Aunty, Kesepian

Aunty, Kesepian
32.


__ADS_3

“Tuan?! Bukannya sudah kubilang, jangan pakai tuan. Cukup Raka saja,” Balas Raka dengan smirk yang hanya dimiliki olehnya.


Devina menghiraukan balasan Raka tersebut.


“Kamu ngapain di sini?! Ngikutin aku? Niat banget kamu.” Cerca Devina yang menganggap Raka kemari karena mengikutinya.


Raka yang mendengar itu dibuat tercengang mendengarnya. Tak habis pikir ia, wanita seperti Devina ternyata memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi. Terlebih bisa-bisa ia tidak tahu siapa dirinya di sini.


“Eh, Siapa yang ngikutin kamu?” Raka tak terima dengan pernyataan Devina barusan.


“Ya, kamu. Siapa lagi kalo bukan kamu.”


“Nga,,,”


Ucapan Raka terhenti ketika pintu kembali terbuka dan menampakkan seseorang yang sangat familiar, yaitu Rippo.


“Bos, kok main tinggalin gitu sih. Ini berkas yang bos minta kemarin.” Rippo menyerahkan sebuah map coklat kepada Raka.


Di sana Devina hanya menyaksikan saja percakapan satu arah dari Rippo itu. Betapa terkejutnya Devina saat Rippo memanngil Raka dengan sebutan bos.

__ADS_1


“Bos?! Jadi, kamu bos di sini?!” Devina kembali bertanya pada Raka.


“Oh, iya. Devina. Aku lupa ngasih tahu kamu. Pria bernama Raka ini adalah bos dari perusahaan ini.” Bukannya Raka yang menjawab, malah Rippo yang menjawab pertanyaan Devina barusan.


Sungguh kaget Devina mendengar hal itu. Menurut sepengetahuannya, Raka itu bukanlah bos dari perusahaan ini. Melainkan bos dari perusahaan lain yang ada di daerah lain.


Raka sendiri merasa risih karena kedatangan Rippo. Dirinya merasa seperti ada pengganggu di antara dirinya dan Devina. Padahal dalam perjalanan kemari, Raka sudah banyak memikirkan hal-hal yang akan terjadi. Tentunya bukan yang seperti ini.


"Ehm, Rippo tolong kamu bantu bagian HRD perusahaan. Sepertinya mereka sedang kesulitan saat ini." Titah Raka dengan tujuan agar Rippo pergi dari sini.


"Loh, tapi berkasnya gimana bos? Bukannya perlu kita bahas dulu? Dan kalo bahas berkas, bukannya bos gak suka di perusahaan?" Balas Rippo dengan serbuan pertanyaan balik.


Raka langsung melotot ke arah Rippo.


Devina hanya bisa menyaksikan saja interaksi di antara kedua pria itu. Sejujurnya dirinya masih sangat malu karena bisa-bisanya ia tidak tahu kalau bosnya adalah Raka yang ia kenal.


"kalau begitu, saya lanjut menyelesaikan pekerjaan saya dulu, pak." Izin Devina untuk melanjutkan pekerjaannya sekaligus menghindari dari percakapan antaranya dan Raka.


"Ah, iya. Memangnya kamu sudah dapat tugas?" Raka tentu tidak membiarkan kesempatan untuk berbicara dengan Devina ini untuk hilang begitu saja.

__ADS_1


"Ini," Devina menunujuk tumpukan map yang ada di atas mejanya.


Raka langsung mengambil salah satu map dan melihat isinya. Ia membaca sekilas isi map tersebut. Kepala terlihat mengangguk-angguk.


"Oh, iya. Benar ini memang tugas kamu." Raka menuntup map itu dan meletakkannya kembali di tempat semula.


"Ada yang sulit?" Raka melemparkan pertanyaan pada Devina.


Raka berharap Devina kesulitan dalam hal ini dan kemudian Devina akan memintanya untuk mendampinginnya dalam menyelesaikan berkas-berkas itu. Dan di sanalah kesempatan bagi Raka akan terbuka lebar untuk semakin dekat dengan Devina.


"Ah, tidak perlu, pak. Sejauh ini masih dalam jangkauan saya. Anda tidak perlu bantuan." Devina merasa tugas yang diberikan oleh Rippo tidaklah sulit.


Mungkin hanya terlihat banyak, tetapi tidak perlu sampai harus berpikir keras untuk menyelesaikannya.


"Hhmm, oke. Aku juga yakin kalau hanya segini saja, kamu pasti bisa." Balas Raka.


Meski mengucapkan kata yakin pada Devina, nyatanya Raka tadi berharap agar Devina kesulitan dengan tugas ini.


"Oke, kalau kamu sendiri yang ngomong gitu. Kalau begitu aku ke ruangan aku dulu. Tapi kalau mungkin kamu kesulitan atau butuh bantuan, jangan sungkan panggil aku, Oke?" Sambung Raka masih dengan niat agar dapat berbincang lebih lama dengan Devina.

__ADS_1


"Tentu, pak. Terima kasih atas tawarannya." Sahut Devina dengan hormat.


Raka yang terlalu berekspetasi tinggi nampaknya harus terjun bebas karena ekspetasinya sendiri. Dengan sangat tidak ikhlas ia berjalan masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Devina yang nampak langsung melanjutkan tugasnya di mejanya.


__ADS_2