Ayah Anak ku

Ayah Anak ku
ENAM BELAS


__ADS_3

"Kau masih tidak ingin menemui Markus? Kita harus mengeluarkannya dari tempat itu Juan."


Juan mengabaikan Sabrina, laki laki itu memilih sibuk memakan makanan nya.


"Sampai kapan kau akan diam saja seperti ini Juan, Markus butuh bantuan kita!!" Sabrina meninggikan suaranya, jengah dengan sikap Juan yang seolah tidak perduli dengan anak sulung mereka yang kini tengah mendekam di penjara.


Juan membanting sendoknya, ia menatap Sabrina dengan mata nya yang memerah karena amarah. "Apa yang bisa ku lakukan?! Dia bersalah Rina, dia merencanakan semua itu dan dia juga hampir membunuh Aaron dan Lucas, dia pantas mendapatkan hukuman itu!"


Juan bangkit meninggalkan Sabrina yang masih terduduk termenung di meja makan, memikirkan tentang nasib putra nya itu.


Jika mereka tidak bisa melakukan apapun untuk bisa membebaskan Markus, maka Sabrina hanya bisa menyemangati Markus. Menemui putranya itu. Hanya itu yang bisa ia lakukan.


***


"Untuk apa kau kemari?" Markus menatap datar Ibu nya yang kini tengah duduk di hadapannya itu, Markus benci melihat Ibu nya memasang wajah tersakiti seperti itu.


"Tentu saja Mama kemari untuk menemui mu, kau tidak perlu khawatir. Mama akan berusaha mengeluarkan mu dari tempat ini."


Markus berdecih, ia menggelengkan kepalanya menolak. "Untuk apa kau repot repot melakukan hal itu, aku tidak perlu belas kasihan mu. Aku sudah terbiasa dengan hal hal seperti ini."

__ADS_1


Sabrina mengerutkan keningnya, "Belas kasihan apa maksud mu Markus, Mama melakukan ini karena Mama menyayangi mu. Kau putra ku."


Markus menatap Ibu nya itu dengan tatapan datar, “Menyayangi ku? Apakah dengan mengabaikan ku, dan diam saja tiap kali laki laki bajingan itu memukuli ku dan mengurung ku di gudang adalah bentuk kasih sayang?” Markus membenarkan posisi duduknya, ia menatap tajam mata Ibu nya yang mulai berkaca kaca.


“Kalau kau memang menyayangi ku, kemana kau saat aku butuh kasih sayang mu? Apa kau pernah bertanya bagaimana hari hari ku disekolah? Apa kau pernah bertanya mengapa aku selalu pulang ke rumah dengan tubuh penuh luka? Dan apa kau pernah menanyakan persetujuan ku saat kau ingin menikah dengan laki laki bangsat itu?” Markus mengeraskan hatinya, ia tidak akan lemah hanya dengan melihat air mata Ibu nya. Markus sudah sering menangis, tapi tidak ada yang pernah memperdulikannya lalu kenapa sekarang ia harus perduli?


“Tidak perlu berpura pura, jujur saja padaku.. kau memang tidak pernah mengharapkan kehadiran ku di dunia ini bukan? Karena adanya diriku kau di usir oleh orangtua mu, di tinggalkan oleh laki laki bangsat itu, dan harus bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan kita. Kau selalu menyibukkan dirimu dengan pekerjaan agar kau tidak perlu melihat diriku. Anak yang tidak kau harapkan keberadaan nya. Yang berhubungan itu kalian, yang melakukan dosa itu juga kalian! Lalu kenapa aku yang menerima semua imbas nya? Kenapa harus aku yang menerima hinaan nya? Apakah aku pernah meminta untuk lahir sebagai anak haram, jika aku bisa memilih aku juga tidak ingin lahir dalam keadaan seperti itu!”


Sabrina menggelengkan kepalanya, air mata nya tumpah membasahi kedua pipinya. Sabrina berusaha menyentuh Markus tapi ia tidak bisa karena terhalangi kaca tebal yang menjadi pembatas di antara mereka.


“Maafkan Mama sayang, Mama tidak bermaksud.”


Markus bangkit dari posisi duduknya, mengikut pada polisi yang menuntun nya untuk kembali ke dalam sel. Waktu kunjungan telah habis.


Markus mengabaikan panggilan Ibu nya, Markus tidak meneteskan air mata sama sekali. Ia benar benar sudah tidak perduli.


Terserah Ayah dan Ibu nya mau melakukan apa, Markus tidak perduli. Yang Markus perduli kan hanya satu, Adara.


Kapan Adara akan menemuinya? Markus sudah rindu sekali ingin melihat wajah wanita itu.

__ADS_1


***


Juan baru pulang dari urusan pekerjaan nya ketika ia melihat Sabrina juga baru pulang ke rumah dengan keadaan berantakan.


Sabrina menangis, istri nya itu terlihat benar benar kacau.


“Sabrina, kau kenapa?” Juan yang khawatir, menangkup pipi istri nya itu. “Siapa yang membuat mu menangis seperti ini?”


Sabrina masih saja menangis, Juan panik dan mengusap air mata istrinya itu.


“Ayo jawab aku siapa yang membuat mu menangis seperti ini?!”


Sabrina mendongak, ia menatap suami nya itu masih berlinang air mata. “Kau.. kau yang membuat aku menangis Juan, kau dan kebodohan ku yang membuat ku menangis!”


“A-apa maksud mu?”


“Markus.. Markus kita selama ini menderita Juan, bukan Markus yang bersalah disini tapi kita. Kita yang tidak becus sebagai orang tua hingga membuat dia tumbuh besar seperti itu, kita yang bersalah! Kita lah penyebab utama kenapa Markus bisa melakukan hal hal keji itu.. Kita yang salah! Kita!!”


“Jadi kau pergi menemui anak itu?”

__ADS_1


Sabrina kembali menatap Juan, ia mengerutkan keningnya tidak senang mendengar pertanyaan Juan. “Anak itu? Anak itu kau bilang?! Dia itu anak mu Juan!! Anak mu!! Sampai kapan kau akan terus seperti ini?! Suka tidak suka dia tetap anak mu, darah daging mu dan kau tidak bisa merubahnya!”


__ADS_2