
Bian membanting tubuh Sarah secara kasar ke ranjang, meski ranjang itu empuk tapi tetap saja Sarah merasa kepala nya mendadak pening seketika.
"Aku sudah mencoba untuk bersabar padamu Sarah, tapi kau sungguh sangat keterlaluan!" teriak Bian marah, ia murka. Sarah lari darinya tepat di acara pernikahan mereka, itu sangat menyakiti perasaan Bian sebagai seorang laki laki.
"Keterlaluan? Kau yang keterlaluan Bian! Kau yang selama ini sudah sangat keterlaluan, kau bukan hanya menyakiti ku tapi kau menyakiti banyak pihak!" Sarah tanpa takut menatap tajam mata Bian, ia tidak takut menantang Bian, persetan dengan semua ancaman laki laki itu.
"Kau berani melawan ku hah? Kau mau aku melakukan sesuatu pada teman teman mu itu?!"
Sarah tersenyum sinis, "Lakukan saja jika kau berani, jika kau berani melakukan sesuatu pada mereka, pada saat itu juga kau akan melihat ku mati!" Sarah sudah tak tahan lagi, jika Bian bisa melakukan ancaman maka ia pun bisa.
"Kau pikir aku perduli dengan nyawa mu?" seru Bian sinis, Sarah sama sekali tidak terkejut dengan balasan Bian.
"Aku tidak perduli, pokok nya kalau kau melakukan sesuatu pada mereka aku akan bunuh diri di depan mu." Sarah dengan gerakan perlahan menarik leher Bian, mendekatkan bibirnya ketelinga Bian. "Asal kau tahu, aku tengah mengandung anak mu."
Sarah bisa melihat tubuh Bian yang seketika menegang, mata Bian pun semakin tajam menatapnya.
"Kau tidak ingin kehilangan anak ini bukan?"
***
Jenny tidak lagi menangis ketika Dave membawanya, tidak ada lagi air mata. Air matanya sudah habis, tidak ada lagi yang perlu di tangisi, lagi pula ia memang sudah benar benar hancur tidak ada lagi dari dirinya yang bisa di hancurkan.
Jika Dave membunuhnya pun Jenny akan pasrah, ia akan menerimanya dengan senang hati.
Dave yang tengah menyetir sedikit melirik ke arah Jenny, terbesit rasa khawatir dalam dirinya ketika melihat keterdiaman Jenny, kenapa wanita itu tidak berontak seperti biasanya?
Dave menepikan mobilnya ketika Bian menelepon nya, Bian mengatakan padanya untuk jangan melakukan apa apa pada Jenny, biarkan Jenny kembali ke villa milik nya itu.
Lagi lagi terbesit perasaan aneh, Dave merasa agak tidak rela kalau Jenny tinggal di villa itu, itu berarti Dave akan berjauhan dengan Jenny.
Entah kenapa hal yang sangat Dave suka adalah ketika Jenny berada dalam kukungan nya, berteriak meminta ampun padanya.
Dengan berat hati Dave memutar balik mobil, kembali menuju villa milik Jenny.
Saat Dave kembali melirik Jenny, tidak ada reaksi apapun dari wanita itu dia hanya diam, dan kediaman Jenny membuat Dave merasa aneh.
***
"Aku akan hubungi polisi! Bian, laki laki itu sudah-"
"Diam Tae!" potong Johan, "Jangan ikut campur soal urusan mereka, jangan libatkan dirimu dalam masalah itu Tae, Bian itu bisa saja melakukan hal nekat padamu!"
Taeran tidak perduli, ia tetap merogoh ponselnya dan menghubungi polisi namun dengan cepat Johan mengambil ponsel itu dan membanting nya ke dinding, ponsel itu hancur seketika.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Taeran tidak terima atas apa yang baru saja Johan lakukan. "Kau tidak perlu pusing menasehati ku, aku tidak masalah jika Bian akan melakukan sesuatu padaku. Jika dia membunuh ku pun aku tidak perdul-"
"Tapi aku perduli!" teriak Johan tidak tahan, "Tapi aku perduli, aku tidak bisa melihat mu disakiti oleh Bian, aku tidak bisa Tae, tidak bisa!" Johan bergetar, matanya memerah dan nyaris meneteskan air mata namun ia tetap menahannya.
"Kau bukan siapa siapa ku, kau tidak perlu memikirkan ku!" Taeran masih keras kepala, Taeran masih ingin membantu Sarah dan Jenny sekuat yang ia bisa.
"Aku bukan siapa siapa mu, tapi aku.. aku mencintai mu! Kau puas?!" kali ini Johan tidak lagi bisa menahan air matanya, air matanya meluruh sudah, membasahi pipinya yang memerah karna emosinya yang meluap luap.
Taeran tertegun, merasa sangat terkejut dengan perkataan Johan. "Apa? Kau bilang apa?"
Johan menarik nafas dalam dalam, Johan memejamkan matanya sejenak sebelum mengatakan isi hatinya. "Aku mencintaimu, aku mencintaimu brengsek!"
Taeran benar benar terkejut, ini.. tidak benar. "Johan ini tidak bisa, kau dan aku, kita laki laki." tukas Taeran seraya menggelengkan kepalanya.
Johan berdecih, "Lalu kenapa kalau kita laki laki, kau jijik padaku?!"
Taeran benar benar tidak bisa berpikir sekarang, Taeran mengacak acak rambutnya kasar. "Ini semua tidak masuk akal!"
***
Bian benar benar terkejut, Sarah mengandung anak nya? Atau itu hanya akal akalan Sarah saja untuk mengancam nya?
Bian sudah menelepon dokter pribadi nya untuk datang memeriksa Sarah, jika benar kalau Sarah berbohong maka Sarah akan mendapatkan hukuman darinya.
Tapi jika Sarah benar benar hamil, bukan kah Sarah nanti akan semena mena padanya, Sarah punya alasan yang membuat Bian terpaksa mundur.
Bian mengepalkan tangannya tidak sabar menunggu ke datangan dokter Fian, dokter pribadinya itu entah mengapa terasa lama sekali datangnya kali ini.
Atau ini karna Bian yang gelisah dan tidak sabar, entah lah.
Bian bangkit dari posisi duduknya di sofa ruang tamu ketika melihat dokter Fian sudah datang dan tersenyum padanya.
Bian dengan gerakan mata menyuruh dokter Fian untuk mengikutinya ke kamar. Bian membuka pintu kamar dan di dapatinya Sarah tengah duduk di ranjang seraya mengutak atik ponselnya, wanita itu tampak terkejut dengan kedatangan Bian.
Alis Bian sedikit terangkat ketika melihat reaksi Sarah, apa yang Sarah lakukan dengan ponselnya itu?
Tapi ini bukan waktunya untuk memikirkan hal itu, ini waktunya untuk membuktikan apakah Sarah hamil atau tidak.
"Periksa dia, dia bilang dia hamil, aku ingin tahu apakah itu benar." ujar Bian dingin, dokter Fian dengan sigap langsung melakukan tugasnya.
Dokter Fian menoleh kearah Bian ketika ia sudah selesai mengecek Sarah, "Saya tidak tahu pasti karna saya bukan dokter kandungan, tapi melihat dari hasil cek saya tadi Nyonya Sarah memang menunjukan tanda tanda kehamilan, tapi untuk lebih pastinya lagi bisa mengeceknya pada dokter kandungan."
Bian mengerutkan alisnya karna mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan, Bian segera mempersilahkan dokter itu pergi karna ia merasa sudah tidak membutuhkan dokter itu lagi.
"Bangun dan bersiaplah, kita kerumah sakit sekarang!"
Bian benar benar tidak bisa menunggu, Bian sangat ingin tahu apakah benar Sarah tengah hamil atau tidak, dan dia harus tahu hari ini juga.
***
"Selamat Tuan dan Nyonya, calon bayi kalian sudah berusia sekitar 6 minggu." ujar dokter kandungan itu dengan senyuman merekah.
Sebenarnya Sarah juga terkejut dengan usia kandungannya, pasalnya ia sering minum pil pencegah kehamilan namun nyatanya itu tidak ampuh mencegahnya untuk hamil.
Sementara Bian merasakan tubuhnya mendadak sulit di gerakkan, Sarah benar benar mengandung, ia.. ia punya kelemahan sekarang, dan sialnya Sarah dengan sangat pintar memanfaatkan itu.
Shit!
***
Taeran mengepak seluruh barang barangnya, ia harus pergi, itu semua terasa salah. Bagaimana bisa Johan menyimpan perasaan cinta terhadapnya? Itu salah.
Taeran menarik kopernya keluar dari kamar, persetan soal uang sewa yang sudah di bayarnya hingga setahun, jika tetap serumah dengan Johan, Taeran khawatir jika perasaan Johan akan semakin dalam saja padanya.
Jika Taeran tetap menetap di sana maka Johan yang akan menderita, Johan akan semakin sulit mengendalikan emosinya, dan Taeran tidak mau itu terjadi.
Taeran harus pergi..
***
Dave di tugaskan oleh Bian untuk mengawal Sarah kemanapun Sarah pergi, tugas itu membuat Dave agak tidak senang, kenapa ia harus ditempatkan untuk mengawasi dan menjaga Sarah, kenapa bukan Jenny?
Jujur.. Dave lebih senang jika ia di tugaskan untuk mengawasi, atau bahkan menghukum Jenny, entah mengapa Dave suka akan hal itu, ia bahkan tidak tahu alasan apa yang berada di balik perasaan aneh itu.
“Anda mau kemana Nyonya?” tanya Dave pada Sarah yang terlihat rapih dan hendak melangkah keluar dari pathouse, “Anda tidak bisa pergi sembarangan Nyonya, anda harus meminta ijin kepada Tuan Bianuel terlebih dahulu.”
“Diam kau, aku sudah minta ijin!” Sarah berbalik menatap Dave dengan tatapan tajamnya, jari telunjuknya terangkat menunjuk wajah Dave, “Jangan sok mengajari ku ya!”
Sarah tetap bersikekeh, ia memasuki salah satu mobil milik Bian dan meminta supir untuk mengantarnya ke tempat Jenny.
