
Hari ini.. hari dimana Aaron dan Adara menikah, hari kebahagiaan bagi keluarga Adara dan keluarga Aaron.
Pernikahan berlangsung meriah, semuanya tersenyum bahagia ketika Adara dan Aaron mengucapkan janji suci mereka.
Di ikatkan dalam sebuah ikatan pernikahan. Jari manis kedua nya bahkan tidak lagi kosong, kini terisi cincin dengan ukiran nama masing masing di dalam cincin tersebut.
Semuanya sangat bahagia, tertawa riang.
Bahkan Lucas yang duduk di kursi roda karena belum sepenuhnya sembuh pun ikut merasakan kebahagiaan. Ia turut andil mengambil foto di acara tersebut, acara hari ini harus diabadikan.
Semuanya berbahagia kecuali.. Markus dan keluarganya.
Di waktu yang sama namun tempat yang berbeda, Markus menjalani sidangnya. Sidang keputusan mengenai hukumannya.
Keluarga Markus meneteskan air mata ketika melihat bahwa Markus tidak jadi di penjara seumur hidupnya.
Tapi itu bukan lah kabar gembira bagi mereka.
Markus memang bukan lagi tahanan di penjara namun sekarang ia menjadi tahanan di rumah sakit jiwa.
Markus dinyatakan tidak waras setelah menjalani banyak tes. Dan keputusan yang tepat untuk mengatasinya adalah memasukkan Markus ke dalam rumah sakit jiwa.
“Markus..” Sabrina menangis melihat bagaimana putranya di bawa oleh beberapa perawat, Markus hanya tertawa saja. Membuat hati Sabrina semakin teriris.
Juan mengusap bahu Sabrina lembut, berusaha menenangkan istrinya itu.
Salahnya, salah dirinya yang tidak becus mendidik Markus.
__ADS_1
Seandainya saja Juan mengerti dengan segala penderitaan yang Markus alami semuanya tidak akan jadi seperti ini.
Mungkin sekarang Markus baik baik saja, atau bahkan Markus lah yang hari ini mengenakan pakaian pernikahan berdiri di altar bersama dengan Adara. Jika semuanya tidak menjadi seperti ini.
Tapi penyesalan memang selalu datang di akhir, Juan tidak bisa apa apa selain mendoakan yang terbaik untuk putranya itu.
Berharap putranya bisa sembuh dan bahagia lagi.
Lagi?
Apakah Markus pernah bahagia sekali saja dalam hidupnya?
***
“Bulan madu mau kemana Kak?” tanya Lucas kepada Adara, ia tertawa melihat pipi kakak perempuannya itu memerah.
Sebagian tamu undangan sudah mulai pulang, acara pernikahannya sudah selesai. Dan sesi foto pun telah berakhir.
Adara melirik ke arah Aaron yang sibuk dengan ponselnya.
“Ada apa?” tanya Adara pada Aaron.
Aaron berbalik menatap Adara, ia tersenyum kepada wanita itu dan menggeleng. “Aku hanya menghubungi seseorang untuk mengantarkan pakaian ganti kita.”
Adara mengangguk mengerti.
Aaron mengusap pipi Adara lembut, “Kau pasti lelahkan?”
__ADS_1
Adara mengangguk sebagai jawaban, ia memang lelah. Ia butuh istirahat.
Aaron merentangkan tangannya hendak memeluk Adara, namun tiba tiba saja ponsel Aaron berdering. Membuat Aaron mengurungkan niatnya untuk memeluk Adara.
“Sebentar ya, aku angkat telepon ini dulu.”
***
Sean memperhatikan bagaimana Markus dibawa ke rumah sakit jiwa, di pakaikan pakaian khusus yang membuat tangannya terikat sehingga tidak bisa melakukan hal yang aneh aneh.
Sean hanya tersenyum sinis ketika melihat Markus tertawa tawa dan melompat lompat saat di masuk kan ke dalam kamar nya.
Dan kamar tersebut di kunci rapat rapat.
Sean meraih ponselnya, men-dial nomor seseorang di ponselnya tersebut.
Ia mendekatkan ponselnya itu ke telinganya tersebut.
“Semuanya sudah berjalan seperti apa yang kau mau, jangan lupa untuk kirimkan bonus yang kau janjikan kepada ku.”
***
Sudut bibir Aaron tertarik ke atas membentuk sebuah seringai.
__ADS_1
“Baiklah, kerja bagus. Aku akan mentransfer nya sekarang juga.”