Ayah Anak ku

Ayah Anak ku
UNFORGETTABLE PREGNANCY


__ADS_3

Aku melangkahkan kaki ku dengan terburu, tanganku menarik merapatkan cardigan yang ku kenakan karna hawa dingin yanh begitu menusuk kulit, kini sudah pukul 12 malam.


Sungguh sangat tidak biasanya aku berkeliaran dimalam hari, apa lagi dijam segini. tapi ini kondisi genting, ini menyangkut masa depanku.


Aku bersyukur karna tak harus berjalan lebih jauh untuk mencari apotik yang masih buka pada saat ini, karna diseberang sana apotik 24 jam masih buka dan menerima pengunjung yang datang karna memerlukan obat atau semacamnya.


Aku memasuki apotik 24 jam itu, Aku dengan gugup melangkah mendekati petugas apotik yang tersenyum ramah padaku.


“Ada yang bisa saya bantu mba?" tanya petugas itu tanpa sedikitpun berniat memudarkan senyumannya, mungkin sudah menjadi tuntutan baginya untuk ramah pada setiap pengunjung.


Pipiku memerah seketika, rasa malu menghinggapi benak ku, aku merasa malu akan apa yang aku butuhkan saat ini,


“Saya ingin beli tespack." Petugas apotik itu mengangguk, menunjukan tidak reaksi apa apa selain senyuman ramah, aku bersyukur akan itu.


“Mau beli berapa?"


“Lima..”


Walau petugas apotik itu sempat mengernyit, tapi dia tetap membungkus apa yang ku minta dan menyerahkannya padaku tanpa banyak bertanya, karna itu memang bukan urusannya.


Aku menyerahkan enam lembar uang seratus ribu dan pergi begitu saja, aku tidak perduli uang itu lebih. Aku benar benar ingin mengetestnya sekarang, gejala gejala yang ku


alami beberapa hari ini seakan akan mengarah pada gejala itu, aku takut dan panik setengah mati, takut jikalau aku benar tengah hamil saat ini.


Aku menggenggam erat plastik putih yang berada di tanganku, langkahku begitu cepat hingga aku tak menyadari bahwa ada orang yang melintas didepanku, aku tanpa sengaja menabraknya hingga kantung plastik putih yang ku genggam erat itu terjatuh, lima testpack yang berada didalamnya pun ikut terjatuh dan berserakan.


“Maaf..” Aku tidak memperdulikan suara siapa itu, aku justru terburu buru memungut testpack-testpack yang berserakan di aspal dan memasukkannya kembali kedalam plastik putih tadi, lalu berlari tanpa mau memandang wajah siapa orang yang ku tabrak tadi, bahkan kata maaf pun tak


sempat ku katakan.


Aku begitu panik, karna aku takut apa yang tidak aku inginkan itu terjadi, tubuhku bahkan


terasa gemetar dalam tiap langkahku yang tergesa gesa.


***

__ADS_1


Tanganku bergetar, air mataku meluruh turun tanpa dapat ku cegah. Aku.. Aku positif, aku


positif hamil.


Benda pipih digenggaman tanganku ini buktinya, dua garis merah terpampang dengan jelas dilima testpack yang ku beli. Ke lima testpack itu menampilkan hasil yang sama, menunjukan sebuah fakta yang tak dapat ku pungkiri, apalagi diganggu gugat.


Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku takut, usiaku baru menginjak 20 tahun dan aku tengah hamil tanpa suami, aku hamil diluar nikah. ini benar benar sesuatu yang memalukan. Apa yang harus ku katakan pada Mama dan Papa? Haruskah aku memberitahukan ini kepada lelaki brengsek itu? Tapi, aku tidak ingin merusak kebahagiaan kak Lessa yang sangat aku


sayangi, dia adalah kakak ku.


Aku tidak mungkin mengaku ngaku bahwa anak yang ku kandung ini adalah anak lelaki


brengsek itu, semua orang tidak akan percaya, terlebih keluargaku, mereka mengenal si brengsek itu adalah lelaki yang baik, sopan dan santun. Tidak akan ada satu pun yang mau berdiri dipihak ku, aku tak punya bukti apapun.


Tanganku bergerak turun menyentuh perutku, lalu bergerak gerak lembut, bergerak mengelus perut ku yang masih begitu rata.