Melihat kondisi Jenny kemarin, Sarah khawatir akan Jenny, Sarah ingin memastikan Jenny baik baik saja karna Sarah tahu bahwa Jenny dalam situasi yang berat saat ini.
“Ah, dia mengikuti ku?!” dengus Sarah sebal ketika melihat mobil lain yang mengikuti mobil yang membawanya.
“Bian benar benar menyabalkan, menempatkan laki laki itu sebagai pengawal ku.” Sarah menatap supir yang tengah serius menyetir itu, “Tolong lebih cepat ya pak, saya sedang buru buru.”
“Maaf Nyonya, tapi Tuan Bian sudah berpesan kepada saya bahwa saya harus menyetir dengan kecepatan normal saat membawa anda.” sahut sang supir yang membuat Sarah dongkol.
Lagi lagi Bian yang membuat semuanya seperti ini, menyebalkan sekali.
***
Dave menatap keadaan Jenny yang tampak mengenaskan, wanita itu terlihat pucat sekali, Dave sebenarnya ingin mendekat dan menguping pembicaraan mereka namun ia tidak bisa, Sarah benar benar tidak memperbolehkannya mendekat sedikitpun.
Dave di suruh untuk menunggu di ruang tamu selagi dua wanita itu entah melakukan apa di dalam kamar, jujur.. Sarah dan Jenny sama saja dimata Dave, sama sama wanita yang sulit dan keras kepala, untuk itulah mereka berdua terus saja mendapatkan hukuman dari Bian.
Ponsel Dave berbunyi, ia mendesah berat ketika melihat nama Bian tertera disana. Dave dengan berat hati mendekatkan ponsel itu ketelinganya.
“Sarah menemui Jenny?”
“Iya, Tuan. Nyonya Sarah menemui Jenny dan mereka sedang berada di kamar berdua sekarang.”
“Kenapa kau tidak ikut masuk ke kamar, bagaimana jika Jenny mulai kembali menghasut Sarah, wanita itu sangat nekat kau tahu!” teriak Bian penuh amarah, Dave tahu kalau Bian seperti itu karna ia terlalu takut kehilangan Sarah, ya.. ia bisa memakluminya.
“Tapi Tuan, nyonya Sarah tidak mengijinkan saya untuk masuk, dia juga mulai mengancam, saya tidak bisa mengambil tindakan yang akan mengakibatkan resiko nantinya Tuan.” Dave dapat mendengar suara geraman Bian, Bian memang sudah seharusnya sebal pada Sarah yang sikapnya melunjak, Sarah seolah menjadi jadi karna kehamilannya itu.
Dave dapat mendengar suara geraman Bian, ya.. kali ini Bian harus mengalah lagi bukan? Haha, betapa anak itu membawa dampak besar sekali.
Dave kembali memasukkan ponselnya kedalam sakunya setelah Bian memutuskan sambungan teleponnya, tepat saat itu Sarah keluar dari kamar Jenny dengan wajah suram, entah apa lagi yang terjadi hingga Sarah menatapnya setajam itu.
“Ayo pulang!” teriak Sarah, terlihat sekali aura kebencian dari tatapan Sarah pada Dave, entahlah jalan pikiran wanita itu siapa yang bisa menebak?
***
Johan pusing karna Taeran tiba tiba saja menghilang, kenapa Taeran harus sekejam ini padanya?
Taeran datang menyetuh hatinya dengan segala perilaku dan sifatnya, lalu ketika Johan menyadari perasaannya dan mengungkapkannya kenapa Taeran justru memperlakukannya seperti ini?
Johan merasa hina, Johan tahu bahwa itu tidak wajar, tapi perasaan siapa yang bisa memilih kepada siapa ia akan jatuh cinta?
Johan hanya laki laki biasa yang tengah jatuh hati dan tidak tahu harus bagaimana lagi, kenapa Taeran tidak sedikitpun mau mengerti dirinya?
Jika bagi Taeran hal itu memang menjijikan, tidak kah Taeran tetap mau di sisinya sebagai teman? Setidaknya sebagai teman dari pada ditinggalkan bagai sampah tak berguna.
***
“Kau habis menemui Jenny?” tanya Bian pada Sarah, Sarah yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap sebal kearah Bian.
“Kalau iya kenapa?” tanya Sarah seolah menantang, Sarah tahu kalau Bian sangat tidak suka jika Sarah terlalu dekat dengan Jenny, entah karna apa alasannya.
“Aku bertanya padamu baik baik tapi kau justru bersikap dingin sekali padaku, kau tidak boleh terlalu terbawa emosi babe, ku dengar itu tidak baik untuk calon anak kita.” Bian mencoba bersabar, mendekat kearah Sarah dan dengan gerakan perlahan membawa Sarah kedalam pelukannya, Sarah pun tidak berontak sama sekali.
“Kau semakin berani saja semenjak kehadiran anak kita, kau tidak bisa mengancamku dengan anak kita, ingat.. dia anak mu juga, apa kau tega menyakiti anak yang sedang tumbuh di dalam perut mu itu?” Bian mengusap usap punggung Sarah lembut, “Aku tahu kau tidak akan berani melakukan hal nekat pada anak kita, melihat teman mu terluka saja kau tidak bisa apalagi melihat bagian dari dirimu terluka, aku benar kan?”
Sarah terdiam, Bian memang benar bahwa Sarah tidak bisa jika melihat orang yang ia sayangi terluka.
“Maka dari itu Bian, jika kau menyakiti seseorang lagi maka aku dan anak ku ini akan mati di depan mata mu, aku tidak bisa melihatnya terluka maka kami akan terluka bersama, itu pilihan terbaik.”
Bian sedikit menggeram, “Kau egois.” desis Bian memejamkan matanya.
Sarah menggeleng dalam pelukan Bian, “Kau yang memulainya Bian, kau yang egois, semua ini bermula atas ke egoisan mu.”
“Kalau bukan karna kau terobsesi atas diriku hanya karna aku mirip Farah semuanya tidak akan begini, kalau saja sikap mu tidak selalu menekan dan memberatkan ku aku mungkin saja bisa jatuh cinta padamu, jika saja kau tidak menghancurkan hidup Jenny aku mungkin masih bisa menerima mu, tapi ini tidak, kau selalu melakukan hal yang berlawanan..” Sarah memukul dada Bian dengan kepalan tangan nya.
“Jenny.. dia terpuruk, dia.. dia.. kembali keguguran Bian.” Sarah mulai mengeluarkan air mata, “Dia bercerita padaku bahwa dulu dia pernah hamil namun karna Dave dengan teganya membiarkan Jenny di gilir oleh teman temannya, Jenny keguguran saat itu, dan sekarang.. karna kau menyuruh Dave untuk kembali memperkosa Jenny, Jenny kembali hamil namun juga kembali keguguran! Kau tahu seberapa hancurnya dia?”
Bian terkejut, ia tidak tahu menahu soal kehamilan ataupun keguguran Jenny, yang Bian tahu Jenny dan Dave pernah punya hubungan yang tidak baik, Bian hanya tahu kalau Dave adalah laki laki yang merenggut keperawanan Jenny, hanya itu.
“Kau dan Dave seharusnya membusuk di neraka, aku membenci kalian!”
***
Bian menatap tajam Dave yang tengah duduk di hadapannya, Dave terlihat bingung karna di suruh menghadap Bian di ruang kerja Bian.
Perasaan Dave tidak enak, entah mengapa Dave merasa ada sesuatu yang terjadi, entah apa itu.
"Ada apa Tuan meminta saya untuk datang menghadap, apa ada masalah dengan Nyonya Sarah?" tanya Dave mengungkapkan apa yang mengganggu pikirannya, wajah Bian terlihat sangat serius saat ini.
"Ada yang ingin ku tanyakan kepadamu.." Bian melipat tangannya di depan dada, "Apa kau tahu kalau Jenny dulu pernah mengandung?"
Bian melihat tubuh Dave menegang seketika, kepala Dave yang semula menunduk mendadak mendongak dan menatap Bian dengan raut terkejutnya, "Apa maksud tuan, mengandung? Jenny pernah mengandung?"
Alis Bian terangkat tinggi, dari reaksi Dave membuat Bian mengerti bahwa Dave tidak tahu menahu soal kehamilan Jenny dulu.
"Ya, dulu Jenny sempat hamil namun ia keguguran, aku kurang tahu kenapa dia bisa keguguran, Sarah tidak menceritakan itu secara keseluruhan padaku tapi aku ingin tahu apakah anak yang saat itu di kandung oleh Jenny adalah anak darimu."
Dave terdiam, ia menggeleng pelan dan kembali menunduk. Dave tidak tahu apakah anak yang dulu Jenny kandung adalah anaknya atau anak dari teman temannya yang dulu memperkosa Jenny secara bergilir.
"Aku tidak akan menempatkan kau untuk menghukum Jenny atau apapun yang bersangkutan dengan Jenny, dari apa yang ku dengar dari Sarah.. Jenny sepertinya menderita, menambah bebannya sama saja akan menambah beban pikiran bagi Sarah dan juga hanya akan membuat Sarah semakin membenci ku." Bian bangkit berdiri dan menghela nafas, "Aku hanya ingin memberitahu mu itu saja, kau bisa pergi sekarang."
***
Johan mendatangi tempat kerja Taeran, namun sekretaris Taeran mengatakan bahwa Taeran tidak ada di tempat dan tidak akan masuk hingga dua bulan ke depan.
Johan tidak tahu lagi harus mencari Taeran kemana, Johan menyerah.. jika Taeran memang bukan jodohnya maka dia bisa apa? Taeran juga sepertinya tidak menyukainya, Johan tahu Taeran pasti jijik dengannya.
Taeran pasti menyukai wanita, mana mau Taeran pada dirinya yang jelas jelas satu jenis dengannya.
Johan tersenyum miris, air matanya menetes tiap kali memikirkan Taeran.
***
Dave mengepalkan tangannya kuat kuat, merasakan perasaan berkecamuk dalam benaknya.
Jadi Jenny pernah hamil namun ia tidak tahu? Dave sadar bahwa dirinya memang brengsek, ya amat brengsek.
