Ayah Anak ku

Ayah Anak ku
SEBELAS


__ADS_3

Komen nya dongs 🤣



“Pergi lah, ini bukan saat nya untuk membahas masalah itu. Kita akan membicarakannya nanti dan tidak di tempat seperti ini, sekarang aku ada urusan. Jadi tunggu saja telepon dari ku  aku akan mengatur pertemuan kita nanti.” Markus menyuruh orang suruhannya itu untuk pergi, ini benar benar bukan waktu yang tepat.


“Baiklah, aku pergi.”


***


“Lagi lagi kau terlambat, aku muak lama lama melihat mu bolak balik mengantar jemput teman mu itu yang jelas jelas beda universitas dengan kita. Dan jaraknya tidak lah dekat, kau ini sebenarnya benar benar hanya teman nya atau kekasihnya?” Leo mengernyit sebal kearah Lucas yang baru saja datang, sore ini mereka bermaksud untuk mengerjakan tugas kuliah mereka bersama namun lagi lagi Lucas terlambat.


“Maafkan aku, tadi aku terjebak macet.”


“Kalau kau tidak mengantar jemput kekasih mu itu kau tidak akan terlambat, Lucas.” tukas teman Lucas yang lain; Alvaro namanya.


“Sudah berapa kali ku bilang Viola itu bukan kekasih ku, kami hanya berteman. Kami sudah berteman sejak kecil.”


“Alah alasan saja, kau bilang rumahnya tepat di sebelah rumah mu. Tempat tinggal mu itu kan kawasan orang orang kaya, seharusnya dia punya mobil sendiri atau tidak supir pribadi.” Alvaro kembali menyeletuk, ia kesal lantaran sudah menunggu Lucas lama.


Lucas hanya tertawa saja menanggapi perkataan teman nya itu. Teman Lucas tidak salah, Viola memang berasal dari keluarga kaya dan Ayah Viola memiliki banyak mobil tapi kenapa Viola selalu meminta Lucas untuk menjemputnya?


Lucas tidak tega menolak, Viola adalah teman baiknya.


Lucas memilih untuk tidak memikirkan hal itu dan mengeluarkan laptop dari dalam tasnya, namun fokus Lucas tiba tiba saja teralihkan kepada sosok laki laki yang baru saja memasuki cafe tempatnya dan teman teman nya berkumpul itu.


Laki laki tersebut adalah laki laki yang pagi tadi bertamu mencari Markus. Melihat keberadaan laki laki tersebut membuat Lucas bertanya tanya. Dimana ia pernah melihat laki laki ini sebelumnya?


Dalam diam Lucas memperhatikan laki laki tersebut yang duduk berbincang dengan rekan nya, sembari memperhatikan orang itu Lucas berusaha keras mengingat dimana ia pernah melihat laki laki tersebut.


“Hey!”


Lucas terkejut ketika Leo menepuk pundaknya tiba tiba, Lucas menoleh dan ia mendapati wajah kesal Leo.


“Kau ini sebenarnya ingin mengerjakan tugas tidak? Aku tidak punya banyak waktu untuk melihat mu melamun seperti itu.” Leo mengemas barang barangnya, “Lupakan saja, kau memang tidak bisa diandalkan Lucas. Lebih baik aku pulang, buang buang waktu saja.”


Lucas ingin mencegah Leo pergi dan meminta maaf kepada teman nya itu namun Alvaro menghentikan Lucas.


“Biarkan dia pergi, kita bisa lakukan tugas ini lain kali. Kau memang sudah keterlaluan Lucas, terlambat selama berjam jam dan justru melamun, ku harap kedepannya saat kita berkumpul kau tidak seperti ini lagi. Aku juga harus pergi.”


Lucas mendesah berat, ia benar benar merasa bersalah kepada teman teman nya tapi meski begitu Lucas tetap tidak bisa mengalihkan pikirannya dari sosok laki laki yang sebelumnya ia perhatikan.

__ADS_1


“Bagaimana dengan Markus, urusan mu dengan dia sudah selesai?”


Lucas menajamkan pendengarannya, ia mendengar nama Markus di sebut sebut.


“Masih belum.”


“Memangnya kali ini dia menyuruh mu melakukan apa? Membunuh orang?”


“Shh.. kau harus tau tempat dan keadaan, ini bukan saatnya membahas hal tersebut. Kau ingin ada yang mendengar?”


