
Tak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Rasanya baru sebentar Devina duduk mengerjakan berkas-berkas di atas mejanya. Tapi kini ia harus segera bangkit dari sana karena ternyata waktu sudah menunjukkan waktu untuk para karyawan pulang sebagaimana seperti arahan oleh Rippo tadi pagi.
"Aih, capek juga ternyata." Devina merenggangkan tubuhnya yang terasa keram lantaran duduk terlalu lama.
Saking fokusnya bekerja, ia sampai melewatkan jam makan siangnya. Tapi karena itu juga ia bisa menyelesaikan semua berkas di mejanya tepat waktu saat itu juga.
Devina lalu mulai merapihkan tas dan barang-barang miliknya. Ia berencana untuk segera pulang ke rumah. Kondisi perutnya juga sudah sangat menuntutnya untuk segera di isi.
Bertepatan dengan itu, pintu ruangan bos perusahaan pun terbuka. Raka nampak keluar dari sana dan segera menghampiri Devina yang ia lihat sedang bersiap untuk pulang.
"Mau pulang?" Tanya Raka seraya menghampiri Devina.
"Ah, iya, Pak." Jawab Devina spontan dengan sedikit terkejut ia lupa kalau Raka belum keluar dari ruangannya setelah terakhir kali mereka mengobrol.
"Loh, kok pak sih?" Kecewa Raka lantaran panggilan Devina untuknya.
Devina yang mendengarnya langsung mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Terus saya harus manggil apa, pak?" Balas Devina tak paham maksud pertanyaan Raka.
"Panggil Raka aja, kan udah bukan jam kantor." Terang Raka dengan mata yang tak pernah luput sekalipun melihat ke arah Devina yang sedang merapihkan mejanya.
Raka serasa dibius oleh pemandangan yang ia lihat itu. Memang jatuh cinta pada pandangan pertama adalah obat bius yang mematiakan.
"Tapi kalau mau manggil sayang juga boleh kok, hehehe." Canda Raka dengan harapan agar itu tidak dianggap hanya candaan oleh Devina.
"Hah, maaf pak. Barusan ngomong apa?" Devina langsung mengalihkan pandangan tertuju pada Raka.
Dirinya yakin tadi salah dengar barusan.
"Bos, ayo pulang." Entah sejak kapan berada di sana, Rippo langsung dengan lantang memotong ucapan Raka.
Ternyata Rippo baru saja keluar dari lift dan langsung memangil Raka untuk mengajaknya pulang.
"Loh, udah keluar ruangan, bos? Tumben cepet. Biasanya mesti disamperin dulu." Ungkap Raka tanpa membaca maksud tatapan Raka yang sudah sinis kepadanya.
__ADS_1
"Halo, tuan Rippo." Sapa Devina cepat setelah tatapan Rippo melirik ke arahnya.
"Hai, Devina. Bagaimana hari pertamanya? tidak begitu beratkan?" Sambung Rippo yang masih menghiraukan Raka.
"Ah, tidak begitu berat, kok." Balas Devina dengan senyum kikuk.
Devina memang tipe orang yang canggung saat bertemu dengan orang-orang baru.
"Hhmm, bagus kalau begitu. Mungkin kerjaan kamu bakal nambah terus tiap harinya, cuman aku yakin kamu pasti bisa." Ucapan Rippo di angguki oleh Devina yang merasa itu adalah motivasi sekaligus cobaan karena fakta kalau pekerjaannya tak akan mudah selesai.
"Oh, iya. Kamu mau pulang? Apa mau bareng dengan kami?" Tawar Rippo kepada Devina seraya merangkul Raka.
Sementara Raka malah semakin kesal dibuatnya. Tatapan mata Raka semakin tajam ke arah Rippo. Seolah-olah ingin memakan Rippo hidup-hidup saat itu juga.
"Ti, tidak usah repot-repot, pak. Saya balik sendiri saja. Saya pamit pulang dulu," Devina segera berjalan ke arah lift ketika melihat lift nampak bergerak ke atas.
"oke, hati-hati di jalan. Sampa jumpa besok. Nah, kita bal,,,"
__ADS_1
Bugh, dengan sedikit tenaga, Raka berhasil mendorong Rippo hingga terjatuh ke lantai.
"aw, bos? apa-apaan ini? kok malah dorong saya sih." Protes Rippo sambil meratapi punggung Raka yang kian menjauh menghampiri Devina.