Dave ingin menemui Jenny namun tidak bisa, Bian sudah melarangnya untuk mendekati Jenny lagi, lagi pula Jenny tidak akan senang jika Dave menemuinya. Dave tahu pasti kalau Jenny membencinya setengah mati.
Ya.. dia memang pantas di benci.
***
Bian menatap jengah pada Sarah yang tengah berdiri di hadapannya, Bian benar benar tak habis pikir dengan Sarah, apa lagi kali ini yang Sarah inginkan?
"Sekarang apa lagi Sarah?"
Sarah nampak gugup, untuk pertama kalinya Bian melihat Sarah gugup. Ada apa gerangan dengannya, atau apakah terjadi sesuatu pada calon anak mereka? Pemikiran itu tiba tiba saja terlintas di pikiran Bian.
"A.. aku.."
"Kau kenapa?" alis Bian mencuram, benar benar tak sabar dengan apa yang akan Sarah ucapkan, kenapa Sarah harus ragu ragu untuk mengatakannya? Apakah itu pertanda bahwa sesuatu yang akan Sarah katakan mungkin saja akan tidak di sukai oleh Bian.
"Bian.. begini, setelah berpikir pikir.. karna aku tengah mengandung anakmu, aku.. aku rasa aku ingin menemui orangtua ku."
Bian mengernyit, "Apa sangkut pautnya kau yang tengah hamil dengan bertemu orangtua mu? Bukan kah sebelumnya kau juga sudah mengatakan padaku bahwa kau tidak perduli pada orangtua mu?"
Sarah mendesah sebal, "Kau tidak mengerti Bian, aku ini sedang mengandung dan aku terus saja memikirkan soal mereka, aku tidak mau hanya karna terlalu memikirkan dan tertekan itu akan berimbas tidak baik pada anak ini." suara Sarah melemah, Bian sedikit terenyuh mendengarnya.
Bian merentangkan tangannya, "Kemarilah." Bian meminta Sarah untuk masuk kedalam pelukannya.
Sarah dengan pelan bergerak mendekat dan memeluk Bian, membenamkan wajahnya pada dada bidang Bian.
"Baiklah kita akan menemui mereka, aku sangat senang kalau kau sudah mulai tenang dan tidak memberontak lagi sekarang." Bian mengeratkan pelukannya, mengecup puncak kepala Sarah dengan penuh perasaan.
"Besok kita pergi menemui orangtua mu, setelah aku mengurus beberapa hal penting besok."
***
Bian dan Johan menatap laki laki yang berada dihadapan mereka itu dengan tatapan serius.
"Kau serius mau menikahinya?" tanya Bian pada laki laki itu, "Aku sudah menjelaskan padamu bukan kalau Jenny itu punya masalalu yang buruk, bahkan aku terlibat dalam kenangan buruknya itu." desis Bian sarat akan penyesalan.
Laki laki itu mengangguk mantap, "Aku tidak perduli seburuk apa hidup Jenny dulu, cukup biarkan aku menikahinya dan membawanya hidup bersamaku."
Johan yang berada di samping Bian menatap laki laki dengan wajah datarnya, "Masalahnya bukan ada pada Bian, masalahnya ada pada Jenny apakah dia mau menikah dengan mu atau tidak."
Laki laki itu tersenyum hingga lesung pipinya terlihat, "Aku akan membuatnya mau menerima ku, aku akan berusaha semampu ku."
Bian bangkit berdiri seraya merapihkan jasnya yang agak kusut, "Baiklah, itu terserah pada Jenny, jika Jenny menerima mu bukan masalah bagiku, aku harus pergi karna Sarah telah menunggu ku, sampai jumpa lagi.. Nathan."
Bian menepuk bahu Nathan pelan sebelum akhirnya pergi bersama Johan, Nathan tersenyum kembali hingga lesung pipinya kembali terlihat.
***
"Memangnya Sarah sedang menunggu mu Bian?" tanya Johan pada Bian, mereka tengah berjalan beriringan menuju lift.
"Ya, aku berjanji akan membawanya menemui orangtuanya hari ini."
Johan hanya mengangguk saja tidak mengatakan apa apa lagi.
"Kau tampak sangat diam akhir akhir ini apa ada sesuatu yang terjadi?" Bian melihat perbedaan yang ada pada diri Johan akhir akhir ini, Johan terlihat tidak bersemangat dalam melakukan segala hal dan ia juga jadi sangat pendiam.
"Bukan apa apa.." sahut Johan pelan.
"Apa ini ada sangkut pautnya dengan Taeran?" tanya Bian tepat sasaran, Bian bisa melihat gelagat Johan yang mendadak gelagapan.
"Ah.. bukan, aku hanya kurang enak badan saja. Aku pergi dulu, aku juga punya urusan yang harus aku selesaikan."
Mereka berpisah di parkiran, menaiki mobil masing masing dan pergi ketempat tujuan masing masing.
***
"Kau tampak cantik.." puji Bian pada Sarah, "Aku juga senang kau tidak memakai sepatu tinggi sialan mu itu."
Sarah hanya mendesah bosan, "Kapan kita akan berangkat? Apa kita harus terus membicarakan hal yang tidak penting disini?"
Bian menggeleng dan tersenyum lembut, menggandeng tangan Sarah dan berjalan beriringan menuju mobil Bian.
***
Sarah menatap Bian dengan pandangan tidak percaya, matanya berkaca kaca, bibirnya bergetar hebat.
"Ini bohongkan Bian, katakan ini semua bohong Bian!" teriak Sarah tidak terima, ia terisak di dalam pelukan Bianuel.
Bian mengusap lembut punggung Sarah, mengecup puncak kepala Sarah untuk menenangkan wanita itu.
"Ini benar babe, ini kenyataannya.. mereka sudah tiada."
Sarah menggeleng ia tidak mau menatap dua gundukan tanah itu, Sarah tidak bisa menerimanya.
"Maaf aku baru mengatakannya, aku sengaja mengancam mu atas nama mereka agar kau tetap disisiku, tapi sebenarnya mereka sudah tiada, kecelakaan merenggut nyawa mereka, mereka kecelakaan bukan hanya mereka yang ada saat kejadian itu tapi Farah dan kau juga disana, kalian masih bayi. Hebatnya kalian selamat, kau di bawa pergi oleh orang yang ada disana dan dibawa ke panti asuhan sedangkan Farah, keluarga kami yang menemukan dengan tubuh kecil dan ringkih dan penuh luka."
Sarah semakin menggeleng kuat kuat, Sarah tidak percaya. Sarah sudah merasa senang akan bertemu dengan orangtua kandungnya namun Sarah harus mendapati bahwa orangtuanya telah lama tiada, sungguh tragis!
Sarah merasakan kepalanya sungguh sangat sakit, semuanya nampak memburam hingga tiba tiba ia merasakan tubuhnya oleh dan semuanya berubah gelap tak lagi terlihat apa apa dan ia juga tak mendengar apa apa.
Gelap..
__ADS_1
Kegelapan yang menusuk relung hati Sarah..
Ayah..
Ibu..
Aku ingin bertemu kalian..
Sekali saja..
Hanya sekali..
Sekali..
***
Bian menatap khawatir kearah Sarah yang masih belum bangun dari pingsannya, sudah 2 jam namun Sarah masih belum juga bangun.
Dokter bilang tidak lama lagi Sarah akan bangun tapi Bian tidak bisa tenang, Sarah membuatnya benar benar khawatir.
Bian juga merasa menyesal, kenapa ia membawa Sarah kesana? Kalau saja ia berpikir dahulu baik baik apa yang akan menjadi akibatnya pasti semuanya tidak akan begini, Sarah tidak akan shock hingga pingsan seperti ini.
Bian menggenggam tangan Sarah erat erat, "Bangun lah babe, kau membuatku takut." Bian mengecup punggung tangan Sarah dengan lembut.
***
Dave datang membawa obat obat yang Bian suruh untuk ia beli, Dave mengetuk pintu dan saat suara Bian terdengar mengijinkannya untuk masuk, Dave membuka pintu itu.
Dave sedikit terenyuh melihat Bian yang tengah mengusap usap lembut keringat di kening Sarah yang masih belum sadar dengan sapu tangan biru.
Orang bodoh pun tahu kalau Bian sangat mencintai Sarah hanya dengan melihat itu, Dave sangat yakin bahwa Bian begitu mencintai Sarah, selama menjalin hubungan dengan Sarah pun Bian tidak pernah terlibat dengan wanita manapun di belakang Sarah.
Hanya Sarah, namun Sarah tidak bisa menyadari itu sama sekali. Entah Sarah yang memang kelewat bodoh hingga tidak menyadarinya atau memang Sarah yang tidak ingin menyadarinya.
Dave dengan gerakan lambat menyentuh bahu Bian, membuat Bian menoleh dan mengambil obat yang sebelumnya Dave bawa.
"Baiklah, kau bisa pergi sekarang." Bian tidak ingin di ganggu, dia ingin tetap menunggu sendiri, menunggu kekasih hatinya terbangun dari pingsannya.
Dave undur diri, lagi pula tidak ada yang harus di lakukannya disana, Dave menutup pintu dengan perlahan-lahan. Meninggalkan Bian yang masih menunggu Sarah sadar.
***
Sarah mengerjap ngerjapkan matanya, kepalanya terasa begitu pening dan juga dengan rasa mual yang tiba tiba menyentaknya.
Sarah ingin sekali berlari ke kamar mandi dan muntah di wastafel namun Sarah begitu tidak bertenaga, bahkan untuk bergerak saja ia rasanya sulit, begitu lemah.
"Kau sudah bangun?" tanya Bian pada Sarah, Sarah menatap wajah Bian yang tampak agak buram di pengelihatannya.
"Bian, aku mual.." Sarah mendesis pelan, sungguh rasa mual itu sangat menyiksanya, belum lagi rasa pening yang belum juga sirna.
Bian terlihat kelabakan, ia bergerak gelisah mengambil minyak aroma terapi, mengoleskan sedikit di tangannya dan mendekatkan tangannya pada hidung Sarah, Bian berharap dengan itu mual yang Sarah alami akan mereda.
Sarah sudah agak tenang, ia juga memejamkan matanya untuk menghirup aroma terapi itu.
