
Beberapa Tahun Kemudian
Jenny mengeluh kesal karna pagi pagi sekali seperti ini sudah ada saja orang yang bertamu ke apartement nya, padahal Jenny sudah merencanakan akan tidur hingga siang nanti.
"Aunty!" suara menggemaskan yang sudah ia hapal betul itu terdengar, mata Jenny mendadak membesar melihat seorang anak laki laki kecil dengan kupluk berwarna pink tersenyum manis kepadanya. "Aunty Jen!"
Jenny berjongkok mensejajarkan tingginya dengan anak itu, "Al pagi pagi kenapa bisa ada disini, kamu kesini sama siapa?" Jenny mengusap lembut pipi gembul putra dari sepupunya itu.
"Papa yang anter Al, Papa bilang Al main sama Aunty dulu hali ini, nanti sole di jemput Papa." Aldrich berkata sembari mengelus elus bonekannya.
"Yaudah masuk dulu, nanti Aunty buatkan susu coklat buat Al." Jenny membimbing Aldrich untuk masuk, ia juga membantu Aldrich melepaskan sepatu lucunya.
Sembari membuatkan susu coklat Jenny mencoba untuk menghubungi Bian, bagaimana bisa Bian menitipkan Aldrich padanya tanpa mengatakan dulu padanya, bukan maksud Jenny tidak mau menjaga Aldrich hanya saja kenapa Bian tidak mengantar Al langsung padanya dan membiarkan Al menunggu sendirian di luar.
"Bianmy, kenapa kau membiarkan Al menunggu di luar sendirian?" Jenny langsung menyemprot Bian dengan pertanyaannya ketika panggilan itu dijawab oleh Bian.
"Hey tenanglah, aku tidak bodoh, aku menungguinya tadi hanya saja aku tidak menunjukan diriku karna aku ingin melatihnya untuk mandiri dan tidak takut sendirian." Bian terdengar mendesah kesal disana, "Aku sedang sibuk membantu Johan mengurus persiapan pernikahannya jadi jangan ganggu aku dulu, jaga Al baik baik."
Jenny mendengus, menatap ponselnya dengan tidak percaya, Bian memutuskan Bianbungan telepon begitu saja.
"Aunty! Al mau nonton Spongebob, cala hidupkan TV nya gimana Nty?"
Jenny mendekati Aldrich yang sibuk melihat lihat Tv, sibuk mencari dimana letak tombol untuk menyalakan Tv itu.
"Lemotnya dimana Nty?" tanya Aldrich lagi Bianbil melepaskan kupluknya asal.
"Sudah kamu duduk di sofa aja, Aunty yang akan menyalakan Tv nya." Jenny meletakkan segelas susu coklat di meja, "Sekalian diminum susunya ya."
***
"Bian, apa tidak apa apa menitipkan Al pada Jenny?" Sarah menoleh pada Bian, memperhatikan wajah suaminya yang tengah sibuk menyetir itu.
Bian sempat melirik Sarah sekilas, menggenggam tangan Sarah lembut. "Jika kita membawanya dia pasti akan menyusahkan mu, kau harus lebih memperhatikan kondisi mu sekarang karna kau tengah hamil anak kedua kita, kau mengertikan?"
Bian melihat Sarah melenguh panjang sebelum akhirnya mengangguk pasrah, Bian tahu bahwa Sarah sulit sekali lepas dari Aldrich, Aldrich sedang sangat menggemaskan dan lincah, Bian tahu bahwa Sarah takut terjadi sesuatu kepada putra mereka itu atas dasar kecerobohan Aldrich yang bersifat sangat ingin tahu akan segala hal.
Kalau bukan karna Taeran benar benar membutuhkan Sarah, Bian tidak akan mengajak Sarah ikut dan menyuruh Sarah untuk beristirahat saja di rumah, toh urusan bantu membantu hanya perlu ia saja yang datang.
"Aku takut Aldrich akan merepotkan Jenny, kau tahukan Aldrich itu cerewet dan banyak sekali maunya." Sarah sedikit terkekeh teringat Aldrich yang selalu bertingkah lucu dimata Sarah.
"Biarlah sekali sekali Jenny merasakan bagaimana rasanya disusahkan oleh Al."
***
"Aunty, kenapa Patrick star itu warnanya merah muda?" Aldrich mengalihkan pandangannya dari televisi kearah Jenny yang tengah duduk santai disampingnya.
"Kamu kok nanya nya yang aneh aneh sih sayang, ya soal warna kan itu mana Aunty tahu." Jawab Jenny sekenanya, ia bingung menjawab pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan Aldrich.
"Yah.. padahal Aldrich sukannya warna Hijau." desis Aldrich pelan, Jenny yang berada di sebelahnya tertawa terbahak karna membayangkan Patrick star berubah warna menjadi hijau.
Jenny mengusap sudut matanya yang mengeluarkan sedikit air mata, ia bergerak bangkit dan melangkah menuju dapur, mengambil minuman untuk dirinya sendiri.
***
Sarah masuk kedalam kamar Taeran, besok Taeran akan menikah dengan Johan, Sarah tahu bahwa Taeran pasti sedang sangat khawatir menantikan hari esok saat ini.
"Sarah!" pekik Taeran gembira ketika melihat kedatangan Sarah, "Ku pikir kau tidak akan datang, apa Jenny tidak ikut?"
Taeran melirik kebalakang Sarah berpikir mungkin Jenny bersembunyi, namun seprtinya Sarah memang datang tanpa Jenny.
"Maaf Jenny tidak bisa datang karna menjaga Al, bagaimana perasaan mu Tae?"
Taeran tersenyum lebar hingga matanya menyipit, "Aku bahagia.. tapi pasti lebih bahagia besok, tapi aku juga khawatir, kau tahukan aku tidak kelihatan seperti wanita pada umum-"
"Jangan berpikiran begitu, kau cantik sebagaimananya dirimu, buktinya Johan sampai jatuh hati padamu." Sarah menepuk nepuk bahu Taeran, berusaha membuat Taeran untuk tidak lagi merendah diri.
***
"Papa kapan jemput Al sih, Nty?" Aldrich tengah memakai piama tidur berserta penutup mata yang ia pakai sebagai bandana, Aldrich berbaring lemas di ranjang Jenny. "Papa bilangnya mau jemput sole tapi sampai sekalang gak datang juga."
Jenny mengusap lembut kening Aldrich, ia tersenyum lembut pada Aldrich yang masih saja cemberut. "Pulang besok pagi juga gak papa, memangnya Al gak betah berduaan sama Aunty?"
Aldrich dengan cepat menggeleng, "Al suka kok belduaan sama Aunty tapi Al kangen sama Mama dan Papa."
Alis Jenny terangkat sebelah, "Al gak kangen sama calon adik Al?"
Aldrich semakin cemberut karna Jenny membahas soal calon adiknya.
"Al gak sayang calon adik Al?"
Aldrich menggelengkan kepalanya, "Al sayang dedek, tapi Al takut pelut Mama meletus gala gala dedek, Al gak mau Mama sakit."
Jenny nyaris saja terbahak namun ia dengan kuat menahan dirinya untuk tidak tertawa atas jawaban polos Aldrich.
"Perut Mama gak akan meletus kok Al, Al gak boleh benci sama calon adik Al ya, Al sebagai kakak harus menyayangi dan menjaga adik Al."
Aldrich mengangguk lemah dan tersenyum, ia akan menjaga adiknya, pasti.
"Mau main perang perangan bantal?" tawar Jenny pada Aldrich, Aldrich tentu saja langsung mengangguk penuh semangat.
