Ayah Anak ku

Ayah Anak ku
DUA PULUH TUJUH


__ADS_3

“Kita mau kemana Ma?” Cherryl kelihatan bingung ketika Ibu nya mendadani nya. Mengikat rambutnya dengan manis.


Cherryl menatap Ibu nya dari pantulan cermin di depannya, memperhatikan bagaimana Ibu nya itu memeluknya dari belakang.


“Cherryl bilang Cherryl mau bertemu dengan Papa Markus kan?”


Mendengar nama Markus membuat Cherryl mendadak bersemangat, ia menganggukkan kepalanya dengan cepat. Tentu saja ia ingin bertemu dengan orang yang kehadirannya sudah ia tunggu tunggu selama ini.


“Jadi hari ini Mama gak akan pergi ketemu Papa Markus sendirian? Cherryl boleh ikut?” tanya Cherryl lagi dengan penuh semangat yang mendapat anggukan dari Adara.


“Horee!”


***


“Kau tidak ingin ikut?” Sabrina menatap suami nya yang masih terduduk di sofa ruang tamu.


Sabrina sudah mengatakan kepada Juan bahwa ia dan Adara akan membawa Cherryl menemui Markus. Dan Juan bisa ikut. Bukan bisa, melainkan sudah seharusnya Juan ikut. Juan adalah Ayah kandung dari Markus, sudah seharusnya Juan datang.


“Selama dia di penjara kau tidak pernah menemuinya, dan bahkan saat ia mendekam di rumah sakit jiwa pun tidak sedetik pun kau melihat kondisi anak mu disana. Setidaknya datang lah hari ini, hari dimana Markus pertama kalinya akan bertemu dengan putrinya. Atau mungkin dengan melihat kehadiran mu ia bisa sembuh, ia bisa menyadari bahwa semua orang perduli kepadanya.” Sabrina menghela nafas berat, ia melangkah dekat ke arah suaminya itu dan mengusap punggung suaminya itu lembut.


“Aku tahu kau itu sebenarnya menyayangi Markus, kau hanya terlalu menyesali kesalahan kita di masa lalu sehingga tidak berani menemuinya. Tapi menghindari Markus bukanlah jawabannya, Markus butuh dorongan semangat dari kita semua untuk sembuh. Aku ingin putra ku kembali, kau juga pasti menginginkannya bukan Juan?”


***


“Ommm Luuucassss!” Cherryl berlari riang menghampiri Lucas yang baru sampai, “Om! Cherryl hari ini mau ketemu Papa Markus!”


Cherryl dengan riang nya memberitahu semua anggota keluarga bahwa ia akan bertemu Papa nya. Bukan hanya kepada Lucas, kakek dan neneknya saja tapi Cherryl juga memberitahu asisten rumah tangga dirumah. Seolah memamerkan bahwa kesabarannya selama ini, dan air mata yang telah ia keluarkan setiap kali memohon untuk ikut kepada Ibu nya tiap kali Ibu nya pergi menemui Papa Markus nya tidak lah sia sia.

__ADS_1


“Mama ayo cepat! Papa Markus pasti sudah menunggu!”


***


Markus terlihat murung ketika ia tidak kunjung melihat batang hidung Adara, sepertinya Adara akan datang terlambat lagi.


Ia memang tidak berarti bagi Adara, tidak di inginkan.


Air mata mulai menetes, ia memeluk boneka yang ia anggap sebagai anak nya itu. “Mama sudah tidak sayang kita lagi, Mama benci kita..”


Tiba tiba saja pintu kamar rawat Markus terbuka, menampilkan beberapa perawat. Markus mengerutkan alisnya tidak senang. Dia benci para perawat, yang ia mau hanya Adara.


Namun raut wajah tidak senang Markus berubah menjadi senyuman lebar ketika ia mendengar perawat itu mengatakan bahwa Adara sudah menunggu nya untuk bertemu.


Jadi Adara datang???


Senangnya..


Markus di bawa memasuki sebuah ruangan, dimana ruangan itu penuh dengan orang orang yang Markus kenali namun tidak Markus perduli kan keberadaannya.


Pandangan Markus hanya terfokus pada sosok Adara, namun senyum Markus luntur ketika melihat Adara menggendong seorang anak kecil di pelukannya.


Markus melihat bagaimana Adara memperlakukan anak kecil itu dengan penuh kasih sayang, dahi Markus kembali berkerut tidak senang.


Kenapa Adara mau menggendong anak itu tapi tidak dengan anak mereka?


Markus menunduk melihat boneka dalam gendongannya, jadi Adara benar benar tidak perduli kepada mereka.

__ADS_1


Semua itu pasti karena anak kecil yang berada di pelukan Adara itu, jika anak itu tidak ada pasti Adara akan menyayangi anak mereka.


Markus memperhatikan anak kecil itu turun dari gendongan Adara, dan melangkah mendekati dirinya.


Markus sudah bersiap untuk menarik rambut anak kecil tersebut namun ia kalah cepat, anak kecil itu lebih dulu memeluk Markus erat erat. Membuat Markus kebingungan.


“Papa.. Cherryl rindu sekali sama Papa!”


Papa?


Tangan Markus yang sebelumnya terangkat untuk menarik rambut anak itu terjatuh, tubuh Markus kaku.


Ia terdiam tak bergerak.


“Papa, akhirnya Cherryl bisa ketemu Papa. Cherryl sudah jadi anak baik dan menunggu Papa, Cherryl juga sering main ke kamar Papa. Cherryl senanggg sekaliii.”


Markus masih terdiam, mata Markus beralih pada Adara yang tersenyum kepada nya dengan air mata.


Adara menganggukkan kepalanya kepada Markus, seolah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Dan saat itu juga air mata Markus terjatuh, boneka yang ia peluk erat erat juga jatuh. Ia menangis sekencang kencangnya sembari memeluk erat sosok kecil yang berada di pelukannya itu.


Anaknya..


Anaknya yang sebenarnya.


Cherryl tampak kebingungan mendengar tangisan Markus, namun ia hanya tertawa kecil. Sepertinya bukan hanya dirinya yang cengeng, dan sepertinya bukan hanya dirinya saja yang merindukan.

__ADS_1


Cherryl senang karena Papa nya sama bahagianya melihat kehadirannya.


“Papa cepat sembuh ya, Cherryl sayang Papa.”


__ADS_2