"Sudah agak baikan?" tanya Bian saat Sarah sudah kembali membuka matanya.
"Hmm.." gumam Sarah, ia berusaha untuk bangkit dari posisi berbaringnya dan Bian dengan sigap membantunya, memposisikan Sarah setengah duduk bersandar pada bantal.
"Aku akan meminta pelayan membawakan makanan untuk mu, karna setelah itu kau harus meminum obat agar kondisi mu membaik."
Sarah tidak begitu memperdulikan perkataan Bian, ia hanya sibuk dengan rasa pening di kepalanya itu, Sarah berkali kali mengerjapkan matanya berharap pening itu segera menghilang.
Entah kapan makanan itu datang Sarah tidak tahu, Sarah begitu sibuk dengan rasa sakit kepalanya, Sarah hanya menatap Bian yang sibuk menyendokkan makanan itu.
Sarah menggeleng ketika Bian menyodorkan sesendok makanan itu padanya, Sarah merasa tidak bernafsu untuk makan.
"Ayolah, kau harus makan. Ini demi kesehatan mu dan juga calon anak kita." Bian berusaha membujuk Sarah, bagaimana pun Sarah harus makan, sejak ia pingsan belum ada satupun makanan yang berhasil masuk ke perutnya.
Sarah mengalah, ya.. Sarah tidak boleh egois, ia harus memikirkan calon anaknha juga. Sarah membuka mulutnya memakan makanan yang Bian suapkan padanya.
Sarah mengunyah pelan pelan, tiap kunyahan ia teringat akan kejadian sesaat sebelum ia pingsan, mata Sarah terasa panas seketika, ia teringat fakta bahwa orangtua kandungnya telah tiada.
"Jangan menangis." Bian menghapus air mata Sarah yang jatuh, betapa Bian sangat tidak tega melihat Sarah semenderita ini.
***
"Dia baik baik saja?" tanya Jenny pada Dave yang tengah berjaga di depan pintu, Dave menoleh pada Jenny dan menatap Jenny sendu.
"Di-"
"Bodohnya aku, untuk apa aku bertanya padamu? Kau kan hanya seorang pengawal." Jenny menatap dingin Dave dan memilih mengetuk pintu kamar Bian, tempat dimana Sarah berada.
Jenny membuka pintu itu ketika telah mendapatkan ijin untuk masuk, pandangan Jenny langsung tertuju pada Sarah yang masih terbaring lemas di ranjang.
"Sarah kau baik baik saja?" tanya Jenny panik seraya melangkah dengan cepat mendekat kearah Sarah.
Sarah hanya menggeleng saja sebagai jawaban, Bian yang berada di dekat mereka berdeham.
"Sarah memuntahkan makanannya, dia jadi semakin lemas." ucap Bian menjelaskan.
Jenny mengangguk mengerti dan menatap Sarah serius, "Kau ingin makan apa, kau ingin sesuatu?"
Sarah menggeleng, ia tidak ingin apa apa, hanya saja Sadah terus teringat kenyataan bahwa orangtuanya telah tiada.
"Sarah, kau ingin makanan apa, biasanya di saat hamil memang kau akan sulit makan dan makanan yang sangat kau inginkanlah yang bisa berhasil bertahan di perutmu, aku pernah mengalami itu sebelumnya."
Sarah menggeleng bingung, dia tidak tahu dia ingin apa. "Aku tidak tahu, kepala ku pening."
Jenny menghela nafas gusar, "Kau tidak bisa begini Sarah, ini bisa membahayakan janin mu. Aku tidak ingin kau mengalami hal yang sama seperti yang aku alami."
Pandangan Sarah meredup, ia memandang kearah Jenny dengan tatapan bersalah, sungguh Sarah tidak pernah bermaksud untuk membuat Jenny teringat kenangan lamanya yang buruk.
"Maafkan aku.."
Jenny menggeleng dan bergerak memeluk Sarah, Sarah tidak salah baginya.
"Cepatlah pulih Sarah."
Bian yang melihat kedekatan kedua wanita itu merasakan hal aneh, Bian merasa hatinya bagai tercubit saat menyaksikan itu, menyaksikan bagaimana mereka begitu dekat dan saling mendukung.
Dan ada rasa sesal juga yang hinggap pada perasaan Bian, kenapa sebelumnya ia tega sekali pada Jenny? Yang jelas jelas adalah sepupunya.
Bian menyesal..
***
Sarah menatap bayangan dirinya di cermin, Sarah tersenyum miris ketika menyadari bahwa betapa menyedihkan nya hidupnya ini.
Kenapa Sarah harus bertemu Bian? Kenapa Sarah harus menjadi tawanan Bian?
Air mata Sarah menetes ketika mengingat bahwa orangtuanya telah tidak ada di dunia ini, Bian sudah tidak punya sesuatu lagi yang bisa ia pakai untuk mengancam Sarah, tidak ada lagi.
Sarah merasa untuk apa dia masih berada di sisi Bian ketika ia sudah tidak lagi tertekan oleh ancaman Bian, Tapi bagaimana dengan nasib Jenny dan juga Taeran jika Sarah kembali mengambil langkah untuk melarikan diri lagi?
Tapi kenapa Sarah harus perduli? Kenapa ia harus perduli terhadap orang lain sementara dirinya tersiksa, Sarah ingin sekali bersikap egois, ia ingin hanya memikirkan dirinya dan juga calon anaknya, satu satunya keluarga yang ia miliki.
Haruskah Sarah pergi, tapi kapan ia memiliki kesempatan? Kondisi tubuhnya sedang tidak baik, jangankan melarikan diri berjalan menuruni tangga saja Sarah rasanya ingin pingsan karena tak sanggup.
***
"Waktunya makan babe, kau dan anak kita butuh asupan gizi." Bian dengan senyum cerah membawakan nampan berisi makanan dan beberapa buah.
Sarah tidak menjawab, ia hanya melihat gerak gerik Bian saat duduk di pinggir ranjang dan berniat menyuapinya, bersikap manis huh?
Sarah hanya akan menurut, membuat Bian merasa bahwa Sarah mulai melunak, sampai kapanpun Sarah tidak akan pernah mau kalah dan membiarkan Bian menguasai dirinya.
"Bian.." panggil Sarah pelan, Bian yang sibuk dengan makanan itu pun mendongak menatap Sarah dengan penuh perhatian. "Aku ingin sekali ke taman hiburan setelah pulih, bisakah kau menuruti keinginan ku ahh.. maksud ku sebenarnya ini keinginan calon bayi kita.."
Jika Bian bisa bermain licik maka kenapa Sarah tidak bisa? Sarah juga bisa bermain tipu muslihat, Sarah sengaja mengucapkan kata 'Calon bayi kita' karna Sarah tahu bahwa calon bayinya sungguh sangat berarti bagi Bian, ya.. Bian pasti sangat menginginkan calon keturunannya ini kan.
"Hah.. baiklah, setelah kau sembuh kita akan kesana." ujar Bian setengah hati, sebenarnya Bian tidak ingin membawa Sarah kesana karna Bian tahu bahwa tempat itu sangat ramai, Bian tidak bisa menutup kemungkinan kalau Sarah akan hilang atau sengaja kabur darinya kan? Tapi.. mendengar kata soal calon bayi mereka membuat Bian luluh, mungkin ini memang keinginan calon bayi mereka atau yang biasa disebut ngidam oleh banyak orang.
"Terima kasih, Bian."
***
"Hubungan mu dengan Bian membaik ya, ku lihat akhir akhir ini kalian menjadi sangat dekat, Bian juga jadi banyak tersenyum lagi sekarang, mungkin ini berkat kehadiran calon anak kalian." Jenny yang tengah menemani Sarah membaca buku buku tentang kehamilan tersenyum bahagia, ia senang kalau hubungan Bian dan Sarah ada kemajuan dalam hal positif.
"Kalian juga harus segera menikah, kasihan calon anakmu jika lahir nanti tapi orangtuanya belum terikat pernikahan." saran Jenny lagi, Jenny tidak sadar bahwa Sarah sedikit tidak senang dengan perkataannya itu, menikah dengan Bian, yang benar saja.
Sarah memang mencintai calon anaknya dan Sarah juga tahu kalau Bian juga menyayangi calon anak mereka ini, hanya saja Sarah tidak mau bertingkah bodoh menikah dengan Bian, Bian tidak mencintainya dan Bian hanya terobsesi padanya.
Wanita mana yang mau menjadi pendamping laki laki yang selalu terbayang bayang oleh wajah cintanya di masa lalu, Sarah tidak mau.. benar benar tidak mau.
"Keadaan mu sudah membaik, mulai lah bicarakan soal hubungan mu dengan Bian."
Sarah hanya mengangguk agar Jenny diam, agar Jenny berhenti mulai menasehatinya soal memperbaiki hubungan, Sarah sudah punya rencana yang akan dia laksanakan sesegera mungkin. Yaitu lari dari Bian, meninggalkan Bian.
Sarah tidak sabar menunggu hari itu tiba, Sarah akan segera lepas dari cengkraman Bian, dan kali ini Sarah tidak butuh bantuan orang lain, Sarah akan melakukannya sendiri.. apapun resikonya Sarah sudah siap menerimanya.
"Kenapa kau melamun Sarah?" tanya Jenny dikala melihat Sarah cukup lama termenung, "Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?"
***
"Selama aku tak ada kau harus mengawasi Sarah, aku merasa curiga padanya, ku rasa ia tengah merencanakan sesuatu untuk lari dari ku." dengus Bian tak senang, Sarah tidak pandai menyembunyikan sesuatu, Bian bisa melihat bahwa Sarah selalu nampak berpikir, dan Bian curiga bahwa Sarah sedang mencari celah untuk kembali melarikan diri.
"Baik tuan.." sahut Dave menurut.
Tanpa keduanya sadari Sarah mendengar pembicaraan mereka, tangannya terkepal menahan emosi, kenapa Bian selalu tahu apa yang akan ia lakukan?
Kapan ia bisa membodohi Bian?
Dengan cinta kah? Haruskah Sarah berpura pura telah jatuh hati pada Bian agar Bian lengah? Haruskah Sarah melakukan hal itu.