"Mau tante!" Aldrich dengan gerakan cepat mengambil dua bantal, hendak melemparkannya pada Jenny namun suara handphone Jenny membuat Aldrich batal melemparkannya karna Jenny langsung berlari menuju tempat dimana handphonenya berada.
"Al.. Papa mu telepon!"
Aldrich langsung berlari dengan cepat menyusul Jenny, dengan gembira mengambil alih handphone Jenny.
"Hallo Papa, Papa kapan jemput?"
"Besok pagi? Tapi Al udah kangen sama Mama dan dedek Pa.."
"Ya gapapa, Papa jagain Mama ya."
"Dadah Papa.."
Aldrich tidak sedih meskipun ia akan di jemput besok pagi, setidaknya ia sudah berpesan pada Papanya untuk menjaga Mamanya baik baik.
"Anak pintar." Jenny mengacak acak gemas rambut Aldrich.
***
Bian tersenyum ketika mengakhiri Bianbungan teleponnya, ia senang karna Aldrich mau mengerti dan tidak rewel.
Bian semakin tersenyum ketika melihat wallpaper handphonenya, foto pernikahaannya dengan Sarah, saat usia Aldrich sudah 2 bulan.
Di foto itu Sarah dan Bian tersenyum lebar, tak lupa dengan Aldrich yang berada di gendongan Bian.
Bian bersyukur apa yang dia inginkan akhirnya benar benar bisa ia miliki, Sarah, Aldrich dan calon anak keduanya adalah anugrah terindah yang pernah ia dapatkan sepanjang hidupnya.
EXTRA PART (ARVIN & ADELIA)
“Papa baju spiderman aku mana?!”
“Papa dede kaya nya eek di celana!!”
“Mika nggak eek! Miko yang eek!!”
“Papa!!”
“Papa!!”
Arvin menghela nafas kasar, dalam hati ia merasa menyesal karna membiarkan Adelia untuk pergi untuk menginterview para calon pegawai yang melamar di toko kue nya.
Arvin pikir Adelia perlu sekali pergi kesana mengingat toko kue Adelia semakin sukses dan semakin membutuhkan karyawan lebih banyak lagi.
Namun Arvin tidak pernah tahu bahwa sebegitu sulit nya mengurus 3 anak sekaligus, betapa kagum nya Arvin pada Adelia yang selama ini mengurus anak anak mereka yaitu Kaylo, Miko dan Mika tanpa mengeluh.
Kaylo si sulung penggila spiderman, diusia nya yang kini menginjak 6 tahun kesukaan nya pada spiderman semakin melonjak dan melonjak lagi, tidak tertahankan.
Bahkan seluruh kamar dihiasi dengan segala macam barang yang bersangkutan dengan spiderman, bahkan celana dalam Kalo pun hampir semua nya bermotif spiderman.
Miko si anak tengah yang lebih tua lima jam dari Mika itu cerewet nya bukan main, diusia nya yang baru 4 tahun ia sudah membuat Arvin pusing tujuh keliling karna terus saja bicara.
Mika si anak bontot yang senang sekali berdandan, percis seperti Cherryl— Kakak perempuan Arvin, saat masih kecil.
Arvin dulu begitu ingin punya keturunan, bukan nya ia menyesal hanya saja ia tidak tahu kalau
mengurus anak lebih susah dari apa yang ia bayangkan.
“Papa!!”
Arvin terkesiap dari lamunan nya, “Iya sayang, gausah teriak kamu kira Papa ini bolot ya?” celetuk Arvin gemas pada Mika.
“Papa Miko eek di celana, tadi aku cium bau eek dari celana nya.” Ujar Mika penuh keseriusan, membuatnya tampak menggemaskan dengan pipi tembam merona miliknya.
“Papa kaset spiderman aku mana?!” teriak Kaylo seraya sibuk membongkar laci tempat
penyimpanan kaset dvd mereka, membuat nya berantakan.
Arvin menghela nafas berat, “tadi baju sekarang kaset, cari pelan pelan pasti ketemu!”
Meski berat, Arvin tetap senang menjalani nya. Karna berada di dekat orang yang ia cintai adalah surga bagi nya, kebahagiaan tak terhingga dapat ia dapatkan hanya dengan hal hal kecil bersama
keluarga nya.
Dalam hati Arvin mengaku bahwa ia begitu mencintai Adelia dan anak anak nya.
EXTRA PART (BIAN & SARAH)
Sarah menatap Aldrich dengan tatapan jengkel, kenapa mengajak putranya itu untuk menemaninya belanja saja susah sekali?
“Kamu nemenin Mama belanja gak mau tapi kalau nemenin pacar pacar kamu aja cepat geraknya.” Sarah melempar bantal ke wajah Aldrich, tidak perduli Aldrich meringis sakit karna ulahnya.
“Mama kenapa gak minta ditemanin Papa aja sih? Al kan ada urusan lain.” Aldrich bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah mendekati Sarah lalu mengecup kening Ibunya itu lembut sebelum ia melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Kamu mau ketemu sama perempuan masa lalu kamu itu?”
Gerakan Aldrich membuka pintu kamar mandi terhenti, Aldrich menoleh pada Sarah dan menatap Sarah dengan wajah bingungnya. “Mama tahu dari mana?”
“Dulu aja kamu ninggalin dia sekarang malah ngejar ngejar, Mama gak ngerti jalan pikir kamu Al.” Sarah merasa kasihan pada perempuan yang tengah mereka bicarakan itu, di tinggalkan lalu datang kembali seolah tanpa beban, menyakitkan sekali rasanya.
“Justru Al bingung sama jalan pikir perempuan, gimana bisa di tinggal 2 tahun aja dia bisa jadi lesbi begitu padahal sebelumnya normal normal aja.” Aldrich mendesah berat, “Memahami perempuan itu lebih sulit dari memahami segala jenis pelajaran.”
Aldrich masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi itu rapat rapat.
“Kalau kamu mau ketemu dia, Mama mau ikut. Mama mau lihat secantik apa perempuan yang udah bikin anak Mama gal—”
“Please deh Ma, biarkan Kak Al urus urusannya sendiri, kisah cinta dia tidak perlu ada campur tangan Mama segala.” Alex yang tengah bersandar di depan pintu kamar Aldrich itu memandang Sarah dengan tatapan sok mengguruinya.
“Baru pulang kamu? Semalam menginap dimana lagi hah?!” Sarah dengan cepat mencubit perut Alex, putra ke tiganya yang sangat sangat bandal karna selalu melanggar janji dan membuat Sarah naik pitam.
“Kalau pakai baju itu yang benar! Apa ini celana rombeng, ganti!”
Alex mengusap perutnya yang di cubit Sarah, “Mama mah gak ngerti fashion anak jaman now sih.”
“Ganti atau motor kesayangan kamu Mama hancurin pakai tongkat baseball Papa.” Sarah sudah mengambil ancang ancang akan mengambil tongkat baseball milik Sam namun Alex dengan segera mencegahnya dan tersenyum manis.
“Mama ku yang cantik, jangan begitu dong aku bakalan ganti kok, aku cuma mau ngasih ini aja ke Mama, aku lupa ngasihnya kemarin jadi baru ingat sekarang.” Alex memberikan surat kepada Sarah, melihat kop surat itu Sarah sudah berang apalagi mrlihat isinya.
“Panggilan orangtua lagi!! Kamu kenapa gak ada habis habisnya bikin ulah sih Lex?!” Sarah memukul bahu Alex, Alex mengaduh kesakitan dan menatap Sarah dengan tatapan tidak bersalahnya.
“Si Lean yang mancing emosi Lex Ma.”
