
Tak terasa jam sudah menunjukkan pada dunia untuk terlelap. Devina segera mengantarkan putrinya untuk segera tidur. Baru beberapa menit, ia sudah keluar dari kamar putrinya. Kemudian ia berjalan ke arah ruang keluarga, tempat ibunya sedang menonton televisi.
“Bu, lagi nonton apa?” tanya Devina yang sudah bergabung dengan ibu untuk menonton TV.
“Ini, Dev. Sinetron kesukaan ibu.” Jawab ibu Devina dengan tatapan mengarah ke arah TV.
Setelahnya keduanya tidak melanjutkan pembicaraan. Tersisa suara dari TV saja yang terdengar.
“Jadi, kamu mau gimana, Dev?” Ibu Devina tiba-tiba membuka suara dengan sebuah pertanyaan ambigu untuk Devina.
Meski terdengar ambigu, tapi Devina bisa tahu apa dan ke arah mana pertanyaan yang diutarakan oleh ibunya.
“Hhhmm, Devina juga bingung, bu.” Jawab Devina yang tangannya membuka toples di atas meja.
Dengan santai Devina mengemil jajanan ringan yang di dalam toples. Ia bahkan sampai membuka semua toples untuk dia cicipi semuanya. Tentunya sang ibu menyadari kelakuan Devina tersebut.
"Nyemil terus kamu, Dev." Tegur sang Ibu.
"Baru sekali kok, bu."
"Sekali gimana? Tiap jam kerjaannya makan terus. Gimana bisa nyari suami kalo kayak gitu kelakuannya."
"Kok, jadi bahas suami sih, bu? Kebiasaan deh,"
"Bukannya mau bahas atau gak. Cuman kan, kamu itu memang butuh yang namanya suami, nak."
__ADS_1
"Iya, bu. Aku memang butuh suami. Tapi apa hubungannya sama aku ngemil."
“ya ada hubungannya lah. Coba lihat badan sekarang,” Ibu Devina menunjuk ke arah badan Devina.
Devina kemudian mengikuti arah tangan ibunya. Dirinya jadi melihat ke arah badannya sendiri.
“Gak ada yang salah sama badan aku, bu.” Terang Devina yang merasa tak ada apapun pada badannya.
“kamu itu makin gendut, Dev.” Jujur sang ibu.
“Gimana mau bikin laki-laki tertarik coba.” Sambung ibu Devina.
Devina nampak berpikir. Apa yang dikatakan oleh ibunya memang benar adanya, tentang dirinya yang semakin berisi meski itu masih dalam taraf wajar. Tapi dirinya juga tidak setuju jika ibunya berkata secara tidak langsung untuk mendapatkan pria yang melihatnya dari segi penampilan saja.
“Bu,,”
Tuttt,,,, tuttt,,,, Bunyi sebuah ponsel membuat ucapan ibu Devina terhenti. Keduanya pun melirik ke arah sumber suara.
“Ponsel kamu bunyi tuh, Dev.” Ibu Devina memberitahukan anaknya untuk mengangkat panggilan dari ponsel Devina.
“nomor, bu.” ucap Devina saat melihat layar ponselnya.
Devina terlihat agak malas untuk mengangkat panggilan tersebut. Itu tentunya dikarena panggilan tersebut berupa nomor tak dikenal.
"Halo?!" Ucap Devina ketika mengangkat telpon tersebut.
__ADS_1
Sejenak Devina terdiam mendengarkan. Raut wajahnya berangsur-angsur terlihat sangat serius berbeda saat di awal telpon.
"Serius?!" Tanya Devina nada tinggi secara mendadak sampai ibunya ikutan kaget.
"Dev, apaan sih kamu. Bikin ibu kaget aja," tegur sang ibu sambil mengelus-elus dadanya.
Devina hanya memberikan sebuah cengiran sebagai sebuah tanggapan lalu pergi ke ruangan lain agar tak menganggu ibunya.
Berselang lima menit, Devina kembali menghampiri ibunya. Kini ia datang dengan senyum merekah tanpa henti. Ibunya memandangnya dengan penuh tanda tanya.
"Kamu kenapa sih, Dev?" Ibu Devina langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sampai anaknya itu tiba-tiba teriak lalu tersenyum dengan riang.
Masih dengan senyumannya, Devina mendekati ibunya. Saat tepat di depan ibunya, Devina meregangkan tangannya kemudian memeluk ibunya.
"Devina lagi bahagia, bu." Tanpa sadar Devina sampai meneteskan air matanya dalam pelukan ibunya.
"Bagus itu, nak. Kalau kamu bahagia, ibu juga ikut bahagia." Balas ibu Devina.
Devina melepaskan pelukannya. Kemudian ia menatap ibunya dengan sendu. Tak lupa pula ia menghapus air mata dan ingusnya yang sudah terlanjur keluar.
"Makasih, bu. Kalau gak ada ibu, aku gak tahu harus apa."
"Kamu itu anak ibu, sudah semestinya ibu mendukung kamu. Tapi ibu mau tahu, apa sih yang buat kamu seneng banget gitu?"
Devina menggenggam erat tangan ibunya. "Aku dapet kerja jadi sekretaris, bu."
__ADS_1