
Hari ini Adara bertemu dengan dokter yang menangani Markus selama ini. Entah kenapa dokter tersebut meminta untuk bertemu dengan Adara, bukan dengan wali dari Markus; yaitu Ibu dari Markus sendiri, Sabrina.
Jantung Adara berdegup kencang saat ia masuk kedalam ruangan dokter tersebut, berharap hal yang ingin dibicarakan dokter tersebut bukan lah hal yang buruk.
“Silahkan duduk, Ibu Adara.”
Dokter tersebut mempersilahkan Adara untuk duduk di seberangnya.
“Kalau boleh tahu ada apa dokter meminta saya untuk datang kemari?”
Adara memperhatikan dokter tersebut yang mengeluarkan sebuah berkas dari laci meja kerja nya. Sekilas Adara bisa melihat bahwa itu berkas mengenai Markus. Mungkin mengenai perkembangan Markus selama dirawat oleh nya.
“Tidak ada hal buruk yang terjadi kepada Markus ‘kan, Dokter?”
Dokter tersebut menggelengkan kepalanya pelan namun disertai dengan helaan nafas berat. Membuat Adara semakin tidak tenang.
“Tidak ada sesuatu yang buruk yang terjadi kepada Markus, Markus sudah mengalami cukup banyak perkembangan sejak 2 tahun yang lalu. Hanya saja.. saya rasa semua akan percuma untuk diteruskan.”
__ADS_1
“Ma-maksud dokter?” Adara mengerutkan alisnya, ia tidak paham dan takut disatu sisi. Percuma apa yang dokter ini maksudkan, apa umur Markus sudah pendek dan tidak dapat tertolong lagi?
“Maksud saya, percuma kita melakukan segala upaya pengobatan kepada Markus. Semuanya tidak akan membawa dampak apa apa.”
“Kenapa dokter bicara seperti itu?”
Dokter tersebut menghela nafas, “tubuh Markus sudah bersih dari obat obatan yang disuntikkan ke tubuhnya saat di penjara dulu. Dan yang saya lihat mengenai kondisi Markus.. dia sendiri lah yang tidak ingin sembuh. Dia terlalu nyaman dengan keadaannya yang seperti ini, mungkin dia berpikir jika ia terus seperti ini maka semua orang akan menyayanginya. Dan pola pikir itu lah yang harus diubah, dan hanya Markus sendiri yang bisa merubahnya. Markus hanya bisa sembuh atas kemauannya sendiri.”
Adara memijat pelipisnya, ia merasa pusing memikirkan masalah ini. “Lalu bagaimana, bagaimana caranya kita bisa membuat dia memiliki keinginan untuk sembuh? Aku bahkan sudah rajin datang menemuinya, menuruti perkataan kalian. Tapi itu tetap saja tidak ada kemajuan apa apa.”
Adara dan Dokter tersebut menoleh kearah Lucas yang entah sejak kapan sudah masuk kedalam ruangan ini.
“Lucas? Sedang apa kau disini, bukan kah seharusnya kau bersama dengan Cherryl saat ini. Jika kau disini, siapa yang menjaga Cherryl?”
Melihat kepanikan Adara, Lucas berusaha membuat kakak perempuannya itu tenang. “Tenang kak, Cherryl bersama dengan Tante Sabrina sekarang. Cherryl sendiri yang meminta untuk pergi ke rumah Tante Sabrina, dia ingin bermain di kamar Papa Markus nya katanya.”
Dokter yang berada diantara Adara dan Lucas tersebut berdeham, mengalihkan perhatian kedua kakak beradik itu kembali kepadanya.
__ADS_1
“Saya rasa tidak ada salahnya untuk mempertemukan Markus dengan seseorang yang sekiranya bisa membangkitkan semangat hidupnya. Markus membutuhkan motivasi, membutuhkan dorongan dan alasan untuk sembuh. Dan mungkin seseorang yang Bapak Lucas usulkan itu adalah kunci dari kesembuhan pasien Markus.”
Adara menggelengkan kepalanya tidak setuju, tidak bisa.
Bukannya Adara berusaha untuk memonopoli Cherryl dan melarangnya untuk bertemu dengan Markus. Hanya saja Adara takut jika Cherryl di pertemukan dengan Markus, dan Markus justru melakukan hal yang berbahaya itu bisa menimbulkan trauma bagi Cherryl.
Cherryl masih kecil, dan sensitif segala sesuatu bisa menjadi dampak buruk bagi Cherryl jika salah sedikit saja.
Dan Adara juga tidak ingin Cherryl datang kerumahnya sakit ini, melihat kondisi rumah sakit jiwa ini yang penuh dengan orang orang dengan akal tidak sehat. Itu tidak baik untuk kesehatan mental Cherryl sendiri.
“Tidak.. tidak, Cherryl masih sangat kecil.”
“Jika yang anda takutkan adalah membawa anak itu ketempat seperti ini maka anda tidak perlu khawatir, kita bisa mempertemukan mereka di tempat lain dan juga diawasi oleh beberapa orang yang akan berjaga jaga jika Markus melakukan tindakan bahaya.”
Adara masih terdiam.
Lucas menepuk pundak Adara pelan, “Ku mohon kak, hanya ini satu satunya cara.”
__ADS_1