“Sudahlah gak usah mengelak, sudah tahu salah masih aja mencoba membela diri.” suara berat itu menengahi Sarah dan Alex.
Sarah dan Alex menoleh ke arah sumber suara, Bian dan Alrez melangkah mendekati mereka.
“Bian! Lihat ini anak mu kembali berulah, aku sudah malas menasehatinya terus.” Sarah memberikan surat panggilan orangtua itu pada Bian, “Kali ini kau yang ke sekolah Lex, aku malu jika harus kesana untuk yang kesekian kalinya.”
“Biar Rez saja yang ke sekolah Lex besok Ma.” Alrez membuka suara, ia menatap lembut kearah Sarah dan melotot tajam kearah Alex, “Besok Alrez cuti dari rumah sakit.”
Sarah tersenyum lebar, ia mendekat kearah Alrez dan memeluk putranya itu erat, menenggelam kan wajah nya di dada bidang putra nya itu, memiliki putra yang tinggi tinggi dan pelukable memang menyenangkan, apalagi jika semuanya semanis Alrez, baik dan tidak pernah berulah tidak seperti Aldrich dan Alexander.
“Kamu memang anak kesayangan Mama, kamu gak pernah mengecewakan Mama.”
“Sudah!” Bian menarik Sarah dari pelukan Alrez, “Makin lama kamu dan Rez justru kelihatan seperti orang pacaran.”
Sarah tersenyum jahil, “Bilang saja kau cemburu.”
Bian mendelik sinis, “Aku memang cemburu, apa perlu dijelaskan?”
Sarah menahan tawanya setengah mati, “Selalu saja begini, kau memang My Possessive Man, tidak pernah bisa membiarkan ku bebas meski itu untuk anak ku sendiri.”
“Itu kau paham, bagus kalau begitu.”
“Bian!” Sarah memukul bahu Bian manja.
Alrez dan Alex yang melihat adegan itu hanya geleng geleng kepala dan meninggalkan kedua orangtuanya itu, biarkan mereka memiliki waktu privasi sendiri.
***
“Kenapa terlambat, Papa nungguin kamu udah dari dua jam yang lalu!” Bian melirik arloji yang menunjukan pukul 12 siang, “Sekarang sudah waktunya makan siang, nanti saja kita bicarakan masalah itu, Papa mau ke restaurant depan Mama kamu sudah menunggu Papa.”
Aldrich menatap kepergian Sam dengan bingung, “Gak ada niat ngajakin aku makan siang bareng gitu, Pa?”
Langkah Bian terhenti dan ia berbalik menatap putra sulungnya itu, “Sengenes apa sih kamu sampai gak punya teman makan siang? Masih mau ngintilin orangtua berduaan terus, malu sama umur, sudah mau kepala tiga juga!”
Aldrich melongo tidak percaya mendengar apa yang Sam katakan, “Pa, seharusnya aku yang bilang begitu. Papa udah tua masih aja sok merasa muda, mesra mesraan mulu sama Mama bikin iri aja.” desis Aldrich pelan, ia tidak ingin Bian mendengar dan berujung ia di timpuk oleh sesuatu.
Aldrich mengeluarkan handphone dari saku jasnya, mengetikkan pesan pada kedua adik kesayangannya.
Triple A
Aldrich : Lagi pada dimana, makan siang bareng yok!
Alexketex : wah tanda tanda jomblo apa maho nih?
Alrese : Maap bang gua mau makan siang sama Luna 😏
Alexketex : wah cantik gak bang, boleh kali kenalin 😗
Alrese : Cantik kok bulunya lebat, warna coklat terang 😃
Aldrich : Luna yang lu maksud itu pasien lu ya? 😒
Alrese : kenapa emang? 😳
Aldrich : Pasien lu kan binatang, secara lu dokter hewan. Lu mau makan ama binatang apa, kucing? 😰
Alrese : Bukan kucing tapi dog 😃
Alexketex : Cari cewek ngapa bang, ngenes amat ngabisin waktu ama animal mulu 😐 takutnya lu nyeleweng ntar, gua gak mau punya kakak ipar berkaki empat dan berbulu lebat ye 😂
Alrese : cewek mulu otak lu, sekolah yang bener! 😤 Di usir bokap baru tau rasa lu.
Alexketex : Gua kan anak kesayangan masa diusir 😳😃
Aldrich : Papa kalau ngamuk kaya lu gak tau aja gimana 😰
Alexketex : kan ada Mama, secara Papa tunduk banget sama Mama 😂 I lap yu mom 😍😘
Alrese : belajar bahasa inggris yang bener! Bilang I laff yu aja gak bisa 😐
Aldrich : lu juga salah, yang bener I Love You. 😒
Alexketex : Love you too. 😳
Alrese : Love u too babe 😚
Aldrich : najis.
Aldrich menggeleng gelengkan kepalanya, sungguh kenapa ia punya adik yang aneh aneh. Tapi adik adiknya itu selalu saja punya cara untuk membuatnya tertawa.
Seandainya saja salah satu diantara mereka perempuan pasti lebih seru.
Haha.
__ADS_1
Beberapa Tahun Kemudian
Jenny mengeluh kesal karna pagi pagi sekali seperti ini sudah ada saja orang yang bertamu ke apartement nya, padahal Jenny sudah merencanakan akan tidur hingga siang nanti.
"Aunty!" suara menggemaskan yang sudah ia hapal betul itu terdengar, mata Jenny mendadak membesar melihat seorang anak laki laki kecil dengan kupluk berwarna pink tersenyum manis kepadanya. "Aunty Jen!"
Jenny berjongkok mensejajarkan tingginya dengan anak itu, "Al pagi pagi kenapa bisa ada disini, kamu kesini sama siapa?" Jenny mengusap lembut pipi gembul putra dari sepupunya itu.
"Papa yang anter Al, Papa bilang Al main sama Aunty dulu hali ini, nanti sole di jemput Papa." Aldrich berkata sembari mengelus elus bonekannya.
"Yaudah masuk dulu, nanti Aunty buatkan susu coklat buat Al." Jenny membimbing Aldrich untuk masuk, ia juga membantu Aldrich melepaskan sepatu lucunya.
Sembari membuatkan susu coklat Jenny mencoba untuk menghubungi Bian, bagaimana bisa Bian menitipkan Aldrich padanya tanpa mengatakan dulu padanya, bukan maksud Jenny tidak mau menjaga Aldrich hanya saja kenapa Bian tidak mengantar Al langsung padanya dan membiarkan Al menunggu sendirian di luar.
"Bianmy, kenapa kau membiarkan Al menunggu di luar sendirian?" Jenny langsung menyemprot Bian dengan pertanyaannya ketika panggilan itu dijawab oleh Bian.
"Hey tenanglah, aku tidak bodoh, aku menungguinya tadi hanya saja aku tidak menunjukan diriku karna aku ingin melatihnya untuk mandiri dan tidak takut sendirian." Bian terdengar mendesah kesal disana, "Aku sedang sibuk membantu Johan mengurus persiapan pernikahannya jadi jangan ganggu aku dulu, jaga Al baik baik."
Jenny mendengus, menatap ponselnya dengan tidak percaya, Bian memutuskan Bianbungan telepon begitu saja.
"Aunty! Al mau nonton Spongebob, cala hidupkan TV nya gimana Nty?"
Jenny mendekati Aldrich yang sibuk melihat lihat Tv, sibuk mencari dimana letak tombol untuk menyalakan Tv itu.
"Lemotnya dimana Nty?" tanya Aldrich lagi Bianbil melepaskan kupluknya asal.