Tidak ada pilihan lain, memang hanya itu yang bisa ia lakukan, apapun akan Sarah lakukan demi membebaskan dirinya dari Bian.
***
Bian sebenarnya agak gelisah meninggalkan Sarah dalam pengawasan Dave.
Bian khawatir jika Sarah akan melakukan hal nekat, Bian tahu sekali jalan pikiran Sarah yang amat sangat membuatnya jengkel.
Bian mendongak ketika melihat pintu ruangannya terbuka, Bian agak terkejut ketika melihat siapa yang datang.
"Maaf Pak saya tidak bisa mencegahnya untuk masuk." ujar sekretaris baru Bian itu, Bian mengangguk dan menyuruhnya kembali bekerja.
Bian memperhatikan Sarah yang berjalan santai menuju sofa dan duduk di sana sembari menselonjorkan kakinya ke atas meja.
"Ada apa kemari, kau kan sudah tidak bekerja lagi.. sebaiknya kau beristirahat di rumah." ujar Bian bangkit dari posisinya dan mendekati Sarah.
"Memangnya aku tidak boleh kesini, aku tahu aku bukan istrimu.. tapi aku sedang hamil anakmu dan anakmu sedang merindukan mu makanya aku kemari." sahut Sarah agak ketus, ia melirik sinis pada Bian yang sudah duduk di sebelahnya.
"Kau bisa kemari kapanpun kau mau babe." Bian mengusap usap puncak kepala Sarah dan membawa Sarah bersandar ke dadanya, "Mungkin anak kita tahu bahwa ayahnya juga sedang tidak dalam mood yang baik sehingga ia ingin datang untuk menghibur ku."
Dalam diam Sarah mencibir, yang benar saja.. Bian terlalu percaya diri. Namun Sarah akan membiarkannya, terserah Bian akan berpikir apa yang terpenting Sarah hanya harus membuat Bian terkecoh.
Sarah dalam hati berkata pada dirinya sendiri, lihat saja nanti.. jikalau dirinya sudah lepas dari Bian, ia tidak akan lagi pernah muncul dihadapan Bian untuk selamanya.
Soal anaknya, Sarah bisa mengurus anaknya nanti walau tanpa adanya Bian, malah menurutnya itu lebih baik, ya.. itu lebih baik.
Tunggu saja Bian..
Tunggu..
***
"Kapan kita akan ke taman hiburan Bian?" tanya Sarah ketika Bian tengah mengusap usap kepala Sarah lembut, Bian melepaskan pelukannya dan menatap mata Sarah lamat lamat.
"Kau benar benar ingin kesana babe?" Bian memperhatikan dengan serius raut wajah Sarah yang mendadak berubah, Sarah cemberut dan memicing sinis pada Bian.
"Kalau tidak boleh kesana yasudah!" tukas Sarah agak menaikan nada suaranya.
Bian menghela nafas berat, "Bukan maksud ku untuk melarangmu kesana, baiklah.. kita akan kesana besok, sekarang tidurlah ini sudah larut malam." Bian kembali membawa Sarah kedalam pelukannya, membelai kembali kepala Sarah dengan lembut, "Tidurlah.."
Sarah terlihat mulai tenang dan mulai memejamkan matanya, berusaha untuk tertidur.. dalam diam Sarah memikirkan cara untuk melarikan besok.
Besok ia akan bebas dari Bian, besok Sarah akan bisa pergi sejauh jauhnya dari Bian. Bebas dari neraka menjijikan ini, Sarah akan melepaskan dirinya dari cengkraman Bian yang mencekik hidupnya.
***
Bian menatap Johan yang tengah terlihat cemberut, Bian menatap Johan serius. "Aku butuh bantuan mu Jo."
Johan menghela nafas berat, "Ada apa?"
"Aku ingin kau pinjamkan aku beberapa pengawalmu, Sarah ingin pergi ke taman hiburan, tapi mereka akan bertugas dengan pakaian biasa bukan pakaian hitam ala pengawal itu." Bian menyesap kopinya dengan hikmat, Bian sudah menyiapkan segalanya untuk pergi hari ini.
"Ya kau bisa lakukan apa yang kau mau, aku sedang tidak dalam mood yang baik, aku juga akan pergi ke Jepang besok untuk urusan bisnis." Johan mengusap wajahnya kasar, kantong hitam di bawah matanya terlihat jelas sekali.
Bian mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
***
"Kalau kau tidak ingin membawaku ke taman hiburan ya sudah kau bisa bilang padaku, jangan membuatku menunggu seperti orang bodoh disini!" Sarah berteriak marah pada Bian melalui ponselnya itu, Sarah sudah siap sejak 3 jam yang lalu namun Bian tidak kunjung kembali dari urusannya yang entah apa itu.
Terdengar helaan nafas Bian, Sarah mendengus mendengarnya.
"Jangan marah marah dulu, keluarlah.. aku sudah di luar, kita akan berangkat sekarang." suara Bian yang ia dengar dari ponselnya itu sedikit dapat membuatnya tersenyum, Sarah dengan cepat bergerak keluar rumah dan mematikan Bianbungan teleponnya dengan Bian.
Senyumnya semakin terkembang ketika melihat mobil Bian yang sudah terparkir manis di luar gerbang, jendela mobil itu terbuka dan Bian melambaikan tangannya pada Sarah.
Sarah sedikit agak berlari menghampiri Bian, masuk ke dalam mobil dengan senyum riangnya.
"Aku pikir kita tidak jadi pergi." ujar Sarah masih dengan senyuman lebarnya, Sarah menatap Bian riang.
"Sudah siap untuk berangkat?"
Sarah mengangguk penuh semangat, ia mencengkram seatbeltnya dengan erat karna betapa bahagiannya ia bahwa ia bisa melancarkan rencananya untuk lari dari Bian.
***
Mereka sampai di taman hiburan, Bian selalu menggenggam tangannya erat erat, Sarah tak habis pikir kalau begini bagaimana caranya dia bisa pergi melarikan diri?
Bian menatap gerak gerik Sarah dalam diam, senyum sinis terbit di wajahnya karna menyadari niatan Sarah untuk melarikan diri darinya.
"Ada apa, kamu kelihatan tidak nyaman?" tanya Bian basa basi, ia jelas tahu kenapa Sarah seperti itu.
Sarah mendesah pelan, "Ah.. aku hanya merasa ingin buang air kecil, aku akan ke toilet sebentar." Sarah berusaha melepaskan pegangan tangan Bian pada tangannya.
Bian membiarkan tautan tangan mereka terlepas, "Kau tidak ingin aku temani?" sekali lagi Bian berbasa basi, Bian sudah sangat tahu bahwa Sarah akan menolaknya.
Sarah gelagapan, ia mengibas ngibaskan tangannya cepat, "Tidak usah, aku bisa sendiri." Sarah tersenyum canggung dan berjalan meninggalkan Bian, napasnya sedikit agak memburu, akhirnya ia akan lepas dari Bian.
Ia tidak bisa kabur dari rumah Bian karna begitu ketatnya pengawasan dari orang orang yang bekerja pada Bian, namun kali ini.. tidak ada pengawal, tidak ada yang akan bisa mengganggu rencananya.
***
Bian menoleh kearah lain, melihat seorang pria dengan kemeja kuning berjalan mengikuti Sarah, Bian melihat pria itu mengacungkan ibu jarinya padanya, Sarah.. tidak akan lepas darinya.
Bian hanya perlu menunggu, melihat apakah Sarah akan kembali kepadanya dengan sendirinya atau datang kepada dirinya dengan paksaan lagi.
***
Sarah masuk kedalam toilet, ia melihat pantulan wajahnya di cermin, Sarah mengepalkan tangannya kuat kuat. "Ayo Sarah, kau pasti bisa!" gumam Sarah menyemangati dirinya sendiri.
Sarah menarik nafas panjang dan mengekuarkannya perlahan, Sarah akan berhati hati, ia akan melarikan diri dari Bian dengan hati hati.
Sarah keluar dari toilet dengan langkah pelan, banyak orang yang berlalu lalang disekitarnya, Sarah berjalan kearah lain, bukan kearah tempat dimasa Bian menunggu melainkan kearah lain, Sarah menengok ke belakang sesekali, memastikan apakah Bian mengikutinya atau tidak.
Sarah sedikit tersenyum ketika melihat bahwa Bian tidak ada di belakangnya, kali ini rencananya berhasil.
Baru saja Sarah ingin menyetop taksi tapi sebuah sapu tangan tiba tiba saja membekap hidung dan mulutnya, membuatnya kesulitan bernafas dan menghirup aroma obat yang berada di sapu tangan itu.
Sarah berusaha memberontak sebisa mungkin, namun apa daya ia tidak sanggup melawan, pandangannya justru memburam dan perlahan lahan semuanya gelap.
***
Bian menunggu di mobil, ia melihat anak buah Johan datang menghampirinya dengan menggendong Sarah, Bian tersenyum sinis saat melihat kondisi Sarah yang pingsan.
Seandainya Sarah menurut, Bian tidak akan melakukan hal seperti ini, Sarah terlalu terobsesi untuk lari darinya, padahal Bian memberikan segalanya untuk Sarah.
***
Sarah mengerjap ngerjapkan matanya gelisah, ketika kelopak mata itu terbuka sontak ia menjerit ketika melihat bahwa ia kembali ke kamar yang sama, kamar yang ingin sekali ia tinggalkan.
Kenapa.. kenapa ia kembali gagal lari dari Bian? Kenapa?!
Sarah menoleh ketika pintu kamar terbuka, Bian masuk dengan wajah maBiannya. Sarah tahu bahwa sekarang Bian pasti akan menumpahkan kekesalannya.
"Kenapa kau mencoba lari?" tanya Bian tanpa basa basi.
Sarah berdecih, "Kau jelas tahu apa alasan ku! Jangan pura pura bodoh!!"
Bian menggeram, ia mengacak acak rambutnya gemas, "Kenapa Sarah, kenapa kau selalu mencoba untuk lari dariku. Katakan alasannya.."
Sarah bangkit, ia mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang, "Karna kita tidak saling mencintai, aku ingin lepas dari orang yang tidak aku cintai bahkan tidak mencintai aku."