“Jangan takut sayang, kamu akan aman." Aku berbisik lirih, berusaha tersenyum walau hatiku gusar. Calon bayiku ini tidak bersalah, dia tidak tahu apa-apa. Aku tidak akan membiarkan satu orangpun menyakitinya, aku ingin anakku bahagia, Tidak seperti diriku ini yang sungguh menyedihkan.


Aku diperkosa, diperkosa oleh kekasih kakak ku. Dan kini aku hamil.


sesuatu yang bercampur menjadi satu. Apa yang harus aku lakukan?


***


“Ma, Pa.. Maafin Alexa.." Aku bersujud dibawah kaki mereka, memohon maaf dikaki orang yang telah melahirkan dan membesarkan ku ini. Mama meneteskan air mata, tapi tetap saja tak mau menatap ku.


Dia benar benar membenciku karna semua ini, tapi ini semua bukan salah ku, justru aku lah korban disini.


“Mama tidak menyangka kamu bisa hamil diluar nikah! Katakan siapa Ayah bayi itu Alexa!" Aku terdiam, aku tidak mungkin mengatakannya. Jika aku mengatakannya, bukan hanya aku saja yang hancur tapi kak Lessa juga akan hancur.


“Aku tidak bisa mengatakannya Ma.."


“Dasar kamu anak tidak tahu diri! Mama membesarkanmu bukan untuk menjadi perempuan rusak seperti ini!" Mama berteriak penuh kekecewaan, dia tetap tidak mau menatap ku.


Aku beralih menatap Papa yang tengah mengepalkan tangannya kuat kuat, seakan menahan emosinya agar tidak meluap tiba tiba.

__ADS_1


“Pa—"


“Pergi!"


“Papa.."


“Pergi kau dari sini! Saya bukan Papamu!" Aku terisak, aku beralih pada kak Lessa yang terdiam. Dia hanya terduduk disofa dengan berurai air mata, bisakah aku mengandalkanmu Kak?


“Kak.."


Kak Lessa membuang muka, dia tak mau menatapku sama seperti Mama dan Papa.


Kak, jangan musuhi aku juga kak.. Aku membutuhkan mu.


“Aku bukan Kakakmu!"


Aku semakin histeris menangis ketika mendengar jawaban kak Lessa. Aku benar benar dibenci, aku benar benar hancur! tak ada satupun diantara mereka yang mau menerimaku lagi.


Aku bangkit dari posisiku yang bersujud, tanganku terangkat mengusap air mata yang terus saja meluruh turun tanpa dapat aku kontrol. Aku berbalik, melangkah keluar dari rumah tanpa membawa baju atau apapun selain dompet dan ponselku.


Aku tidak mungkin tetap bersikeras menetap disana jika mereka saja sudah jelas jelas muak dan juga telah mengusir ku, aku dicampakkan oleh mereka. Jaga diri kalian baik baik, aku akan selalu menyayangi kalian. Aku membuka pintu besar berwarna coklat gelap itu, melangkah keluar dari rumah ini.


Aku pasti akan merindukan rumah ini, dan mereka. Pasti.


“Maafkan aku.."


Aku berjalan menuju gerbang, langkahku terasa begitu lama dan berat, Aku.. Akan merindukan Mama, Papa, dan Kak Lessa. Aku membuka pintu gerbang itu, langkah ku terkesan berat. Ini begitu pedih, walau mereka


tidak mau mengerti akan diriku setidaknya alam mengerti diriku yang menyedihkan ini, alam bahkan ikut menangis melihat ku menangis sendirian.


Rintik rintik hujan menemani langkahku yang terseok seok. Aku terisak, ini bukan salah ku. Tapi kenapa aku yang dibuang dan dihina?


Ini bukan kesalahan aku dan bayi ku, tapi kenapa harus kami yang menderita? Kenapa dunia ini sangat tidak adil?


BACA KELANJUTANNYA DI UNFORGETTABLE PREGNANCY, SILAHKAN KLIK AKUN SAYA UNTUK MEMBUKA ATAU BISA CARI DI PENCARIAN MANGATOON/NOVELTOON DENGAN KEYWORD ‘UNFORGETTABLE PREGNANCY’

__ADS_1



__ADS_2