"Sudah kamu duduk di sofa aja, Aunty yang akan menyalakan Tv nya." Jenny meletakkan segelas susu coklat di meja, "Sekalian diminum susunya ya."
***
"Bian, apa tidak apa apa menitipkan Al pada Jenny?" Sarah menoleh pada Bian, memperhatikan wajah suaminya yang tengah sibuk menyetir itu.
Bian sempat melirik Sarah sekilas, menggenggam tangan Sarah lembut. "Jika kita membawanya dia pasti akan menyusahkan mu, kau harus lebih memperhatikan kondisi mu sekarang karna kau tengah hamil anak kedua kita, kau mengertikan?"
Bian melihat Sarah melenguh panjang sebelum akhirnya mengangguk pasrah, Bian tahu bahwa Sarah sulit sekali lepas dari Aldrich, Aldrich sedang sangat menggemaskan dan lincah, Bian tahu bahwa Sarah takut terjadi sesuatu kepada putra mereka itu atas dasar kecerobohan Aldrich yang bersifat sangat ingin tahu akan segala hal.
Kalau bukan karna Taeran benar benar membutuhkan Sarah, Bian tidak akan mengajak Sarah ikut dan menyuruh Sarah untuk beristirahat saja di rumah, toh urusan bantu membantu hanya perlu ia saja yang datang.
"Aku takut Aldrich akan merepotkan Jenny, kau tahukan Aldrich itu cerewet dan banyak sekali maunya." Sarah sedikit terkekeh teringat Aldrich yang selalu bertingkah lucu dimata Sarah.
"Biarlah sekali sekali Jenny merasakan bagaimana rasanya disusahkan oleh Al."
***
"Aunty, kenapa Patrick star itu warnanya merah muda?" Aldrich mengalihkan pandangannya dari televisi kearah Jenny yang tengah duduk santai disampingnya.
"Kamu kok nanya nya yang aneh aneh sih sayang, ya soal warna kan itu mana Aunty tahu." Jawab Jenny sekenanya, ia bingung menjawab pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan Aldrich.
"Yah.. padahal Aldrich sukannya warna Hijau." desis Aldrich pelan, Jenny yang berada di sebelahnya tertawa terbahak karna membayangkan Patrick star berubah warna menjadi hijau.
Jenny mengusap sudut matanya yang mengeluarkan sedikit air mata, ia bergerak bangkit dan melangkah menuju dapur, mengambil minuman untuk dirinya sendiri.
***
Sarah masuk kedalam kamar Taeran, besok Taeran akan menikah dengan Johan, Sarah tahu bahwa Taeran pasti sedang sangat khawatir menantikan hari esok saat ini.
"Sarah!" pekik Taeran gembira ketika melihat kedatangan Sarah, "Ku pikir kau tidak akan datang, apa Jenny tidak ikut?"
Taeran melirik kebalakang Sarah berpikir mungkin Jenny bersembunyi, namun seprtinya Sarah memang datang tanpa Jenny.
"Maaf Jenny tidak bisa datang karna menjaga Al, bagaimana perasaan mu Tae?"
Taeran tersenyum lebar hingga matanya menyipit, "Aku bahagia.. tapi pasti lebih bahagia besok, tapi aku juga khawatir, kau tahukan aku tidak kelihatan seperti wanita pada umum-"
"Jangan berpikiran begitu, kau cantik sebagaimananya dirimu, buktinya Johan sampai jatuh hati padamu." Sarah menepuk nepuk bahu Taeran, berusaha membuat Taeran untuk tidak lagi merendah diri.
***
"Papa kapan jemput Al sih, Nty?" Aldrich tengah memakai piama tidur berserta penutup mata yang ia pakai sebagai bandana, Aldrich berbaring lemas di ranjang Jenny. "Papa bilangnya mau jemput sole tapi sampai sekalang gak datang juga."
Jenny mengusap lembut kening Aldrich, ia tersenyum lembut pada Aldrich yang masih saja cemberut. "Pulang besok pagi juga gak papa, memangnya Al gak betah berduaan sama Aunty?"
Aldrich dengan cepat menggeleng, "Al suka kok belduaan sama Aunty tapi Al kangen sama Mama dan Papa."
Alis Jenny terangkat sebelah, "Al gak kangen sama calon adik Al?"
Aldrich semakin cemberut karna Jenny membahas soal calon adiknya.
"Al gak sayang calon adik Al?"
Aldrich menggelengkan kepalanya, "Al sayang dedek, tapi Al takut pelut Mama meletus gala gala dedek, Al gak mau Mama sakit."
Jenny nyaris saja terbahak namun ia dengan kuat menahan dirinya untuk tidak tertawa atas jawaban polos Aldrich.
"Perut Mama gak akan meletus kok Al, Al gak boleh benci sama calon adik Al ya, Al sebagai kakak harus menyayangi dan menjaga adik Al."
Aldrich mengangguk lemah dan tersenyum, ia akan menjaga adiknya, pasti.
"Mau main perang perangan bantal?" tawar Jenny pada Aldrich, Aldrich tentu saja langsung mengangguk penuh semangat.
"Mau tante!" Aldrich dengan gerakan cepat mengambil dua bantal, hendak melemparkannya pada Jenny namun suara handphone Jenny membuat Aldrich batal melemparkannya karna Jenny langsung berlari menuju tempat dimana handphonenya berada.
"Al.. Papa mu telepon!"
Aldrich langsung berlari dengan cepat menyusul Jenny, dengan gembira mengambil alih handphone Jenny.
"Hallo Papa, Papa kapan jemput?"
"Besok pagi? Tapi Al udah kangen sama Mama dan dedek Pa.."
"Ya gapapa, Papa jagain Mama ya."
"Dadah Papa.."
Aldrich tidak sedih meskipun ia akan di jemput besok pagi, setidaknya ia sudah berpesan pada Papanya untuk menjaga Mamanya baik baik.
"Anak pintar." Jenny mengacak acak gemas rambut Aldrich.
***
Bian tersenyum ketika mengakhiri Bianbungan teleponnya, ia senang karna Aldrich mau mengerti dan tidak rewel.
Bian semakin tersenyum ketika melihat wallpaper handphonenya, foto pernikahaannya dengan Sarah, saat usia Aldrich sudah 2 bulan.
Di foto itu Sarah dan Bian tersenyum lebar, tak lupa dengan Aldrich yang berada di gendongan Bian.
Bian bersyukur apa yang dia inginkan akhirnya benar benar bisa ia miliki, Sarah, Aldrich dan calon anak keduanya adalah anugrah terindah yang pernah ia dapatkan sepanjang hidupnya.
EXTRA PART (ARVIN & ADELIA)
“Papa baju spiderman aku mana?!”
“Papa dede kaya nya eek di celana!!”
“Mika nggak eek! Miko yang eek!!”
“Papa!!”
“Papa!!”
Arvin menghela nafas kasar, dalam hati ia merasa menyesal karna membiarkan Adelia untuk pergi untuk menginterview para calon pegawai yang melamar di toko kue nya.
Arvin pikir Adelia perlu sekali pergi kesana mengingat toko kue Adelia semakin sukses dan semakin membutuhkan karyawan lebih banyak lagi.
Namun Arvin tidak pernah tahu bahwa sebegitu sulit nya mengurus 3 anak sekaligus, betapa kagum nya Arvin pada Adelia yang selama ini mengurus anak anak mereka yaitu Kaylo, Miko dan Mika tanpa mengeluh.
Kaylo si sulung penggila spiderman, diusia nya yang kini menginjak 6 tahun kesukaan nya pada spiderman semakin melonjak dan melonjak lagi, tidak tertahankan.