Bian tersenyum sinis, matanya menajam menatap Sarah. "Tidak mencintaimu? Kau pikir aku mau seatap denganmu, menidurimu, mengekangmu atas dasar apa? Hanya untuk kepuasan semata, wanita diluar sana banyak Sarah bukan hanya kau! Tapi aku memilihmu karna aku mencintaimu sialan!"
Sarah menggelengkan kepalanya tidak percaya, ia tidak mudah percaya. "Kau hanya terobsesi padaku karna aku ini kembaran Farah!"
Bian semakin geram, ia mendekat dan mencengkram lengan Sarah. "Persetan dengan Farah! Dia masa lalu ku, aku memang mencintai nya tapi itu dulu! dan aku akui aku memang tertarik pada mu pada awalnya karna wajah kalian yang mirip, tapi sikap kalian bertolak belakang. Yang aku cintai sekarang ini kau Sarah, kenapa kau sulit sekali mengerti?!”
Sarah terdiam membeku ia tidak tahu harus berkata apa dan harus bereaksi apa.
Haruskah ia merasa senang atau sedih?
Sarah tidak tahu, kejujuran Bian ini justru membuatnya bingung.
Bian.. mencintainya?
Sungguhkah?
__ADS_1
Sarah menatap tidak percaya kearah Bian, ia tidak bisa mempercayai Bian begitu saja bukan?
Bian itu penuh dengan tipuan, dia bisa melakukan apapun termasuk membohongi Sarah soal perasaannya, Bian tipikal orang seperti itu.
Bian melihat raut wajah Sarah yang berubah ubah, ia tahu bahwa wanita itu tidak mempercayai pengakuannya, ya.. dia memang patut untuk di curigai.
“Kau masih juga tidak bisa percaya padaku?” ucap Bian frustasi, “Tidak kah kau mengerti, bila aku memang tidak mencintaimu, aku pasti tidak akan mau mengurus mu dan anak yang tengah kau kandung, aku bisa saja membunuh kalian berdua jika aku mau, aku juga tidak akan pernah memanjakan mu aku justru akan memperlakukan selayaknya pelacur, ku pakai lalu ku tinggalkan semau ku, tapi aku tidak pernah meninggalkanmu! Karna apa? Karna aku mencintaimu Sarah! Mengertilah.. ku mohon.”
Sarah menggelengkan kepalanya, ia masih keras kepala, masih tetap berpegang teguh dengan pendapatnya, “Kau melakukannya karna kau menginginkan anak ini, kau menginginkan penerus, aku tahu itu.”
Bian berdecih, ia meremas rambutnya gemas. “Kalau aku memang hanya ingin punya keturunan, kenapa aku harus memiliki keturunan darimu? Banyak wanita diluar sana yang lebih segalanya darimu, tapi aku ingin anak darimu karna aku mencintai mu Sarah, aku hanya mau memiliki keturunan darimu!”
Sarah masih berteguh pada pendirian nya, Bian memang tidak harus dipercaya, Bian sangat pintar berbohong.
“Kau masih tidak percaya juga?” Bian sudah tidak tahan lagi, ia sudah tidak sanggup menahan rasa amarahnya.
“Aku melakukan segalanya bagimu, bagi anak kita, tapi kau tidak pernah peduli, aku selalu memperhatikan yang terbaik bagimu, memperlakukan mu bagaikan putri raja tapi apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan padaku? Kau terus saja membantah, mengabaikan bahwa aku ini kekasihmu, mengabaikan bahwa aku ayah dari anak yang kau kandung, kau meninggalkan ku di hari pernikahan kita, kau mengancam ku dengan anak kita, pernah kah kau sadar bahwa yang ku lakukan selama ini tidak pernah bermaksud untuk menyakiti mu?”
Sarah terdiam, ia kehilangan kata kata namun dalam sekejap ia kembali menatap Bian dengan tatapan menantangnya.
“Kau selalu mengancamku, mengancam akan menyakiti orang terdekatku!”
Bian menghela nafas berat, “Terserah padamu, yang pasti kau tidak akan pernah bisa kabur dari ku.”
***
Brak!
Bian melempar barang barang yang berada di atas meja kerjanya, ia kesal setengah mati, bagaimana tidak? Cintanya dianggap hanya bualan dan obsesi semata, itu menyakitkan, harus berapa lama lagi Bian terus menerima penolakan?
Apa ia salah mengharapkan cinta dari Sarah?
Apa ia salah mengharapkan hidup bahagia bersama Sarah dan anak mereka?
Apa itu salah?
Bian hanya ingin hidup bersama Sarah yang ia cintai, hidup bahagia dan merawat anak mereka bersama sama.
Namun kenapa hal seperti itu sangat sulit Bian gapai?
Atau memang ia harus melepaskan Sarah meski Bian benar benar sangat mencintai Sarah dari lubuk hatinya yang paling dalam.
***
Sarah merenung menatap jendela yang tertutup rapat oleh tirai berwarna putih gading, ia terus terbayang bayang dengan ucapan Bian tadi.
Haruskah ia percaya atau mengabaikannya seperti biasa?
“Nyonya..”
Sarah terperanjat, ia menoleh dan mendelik sinis pada Dave yang mengintrupsi renungannya.
“Saya tahu saya memang tidak pantas mengatakan ini tapi saya hanya merasa tidak tahan lagi, tidak kah Nyonya bisa melihat cinta Tuan Bian yang besar untuk Nyonya, ya.. memang cara Tuan menyampaikan rasa sayangnya salah, aku pun mengalami hal yang sama seperti Tuan, tapi percayalah Nyonya bahwa Tuan memang benar benar mencintaimu.”
Sarah menggelengkan kepalanya, “Jangan sok mrnasehatiku, kau pikir kau sudah lebih baik? Apa kau tidak sadar bahwa kau juga menyakiti Jenny hah?!”
Dave terdiam, ia tahu ia bersalah, tapi.. apakah ia tidak bisa mencoba untuk mrmperbaiki kesalahannya?
“Setidaknya aku berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang ku buat, dan aku juga berharap Jenny akan memberikan aku kesempatan, aku hanya ingin anda juga membuka hati anda untuk Tuan Bian, Tuan Bian tidak pernah main main soal perasaannya terhadap anda.” Dave mrmbungkukan punggungnya sedikit, “Saya permisi.”
***
Sudah seminggu sejak hari itu, Sarah tetap diam membiarkan Bian melakukan apa yang dia mau, memang Bian tidak melakukan hal yang buruk terhadapnya dan juga Bian sangat tenang akhir akhir ini.
Tapi entah mengapa Sarah justru merasa ada yang aneh, Sarah malah merasa curiga akan Bian, Sarah merasa ada yang sedang Bian rencanakan.
“Kenapa kau diam saja disini, kenapa tidak masuk kedalam? Disini dingin.” Bian duduk disebelah Sarah yang masih asik memandang tanaman bunga yang mekar dengan indahnya.
“Terus berada di dalam hanya membuatku muak.” Sarah memang bosan terus di kamar, taman ini lah satu satunya tempat yang bisa menjadi tempat hiburannya dari kebosanan yang merajalela.
“Maaf karna aku tidak bisa membawamu keluar, aku hanya khawatir kau akan kenapa kenap—”
“Berhentilah berpura pura bersikap manis kepada ku, aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu!” Sarah menyela, sungguh ia muak dengan Bian yang bertingkah sok manis terhadapnya.
Bian berdecih, “Kau selalu saja curiga terhadapku, sekeji itu kah aku dimatamu? Tidak pernah kah kau berpikir bahwa aku melakukannya karna aku tulus menyayangimu, bukan atas dasar maksud apa apa.” nada suara Bian memelan, Bian mengalihkan pandangannya ke langit yang sedikit mendung, Bian berusaha menahan air matanya, laki laki tidak boleh mudah menangis bukan?
“Aku tidak percaya dan tidak akan pernah percaya!” Sarah berdiri dan melangkah meninggalkan Bian yang masih memandang langit.
Bian berkedip ketika setetes rintik hujan mengenai pipinya, “Wah.. sepertinya alam mengerti dengan suasana hatiku saat ini, sungguh menyedihkan.”
***
Hari ini Sarah kembali berulah, ia mengancam tidak akan mau makan jika tidak di ijinkan keluar dari rumah.
Bian tidak habis pikir, apalagi sebenarnya yang Sarah inginkan? Bian hanya ingin Sarah tetap aman dirumah tapi kekeras kepalaan Sarah sungguh membuatnya kesal.
“Aku bilang aku ingin keluar, jangan halangi aku!” teriak Sarah pada pengawal yang berjaga di pintu.
Bian berjalan mendekati Sarah dengan segumpal kekesalan, “Apa lagi mau mu kali ini?”
Sarah menoleh pada Bian dan menunjuk kedua pengawal itu dengan jari telunjuknya yang lentik. “Suruh mereka minggir, aku ingin keluar!”
Bian menggeleng tentu saja ia tidak akan menuruti kemauan Sarah, “Kau hanya bisa keluar dari rumah ini bersama ku, demi keamanan mu dan juga anak kit—”
“Persetan dengan semua itu! Aku muak!” Sarah menjerit, ia mendekati Bian dan memukul bahu Bian sekuat yang ia bisa. “Lepaskan aku, aku benci bersama mu!”
Bian terkekeh sinis, ia sudah muak di tolak, ia sudah muak berusaha untuk meyakinkan Sarah bahwa ia mencintai wanita itu, ia juga sudah tidak sanggup lagi rasanya memperjuangkan Sarah.
“Baiklah, kau mau lepas dariku bukan? Lahirkan anak ku itu dengan sehat, maka setelahnya kau bisa pergi sesuka hatimu tanpa membawa anak ku, jika suatu saat kau ingin datang menemuinya aku tidak akan melarang mu, yang aku mau kau cukup melahirkannya dengan sehat setelah itu terserah padamu, aku menyerah untuk mempertahankan mu.”
Bian berbalik meninggalkan Sarah yang termenung akan kata kata darinya, Bian berusaha kuat untuk tidak meneteskan air matanya, ya.. ia berhasil, berhasil untuk menahan air matanya hanya sampai kamarnya saja, setelah menutup pintu rapat rapat air matanya tak lagi sanggup ia bendung, ia sudah tidak lagi sanggup menahannya.