“Sorry.. sorry.. jadi kau mau kita pindah ke tempat yang lebih aman untuk membicarakan nya?”


Lucas masih terus berusaha menguping tapi ia tidak mendengar apa apa lagi, ia hanya melihat kedua orang tersebut pergi keluar dari cafe itu.


Lucas dengan terburu buru membereskan barang barangnya, ia harus mengikuti kedua orang tersebut. Lucas merasa ada sesuatu yang harus ia ketahui.


***


“Aaron.. sampai kapan kau akan terus tidur seperti ini?” Adara menggenggam tangan Aaron, “Cepatlah sadar..”


Adara menghapus air mata yang jatuh ke pipinya, ia tidak tega melihat keadaan Aaron yang seperti ini.


Kenapa juga Adara harus menangisi Aaron, lagi pula Aaron belum mati. Sialnya laki laki itu masih bisa bernafas sampai sekarang.


“Kau mau kemana Adara?” tanya Markus pada Adara yang bangkit dari posisi duduknya.


“Aku ingin ke toilet sebentar.”


***


Lucas mengikuti kedua orang tersebut dalam diam, ia berusaha sekeras mungkin agar tidak ketahuan.


Ia melihat dua orang tersebut masuk ke dalam sebuah rumah kosong, dengan perlahan Lucas mencoba untuk ikut masuk tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


“Jadi sebenarnya Markus meminta mu melakukan apa? Dia benar benar menyuruh mu untuk membunuh orang?”


“Hmm.. hari itu aku menembak seseorang, dan sampai sekarang orang tersebut masih belum sadar juga.”


“Gila, kau tidak takut tertangkap polisi?!”


“Kau pikir Markus akan membiarkan aku tertangkap polisi? Tidak akan, karna kalau aku tertangkap dia juga akan terseret.”

__ADS_1


Lucas membungkam mulutnya, ia tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar.


Apakah laki laki yang mereka maksud telah di tembak dan tidak sadar itu adalah Aaron?


Tiba tiba saja Lucas teringat hari itu, hari dimana pernikahan kakaknya seharusnya dilaksanakan.


Lucas saat itu sedang ke toilet, dan ia melihat seseorang juga masuk ke toilet dan berganti pakaian disana.


Awalnya Lucas tidak curiga sama sekali, tapi sekarang Lucas tahu bahwa orang yang ia lihat itu adalah orang yang menembak Aaron.


Dan orang tersebut adalah orang suruhan Markus.


Lucas teringat dengan kakaknya, kakaknya akhir akhir ini dekat dengan Markus. Kakaknya dalam bahaya, bagaimana jika Markus juga menyakiti kakaknya.


Lucas berusaha keluar dari tempat persembunyiannya, ia harus pergi sesegera mungkin dan menelepon kakaknya, namun sialnya ia tidak sengaja menendang salah satu kayu di lantai hingga menimbulkan suara.


“Siapa itu?!”


Lucas berusaha lari sekencang mungkin, ia tidak ingin ketahuan.


Ia berlari memasuki sebuah gang kecil, ia tidak punya banyak waktu. Ia harus menelepon kakaknya dan memperingati kakaknya itu. Karna Lucas pikir kakaknya sekarang pasti masih bersama dengan Markus, dan kakaknya itu harus berhati hati.


Lucas bersembunyi, ia berusaha menghubungi kakaknya itu.


“Halo kak Adara, kak! Jauhi kak Markus kak, dia berbahaya!”


Baru saja Lucas ingin melanjutkan perkataan nya, sebuah kayu sudah lebih dulu menghantam kepala Lucas.


Membuat ponsel yang ia genggam terpental tidak begitu jauh darinya.


***


Markus terdiam mendengar apa yang Lucas katakan dari ponsel tersebut.


“Argghh.. tolong.. tolong.. kakak tolong aku!”


Ekspresi Markus datar, ia melihat Adara yang keluar dari kamar mandi dengan wajah bertanya tanya.


Markus tersenyum dan mengembalikan ponsel Adara setelah memutuskan sambungan telepon nya. “Tadi Lucas menelepon tapi tidak ada suara apa apa, kau mau coba menghubungi dia?”


Adara menggelengkan kepalanya, “Mungkin dia tidak sengaja, dia selalu saja seperti itu. Biarkan saja.”

__ADS_1


__ADS_2