Bahkan seluruh kamar dihiasi dengan segala macam barang yang bersangkutan dengan spiderman, bahkan celana dalam Kalo pun hampir semua nya bermotif spiderman.
Miko si anak tengah yang lebih tua lima jam dari Mika itu cerewet nya bukan main, diusia nya yang baru 4 tahun ia sudah membuat Arvin pusing tujuh keliling karna terus saja bicara.
Mika si anak bontot yang senang sekali berdandan, percis seperti Cherryl— Kakak perempuan Arvin, saat masih kecil.
Arvin dulu begitu ingin punya keturunan, bukan nya ia menyesal hanya saja ia tidak tahu kalau
mengurus anak lebih susah dari apa yang ia bayangkan.
“Papa!!”
Arvin terkesiap dari lamunan nya, “Iya sayang, gausah teriak kamu kira Papa ini bolot ya?” celetuk Arvin gemas pada Mika.
“Papa Miko eek di celana, tadi aku cium bau eek dari celana nya.” Ujar Mika penuh keseriusan, membuatnya tampak menggemaskan dengan pipi tembam merona miliknya.
“Papa kaset spiderman aku mana?!” teriak Kaylo seraya sibuk membongkar laci tempat
penyimpanan kaset dvd mereka, membuat nya berantakan.
Arvin menghela nafas berat, “tadi baju sekarang kaset, cari pelan pelan pasti ketemu!”
Meski berat, Arvin tetap senang menjalani nya. Karna berada di dekat orang yang ia cintai adalah surga bagi nya, kebahagiaan tak terhingga dapat ia dapatkan hanya dengan hal hal kecil bersama
keluarga nya.
Dalam hati Arvin mengaku bahwa ia begitu mencintai Adelia dan anak anak nya.
EXTRA PART (BIAN & SARAH)
Sarah menatap Aldrich dengan tatapan jengkel, kenapa mengajak putranya itu untuk menemaninya belanja saja susah sekali?
“Kamu nemenin Mama belanja gak mau tapi kalau nemenin pacar pacar kamu aja cepat geraknya.” Sarah melempar bantal ke wajah Aldrich, tidak perduli Aldrich meringis sakit karna ulahnya.
“Mama kenapa gak minta ditemanin Papa aja sih? Al kan ada urusan lain.” Aldrich bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah mendekati Sarah lalu mengecup kening Ibunya itu lembut sebelum ia melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Kamu mau ketemu sama perempuan masa lalu kamu itu?”
Gerakan Aldrich membuka pintu kamar mandi terhenti, Aldrich menoleh pada Sarah dan menatap Sarah dengan wajah bingungnya. “Mama tahu dari mana?”
“Dulu aja kamu ninggalin dia sekarang malah ngejar ngejar, Mama gak ngerti jalan pikir kamu Al.” Sarah merasa kasihan pada perempuan yang tengah mereka bicarakan itu, di tinggalkan lalu datang kembali seolah tanpa beban, menyakitkan sekali rasanya.
“Justru Al bingung sama jalan pikir perempuan, gimana bisa di tinggal 2 tahun aja dia bisa jadi lesbi begitu padahal sebelumnya normal normal aja.” Aldrich mendesah berat, “Memahami perempuan itu lebih sulit dari memahami segala jenis pelajaran.”
Aldrich masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi itu rapat rapat.
“Kalau kamu mau ketemu dia, Mama mau ikut. Mama mau lihat secantik apa perempuan yang udah bikin anak Mama gal—”
“Please deh Ma, biarkan Kak Al urus urusannya sendiri, kisah cinta dia tidak perlu ada campur tangan Mama segala.” Alex yang tengah bersandar di depan pintu kamar Aldrich itu memandang Sarah dengan tatapan sok mengguruinya.
“Baru pulang kamu? Semalam menginap dimana lagi hah?!” Sarah dengan cepat mencubit perut Alex, putra ke tiganya yang sangat sangat bandal karna selalu melanggar janji dan membuat Sarah naik pitam.
“Kalau pakai baju itu yang benar! Apa ini celana rombeng, ganti!”
Alex mengusap perutnya yang di cubit Sarah, “Mama mah gak ngerti fashion anak jaman now sih.”
“Ganti atau motor kesayangan kamu Mama hancurin pakai tongkat baseball Papa.” Sarah sudah mengambil ancang ancang akan mengambil tongkat baseball milik Sam namun Alex dengan segera mencegahnya dan tersenyum manis.
“Mama ku yang cantik, jangan begitu dong aku bakalan ganti kok, aku cuma mau ngasih ini aja ke Mama, aku lupa ngasihnya kemarin jadi baru ingat sekarang.” Alex memberikan surat kepada Sarah, melihat kop surat itu Sarah sudah berang apalagi mrlihat isinya.
“Panggilan orangtua lagi!! Kamu kenapa gak ada habis habisnya bikin ulah sih Lex?!” Sarah memukul bahu Alex, Alex mengaduh kesakitan dan menatap Sarah dengan tatapan tidak bersalahnya.
“Si Lean yang mancing emosi Lex Ma.”
“Sudahlah gak usah mengelak, sudah tahu salah masih aja mencoba membela diri.” suara berat itu menengahi Sarah dan Alex.
Sarah dan Alex menoleh ke arah sumber suara, Bian dan Alrez melangkah mendekati mereka.
“Bian! Lihat ini anak mu kembali berulah, aku sudah malas menasehatinya terus.” Sarah memberikan surat panggilan orangtua itu pada Bian, “Kali ini kau yang ke sekolah Lex, aku malu jika harus kesana untuk yang kesekian kalinya.”
“Biar Rez saja yang ke sekolah Lex besok Ma.” Alrez membuka suara, ia menatap lembut kearah Sarah dan melotot tajam kearah Alex, “Besok Alrez cuti dari rumah sakit.”
Sarah tersenyum lebar, ia mendekat kearah Alrez dan memeluk putranya itu erat, menenggelam kan wajah nya di dada bidang putra nya itu, memiliki putra yang tinggi tinggi dan pelukable memang menyenangkan, apalagi jika semuanya semanis Alrez, baik dan tidak pernah berulah tidak seperti Aldrich dan Alexander.
“Kamu memang anak kesayangan Mama, kamu gak pernah mengecewakan Mama.”
“Sudah!” Bian menarik Sarah dari pelukan Alrez, “Makin lama kamu dan Rez justru kelihatan seperti orang pacaran.”
Sarah tersenyum jahil, “Bilang saja kau cemburu.”
Bian mendelik sinis, “Aku memang cemburu, apa perlu dijelaskan?”
Sarah menahan tawanya setengah mati, “Selalu saja begini, kau memang My Possessive Man, tidak pernah bisa membiarkan ku bebas meski itu untuk anak ku sendiri.”
“Itu kau paham, bagus kalau begitu.”
“Bian!” Sarah memukul bahu Bian manja.
Alrez dan Alex yang melihat adegan itu hanya geleng geleng kepala dan meninggalkan kedua orangtuanya itu, biarkan mereka memiliki waktu privasi sendiri.
***
“Kenapa terlambat, Papa nungguin kamu udah dari dua jam yang lalu!” Bian melirik arloji yang menunjukan pukul 12 siang, “Sekarang sudah waktunya makan siang, nanti saja kita bicarakan masalah itu, Papa mau ke restaurant depan Mama kamu sudah menunggu Papa.”
Aldrich menatap kepergian Sam dengan bingung, “Gak ada niat ngajakin aku makan siang bareng gitu, Pa?”