Salahkah Bian jatuh cinta? Apakah orang sepertinya tidak berhak jatuh hati dan ingin memiliki?
Bian tidak tahu bagaimana untuk memperlakukan seseorang yang ia cintai agar mencintainya juga, Bian tidak tahu bagaimana cara untuk mempertahankan seseorang di sisinya dengan baik dan benar, Bian tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya agar di percayai, Bian tidak tahu caranya bagaimana untuk merelakan, melupakan cintanya.
Yang lebih Bian tidak ketahui adalah bagaimana cara meminta kepada seseorang untuk tetap berada disisinya? Bagaimana?
Bian hanya tahu bahwa dengan kuasanya semua orang akan tetap berada disisinya, tapi Sarah tidak, semakin Bian menekan Sarah dengan kekuasaannya maka semakin jauh Sarah darinya, Bian benci itu.
Lalu sekarang.. apakah sekarang adalah saatnya Bian untuk menyerah? Bian merasa seperti itu, terserah pada Sarah langkah apa yang akan wanita itu ambil, yang pasti Bian akan menjaga anak mereka nanti meski Sarah pergi meninggalkannya sekalipun.
Setidaknya dengan anak itu Bian akan bahagia, karna bagaimanapun anak itu adalah anaknya dengan Sarah, wanita yang ia cintai.
***
Sarah termenung menatap jendela kamarnya yang terbuka, ia masih memikirkan apa yang Bian katakan padanya sebelumnya.
Benarkah Bian akan membebaskannya? Benarkah Bian akan melepaskannya asalkan anak yang ia kandung ini lahir dengan selamat?
Tapi entah mengapa Sarah justru tidak merasa senang, Sarah justru merasakan hal yang lain, Sarah merasa takut.. takut jika memang ia pergi meninggalkan anaknya bersama Bian dan ketika ia kembali ingin menemui anaknya anaknya justru membencinya, menganggapnya ibu yang tidak bertanggung jawab karna sudah menelantarkan anaknya sendiri.
Sarah tidak ingin di benci oleh anaknya tapi Sarah juga tidak ingin bersama Bian, bersama Bian membuatnya merasa sesak, merasa tertekan.
***
“Minum ini, ini baik untuk anak ku.” Bian memberikan Sarah segelas susu hamil rasa coklat, Bian tahu dengan jelas bahwa susu hamil itu tidaklah enak rasanya, diam diam Bian pernah mencoba meminum susu itu setelah melihat Sarah mual mual karna meminum susu itu.
“Kau tahu bukan kalau susu itu rasanya tidak enak? Aku tidak mau meminumnya lagi.” Sarah menolak, percuma saja ia meminum susu itu jika ujung ujungnya susu itu akan ia muntahkan.
“Kalau ku bilang minum ya minum, ini juga demi kebaikan anak kita!”
Sarah berdecak sebal namun ia akhirnya menuruti kemauan Bian, meminum susu itu dengan terburu buru hingga tandas tak bersisa.
Sarah terdiam dengan raut wajah menahan mual, sungguh rasa aneh dari susu itu membuat Sarah kesal rasanya.
Sarah sudah bersiap akan muntah, ia yakin dalam hitungan detik ia akan segera muntah.
Dengan segera Sarah bangkit berdiri, hendak menuju wastafel, namun alih alih menuju wastafel Sarah justru ditarik oleh Bian dan dengan cekatan Bian mencium bibir Sarah, mengeksploitasi bibir Sarah sesuka hatinya.
Entah mengapa Sarah tidak marah, tidak berontak dan juga tidak berteriak, ia hanya diam saja dan merasakan anaknya di dalam perutnya bergerak gerak penuh semangat.
Mungkinkah.. anaknya ingin sekali Sarah dan Bian saling dekat seperti ini?
“Masih mual?” tanya Bian ketika tautan bibir mereka telah terlepas.
Sarah tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya diam dan melanjutkan langkahnya, namun kali ini bukan ke wastafel melainkan ke taman belakang, Sarah ingin menenangkan debaran jantungnya dan menenangkan anaknya yang bergerak gerak bersemangat di dalam perutnya.
“Aku tidak boleh seperti ini, sebentar lagi aku akan pergi, jangan tergoyahkan Sarah.. jangan..”
—
Sembilan bulan, usia kandungan Sarah sudah Sembilan bulan tiga hari, tinggal menunggu waktunya saja untuk melahirkan anaknya.
Selama hamil besar Sarah merasakan Bian lebih mengawasinya, jika biasanya Bian menyuruh para pengawalnya untuk mengawasi Sarah maka kali ini berbeda, Bian yang mengawasi Sarah dengan mata kepalanya sendiri.
Sarah bisa merasakan itu, Sarah tahu bahwa Bian tidak bisa melepaskan fokus laki laki itu terhadap dirinya, saat Sarah berjalan menuruni tangga saja Bian akan menatapnya sangat intens dan berlari menghampirinya seolah olah sangat takut Sarah akan terjungkal karna tidak bisa melihat anak tangga akibat perutnya yang sudah sangat besar.
Sarah tersentuh, tentu saja Sarah tersentuh dengan perlakuan Bian tersebut tapi hanya saja Sarah masih merasa gamang.
Sarah masih berpegang teguh pada pendiriannya bahwa ia akan tetap pergi meninggalkan Bian berserta anaknya nanti.
Egois? Memang. Sarah tahu bahwa sikapnya sangatlah egois, tapi Sarah juga harus memikirkan perasaannya, meninggalkan anaknya menurut Sarah bukanlah masalah besar karna Bian pasti akan menyayangi anak mereka nanti, Sarah harus pergi untuk hidupnya.
***
"Aku ada urusan penting di kantor, jangan melakukan hal hal bodoh yang hanya akan membahayakan mu dan anak kita, cukup tenang dikamar ini dan panggil saja pelayan jika kau butuh sesuatu." Bian memakai jas kerjanyanya, ia menghampiri Sarah dan mengecup kening lalu perut Sarah secara bergantian, "Aku pergi."
Sarah berdecak pelan, ia memandang perutnya yang sudah sangat membesar itu. "Kenapa kau selalu bergerak kegirangan tiap kali ayah mu mencium ataupun menyentuh mu, hmm?"
Jujur selama hamil anak dalam kandungannya selalu saja bergerak gerak dan menendang kuat kuat tiap kali Bian menyentuh perutnya, Sarah tahu bahwa anak yang dikandungnya sangat menyayangi Bian, ya.. seorang anak pasti menyayangi Ayahnya bukan?
***
Bian menandatangani berkas berkas yang harus di tanda tanganinya, pikirannya melayang layang memikirkan Sarah, Sarah hanya tinggal menunggu waktu melahirkan saja.
Yang Bian takutkan adalah bagaimana jika Sarah tetap akan pergi meninggalkan dirinya dan anak mereka nanti, Bian masih bekum bisa menebak apa yang akan Sarah lakukan ke depannya karna Sarah tidak banyak tingkah, ia cenderung diam dan menurut, tidak terlihat sedang merencanakan sesuatu.
Bian bukan hanya takut kepergian Sarah akan berdampak pada hatinya saja tapi juga pada anak mereka, Bian tidak ingin suatu saat nanti anaknya selalu merengek bertanya siapa ibunya dan dimana ibunya.
Bian mendecak sebal, sepertinya ia harus segera kembali kerumah dan membicarakan masalah itu dengan Sarah secara baik baik.
Ya, itu pilihan terbaik.
***
"Ada apa kau mengajak ku bertemu disini, kau tidak takut suami mu akan mengira kita berselingkuh?" Taeran menatap Sarah dengan tatapan gelinya, ia senang melihat pipi Sarah yang tembam itu menandakan Sarah sehat dan bahagia selama kehamilannya.
"Saat itu Bian tidak melakukan hal aneh padamu kan Tae?" Sarah meneguk coklat hangatnya perlahan namun fokus Sarah tetap pada Taeran.
"Tentu saja tidak, memangnya apa yang bisa dia lakukan padaku? Meski kurus begini, aku tetaplah laki lak-"
"Aku tahu kau bukan laki laki Tae, saat di villa aku melihat kau sedang berganti pakaian, aku tahu kau itu wanita, kenapa kau berbohong?" Sarah mulai menatap Taeran tajam, "Kau nekat tinggal serumah dengan Johan yang jelas jelas adalah lawan jenis mu dan dan kalian tidak memiliki hubungan apa apa bukan kah itu agak membahayakan untuk mu?."
Taeran awalnya terkejut bahwa Sarah ternyata mengetahui bahwa ia adalah perempuan, namun Taeran dengan segera mengontrol ekspresinya dan tersenyum lebar.
"Tidak usah kau pikirkan toh aku sudah tidak tinggal dengan Johan lagi bukan, dia juga tidak tahu kalau aku ini wanita, tubuhku yang seperti papan ini mampu mengelabuinya haha." Taeran tersenyum lebar, ya.. ia memang pintar sekali menyamar, bukan sekali ini saja ia menjadi laki laki tapi jauh bertahun tahun yang lalu Taeran juga sudah menyamar menjadi laki laki untuk alasan tertentu.
"Ya terserah padamu, aku ingin mengatakan padamu bahwa aku membutuhkan bantuan mu lagi." Sarah sebenarnya merasa malu karna harus merepotkan Taeran lagi, tapi mau bagaimana Sarah tidak punya teman lain yang bisa ia mintai bantuan selain Taeran.
"Kau mau melarikan diri lagi?" sindir Taeran pada Sarah, Sarah hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Tolong bantu aku."
Taeran mendesah malas, "Kalau di pikir pikir kau ini wanita yang sangat egois ya."
***
Bian kesal karna Sarah ternyata pergi keluar tanpa bicara dulu padanya, Bian khawatir terjadi suatu hal dengan Sarah di luar sana tapi ternyata Sarah justru asik berbincang dengan Taeran, Bian curiga sebenarnya apa hubungan Sarah dan Taeran sebenarnya.
