
Devina yang melihat anaknya sudah bangun langsung memberikan kesempatan untuk anaknya untuk berjalan sendiri ke arah sang nenek.
“Wah cucu omah yang paling cantik sudah pulang. Sini omah gendong.” Tangan ibu Devina terjulur dan langsung membawa Lissa dalam gendongannya.
“Iya nih. Omah baru aja buat rendang, khusus buat kamu. Cucu kesayangan omah.” Sambung ibu Devina sembari menunjukkan kepada Lissa apa yang ada dalam wajan.
“Mau omah. Lissa udah laper,”
“iya, tentu. Ayo kita langsung makan. Nina, tolong bawa Lissa ke meja makan. Rendangnya biar saya yang bawa.” Ibu Devina menyerahkan Lissa ke dalam gendongan Nina.
“Baik, bu. Ayo non Lissa, kita ke meja makan.” Kedua bergegas ke meja makan sesuai dengan apa yang ibu Devina pinta.
Ia langsung menciumi punggung tangan ibunya.
“Baru pulang, nduk? Tumben lama kalian berdua keluarnya.” Tanya Ibu Devina seraya memindahkan rendang yang ada di dalam wajan ke dalam piring yang telah ia siapkan.
“Iya, bu. Soalnya tadi aku kebetulan ketemu sama teman SMA aku. Jadi aku ngobrol-ngobrol bentar sama mereka. Sini bu, biar aku yang bawa.” Devina meraih piring yang berisi rendang barusan untuk ia bawa.
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya menyusul Nina dan Lissa ke dalam meja makan.
“Kak, cuci tangan dulu. Baru makan,” Seru Devina pada Lissa yang sudah sangat antusias di kursinya.
“Iya, ma.” Sahut Lissa yang langsung menuruti perintah mamanya untuk cuci tangan terlebih dahulu.
Lissa nampak tak mau berurusan dengan mamanya karena ia tahu kalau ia melawan perintah mamanya, hanya akan ada omelan yang akan diberikan oleh mamanya itu.
Selesai mencuci tangan, baik Lissa maupun Devina sudah kembali di meja makan. Dengan telaten Devina mengambilkan nasi untuk Lissa dan juga ibunya.
“Oh iya, Dev. Tadi sore ada cowok dateng ke sini nyariin kamu.” Ucap ibu Devina dengan tangan mengambil piringnya dari Devina yang sudah ada nasinya.
“Siapa bu?” Tanya balik Devina.
“Waduh itu dia masalahnya. Ibu lupa nanya sama dia, soalnya dia cuma sebentar ke sini nyari kamu. Karena kamu gak ada, dia langsung pergi. Cuma nitip salam aja ke kamu.”
Devina nampak berpikir. Dia merasa sedang tidak dekat dengan pria manapun saat ini. bahkan beberapa bulan belakangan ini saja dia jarang sekali bercengkrama dengan pria selain supir dan para tetangga.
__ADS_1
“Ah, paling juga orang pajak, bu.” Balas Devina sambil memulai makannya.
“Masak sih orang pajak. Orang cowok itu setelannya rapih banget. Kayak orang kantoran gitu.”