Langkah Bian terhenti dan ia berbalik menatap putra sulungnya itu, “Sengenes apa sih kamu sampai gak punya teman makan siang? Masih mau ngintilin orangtua berduaan terus, malu sama umur, sudah mau kepala tiga juga!”
Aldrich melongo tidak percaya mendengar apa yang Sam katakan, “Pa, seharusnya aku yang bilang begitu. Papa udah tua masih aja sok merasa muda, mesra mesraan mulu sama Mama bikin iri aja.” desis Aldrich pelan, ia tidak ingin Bian mendengar dan berujung ia di timpuk oleh sesuatu.
Aldrich mengeluarkan handphone dari saku jasnya, mengetikkan pesan pada kedua adik kesayangannya.
Triple A
Aldrich : Lagi pada dimana, makan siang bareng yok!
Alexketex : wah tanda tanda jomblo apa maho nih?
Alrese : Maap bang gua mau makan siang sama Luna 😏
Alexketex : wah cantik gak bang, boleh kali kenalin 😗
Alrese : Cantik kok bulunya lebat, warna coklat terang 😃
Aldrich : Luna yang lu maksud itu pasien lu ya? 😒
Alrese : kenapa emang? 😳
Aldrich : Pasien lu kan binatang, secara lu dokter hewan. Lu mau makan ama binatang apa, kucing? 😰
Alrese : Bukan kucing tapi dog 😃
Alexketex : Cari cewek ngapa bang, ngenes amat ngabisin waktu ama animal mulu 😐 takutnya lu nyeleweng ntar, gua gak mau punya kakak ipar berkaki empat dan berbulu lebat ye 😂
Alrese : cewek mulu otak lu, sekolah yang bener! 😤 Di usir bokap baru tau rasa lu.
Alexketex : Gua kan anak kesayangan masa diusir 😳😃
Aldrich : Papa kalau ngamuk kaya lu gak tau aja gimana 😰
Alexketex : kan ada Mama, secara Papa tunduk banget sama Mama 😂 I lap yu mom 😍😘
Alrese : belajar bahasa inggris yang bener! Bilang I laff yu aja gak bisa 😐
Aldrich : lu juga salah, yang bener I Love You. 😒
Alexketex : Love you too. 😳
Alrese : Love u too babe 😚
Aldrich : najis.
Aldrich menggeleng gelengkan kepalanya, sungguh kenapa ia punya adik yang aneh aneh. Tapi adik adiknya itu selalu saja punya cara untuk membuatnya tertawa.
Seandainya saja salah satu diantara mereka perempuan pasti lebih seru.
Haha.
__ADS_1
Beberapa Tahun Kemudian
Jenny mengeluh kesal karna pagi pagi sekali seperti ini sudah ada saja orang yang bertamu ke apartement nya, padahal Jenny sudah merencanakan akan tidur hingga siang nanti.
"Aunty!" suara menggemaskan yang sudah ia hapal betul itu terdengar, mata Jenny mendadak membesar melihat seorang anak laki laki kecil dengan kupluk berwarna pink tersenyum manis kepadanya. "Aunty Jen!"
Jenny berjongkok mensejajarkan tingginya dengan anak itu, "Al pagi pagi kenapa bisa ada disini, kamu kesini sama siapa?" Jenny mengusap lembut pipi gembul putra dari sepupunya itu.
"Papa yang anter Al, Papa bilang Al main sama Aunty dulu hali ini, nanti sole di jemput Papa." Aldrich berkata sembari mengelus elus bonekannya.
"Yaudah masuk dulu, nanti Aunty buatkan susu coklat buat Al." Jenny membimbing Aldrich untuk masuk, ia juga membantu Aldrich melepaskan sepatu lucunya.
Sembari membuatkan susu coklat Jenny mencoba untuk menghubungi Bian, bagaimana bisa Bian menitipkan Aldrich padanya tanpa mengatakan dulu padanya, bukan maksud Jenny tidak mau menjaga Aldrich hanya saja kenapa Bian tidak mengantar Al langsung padanya dan membiarkan Al menunggu sendirian di luar.
"Bianmy, kenapa kau membiarkan Al menunggu di luar sendirian?" Jenny langsung menyemprot Bian dengan pertanyaannya ketika panggilan itu dijawab oleh Bian.
"Hey tenanglah, aku tidak bodoh, aku menungguinya tadi hanya saja aku tidak menunjukan diriku karna aku ingin melatihnya untuk mandiri dan tidak takut sendirian." Bian terdengar mendesah kesal disana, "Aku sedang sibuk membantu Johan mengurus persiapan pernikahannya jadi jangan ganggu aku dulu, jaga Al baik baik."
Jenny mendengus, menatap ponselnya dengan tidak percaya, Bian memutuskan Bianbungan telepon begitu saja.
"Aunty! Al mau nonton Spongebob, cala hidupkan TV nya gimana Nty?"
Jenny mendekati Aldrich yang sibuk melihat lihat Tv, sibuk mencari dimana letak tombol untuk menyalakan Tv itu.
"Lemotnya dimana Nty?" tanya Aldrich lagi Bianbil melepaskan kupluknya asal.
"Sudah kamu duduk di sofa aja, Aunty yang akan menyalakan Tv nya." Jenny meletakkan segelas susu coklat di meja, "Sekalian diminum susunya ya."
***
"Bian, apa tidak apa apa menitipkan Al pada Jenny?" Sarah menoleh pada Bian, memperhatikan wajah suaminya yang tengah sibuk menyetir itu.
Bian sempat melirik Sarah sekilas, menggenggam tangan Sarah lembut. "Jika kita membawanya dia pasti akan menyusahkan mu, kau harus lebih memperhatikan kondisi mu sekarang karna kau tengah hamil anak kedua kita, kau mengertikan?"
Bian melihat Sarah melenguh panjang sebelum akhirnya mengangguk pasrah, Bian tahu bahwa Sarah sulit sekali lepas dari Aldrich, Aldrich sedang sangat menggemaskan dan lincah, Bian tahu bahwa Sarah takut terjadi sesuatu kepada putra mereka itu atas dasar kecerobohan Aldrich yang bersifat sangat ingin tahu akan segala hal.
Kalau bukan karna Taeran benar benar membutuhkan Sarah, Bian tidak akan mengajak Sarah ikut dan menyuruh Sarah untuk beristirahat saja di rumah, toh urusan bantu membantu hanya perlu ia saja yang datang.
"Aku takut Aldrich akan merepotkan Jenny, kau tahukan Aldrich itu cerewet dan banyak sekali maunya." Sarah sedikit terkekeh teringat Aldrich yang selalu bertingkah lucu dimata Sarah.
"Biarlah sekali sekali Jenny merasakan bagaimana rasanya disusahkan oleh Al."
***
"Aunty, kenapa Patrick star itu warnanya merah muda?" Aldrich mengalihkan pandangannya dari televisi kearah Jenny yang tengah duduk santai disampingnya.
"Kamu kok nanya nya yang aneh aneh sih sayang, ya soal warna kan itu mana Aunty tahu." Jawab Jenny sekenanya, ia bingung menjawab pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan Aldrich.
"Yah.. padahal Aldrich sukannya warna Hijau." desis Aldrich pelan, Jenny yang berada di sebelahnya tertawa terbahak karna membayangkan Patrick star berubah warna menjadi hijau.
Jenny mengusap sudut matanya yang mengeluarkan sedikit air mata, ia bergerak bangkit dan melangkah menuju dapur, mengambil minuman untuk dirinya sendiri.
***
Sarah masuk kedalam kamar Taeran, besok Taeran akan menikah dengan Johan, Sarah tahu bahwa Taeran pasti sedang sangat khawatir menantikan hari esok saat ini.