Bian bingung apakah ia harus masuk ke dalam cafe itu dan menghampiri mereka atau tetap diam memantau dari dalam mobilnya terus? Bian ingin masuk dan memukul Taeran tapi Bian teringat bahwa Sarah pernah meminta kepadanya untuk tidak menyakiti Taeran, laki laki kurus itu menyebalkan sekali.
Bian kembali menoleh melihat apa yang Sarah dan Taeran lakukan didalam sana, alis Bian terangkat ketika melihat Taeran mendadak mendekat sekali pada Sarah dan merangkul Sarah.
Bukan hanya disitu saja tapi Taeran juga mengusap usap lembut perut Sarah, sungguh pandangan yang membuat Bian merasa panas, sudahlah.. lebih baik ia pergi saja toh sepertinya Sarah terlihat baik baik saja dengan Taeran.
Baru saja Bian ingin melajukan mobilnya tiba tiba terdengar suara riuh darinarah cafe tersebut, beberapa wanita berteriak dan salah satu pelanggan di cafe itu berlari keluar dan meneriaki taksi yang lewat agar berhenti.
Bian mengernyit, ia menoleh kembali dan mendapati Sarah sudah di tuntun oleh Taeran keluar dari cafe, Bian bisa melihat wajah kesakitan Sarah, sekarang kah waktunya?
Bian dengan terburu buru membuka pintu mobilnya dan berlari menghampiri Sarah, "Sayang!" seru Bian khawatir, dia mengambil alih Sarah dari Taeran, dan dengan terburu buru membawa Sarah ke mobilnya.
***
Suasana rumah sakit itu terasa mencekam, bagaimana tidak? Taeran yang berada disana bisa melihat betapa buruknya mood Bian saat ini, tidak ada yang berani menyentuh ataupun mengajaknya bicara, Johan saja hanya berdiri di samping Bian dalam diam.
Taeran agak canggung bersama dua laki laki itu, bukan Bian yang membuatnya canggung tapi Johan yang membuatnya merasa tidak nyaman karna sejak tadi Johan terus menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.
Suara langkah kaki yang terburu buru terdengar, Jenny datang menghampiri Taeran dan langsung menanyakan keadaan Sarah.
"Dia masih di dalam."
Tak lama pintu ruang bersalin itu terbuka, seorang dokter keluar dengan senyum lebarnya. "Suami pasien?"
Bian sontak bangkit berdiri, "Saya suaminya."
"Silahkan masuk pak, Bapak sudah bisa melihat istri dan anak bapak di dalam." Dokter itu kembali masuk kr dalam di ikuti oleh Bian.
Bian agak tidak sabaran saat masuk, ia sedikit berlari menghampiri Sarah yang terbaring di bangsal, wajah Sarah pucat sekali dan tubuhnya basah oleh keringat.
"Sayang.." bisik Bian pada Sarah lembut, ia mengusap peluh di kening Sarah. "Kau baik baik saja?"
Sarah hanya mengangguk pada Bian sekilas, Sarah terfokus pada perawat yang tengah membawa anak mereka untuk di bersihkan.
Sarah kembali menoleh pada Bian dan menatap Bian serius, "Kau berjanji akan merawat dia dengan baik kan?"
Alis Bian terangkat, untuk apa Sarah bertanya? Sudah pasti Bian akan menjaga anaknya dengan baik.
"Kau masih berpikir untuk pergi meninggalkan kami?" dari nada Bian bertanya sudah terdengar sekali bahwa ia tidak senang, kenapa Sarah egois sekali padahal ia sudah menyandang status sebagai seorang ibu.
Sarah mengangguk sebagai jawaban.
Bian hanya berdecih sinis dan mengalihkan pandangannya kearah lain, kekeras kepalaan Sarah membuatnya kesal setengah mati.
"Jangan harap saat kau kembali nanti dan anak mu tidak mengenalimu aku akan membantu mendekatkan mu padanya, tidak akan."
***
Sarah sudah melihat wajah putranya, tampan percis sekali wajahnya seperti Bian.
Sarah tetap akan pergi, ya.. seharusnya hari ini dia pulang kerumah Bian bersama dengan putra mereka, namun Sarah justru pergi lebih dahulu sebelum Bian tiba untuk menjemputnya, tujuan Sarah bukan rumah Bian tentu saja.
***
Bian panik bukan main ketika ia datang keruang rawat Sarah bersama dengan putranya, Sarah sudah tidak ada. Bangsal di kamar itu pun sudah rapih, pikiran Bian mulai macam macam, ia berpikir pasti Sarah sudah pergi meninggalkannya dan putranya untuk selama lamanya.
Mata Bian terasa perih namun ia menahannya, ia tersenyum melihat putranya yang terlelap dalam gendongannya.
"Kita harus pulang sayang, meski tanpa Mama mu." desis Bian dengan suara pelan, ia harus kuat demi putranya, putranya membutuhkannya, Bian tidak boleh lemah.
Selama perjalanan menuju ke rumah Bian terus saja memikirkan Sarah, memikirkan kenapa Sarah tega pergi tanpa salam perpisahan? Tanpa mengecup kening putra mereka terlebih dahulu?
Apakah putra mereka tidak ada artinya bagi Sarah?
Sebenci itu kah Sarah terhadapnya dan juga anak mereka?
Bian memarkirkan mobil tepat di halaman rumahnya yang besar, ia memasuki rumah bersama putranya, hilang sudah angan angannya untuk kembali memasuki rumah bersama dengan Sarah yang menggedong putra mereka, yang ada.. Bian hanya berdua saja dengan putranya tanpa Sarah, cintanya.
Bian membaringkan putranya di box bayi yang sudah ia sediakan jauh jauh hari, Bian berpikir.. apa yang akan ia lakukan ketika putranya terbangun dan kehausan nanti?
Bian terduduk lemas di samping box bayi putranya, masih sangat sakit hati oleh apa yang telah Sarah lakukan, Bian tidak menyangka Sarah akan tetap meninggalkannya begitu meski sudah ada anak diantara mereka.
Suara tangisan bayi membuat lamunan Bian buyar, apa yang ia takutkan benar terjadi, putranya terbangun dan menangis.
Bian dengan terburu buru membawa putranya itu kedalam pelukannya dan menimangnya pelan pelan, namun tangisan itu tetap tidak berhenti, yang ada justru semakin mengencang.
Melihat wajah putranya yang memerah dan mengeluarkan banyak air mata membuat Bian juga ikut meneteskan air mata, apa yang harus ia lakukan?
Bian mendongakkan kepalanya menatap langit langit kamar berharap air matanya tidak meluncur semakin banyak, namun air matanya justru semakin banyak dan ia mulai mengeluarkan suara isakan, Bian tidak sanggup menghadapi ini ia tidak sanggup.
Bian menoleh kembali kepada putranya masih dengan tangisan hebatnya, ketika Bian melihat putranya ia mendapati putranya itu sudah tidak lagi menangis namun hanya menatapnya tepat dimata, Bian merasakan gelenyar aneh di dadanya karna tatapan dari putranya itu.
"Kamu bisa merasakan kesedihan Papa heum?" Bian tersenyum maBian, "Papa tidak ingin menangis tapi air mata Papa terus saja keluar, bagaimana ini? Apa yang harus Papa lakukan, Papa tidak sanggup ditinggalkan oleh Mama mu, ini menyakitkan."
Bian semakin menangis histeris, membiarkan putranya terdiam melihatnya menangis hingga terisak isak.
Bian terlalu sibuk menangis hingga tidak menyadari ada seseorang yang berjalan mendekatinya dan memeluknya, membawa kepala Bian masuk ke ceruk lehernya.
Tubuh Bian menegang, tangisnya justru semakin menjadi, ia hapal aroma ini.. ini adalah aroma tubuh Sarah, Sarahnya kembali? Sarahnya tidak jadi meninggalkannya dan putra mereka?"
Bian menjauhkan kepalanya dan menatap wajah orang yang memeluknya dan benar saja itu adalah Sarah, "Kau tidak jadi pergi?" Lirih Bian.
Sarah menggeleng, "Aku pergi.. awalnya aku memang ingin pergi meninggalkan mu dan putra kita tapi aku kembali berpikir bukankah kalau aku melakukan itu aku akan sama dengan Ibu ku yang meninggalkan ku begitu saja? Aku tahu rasanya besar tanpa orang tua, itu menyakitkan.. jadi aku memutuskan untuk kembali setelah pergi ke makam ibu ku dan mengatakan kepadanya bahwa aku tidak sama seperti dirinya, aku dan dia berbeda, aku menyayangi putra ku."
Bian tersentuh dengan perkataan Sarah, ia mengangguk dan mengecup kening Sarah, Bian ingin mencium bibir Sarah namun tangisan putra mereka sudah kembali terdengar, putra mereka sudah benar benar kehausan.
"Sepertinya Aldrich kehausan." Sarah mengambil alih putranya dari gendongan Bian, ia berjalan menuju sofa dan duduk disana sembari membuka kancing bajunya satu per satu.
"Aldrich?" tanya Bian sembari menghapus sisa sisa air matanya, "Apa itu nama putra kita?"
Sarah menoleh pada Bian dan mengangguk, "Ya.. Aldrich Leonardus. Nama yang bagus kan?"
Bian mengangguk sebagai jawaban lalu alisnya naik sebelah ketika melihat Sarah tanpa segan menyusui Aldrich di depannya, "Kau tidak segan menyusui Al di depan ku?"
Sarah menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Untuk apa aku segan kau kan sudah pernah melihat ku tanpa busana, dan aku akan belajar mencintai mu Bian."
Bian kembali tertegun, ia merasa bagai ada kupu kupu yang berterbangan disekitar perutnya, ia dengan riang duduk di sebelah Sarah dan menarik kepala Sarah untuk menghadapnya, dengan gerakan penuh kasih ia meraup bibir Sarah dengan bibirnya, menikmati setiap momen dimana Sarah juga membalas ciumannya, sungguh surga yang selama ini ia impikan.
Sedangkan Sarah sendiri tersenyum disela sela ciumannya dengan Bian, ia tahu Bian sedang sangat berbunga bunga saat ini, dalam hati Sarah berjanji ia akan belajar mencintai Bian dengan sepenuh hatinya.
Ya.. belajar mencintai Ayah dari anaknya.
__ADS_1