
"Ada-ada aja kamu." Sambung Ibu Devina kepada Daniel. Sedangkan Daniel hanya bisa tersenyum malu sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Bu, makanannya udah jadi. Ibu duluan aja, aku mau pang,," Perkataan Devina terhenti ketika melihat ternyata semuanya sudah ada di bawah. "Oh, kamu sudah bangun?"
"Ya," sahut Daniel sedikit kikuk. Dia masih merasakan rasa malu menjalar di dalam tubuhnya.
"Ayo makan dulu." Ajak Devina kepada semuanya.
"Hehehe,,,, iya ayo makan dulu, nak. Lissa, ajak om itu makan." Suruh Ibu Devina kepada Lissa yang ada di samping Daniel.
"Siap omah!" Balas Lissa sambil mengangkat tangannya seolah sedang upacara. "Om, ayo kita makan. Aku udah laper banget."
__ADS_1
Lissa mengoyangkan tangan Daniel dengan pelan berupaya untuk mengajaknya untuk makan bersama. Daniel sendiri masih binggung dengan yang terjadi. Tentu dia paham sedang berada di rumah anak di sampingnya. Hanya saja yang membuat di keheranan adalah bagaimana mungkin tidak ada yang marah kepadanya padahal ia sangat yakin dalam keadaan mabuk semalam.
"om, ayo." Sambung Lissa mencoba mengajak Daniel untuk berdiri. Meski enggan, Daniel akhirnya menerima ajakan Lissa. Setidaknya dia harus mengikuti aturan keluarga ini untuk menghormati mereka.
"Iya, ayo." Daniel mengikuti langkah kaki Lissa yang mengarahkannya ke meja makan. Begitu sampai, Lissa langsung menarik kursi di samping omahnya.
"Kamu juga duduklah." Kata Devina ketika melihat Daniel hanya berdiri di tempatnya.
"Hhhhmmmm,,, iya makasih." Rasa canggung sangat menggerogoti pikiran Daniel saat ini. Sudah sangat lama ia tidak makan di atas meja makan seperti ini dengan orang lain. Hingga tanpa sadar ia tidak menyentuh makanan yang tersedia di atas meja. Bahkan piringnya sendiri pun belum ia tuangkan nasi.
"Eh,,, apa?!" Jawab Daniel secara spontan karena terlalu asik dengan pikirannya sendiri sehingga tidak mendengarkan pertanyaan Devina.
__ADS_1
"Ini, om. Di makan. Masakan mamaku itu paling enak sejagad alam semesta." Tanpa basa-basi Lissa sudah menuangkan beberapa lauk ke dalam piring milik Daniel. Namanya anak kecil memang wajar jika bicaranya suka ceplas-ceplos. Tapi kali ini sungguh membuat Devina malu.
"Lissa, jangan kayak gitu gitu. Kasian omnya kalau kamu paksa buat makan makanan yang di gak suka." Omel Devina kepada anaknya.
"Tapi kan emang benar masakan mama paling enak sejagad alam semesta." Lissa masih membalas dengan polosnya. Sementara Devina hanya bisa menahan malu karena ucapan anaknya itu. Karena sebenarnya ia sadar bahwa masakannya hanyalah standar saja.
"Lissa,,," Kali ini Devina ingin anaknya untuk tidak membantah perkataan. Ia juga menatap Lissa dengan tajam.
"Ehm,,, enak kok." Terang Daniel setelah menyuap sesondok makanan yang barusan di taruh di dalam piringnya oleh Lissa.
"Yaudah, nak. Ayo di makan aja. Gak usah sungkan." Kini Ibu Devina angkat suara agar tidak ada perdebatan lebih lagi antara anaknya dan cucunya itu.
__ADS_1
Daniel yang awalnya ragu, kini lebih menikmati makanannya. Masakannya memang tidak begitu spesial atau cenderung standar saja, tapi momen makan bersama seperti inilah yang membuat mood makannya bertambah berkali-kali lipat. Untungnya semuanya mulai fokus pada makanan masing-masing, kalau tidak mungkin mereka akan melihat Daniel yang tengah menangis tanpa suara di meja makan.
Rasa haru dan rindu berkoar dalam dadanya. Kenangan yang lalu kembali teringat dalam nestapa waktu miliknya. Tak habis syukur ia ucap saat ini. Berharap semoga momen masih bisa ia nikmati lain kali.