"Sarah!" pekik Taeran gembira ketika melihat kedatangan Sarah, "Ku pikir kau tidak akan datang, apa Jenny tidak ikut?"
Taeran melirik kebalakang Sarah berpikir mungkin Jenny bersembunyi, namun seprtinya Sarah memang datang tanpa Jenny.
"Maaf Jenny tidak bisa datang karna menjaga Al, bagaimana perasaan mu Tae?"
Taeran tersenyum lebar hingga matanya menyipit, "Aku bahagia.. tapi pasti lebih bahagia besok, tapi aku juga khawatir, kau tahukan aku tidak kelihatan seperti wanita pada umum-"
"Jangan berpikiran begitu, kau cantik sebagaimananya dirimu, buktinya Johan sampai jatuh hati padamu." Sarah menepuk nepuk bahu Taeran, berusaha membuat Taeran untuk tidak lagi merendah diri.
***
"Papa kapan jemput Al sih, Nty?" Aldrich tengah memakai piama tidur berserta penutup mata yang ia pakai sebagai bandana, Aldrich berbaring lemas di ranjang Jenny. "Papa bilangnya mau jemput sole tapi sampai sekalang gak datang juga."
Jenny mengusap lembut kening Aldrich, ia tersenyum lembut pada Aldrich yang masih saja cemberut. "Pulang besok pagi juga gak papa, memangnya Al gak betah berduaan sama Aunty?"
Aldrich dengan cepat menggeleng, "Al suka kok belduaan sama Aunty tapi Al kangen sama Mama dan Papa."
Alis Jenny terangkat sebelah, "Al gak kangen sama calon adik Al?"
Aldrich semakin cemberut karna Jenny membahas soal calon adiknya.
"Al gak sayang calon adik Al?"
Aldrich menggelengkan kepalanya, "Al sayang dedek, tapi Al takut pelut Mama meletus gala gala dedek, Al gak mau Mama sakit."
Jenny nyaris saja terbahak namun ia dengan kuat menahan dirinya untuk tidak tertawa atas jawaban polos Aldrich.
"Perut Mama gak akan meletus kok Al, Al gak boleh benci sama calon adik Al ya, Al sebagai kakak harus menyayangi dan menjaga adik Al."
Aldrich mengangguk lemah dan tersenyum, ia akan menjaga adiknya, pasti.
"Mau main perang perangan bantal?" tawar Jenny pada Aldrich, Aldrich tentu saja langsung mengangguk penuh semangat.
"Mau tante!" Aldrich dengan gerakan cepat mengambil dua bantal, hendak melemparkannya pada Jenny namun suara handphone Jenny membuat Aldrich batal melemparkannya karna Jenny langsung berlari menuju tempat dimana handphonenya berada.
"Al.. Papa mu telepon!"
Aldrich langsung berlari dengan cepat menyusul Jenny, dengan gembira mengambil alih handphone Jenny.
"Hallo Papa, Papa kapan jemput?"
"Besok pagi? Tapi Al udah kangen sama Mama dan dedek Pa.."
"Ya gapapa, Papa jagain Mama ya."
"Dadah Papa.."
Aldrich tidak sedih meskipun ia akan di jemput besok pagi, setidaknya ia sudah berpesan pada Papanya untuk menjaga Mamanya baik baik.
"Anak pintar." Jenny mengacak acak gemas rambut Aldrich.
***
Bian tersenyum ketika mengakhiri Bianbungan teleponnya, ia senang karna Aldrich mau mengerti dan tidak rewel.
Bian semakin tersenyum ketika melihat wallpaper handphonenya, foto pernikahaannya dengan Sarah, saat usia Aldrich sudah 2 bulan.
Di foto itu Sarah dan Bian tersenyum lebar, tak lupa dengan Aldrich yang berada di gendongan Bian.
Bian bersyukur apa yang dia inginkan akhirnya benar benar bisa ia miliki, Sarah, Aldrich dan calon anak keduanya adalah anugrah terindah yang pernah ia dapatkan sepanjang hidupnya.
EXTRA PART (ARVIN & ADELIA)
“Papa baju spiderman aku mana?!”
“Papa dede kaya nya eek di celana!!”
“Mika nggak eek! Miko yang eek!!”
“Papa!!”
“Papa!!”
Arvin menghela nafas kasar, dalam hati ia merasa menyesal karna membiarkan Adelia untuk pergi untuk menginterview para calon pegawai yang melamar di toko kue nya.
Arvin pikir Adelia perlu sekali pergi kesana mengingat toko kue Adelia semakin sukses dan semakin membutuhkan karyawan lebih banyak lagi.
Namun Arvin tidak pernah tahu bahwa sebegitu sulit nya mengurus 3 anak sekaligus, betapa kagum nya Arvin pada Adelia yang selama ini mengurus anak anak mereka yaitu Kaylo, Miko dan Mika tanpa mengeluh.
Kaylo si sulung penggila spiderman, diusia nya yang kini menginjak 6 tahun kesukaan nya pada spiderman semakin melonjak dan melonjak lagi, tidak tertahankan.
Bahkan seluruh kamar dihiasi dengan segala macam barang yang bersangkutan dengan spiderman, bahkan celana dalam Kalo pun hampir semua nya bermotif spiderman.
Miko si anak tengah yang lebih tua lima jam dari Mika itu cerewet nya bukan main, diusia nya yang baru 4 tahun ia sudah membuat Arvin pusing tujuh keliling karna terus saja bicara.
Mika si anak bontot yang senang sekali berdandan, percis seperti Cherryl— Kakak perempuan Arvin, saat masih kecil.
Arvin dulu begitu ingin punya keturunan, bukan nya ia menyesal hanya saja ia tidak tahu kalau
mengurus anak lebih susah dari apa yang ia bayangkan.
“Papa!!”
Arvin terkesiap dari lamunan nya, “Iya sayang, gausah teriak kamu kira Papa ini bolot ya?” celetuk Arvin gemas pada Mika.
“Papa Miko eek di celana, tadi aku cium bau eek dari celana nya.” Ujar Mika penuh keseriusan, membuatnya tampak menggemaskan dengan pipi tembam merona miliknya.
“Papa kaset spiderman aku mana?!” teriak Kaylo seraya sibuk membongkar laci tempat
penyimpanan kaset dvd mereka, membuat nya berantakan.
Arvin menghela nafas berat, “tadi baju sekarang kaset, cari pelan pelan pasti ketemu!”
Meski berat, Arvin tetap senang menjalani nya. Karna berada di dekat orang yang ia cintai adalah surga bagi nya, kebahagiaan tak terhingga dapat ia dapatkan hanya dengan hal hal kecil bersama
keluarga nya.
Dalam hati Arvin mengaku bahwa ia begitu mencintai Adelia dan anak anak nya.
EXTRA PART (BIAN & SARAH)
Sarah menatap Aldrich dengan tatapan jengkel, kenapa mengajak putranya itu untuk menemaninya belanja saja susah sekali?
“Kamu nemenin Mama belanja gak mau tapi kalau nemenin pacar pacar kamu aja cepat geraknya.” Sarah melempar bantal ke wajah Aldrich, tidak perduli Aldrich meringis sakit karna ulahnya.
“Mama kenapa gak minta ditemanin Papa aja sih? Al kan ada urusan lain.” Aldrich bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah mendekati Sarah lalu mengecup kening Ibunya itu lembut sebelum ia melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Kamu mau ketemu sama perempuan masa lalu kamu itu?”
