Ayah Anak ku

Ayah Anak ku
DUA PULUH SATU


__ADS_3

pihak Mangatoon nya tidak jelas, saya sudah setor part 20, 21, 22 tapi justru part 22 terus yang di post berkali kali.



Cherryl menangis histeris, sejak bangun di pagi hari Cherryl terus menangis mencari cari keberadaan Aaron.


Cherryl memang belum pintar bicara, ia hanya terus mengucapkan kata ‘Papa’ dalam tangisnya.


Adara sampai dibuat panik, lantaran Cherryl terus menangis. Bahkan menolak makanan yang Adara berikan, Adara khawatir Cherryl menjadi sakit nantinya.


Orangtua Adara pun sudah mencoba membujuk Cherryl namun tidak ada hasil apa apa, Cherryl tetap menangis.


Adara mulai merasa frustasi, jelas saja yang Cherryl inginkan adalah Aaron. Selama ini Cherryl sangat dekat dengan Aaron, dan dengan ketiadaan Aaron disisi Cherryl secara tiba tiba seperti ini pasti berdampak besar bagi Cherryl.


“Bagaimana ini Ma, Cherryl terus menangis. Dia bisa bisa jatuh sakit nanti.” Adara menepuk nepuk punggung Cherryl berusaha menenangkan putrinya itu namun yang ada Cherryl justru berontak ingin turun dari gendongan Adara.


Bagaimana ini?


“Coba kau hubungi Lucas, suruh dia kemari. Cherryl juga dekat dengan Lucas. Mungkin Lucas bisa menenangkan Cherryl.” Clara mengambil alih Cherryl dari gendongan Adara, Clara berusaha sebisa mungkin untuk menarik perhatian cucu nya itu. Namun tetap saja Cherryl menangis memanggil manggil Papa nya.


***

__ADS_1


Akhirnya Adara bisa menghela nafas lega, Cherryl mulai tenang saat Lucas datang. Namun Cherryl tidak ingin lepas dari Lucas, saat Cherryl tertidur dan Lucas berusaha untuk membaringkan Cherryl di ranjangnya, Cherryl akan terbangun dan kembali menangis.


“Semua ini salah mu.” desis Adara pelan, melirik sinis ke arah Lucas yang sibuk menepuk nepuk punggung Cherryl.


“Maksud mu salah ku karena aku melaporkannya ke polisi? Aku hanya melaporkan kejahatannya saja kak, pihak keluarga yang dirugikan itu keluarga Markus dan mereka tidak ingin Aaron berkeliaran dengan bebas dan bahagia sementara Markus mendekam di rumah sakit jiwa.” Lucas berusaha untuk mengendalikan emosi dan nada suaranya, ia tidak boleh meninggikan suaranya yang akan membuat Cherryl kembali menangis lagi. “Aaron pantas di penjara kak, oke.. anggap saja dia itu orang baik, dia hanya ingin bersama dengan keluarga kita sehingga memanfaatkan emosi Markus, tapi kenapa dia tidak berhenti di saat Kak Markus sudah di penjara atas kesalahan nya? Kenapa ia justru membayar polisi untuk memberikannya obat obatan yang membuatnya jadi semakin tidak waras? Awalnya Kak Markus hanya depresi kak, dia hanya salah jalan dan kita bisa saja menariknya dari jalan yang salah itu tapi Aaron justru dengan sengaja merusak hidup Kak Markus.”


Adara paham bahwa kedua nya salah, tapi Adara tidak suka melihat putri nya yang menjadi korban.


“Kau selalu melihat dari sudut pandang mu saja kak, dan kau mengistimewakan Aaron hanya karena dia ada di sisi mu selama kau hamil dan menjaga Cherryl, apa kau lupa dengan masa masa kebersamaan mu dengan Kak Markus? Kak Markus yang mengikuti mu kemanapun, melawan anak anak yang menjahati mu dulu, tidak pernah marah saat kau suruh ini itu, dengan senang hati mengerjakan semua PR mu saat kalian masih sekolah. Apa itu tidak terhitung kebaikan?”


Lucas memandang kakak perempuannya yang terduduk diam memalingkan pandangannya dari Lucas.


***


“Tidak apa apa Bu, ini hanya luka kecil. Memang sudah resiko pekerjaan saya seperti ini.” Perawat tersebut tersenyum ramah, “Saya pamit dulu ya Bu, saya mau mengobati luka saya dulu.”


Sabrina menganggukkan kepalanya, mata nya sekilas melihat ke arah luka di lengan perawat tersebut.


Ini bukan pertama kali nya Markus melukai perawat, dan itu membuat Sabrina benar benar sedih. Lantaran bukannya semakin membaik, putra nya itu justru semakin parah.


Sabrina melangkah masuk untuk menemui putranya itu, dan detik itu juga Sabrina berteriak meminta pertolongan.

__ADS_1


Markus kembali menyakiti dirinya sendiri, ia kembali mengantukkan kepalanya ke dinding.


Sabrina menjerit lantaran melihat darah yang mengalir turun membasahi wajah Markus.


Bukannya berhenti, Markus justru tetap mengantuk atukan kepalanya ke dinding sembari tertawa melihat Sabrina yang menangis.


Seolah olah bagi Markus hal itu adalah hal yang lucu.


Sabrina berusaha memeluk Markus, berusaha menghentikan tindakan Markus yang menyakiti dirinya sendiri.


“Markus sadar sa—”


Belum sempat Sabrina benar benar memeluk Markus, Markus sudah lebih dahulu mendorong Sabrina hingga terjatuh. Mengabaikan tangisan Ibu nya itu dan kembali tertawa, ia mengusap pipi nya dan melihat darah yang membasahi tangannya.


Markus menjilat darah tersebut dan menangis tiba tiba, ia menangis histeris dan  menggerak gerakan kaki nya seperti anak kecil.


Namun sedetik kemudian Markus tertawa, tidak ada yang mengerti dengan pikiran Markus. Tidak ada yang tahu apa yang Markus pikirkan.


Tidak ada yang tahu betapa kacau nya pikiran Markus, hingga Markus sendiri tidak bisa mengontrolnya.


Tapi satu hal yang Markus ketahui, satu nama yang selalu berputar putar di kepalanya.

__ADS_1


Yaitu, Adara.


__ADS_2