Gerakan Aldrich membuka pintu kamar mandi terhenti, Aldrich menoleh pada Sarah dan menatap Sarah dengan wajah bingungnya. “Mama tahu dari mana?”
“Dulu aja kamu ninggalin dia sekarang malah ngejar ngejar, Mama gak ngerti jalan pikir kamu Al.” Sarah merasa kasihan pada perempuan yang tengah mereka bicarakan itu, di tinggalkan lalu datang kembali seolah tanpa beban, menyakitkan sekali rasanya.
“Justru Al bingung sama jalan pikir perempuan, gimana bisa di tinggal 2 tahun aja dia bisa jadi lesbi begitu padahal sebelumnya normal normal aja.” Aldrich mendesah berat, “Memahami perempuan itu lebih sulit dari memahami segala jenis pelajaran.”
Aldrich masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi itu rapat rapat.
“Kalau kamu mau ketemu dia, Mama mau ikut. Mama mau lihat secantik apa perempuan yang udah bikin anak Mama gal—”
“Please deh Ma, biarkan Kak Al urus urusannya sendiri, kisah cinta dia tidak perlu ada campur tangan Mama segala.” Alex yang tengah bersandar di depan pintu kamar Aldrich itu memandang Sarah dengan tatapan sok mengguruinya.
“Baru pulang kamu? Semalam menginap dimana lagi hah?!” Sarah dengan cepat mencubit perut Alex, putra ke tiganya yang sangat sangat bandal karna selalu melanggar janji dan membuat Sarah naik pitam.
“Kalau pakai baju itu yang benar! Apa ini celana rombeng, ganti!”
Alex mengusap perutnya yang di cubit Sarah, “Mama mah gak ngerti fashion anak jaman now sih.”
“Ganti atau motor kesayangan kamu Mama hancurin pakai tongkat baseball Papa.” Sarah sudah mengambil ancang ancang akan mengambil tongkat baseball milik Sam namun Alex dengan segera mencegahnya dan tersenyum manis.
“Mama ku yang cantik, jangan begitu dong aku bakalan ganti kok, aku cuma mau ngasih ini aja ke Mama, aku lupa ngasihnya kemarin jadi baru ingat sekarang.” Alex memberikan surat kepada Sarah, melihat kop surat itu Sarah sudah berang apalagi mrlihat isinya.
“Panggilan orangtua lagi!! Kamu kenapa gak ada habis habisnya bikin ulah sih Lex?!” Sarah memukul bahu Alex, Alex mengaduh kesakitan dan menatap Sarah dengan tatapan tidak bersalahnya.
“Si Lean yang mancing emosi Lex Ma.”
“Sudahlah gak usah mengelak, sudah tahu salah masih aja mencoba membela diri.” suara berat itu menengahi Sarah dan Alex.
Sarah dan Alex menoleh ke arah sumber suara, Bian dan Alrez melangkah mendekati mereka.
“Bian! Lihat ini anak mu kembali berulah, aku sudah malas menasehatinya terus.” Sarah memberikan surat panggilan orangtua itu pada Bian, “Kali ini kau yang ke sekolah Lex, aku malu jika harus kesana untuk yang kesekian kalinya.”
“Biar Rez saja yang ke sekolah Lex besok Ma.” Alrez membuka suara, ia menatap lembut kearah Sarah dan melotot tajam kearah Alex, “Besok Alrez cuti dari rumah sakit.”
Sarah tersenyum lebar, ia mendekat kearah Alrez dan memeluk putranya itu erat, menenggelam kan wajah nya di dada bidang putra nya itu, memiliki putra yang tinggi tinggi dan pelukable memang menyenangkan, apalagi jika semuanya semanis Alrez, baik dan tidak pernah berulah tidak seperti Aldrich dan Alexander.
“Kamu memang anak kesayangan Mama, kamu gak pernah mengecewakan Mama.”
“Sudah!” Bian menarik Sarah dari pelukan Alrez, “Makin lama kamu dan Rez justru kelihatan seperti orang pacaran.”
Sarah tersenyum jahil, “Bilang saja kau cemburu.”
Bian mendelik sinis, “Aku memang cemburu, apa perlu dijelaskan?”
Sarah menahan tawanya setengah mati, “Selalu saja begini, kau memang My Possessive Man, tidak pernah bisa membiarkan ku bebas meski itu untuk anak ku sendiri.”
“Itu kau paham, bagus kalau begitu.”
“Bian!” Sarah memukul bahu Bian manja.
Alrez dan Alex yang melihat adegan itu hanya geleng geleng kepala dan meninggalkan kedua orangtuanya itu, biarkan mereka memiliki waktu privasi sendiri.
***
“Kenapa terlambat, Papa nungguin kamu udah dari dua jam yang lalu!” Bian melirik arloji yang menunjukan pukul 12 siang, “Sekarang sudah waktunya makan siang, nanti saja kita bicarakan masalah itu, Papa mau ke restaurant depan Mama kamu sudah menunggu Papa.”
Aldrich menatap kepergian Sam dengan bingung, “Gak ada niat ngajakin aku makan siang bareng gitu, Pa?”
Langkah Bian terhenti dan ia berbalik menatap putra sulungnya itu, “Sengenes apa sih kamu sampai gak punya teman makan siang? Masih mau ngintilin orangtua berduaan terus, malu sama umur, sudah mau kepala tiga juga!”
Aldrich melongo tidak percaya mendengar apa yang Sam katakan, “Pa, seharusnya aku yang bilang begitu. Papa udah tua masih aja sok merasa muda, mesra mesraan mulu sama Mama bikin iri aja.” desis Aldrich pelan, ia tidak ingin Bian mendengar dan berujung ia di timpuk oleh sesuatu.
Aldrich mengeluarkan handphone dari saku jasnya, mengetikkan pesan pada kedua adik kesayangannya.
Triple A
Aldrich : Lagi pada dimana, makan siang bareng yok!
Alexketex : wah tanda tanda jomblo apa maho nih?
Alrese : Maap bang gua mau makan siang sama Luna 😏
Alexketex : wah cantik gak bang, boleh kali kenalin 😗
Alrese : Cantik kok bulunya lebat, warna coklat terang 😃
Aldrich : Luna yang lu maksud itu pasien lu ya? 😒
Alrese : kenapa emang? 😳
Aldrich : Pasien lu kan binatang, secara lu dokter hewan. Lu mau makan ama binatang apa, kucing? 😰
Alrese : Bukan kucing tapi dog 😃
Alexketex : Cari cewek ngapa bang, ngenes amat ngabisin waktu ama animal mulu 😐 takutnya lu nyeleweng ntar, gua gak mau punya kakak ipar berkaki empat dan berbulu lebat ye 😂
Alrese : cewek mulu otak lu, sekolah yang bener! 😤 Di usir bokap baru tau rasa lu.
Alexketex : Gua kan anak kesayangan masa diusir 😳😃
Aldrich : Papa kalau ngamuk kaya lu gak tau aja gimana 😰
Alexketex : kan ada Mama, secara Papa tunduk banget sama Mama 😂 I lap yu mom 😍😘
Alrese : belajar bahasa inggris yang bener! Bilang I laff yu aja gak bisa 😐
Aldrich : lu juga salah, yang bener I Love You. 😒
Alexketex : Love you too. 😳
Alrese : Love u too babe 😚
Aldrich : najis.
Aldrich menggeleng gelengkan kepalanya, sungguh kenapa ia punya adik yang aneh aneh. Tapi adik adiknya itu selalu saja punya cara untuk membuatnya tertawa.
Seandainya saja salah satu diantara mereka perempuan pasti lebih seru.
Haha.
__ADS_1